NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Pintu Terlarang

​"Gila... mending gue balik ke Jakarta kalau tahu Sukaraja seseram ini," bisik Sasha sambil memeluk erat tasnya. 

Kakinya gemetar hebat saat turun dari motor Geri.

​Rumah panggung di depan mereka itu seolah-olah punya mata. Jendela-jendela kayunya yang kecil dan berdebu menatap mereka dengan dingin. 

Di bawah kolong rumah, kegelapan terasa sangat padat, seperti ada ribuan pasang mata yang mengintai dari balik tiang penyangga kayu jati yang sudah menghitam.

​Krieeet... krieeet...

​Kursi goyang di teras masih bergerak. 

Di atas kursi itu, ada seuntai bunga sedap malam yang masih segar, padahal rumah ini sudah kosong bertahun-tahun sejak Buyut Tan meninggal.

​"Del, loe yakin mau masuk?" Geri memegang senter besar, cahayanya membelah kabut yang makin pekat. "Bau menyan di sini strong banget, campur bau oli bekas."

​Della tidak menjawab.

Matanya tertuju pada pintu depan rumah yang sedikit terbuka. Di sana, ia melihat bayangan putih melintas cepat. Bukan bayangan manusia, tapi lebih mirip kain kafan yang ditarik paksa masuk ke dalam.

​Saat mereka hendak naik ke tangga kayu, Sasha mendadak berhenti. "Ger... ada yang narik celana gue..."

​Geri mengarahkan senternya ke bawah, ke arah kaki Sasha. Di sana, sebuah tangan hitam legam dengan kuku-kuku panjang muncul dari balik celah papan lantai kolong rumah. Tangan itu mencengkeram pergelangan kaki Sasha dengan sangat kuat.

​"AAAAAA! LEPASIN! GOBLOK! LEPASIN!" Sasha berteriak histeris, ia menendang-nendang ke arah kolong.

​Gubrak!

​Sesuatu dari dalam kolong itu membalas dengan benturan keras ke lantai kayu. Suara tawa melengking terdengar dari bawah sana. "Geura asup... geura asup ka dieu... (Cepat masuk... cepat masuk ke sini...)"

​Della segera mendekat. Ia menempelkan Kunci Tulang yang ia bawa ke arah tangan hitam itu.

​Sssssss!

​Tangan itu langsung menarik diri kembali ke kegelapan kolong, meninggalkan bekas cakaran berdarah di kulit Sasha yang putih. "Sakit banget, Del... perih!"

​Mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam rumah. Di dalam, suasananya jauh lebih mencekam. Foto-foto tua keluarga Tan berjejer di dinding. Dalam cahaya senter yang bergoyang, wajah-wajah di foto itu seolah-olah berubah: mata mereka mengikuti gerakan Della, dan bibir mereka tampak bergerak-gerak tanpa suara.

​"Cari tanah merah itu, Ger. Kata memori di spion gue, Buyut nanem tanah penawar di bawah ubin ruang tengah," perintah Della. Suaranya terdengar dingin, aura "mata batin" buyutnya makin kuat merasuki dirinya.

​Geri mulai mencongkel salah satu papan lantai yang terlihat longgar. Di saat itulah, pintu belakang rumah itu yang tadi dilarang dibuka oleh bayangan Buyut Tan tiba-tiba terbanting terbuka.

​BRAAAKKK!

​Angin kencang masuk ke dalam ruangan, mematikan senter Geri. Dalam kegelapan total selama beberapa detik, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat. Duk... duk... duk...

​"Sasha? Loe di mana?!" teriak Geri saat senternya berhasil ia nyalakan kembali.

​Sasha sudah hilang. Di tempat ia berdiri tadi, hanya ada sebuah tusuk konde perak yang tertancap di lantai kayu, dan bercak darah yang terseret menuju ke arah pintu belakang yang terbuka tadi.

​"Sasha!" Della berlari menuju ruang belakang. Di sana ada sebuah kamar dengan kelambu putih yang sudah kusam dan sobek-sobek.

​Della menyibakkan kelambu itu dengan kasar. Di atas tempat tidur tua, ia melihat sosok yang membelakanginya, mengenakan baju yang persis seperti baju yang dipakai Sasha.

​"Sha? Loe nggak apa-apa?" Della memegang pundaknya.

​Sosok itu berbalik perlahan. Tapi itu bukan Sasha. Itu adalah mayat wanita yang wajahnya sudah hancur sebelah, dengan belatung yang merayap di lubang matanya. Wanita itu membuka mulutnya, dan ribuan kelabang keluar dari sana, merayap menuju wajah Della.

​"Manusa bau oli... rek naon ka dieu? (Manusia bau oli... mau apa ke sini?)" sosok itu menjerit tepat di depan wajah Della.

​Della terpental ke belakang. 

Di saat yang sama, dari atas langit-langit, muncul sosok pria tinggi besar tanpa kepala yang membawa rantai motor berkarat, siap menghantam mereka.

​"Ger! Keluarin businya! Sekarang!" teriak Della sambil mencoba menahan pintu.

Geri dengan sigap merogoh saku jaketnya, mengeluarkan Busi Merah yang sudah dibungkus kain kuning kusam. Saat busi itu dikeluarkan, udara di dalam kamar yang tadinya sedingin es mendadak terasa panas menyengat.

