Yan Jian— seorang generasi muda yang awalnya terlahir tanpa memiliki Roh Bela Diri bawaan, kini bangkit sebagai Generasi Muda terkuat di Provinsi Chang Yuan.
Setelah melakukan pertarungan panjang yang melelahkan waktu, menepati janji, menorehkan prestasi, hingga dirinya disebut Generasi Muda nomor satu di Provinsi Chang Yuan.
Yan Jian bersama sembilan Generasi Muda perwakilan Provinsi Chang Yuan lainnya berangkat menuju Kota Kekaisaran, tempat Kompetisi terbesar di salah satu Kekaisaran Wilayah Timur. Namun di wilayah timur besar, Provinsi Chang Yuan di anggap sebagai debu berjalan, karena setiap kompetisi, provinsi Chang Yuan selalu menjadi yang terlemah dan selalu berada di peringkat paling rendah.
Mampukah Yan Jian bersama rekan-rekannya mengangkat dan mengharumkan Provinsi Chang Yuan di Kompetisi terbesar Kekaisaran Api Agung itu? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKT 2: Chapter 6
Wang Ziwei menarik napas dalam, tangan kanannya meraih gagang pedang yang terselip di pinggangnya. Dengan gerakan yang tenang namun penuh tekanan, dia mencabut senjata itu dalam satu tarikan halus. Pedang berbilah lebar berwarna hitam keunguan itu langsung memancarkan aura dingin yang menusuk, seolah bilahnya sudah haus darah sebelum pertarungan benar-benar dimulai.
"Bocah kecil! Jangan salahkan aku jika aku bertindak kejam!" kata Wang Ziwei, berbicara dengan nada yang dingin.
Begitu kata-kata itu keluar, tubuh Wang Ziwei meledak ke depan.
Duar!
Kakinya menghentak tanah keras. Tanah di bawahnya langsung cekung membentuk kawah kecil, retakan-retakan menyebar seperti jaring laba-laba, dan beberapa pecahan batu terlempar ke udara disertai ledakan kecil yang menggelegar. Aura ungu pekat membungkus seluruh tubuhnya, membentuk lapisan tipis seperti api dingin yang bergetar-getar. Kecepatannya bukan lagi manusia biasa, dia seperti kilat ungu yang melesat lurus ke arah Yan Jian. Bahkan, di saat dia bergerak, udara terpecah belah yang menunjukkan ruang kehampaan, namun udara itu dengan cepat kembali seperti semula.
Slash!
Pedangnya bergerak dalam garis horizontal yang sempurna, membelah udara dengan suara desingan tajam. Bilah itu meninggalkan jejak ungu menyala di udara, cukup kuat untuk memotong gunung kecil sekalipun.
Namun tepat saat bilah itu hampir menyentuh leher Yan Jian, tubuh Yan Jian tiba-tiba berubah menjadi seberkas cahaya petir hitam keunguan yang mengerikan. Bukan ilusi, bukan bayangan, tubuhnya benar-benar melebur menjadi kilatan petir gelap yang berderak-derak, penuh dengan energi destruktif yang membuat udara di sekitarnya bergetar hebat. Dalam sekejap, dia lenyap dari posisi semula, hanya menyisakan sisa-sisa petir hitam yang masih melayang di udara.
Wang Ziwei mengerutkan kening. Matanya menyipit tajam.
"Kecepatan macam apa itu ...?!" Sebelum Wang Ziwei sempat menyelesaikan pikirannya, suara derak petir terdengar dari belakang kepalanya.
Zrakk— Boom!
Yan Jian sudah muncul di belakang Wang Ziwei, tangan kanannya terangkat, jari-jarinya membentuk cakar petir hitam yang berderak-derak. Petir gelap itu berputar liar seperti naga kecil yang siap menerkam.
"Kau...terlalu lambat!" ucap Yan Jian dengan nada sedingin Salju Utara. Bahkan saat Yan Jian berbicara seperti itu, wajahnya menyeringai, matanya berkilat penuh kilau petir.
Cakar petir itu menghantam punggung Wang Ziwei dengan kecepatan mengerikan.
Tapi Wang Ziwei tidak panik. Tubuhnya berputar 180 derajat dalam waktu yang hampir tidak terlihat, pedang ungu di tangannya sudah bergerak menyambut serangan itu.
