NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:892
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Investigasi Masa Lalu

Bab 16: Investigasi Masa Lalu

Suasana di kediaman Wijaya pasca-insiden gudang 404 terasa seperti medan perang yang sedang melakukan gencatan senjata sementara. Meski protokol keamanan telah ditingkatkan menjadi level tertinggi, ketegangan justru berpindah ke dalam tembok rumah. Bram dan timnya terus melakukan audit forensik terhadap setiap peluru yang ditemukan di lokasi, sementara Kenzi tetap berada di posisinya, berdiri diam di sudut koridor lantai dua, tidak jauh dari kamar Alana.

Kenzi melirik jam tangannya. Pukul 02:00 dini hari. Logika operasionalnya memberikan peringatan: Paparan identitas meningkat 65%. Bram adalah variabel berbahaya yang harus segera diredam atau dialihkan.

Namun, ada hal lain yang lebih mendesak. Dalam interogasi singkat di rubanah tadi, Bram sempat menyebutkan tentang "dokumen lama" yang sedang ia tinjau ulang untuk memverifikasi latar belakang Kenzi. Kenzi tahu bahwa di balik dinding ruang kerja Tuan Wijaya—ruangan yang disebut sebagai "Sanctum"—terdapat sebuah brankas analog dengan keamanan berlapis yang tidak terhubung ke jaringan digital.

"Nona Alana sudah tidur," suara pelayan senior membangunkan Kenzi dari kalkulasi internalnya.

Kenzi hanya mengangguk datar. Begitu koridor dipastikan sepi dan kamera pengawas berada pada siklus blind spot yang telah ia retas, Kenzi bergerak. Langkahnya tidak menimbulkan getaran sedikit pun pada lantai kayu jati itu. Ia menyelinap masuk ke ruang kerja Tuan Wijaya melalui ventilasi sekunder yang telah ia longgarkan dua hari sebelumnya.

Di dalam ruang kerja yang gelap, aroma cerutu dan kertas tua terasa pekat. Kenzi tidak menyalakan lampu. Ia menggunakan kacamata night vision generasi terbaru yang terpasang di lensa kontaknya. Matanya memindai ruangan, mencari anomali struktural di balik rak buku besar.

Analisis struktural: Pergeseran termal pada dinding sisi kiri. Probabilitas ruang rahasia: 98%.

Kenzi menarik sebuah buku tebal yang tidak proporsional beratnya. Dinding bergeser pelan, menyingkap sebuah brankas baja tahan api. Ini adalah jenis brankas yang hanya bisa dibuka dengan kombinasi fisik dan sidik jari sang pemilik. Namun, bagi Kenzi, sidik jari Tuan Wijaya sudah ia duplikasi sejak hari ketiga ia bekerja di sana melalui sisa minyak di gelas kristal.

Klik.

Pintu brankas terbuka. Di dalamnya terdapat tumpukan dokumen fisik, paspor palsu, dan beberapa hard drive eksternal. Kenzi mengabaikan uang tunai dalam berbagai mata uang asing; fokusnya tertuju pada sebuah map cokelat kusam bertuliskan: PROYEK SERRA - 2011.

Jantung Kenzi berdegup sedikit lebih kencang—sebuah reaksi biologis yang segera ia tekan kembali. Serra adalah nama perusahaan rintisan milik ayahnya sebelum hancur dalam sebuah skandal korupsi yang berakhir dengan tragedi bunuh diri kedua orang tuanya.

Kenzi membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat lembar demi lembar laporan keuangan, catatan audit internal, dan yang paling mengejutkan: surat perintah pengambilalihan aset yang ditandatangani oleh Tuan Wijaya.

Analisis Dokumen: Data menunjukkan aliran dana dari Proyek Serra sengaja dialihkan ke rekening cangkang milik Wijaya Group. Tanda tangan auditor dipalsukan. Proyek ini adalah fondasi awal Proyek Phoenix.

Mata Kenzi terpaku pada selembar foto yang terselip di bagian paling belakang. Foto itu diambil secara diam-diam dari kejauhan. Di sana, ayahnya tampak sedang berjabat tangan dengan Tuan Wijaya muda. Di bawah foto itu terdapat catatan tangan yang dingin: "Subjek menolak akuisisi. Inisiasi protokol likuidasi sosial dimulai. Target: Penghancuran reputasi total."

Darah Kenzi terasa mendidih. Selama belasan tahun, organisasi gelap yang membesarkannya memberitahunya bahwa ayahnya hanyalah korban dari sistem yang korup. Namun, bukti di tangannya menunjukkan kebenaran yang lebih spesifik: ayahnya bukan sekadar korban sistem, ayahnya adalah target pribadi Tuan Wijaya. Ayahnya dihancurkan demi sebuah kode data yang sekarang menjadi jantung dari Proyek Phoenix.

"Apa yang kau cari di sana, Kenzi?"

Suara itu datang dari arah pintu yang kini terbuka. Kenzi tidak terkejut; sensor gerak yang ia pasang di lantai telah memberikan getaran di pergelangan tangannya dua detik sebelumnya. Ia berbalik perlahan, map cokelat itu masih berada di tangannya.

Alana berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah tidur sutra putih. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun ada kilat keberanian yang tidak pernah Kenzi lihat sebelumnya.

"Nona Alana, Anda seharusnya berada di kamar," ujar Kenzi, suaranya kembali ke mode robotik yang sempurna.

"Kau sedang mencuri data ayahku, bukan?" Alana melangkah masuk, mengabaikan protokol keamanan. "Bram benar. Kau bukan pengawal. Kau adalah mata-mata. Atau mungkin... pencuri?"