​Sosok tinggi besar tanpa kepala itu berhenti bergerak. Rantai motor di tangannya bergetar hebat, mengeluarkan suara gemerincing yang memekakkan telinga.

​"Del! Gue nggak bisa nahan ini lama-lama! Tangannya panas banget!" seru Geri. Kulit tangannya mulai memerah, seolah busi itu sedang menyedot energi panas dari tubuhnya.

​Della tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengabaikan mayat wanita yang memuntahkan kelabang tadi dan fokus pada lemari jati besar di sudut kamar. 

Lemari itu diikat dengan kain kafan yang sudah menghitam dan di gembok dengan gembok kuningan kuno.

​Dari dalam lemari, terdengar suara kuku yang menggaruk kayu.

Srek... srek... srek...

​"Sasha! Loe di dalem?!" Della mencoba menarik gembok itu, tapi gemboknya terasa panas.

​Tiba-tiba, dari celah pintu lemari, keluar ribuan helai rambut hitam yang sangat panjang. Rambut itu bergerak seperti tentakel, melilit pergelangan kaki Della dan mulai menariknya ke bawah lemari.

​"Tulungan... tulungan... (Tolong... tolong...)" Suara Sasha terdengar, tapi suaranya seperti muncul dari kejauhan, bercampur dengan suara tawa cekikikan anak kecil yang tadi ada di RSUD Bunut.

​Della mengambil Kunci Tulang dan menusukkannya ke lubang gembok lemari.

​CTAK!

​Gembok itu hancur. 

Pintu lemari terbuka dengan hantaman keras. Bukannya Sasha yang keluar, melainkan tumpahan rambut manusia yang sangat banyak, memenuhi lantai kamar. 

Di tengah tumpukan rambut itu, Sasha meringkuk dengan mata tertutup rapat, mulutnya dijejali dengan bunga kamboja yang sudah busuk.

​"Sasha!" Geri melompat maju, menarik Sasha keluar dari tumpukan rambut itu.

​Namun, saat Sasha ditarik, sosok tanpa kepala tadi kembali bergerak. Kali ini, ia mengayunkan rantai motornya ke arah Geri.

​TRAAAAK!

​Rantai itu menghantam bahu Geri. Geri tersungkur, busi merah di tangannya terpental ke arah kolong tempat tidur yang gelap.

​"Ger! Businya!" Della hendak mengambil busi itu, namun dari kegelapan kolong tempat tidur, muncul sesosok Kuntilanak dengan wajah yang hancur karena bekas luka bakar.

​Kuntilanak itu tidak terbang, melainkan merayap di lantai seperti cicak. Ia mengambil busi merah itu dengan mulutnya, lalu menelan busi itu bulat-bulat. Matanya yang merah menyala menatap Della dengan penuh kemenangan.

​"Ieu anu aing! Warisan aing! (Ini punya gue! Warisan gue!)" Kuntilanak itu tertawa melengking, suara tawanya membuat kaca jendela rumah tua itu pecah berantakan.

​Della menyadari satu hal: Kuntilanak ini bukan makhluk sembarangan. Dia adalah Penjaga yang dulu diikat oleh Buyut Tan agar tidak mengganggu keluarga mereka, tapi karena Della membawa motor itu kembali ke sini, ikatannya terlepas.

​Dalam keadaan terdesak, Della melirik ke spion kiri Scoopy-nya yang terparkir di luar, terlihat dari jendela yang pecah. Di dalam kaca spion, ia melihat bayangan Buyut Tan sedang menunjuk ke arah lantai kayu yang baru saja dicongkel Geri.

​"Tanahnya! Ger! Ambil tanah merahnya!" teriak Della.

​Geri yang menahan sakit di bahunya segera merogoh lubang di bawah papan lantai. Ia menemukan sebuah bungkusan kain mori berisi tanah merah yang masih basah dan berbau wangi menyan.

​Della menyambar bungkusan tanah itu dan melemparkannya tepat ke wajah Kuntilanak yang sedang merayap tadi.

​BLUARRR!

​Begitu tanah itu mengenai wajah sang kuntilanak, asap putih membubung tinggi. Makhluk itu menjerit kesakitan, suaranya seperti suara logam yang digerinda. Ia memuntahkan kembali busi merah itu ke lantai.

​"Ayo pergi! Bawa Sasha! Sekarang!" Della memungut busi itu dan menarik Geri serta Sasha yang masih setengah sadar.

​Mereka berlari keluar rumah panggung itu tepat saat seluruh bangunan mulai bergetar hebat. Di belakang mereka, suara-suara gaib dalam bahasa Sunda kuno saling bersahutan, seolah-olah seluruh penghuni Sukaraja sedang marah karena "jimat" mereka diambil.

​Della segera menyalakan Scoopy-nya. Begitu mesin menyala, lampu depan motor itu menyorot langsung ke arah pepohonan bambu, menyingkap puluhan sosok putih yang berdiri berjejer, menghalangi jalan keluar.

​"Del... kita dikepung," bisik Sasha yang baru saja sadar, suaranya gemetar melihat banyaknya makhluk halus di depannya.

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!