Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Rahasia yang Terancam
Sisa malam di kafe Amai Memories terasa seperti siksaan yang berkepanjangan bagi Kella. Setelah kepergian Gala yang dramatis, suasana kafe perlahan kembali normal bagi orang lain, namun tidak bagi Kella. Setiap kali lonceng pintu berbunyi, jantungnya mencelos, takut jika sosok jangkung dengan tatapan tajam itu kembali lagi untuk mengusik ketenangannya.
Kella membersihkan meja nomor tujuh dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Uang ratusan ribu yang dilempar Gala tadi sudah dirapikan oleh Kak Sisca.
"Kella, kamu kenal anak itu?" tanya Kak Sisca sambil memperhatikan Kella yang sedang mengelap sisa saus tomat di meja. "Dia kelihatan bukan orang sembarangan. Dan sepertinya... dia punya urusan pribadi sama kamu."
Kella menggeleng pelan, poninya menyapu matanya yang sayu. "Cuman teman sekolah, Kak. Maaf atas keributan tadi."
"Kalau dia datang lagi dan mengganggu, bilang saja sama kita-kita. Kamu tahu kan, kebijakan kafe ini adalah melindungi kenyamanan staf," Sisca menepuk bahu Kella prihatin. Ia tahu Kella adalah pekerja keras yang tidak pernah mengeluh, meskipun ia sering melihat gadis itu datang dengan memar baru di lengannya.
Kella hanya mengangguk kecil. Ia tahu perlindungan kafe tidak akan sampai ke gerbang sekolah. Di sana, ia sendirian.
Pukul sebelas malam. Kella berjalan menyusuri gang sempit menuju kontrakannya yang kecil. Udara malam yang dingin menembus jaket tipisnya yang sudah mulai pudar warnanya. Di bawah sinar lampu jalan yang berkedip-kedip, ia berhenti sejenak, mengeluarkan sebuah dompet usang. Di dalamnya, ada foto kecil yang sudah sedikit menguning di bagian pinggirnya.
Foto seorang remaja laki-laki yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera, mengenakan seragam SMP. Gabriel.
"Kenapa dia harus semirip itu dengamu, Biel?" bisik Kella lirih. Setetes air mata jatuh mengenai plastik pelindung foto itu. "Tapi dia bukan kamu. Dia jahat. Dia merusak segalanya."
Kella menyimpan kembali fotonya. Ia harus tidur. Besok adalah hari lain di neraka yang orang-orang sebut sebagai sekolah. Ia harus mengumpulkan tenaga untuk menjadi "si bisu" lagi, untuk menjadi sasaran empuk yang tidak akan melawan. Karena jika ia melawan, rahasia pekerjaannya—satu-satunya sumber penghidupannya—bisa hancur dalam sekejap.
Keesokan paginya, suasana SMA 01 terasa lebih mencekam dari biasanya bagi Kella. Baru saja ia menginjakkan kaki di koridor kelas dua, sebuah bola basket meluncur deras dan menghantam punggungnya.
Bugh!
Kella tersungkur ke depan, lututnya membentur lantai semen yang keras. Rasa perih menjalar seketika.
"Ups! Sori, nggak liat ada 'sampah' di jalan," tawa Reno menggelegar di koridor, diikuti oleh beberapa siswa lain yang sedang berkumpul di depan kelas.
Kella tidak menjawab. Ia perlahan bangkit, mengabaikan rasa perih di lututnya yang kini pasti sudah berdarah. Ia memungut tasnya yang terjatuh dan terus berjalan dengan kepala menunduk. Namun, langkahnya terhenti oleh sepasang sepatu yang berdiri tepat di depannya.
Sepatu yang mengkilap. Sepatu milik Gala.
Gala berdiri di sana dengan gaya santainya, satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya memutar-mutar kunci motor. Ia memperhatikan Kella dari ujung kaki sampai ujung kepala. Matanya terpaku pada lutut Kella yang terluka, lalu beralih ke wajah gadis itu.
"Bangun juga lo akhirnya," ucap Gala dengan nada meremehkan. "Gue pikir lo mau jadi keset di sini selamanya."
