NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Ringan di Tengah Hujan

"Persiapan untuk meeting sudah aman?" tanya CEO itu.

"Sudah, Pak." jawab asistennya singkat.

Asistennya segera membuka payung, melindungi atasannya dari hujan ketika hendak berjalan menuju mobilnya.

Namun mobil itu berhenti tepat di gerbang utama saat pandangan CEO itu menangkap sosok yang berdiri disana.

"Berhenti!"

Asistennya segera mengerem mobil itu, "Kenapa, Pak? Ada yang ketinggalan?"

CEO itu tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju ke arah Naya yang berdiri sendirian di dekat gerbang.

Asisten itu mengikuti arah pandangan CEO itu. Matanya menyipit sedikit, mencoba melihat jelas melalui kaca mobil yang dipenuhi titik-titik hujan.

Ia menyadari, Naya berdiri di sana, di dekat gerbang, membiarkan hujan turun membasahi dirinya.

"Naya...." Candra segera meraih payung yang terlipat di samping kursinya.

"Pak, saya turun saja memberikan payung ke Naya," ujarnya sambil membuka pintu mobil.

"Tunggu,"

Suara CEO itu terdengar tegas, membuat tangan asistennya langsung terhenti di gagang pintu.

CEO itu mengambil payung dari tangan asistennya.

"Biar saya saja," katanya singkat.

Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Payung hitam itu terbuka ketika ia berjalan menembus hujan menuju gerbang.

Asistennya itu bersandar kembali ke kursinya, memperhatikan punggung atasannya yang semakin menjauh.

Dalam hati ia tersenyum kecil, "akhirnya bergerak juga,"

Hujan turun semakin deras, Naya masih berdiri di dekat gerbang, menatap jalan yang tampak kabur oleh tirai air.

Tiba-tiba rintik hujan yang jatuh di atas kepalanya berkurang.

Naya mengernyit sedikit. Ia mendongak perlahan.

Sebuah payung hitam terbuka tepat di atasnya. Ia menoleh ke samping, dan langsung terdiam. CEO itu berdiri di sana.

"Pak..... " suara Naya hampir seperti bisikan, penuh keterkejutan.

Tangan CEO itu memegang payung, sedikit dimiringkan ke arah Naya agar lebih banyak melindunginya. Sementara bagian bahu jasnya sendiri mulai terkena percikan air.

Naya berdiri, sekarang mereka hanya saling memandang tanpa kata.

CEO itu menunduk sedikit, bibir mereka hampir saja bersentuhan.

"Wajah ini......" ucap CEO dalam hati.

Naya langsung menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Namun sebelum apapun terjadi, CEO itu sedikit menarik kepalanya ke belakang, menyadari betapa dekatnya mereka di tempat seperti itu.

Tatapannya berpindah sejenak ke arah jalan yang masih kosong.

"Mobil saya ada di sana." katanya akhirnya, suaranya tetap tenang meski ada sesuatu berbeda di matanya.

"Tunggu hujan disana saja." Lanjutnya.

"Tidak usah, Pak. Saya hanya menunggu angkot," jawabnya pelan.

"Berdiri seperti ini?" tanyanya dengan suara yang terdengar menekan di tengah suara hujan.

Naya menunduk sedikit.

CEO itu menatapnya beberapa saat lagi, seolah mempertimbangkan sesuatu.

Tanpa banyak kata, ia tiba-tiba meraih pergelangan tangan Naya. Menariknya perlahan namun tegas.

"Angkot tidak akan datang dalam hujan seperti ini," katanya tanpa menoleh.

Naya tak bisa ngomong apapun, tak menolak. Hanya bisa mengikuti langkahnya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya masih berada dalam genggaman pria itu, hangat di tengah dinginnya hujan yang terus turun di sekitar mereka.

Dari dalam mobil, asistennya yang masih menunggu, memperhatikannya, matanya membesar melihat hal itu.

"Gercep sekali...." ucapnya sambil menggeleng-geleng kepala.

Tak menyangka atasannya itu bisa melakukan hal itu dalam waktu sesingkat itu.

Langkah mereka akhirnya berhenti tepat di depan mobil. Hujan masih turun deras. Saat itulah CEO itu menyadari sesuatu. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Naya.

Sejenak ia terdiam, baru tersadar akan tindakannya sendiri.

"Aduh....." Katanya sambil memejamkan mata.

Pintu mobil tiba-tiba terbuka dari dalam. Asistennya keluar dengan cepat, membawa payung lain untuk menyambut mereka.

Dalam momen singkat itu, CEO tersebut spontan melepaskan genggaman tangannya, tidak ingin tindakannya terlihat terlalu jelas.

Naya sedikit menunduk, melihat tangannya itu, terasa hangat dari genggaman yang baru saja dilepaskan.

"Silahkan, Pak," sapa asistennya sambil membuka pintunya.

Naya duduk dengan kaku di kursi belakang, pakaiannya yang basah membuatnya sedikit tidak nyaman. CEO itu duduk di sampingnya, sementara asistennya kembali ke kursi depan.