Trang!
Benturan antara cakar petir hitam dan bilah pedang ungu menghasilkan ledakan energi yang dahsyat. Gelombang kejut menyapu area sekitar, membuat pohon-pohon di kejauhan bergoyang keras dan debu beterbangan.
Wang Ziwei terdorong mundur tiga langkah, tumitnya menggores tanah dalam-dalam, tapi dia tetap berdiri tegak. Di sisi lain, Yan Jian juga terpental ke belakang, tapi tubuhnya kembali berubah menjadi kilatan petir hitam, melesat ke samping untuk menghilangkan momentum.
Keduanya saling tatap di tengah tabir asap yang masih bergulung.
Wang Ziwei menggenggam pedangnya lebih erat, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Elemen petir mu... mengandung energi Tribulasi Petir Langit dan elemen angin, kau... menarik!" ujar Wang Ziwei dengan nada yang sinis.
Yan Jian tertawa kecil, suaranya bergema di antara derak petir yang masih tersisa di sekitar tubuhnya.
"Senior terlalu menyanjungku! kau masih bisa menangkis serangan itu dengan pedang biasa. Orang-orang di timur besar... memang tidak biasa." kata Yan Jian.
Angin bertiup kencang, membawa debu pasir dan tanah terbakar. Keduanya sama-sama menundukkan tubuh sedikit, siap melancarkan serangan berikutnya.
Yan Jian memegang gagang pedang yang berada di punggungnya sembari berbicara, "Aku tidak pernah membunuh orang yang tidak aku ketahui namanya! Senior... siapa namamu?" tanya Yan Jian dengan nada yang tenang, namun sedikit memprovokasi Wang Ziwei.
Mendengus!
"Cih! Orang yang akan segera mati... tidak perlu mengetahui namaku!"
Seketika tubuh Wang Ziwei kembali berubah menjadi seberkas cahaya keunguan, dengan riak petir ungu yang menyambar tanah, memecah udara. Tetapi itu tidak bisa membuat Yan Jian merasa takut, dia pun berbicara, "Dibandingkan dengan Pak Tua di Desa Kabut, atau... Taotie... kau... masih kalah jauh!" ucap Yan Jian, sembari menggambar segaris senyuman sinis di bibirnya.
Sring! Suara desingan pedang kembali terdengar memekakkan telinga, bahkan An Lang dan kedua rekannya seketika menutupi telinganya, tetapi Zhang Feng tetap tenang, mengamati pertarungan mereka.
Namun, lagi-lagi Yan Jian menggunakan kecepatan Langkah Petir Angin nya, tubuhnya kembali menghilang dengan kecepatan yang mengerikan, bahkan dia berpindah tempat sejauh dua puluh meter hanya dengan satu kedipan mata.
'Apakah ini masih kekuatan yang dimiliki orang yang belum mencapai Ranah Nirvana?' batin Zhang Feng. Melihat kemampuan kecepatan yang dimiliki bocah berjubah hitam itu, membuatnya sedikit merasa khawatir. Bahkan dirinya yang telah mencapai tingkatan ranah Nirvana tahap Puncak bintang delapan, tidak bisa mengikuti kecepatan yang dimiliki Yan Jian dengan kedua matanya.
Dalam jarak dua puluh meter, Yan Jian melayang naik ke langit. Tangannya masih memegang pedang yang tergantung di belakang punggungnya, dan ketika dia berada di ketinggian 20 meter di atas langit, Yan Jian pun berbicara, "Senior... jika kau bisa menahan jurus pedangku... maka aku... Yan Jian dari Provinsi Chang Yuan... akan memanggilmu dengan sebutan Kakek!"
"Banyak cingcong!" ucap Wang Ziwei sembari mengibaskan pedang di tangannya, "Kemarilah! Aku ingin tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang Praktisi Setengah Langkah Nirvana terhadapku?" sambungnya, berteriak menantang dengan suara yang lantang.
Yan Jian tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, lalu berbicara, "Baiklah! Maka bersiaplah, Senior!" sambung Yan Jian, kemudian memejamkan matanya.
"Pedang Nol Derajat!" kata Yan Jian lagi, menyebutkan nama jurusnya.