Kella berusaha melewati Gala, namun pria itu menggeser tubuhnya, sengaja menghalangi jalan.
"Minggir," bisik Kella.
"Wah, lo denger nggak? Si Bisu bisa ngomong 'minggir'," Gala menoleh ke arah teman-temannya, memicu tawa riuh. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Kella, suaranya berubah menjadi bisikan yang dingin dan mengancam. "Gimana tidur lo semalam? mimpiin 'Gabriel'?"
Tubuh Kella menegang. Ia mendongak, menatap Gala dengan binar kemarahan yang jarang ia tunjukkan. "Jangan sebut nama itu dengan mulutmu."
Gala menaikkan alisnya, merasa menang karena berhasil memicu reaksi dari gadis robot ini. "Kenapa? Apa dia suci banget sampai gue nggak boleh nyebut namanya? Atau... lo takut gue bakal cari tahu siapa dia sebenarnya?"
Gala tertawa puas melihat Kella yang hanya bisa terdiam dengan tangan mengepal. "Masuk sana. Pelajaran Pak Dodo mau mulai. Jangan sampai lo telat, nanti lo nggak bisa dapet nilai bagus buat bayar... apa itu namanya? Kafe Maid?" berbisik kecil.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Kella. Ia menatap Gala dengan tatapan horor. Dia tahu. Dia benar-benar tahu dan dia akan menggunakannya untuk menghancurkanku.
"Jangan..." suara Kella tercekat.
Gala hanya memberikan seringai jahat, lalu melangkah masuk ke kelas dengan sombong, sengaja menyenggol bahu Kella hingga gadis itu oleng.
Pelajaran bahasa Inggris berlangsung seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Kella tidak bisa fokus pada papan tulis. Pikirannya dipenuhi oleh ketakutan akan kehilangan pekerjaannya. Jika teman-temannya tahu ia bekerja sebagai pelayan di kafe seperti itu, ejekan mereka akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Mereka akan memandangnya sebagai wanita rendahan, atau lebih buruk lagi, mereka akan mendatangi kafe itu hanya untuk menyiksanya.
Di kursi depan, Gala tampak sangat santai. Ia sesekali menoleh ke belakang, memberikan tatapan "Gue pegang rahasia lo" kepada Kella.
Saat jam istirahat, penderitaan Kella berlanjut. Bukan hanya Gala, tapi murid-murid lain seolah mendapat izin tidak tertulis untuk semakin gencar merundungnya.
Di kantin, saat Kella baru saja hendak duduk di bangku paling pojok, sekelompok siswi populer yang dipimpin oleh Sarah, menghampirinya.
"Heh, Minggir. Ini meja kita," ujar Sarah sambil menyiramkan sisa jus jeruknya ke atas meja di depan Kella.
Kella berdiri, hendak pergi tanpa suara, namun Sarah menarik tasnya. "Eh, denger-denger lo sibuk banget ya kalau malam? Kerja apaan sih? Kok kayaknya rahasia banget?"
Kella membeku. Apakah Gala sudah memberi tahu mereka?
"Palingan juga jadi pemulung, Sar. Liat tuh bajunya, udah kuning semua," sahut teman Sarah sambil tertawa sinis.
"Atau jangan-jangan... lo jualan diri?" Sarah membisikkan kata itu dengan keras hingga orang-orang di sekitar menoleh.
"Enggak!" Kella membantah dengan suara keras, menarik perhatian seluruh kantin.
"Waduh, berontak dia," Gala muncul dari kerumunan, membawa nampan makanannya dengan gaya bos besar. Ia berjalan mendekat dan duduk di meja sebelah Kella. "Jangan kasar-kasar sama Kella, Sar. Dia itu punya 'bakat' yang nggak kalian tahu."
Gala menatap Kella dengan kilatan mata yang penuh muslihat. "Dia pinter banget akting. Bisa jadi orang yang beda banget kalau udah pakai kostum, ya kan Kel?"