"Tunda meeting sore ini," Ucap CEO tiba-tiba.

Asistennya sedikit menoleh dari kursi depan, memastikan apa yang didengarnya.

"Hubungi mereka. Katakan saya ada urusan mendesak."

"Baik, Pak."

Asistennya segera mengambil ponselnya untuk mengatur ulang jadwal.

Naya yang sejak tadi diam langsung menoleh dengan ragu.

"Pak, tidak perlu menunda meeting karna saya," ucapnya pelan.

CEO itu tetap menatap lurus ke depan.

"Bukan karna kamu," jawabnya.

Naya kembali menunduk, meskipun perasaan tidak enak masih tertinggal di dadanya.

Mobil itu melaju meninggalkan tempat itu, dan hanya keheningan di dalam mobil.

Naya melirik ke luar jendela, mengingat kembali kejadian singkat itu di kantor. Perkataan Nadira, sahabatnya.

Mobil itu berhenti di depan rumah Naya.

"Terima kasih, Pak." Ucap Naya.

Dia segera membuka pintu, berniat turun cepat sebelum keadaan semakin canggung. Namun saat ia melangkah keluar, pintu di sisi lain juga terbuka.

CEO itu ikut turun dari mobil.

Naya sedikit terkejut, menoleh ke arahnya.

Hujan hanya menyisakan rintik-rintik kecil.

Pintu rumah terbuka. Ibu Naya muncul di ambang pintu, mungkin mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka.

"Naya?" panggilnya, melangkah cepat ke arah Naya.

Langkahnya kemudian terhenti ketika melihat seseorang berdiri di dekat putrinya.

"Eh..... " wajahnya langsung berubah sedikit terkejut. "Kamu.... teman Naya, kan?"

Naya langsung menegang sedikit, mendekati ibunya yang diikuti langkah CEO itu.

"Iya, Bu." jawabnya sangat pelan sebelum suasana menjadi aneh.

Bagi ibu Naya, pria di hadapannya hanyalah rekan kerja biasa putrinya. Karna itu ia tidak merasa sungkan.

"Masuk saja dulu. Hujannya belum benar-benar berhenti." ajaknya dengan tulus.

Naya sedikit terkejut mendengar ajakan itu.

Ia meraih tangan ibunya, "Bu..." sambil menatap mata ibunya.

Sementara CEO itu sempat terdiam sesaat.

"Tidak usah repot, Bu." ucapnya tersenyum.

"Ah tidak repot sama sekali." potong ibu Naya cepat. "Kebetulan kami baru mau makan malam."

Saat itu juga, ibu Naya memperhatikan penampilan CEO lebih jelas. Jas yang dikenakan rapi, bahannya terlihat mahal.

Ia melirik sekilas ke arah putrinya, lalu kembali menatap pria itu.

Dalam hati ia merasa sedikit heran, "rekan kerja biasa... tapi pakai jas seperti ini?"

Namun ibu Naya tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum lagi dengan ramah.

"Masuk dulu saja, Nak. Setidaknya makan sebentar sebelum pulang."

Naya yang berdiri di dekat ibunya semakin merasa gugup. Ia melirik sekilas ke arah CEO itu, khawatir pria itu merasa tidak nyaman dengan situasi tersebut.

Beberapa saat berlalu, namun CEO itu belum juga kembali ke mobil. Asistennya yang sejak tadi menunggu akhirnya membuka pintu dan turun. Ia merasa atasannya terlalu lama tidak kembali.

Begitu melangkah keluar, Ia langsung berjalan beberapa langkah mendekat.

Ibu Naya terkejut melihat ada orang lain yang keluar dari mobil itu. Penampilan yang hampir sama dengan CEO itu.

"Siapa lagi itu?" pikirnya dalam hati.

Asisten itu berhenti tidak jauh dari mereka, sedikit menundukkan kepala dengan sopan.

"Maaf, Pak....." ucapnya pelan, seolah mengingatkan sesuatu.

Ibu Naya melirik ke arah Naya, lalu kembali menatap pria lain itu.

"Loh.... itu siapa lagi?" tanyanya dengan Nada heran.

Sebelum Naya sempat mencari jawaban, CEO itu sudah lebih dulu berbicara dengan tenang.

"Teman Naya juga, Bu. Sama seperti saya."

Jawaban itu membuat Naya menoleh cepat ke arahnya, sedikit terkejut. Asistennya juga terkejut tapi hanya sebentar, dia menahan ekspresi di wajahnya, tetap tenang, dan hanya diam.

Ibu Naya mengangguk pelan, "oh begitu, kalau begitu sekalian saja masuk. Kita makan malam bersama."

Asisten itu sempat terdiam ketika mendengar ajakan ibu Naya. CEO itu melangkah ringan mengikuti langkah Ibu Naya mendekati teras rumah, seolah ajakan itu adalah sesuatu yang wajar untuk diterimanya.

"Dia memang beda..." gumam asistennya.

Matanya sedikit membesar, tidak menyangka atasannya yang biasanya menjaga jarak dengan urusan pribadi, kini justru mengikuti ajakan makan malam di rumah seorang staf.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!