Kenzi menatap Alana. Logikanya memerintahkan untuk segera melumpuhkan gadis ini, menghapus jejak, dan melarikan diri dari kediaman Wijaya malam ini juga. Misinya sudah memiliki bukti yang cukup untuk menghancurkan Wijaya secara hukum maupun finansial. Namun, tangannya justru menurunkan map itu.

"Lihat ini, Nona," Kenzi menyerahkan foto ayahnya kepada Alana.

Alana menerima foto itu dengan tangan gemetar. "Ini... Ayah?"

"Pria di sebelahnya adalah ayah saya," suara Kenzi terdengar lebih berat, menyimpan dendam yang selama ini ia kunci rapat. "Pria yang ayah Anda sebut sebagai mitra bisnis, namun di catatan ini, dia disebut sebagai 'target likuidasi'. Orang tua saya tidak mati karena nasib buruk. Mereka mati karena ayah Anda menginginkan apa yang mereka miliki."

Alana membaca catatan tangan di bawah foto itu. Air mata kembali menggenang di matanya. "Tidak... Ayah tidak mungkin melakukan ini. Beliau adalah pria yang keras, tapi dia bukan... dia bukan pembunuh."

"Pembunuhan tidak selalu menggunakan peluru, Nona. Terkadang, tanda tangan di atas kertas jauh lebih mematikan," Kenzi mendekat, auranya begitu mengancam hingga Alana terdesak ke meja kerja. "Ayah Anda menghancurkan hidup saya sebelum saya tahu bagaimana cara melawan. Dan sekarang, saya di sini untuk memastikan sejarah tidak berulang."

Alana menatap Kenzi, mencoba mencari celah kebohongan di mata pria itu. Namun yang ia temukan hanyalah kehampaan yang dalam, sebuah luka lama yang kini terbuka kembali dan mengeluarkan darah hitam.

"Lalu kenapa kau menyelamatkanku di gudang tadi?" tanya Alana dengan suara terisak. "Jika kau membenci ayahku, jika kau ingin menghancurkan kami... kenapa kau tidak membiarkan mereka membawaku? Kematianku akan menjadi pembalasan dendam yang sempurna bagimu, bukan?"

Kenzi terdiam. Pertanyaan itu adalah anomali yang tidak bisa ia pecahkan dengan rumus logika manapun. Berdasarkan kalkulasi risiko, Alana adalah beban. Berdasarkan misi, Alana adalah alat tawar-menawar. Namun, di dalam gudang yang gelap itu, saat ia merasakan detak jantung Alana yang ketakutan di bawah telapak tangannya, instingnya bukan lagi tentang misi.

"Karena Anda adalah satu-satunya bagian dari keluarga Wijaya yang tidak memiliki bau busuk kertas-kertas ini," jawab Kenzi pelan.

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari koridor. Suara radio Bram berbunyi nyaring.

"Buka ruang kerja Tuan Wijaya! Ada laporan intrusi pada sistem ventilasi!"

Kenzi segera menyambar map cokelat itu dan memasukkannya ke dalam jaketnya. Ia menatap Alana. "Jika Anda berteriak sekarang, semuanya berakhir. Saya akan pergi, dan Anda akan kembali ke hidup Anda yang aman namun penuh kebohongan."

Alana menatap pintu, lalu menatap Kenzi. Kepalanya pening oleh kenyataan baru yang menghantamnya. Ayahnya adalah seorang monster di balik bayang-bayang, dan pelindungnya adalah seorang pria yang menyimpan api dendam terhadap keluarganya.

"Pergilah lewat balkon," bisik Alana.

Kenzi tertegun sejenak. "Kenapa?"

"Karena aku ingin kau membuktikan bahwa semua ini salah. Aku ingin kau menemukan kebenaran yang tidak menyakitkan... meski aku tahu itu tidak mungkin," Alana berbalik menghadap pintu, menutupi pandangan ke arah balkon.

Kenzi tidak membuang waktu. Ia melompat ke arah balkon, menghilang ke dalam kegelapan malam tepat saat Bram merangsek masuk dengan senjata terhunus.

"Nona Alana! Apa yang Anda lakukan di sini?" Bram memindai ruangan dengan waspada.

Alana berdiri dengan tegap, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. "Aku hanya... mencari buku untuk membantuku tidur. Kenapa kalian berisik sekali?"

Bram menyipitkan mata. Ia melihat ventilasi yang sedikit terbuka dan brankas yang tidak terkunci sempurna. Matanya kemudian menatap Alana dengan penuh selidik. "Nona, apakah Anda melihat Kenzi?"

"Dia di posisinya, bukan?" jawab Alana dengan nada dingin yang ia pelajari dari ayahnya. "Jangan ganggu aku dengan paranoia Anda, Bram. Kembali ke pos Anda."

Bram tidak menjawab, namun ia mengepalkan tinjunya. Ia tahu Alana berbohong. Dan ia tahu, perang di rumah ini bukan lagi soal pengawal dan majikan, melainkan soal rahasia masa lalu yang mulai menelan mereka semua hidup-hidup.

Di kejauhan, di atas atap gudang logistik kediaman itu, Kenzi menatap map di tangannya. Dendamnya kini memiliki arah yang jelas. Proyek Phoenix harus hancur, dan Wijaya harus membayar setiap tetes air mata ibunya. Namun, bayangan Alana yang berdiri membelanya di depan Bram membuat hatinya terasa seperti teriris—sebuah komplikasi yang tidak pernah ada dalam rencana awal organisasinya.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!