Kella merasa oksigen di sekitarnya menipis. Gala sedang mempermainkannya seperti kucing yang sedang menyiksa tikus sebelum membunuhnya. Pria itu tidak langsung membocorkannya, ia memilih untuk mencicil rasa takut Kella, menikmati setiap tetes keringat dingin yang mengucur di dahi gadis itu.
"Maksud kamu apa, Gal? Kostum?" tanya Sarah penasaran.
Gala memotong steak di piringnya dengan tenang. "Rahasia. Gue nggak mau bagi-bagi mainan gue sama kalian semua. Kella itu... urusan gue."
Pernyataan itu justru memperburuk keadaan. Kini, seluruh sekolah tidak hanya menganggap Kella aneh, tapi juga menganggap Kella adalah "target pribadi" Gala. Dan di sekolah ini, menjadi target Gala berarti hidupmu sudah tamat.
Sore harinya, Kella berusaha keluar sekolah secepat mungkin. Ia berlari menuju pintu belakang, berharap bisa menghindari Gala. Namun, saat ia sampai di sana, ia justru dihadang oleh Reno dan komplotannya.
"Mau ke mana buru-buru? Kita belum main," ujar Reno sambil memegang sebotol air mineral yang sudah dibuka.
Kella mencoba berbalik, tapi jalannya sudah ditutup.
"Gala bilang lo itu 'mainan' dia sekarang. Jadi, sebagai temen yang baik, kita harus ikut ngerawat mainan dia," Reno menyiramkan air itu ke kepala Kella.
Air dingin membasahi rambut dan seragamnya. Kella hanya bisa memejamkan mata, membiarkan air itu mengalir masuk ke balik bajunya.
"Ayo, nangis dong! Masa cuma diem?" Reno mendorong bahu Kella.
Di kejauhan, Gala berdiri di dekat motornya, menyaksikan kejadian itu dari jauh. Ia melihat Kella yang tidak melawan, Kella yang hanya menunduk pasrah saat diperlakukan seperti itu. Ada rasa kesal yang aneh muncul di benaknya. Kenapa gadis itu tidak membalas? Kenapa dia tidak berteriak seperti saat dia menyebut nama Gabriel?
Gala menyalakan mesin motornya, derum suara knalpotnya memecah suasana. Ia melaju mendekati kerumunan itu.
"Woy, Reno! Berhenti," teriak Gala.
Reno menoleh kaget. "Loh, Gal? Gue kan cuma bantu lo ngerjain dia."
"Gue nggak suka barang gue disentuh orang lain tanpa izin gue. Pergi lo semua," perintah Gala dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Reno dan yang lainnya mendengus kesal, namun mereka tidak berani melawan Gala. Mereka pun pergi meninggalkan Kella yang basah kuyup di tengah lapangan belakang.
Gala menatap Kella yang menggigil. Ia turun dari motor, berjalan mendekat, lalu melepas jaket kulitnya. Namun, alih-alih memberikannya pada Kella dengan lembut, ia justru melempar jaket itu ke wajah Kella.
"Pakai. Jangan sampai lo sakit terus nggak masuk kerja nanti malam," ujar Gala ketus. "Gue belum puas liat lo pakai baju renda-renda itu. Dan satu lagi..."
Gala menarik kerah seragam Kella yang basah, memaksa gadis itu menatapnya.
"Jangan pernah panggil gue dengan nama itu lagi. Kalau lo berani nyebut nama Gabriel sekali lagi di depan gue, gue pastikan besok pagi seluruh sekolah tahu apa yang lo lakuin di kafe itu. Paham?"
Kella hanya bisa mengangguk lemah, air mata bercampur air mineral mengalir di pipinya. Gala melepaskan cengkeramannya, kembali ke motornya, dan melesat pergi meninggalkan debu yang berterbangan.
Kella memeluk jaket kulit milik Gala yang beraroma parfum mahal bercampur tembakau. Ironisnya, aroma itu justru membuatnya teringat pada hangatnya pelukan Gabriel, meskipun ia tahu, pria yang baru saja pergi itu adalah iblis yang sedang menggenggam takdirnya.