NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Aku Lumpuh! Bukan Impoten!

Zella terus berpikir, bagaimana menyusun kata-kata agar tidak menyinggung ketidak mampuan Abi. Hal itu sangat sensitif apalagi mereka baru menikah.

"Urusan anak, kita serahkan sama Allah, memang urusan ranjang bagian indah dari pernikahan, tapi aku tak akan menuntut itu, karena fokusku dan tujuan utamaku adalah kebahagiaan, kesehatan, dan kesembuhan Anda. Hal terindah bagiku saat melihat Anda menjalani hidup ini dengan sehat dan bahagia."

Mendengar kata-kata Zella hal terindah adalah kesehatan dan kebahagiaanya, membuat Abi merasa kembali remaja. Ingin rasanya melompat kearah Zella dan memeluk erat wanita itu. Namun peran pura-pura lumpuh tak bisa dia akhiri sekarang.

"Apa ruangannya kurang dingin?" Zella mencari remot Ac dan memeriksa suhu yang saat ini.

"Tidak, AC cukup sejuk. Kau tidak perlu panik," ucap Abi.

"Wajahmu memerah, aku takut kejadian tadi malam terulang."

Abi berusaha menahan senyumnya. Wajahnya terasa hangat hingga memerah bukan karena kepanasan, tapi karena baper pada Zella. "Harap maklum, kesehatanku yang begitu lemah membuat tubuhku ikut tak normal. Kamu jangan panik, aku baik-baik saja."

Zella menatap begitu dalam wajah Abi. Berusaha mempercayai laki-laki itu.

"Kenapa? Ada yang salah dari wajahku?"

"Aku hanya masih khawatir."

"Kemarilah." Abi menepuk bagian sisi tempat tidur yang masih kosong.

Zella mendekat dan duduk ditempat yang Abi isyaratkan.

"Aku baik-baik saja. Percayalah padaku." Abi menarik dagu Zella agar wajah itu mendekat kearahnya. Tak dapat dielakan, ciuman lembut dan hangat kembali mendarat di bibir Zella.

Pangutan itu berlangsung lama, namun suara 'krucuk-krucuk' yang berulang, terdengar dari perut Zella membuat ciuman itu terjeda. Sontak keduanya tertawa menertawakan sumber pengganggu itu.

"Maafkan aku, asam lambungku sepertinya demo," ucap Zella.

"Kamu nggak salah, aku yang salah, aku malah mengganggu waktu makan kita."

Keduanya masih tertawa lalu melanjutkan kembali sarapan yang tertunda.

Perut sudah terisi, perabot yang digunakan untuk makan pun sudah Zella bereskan. Abi terus memandangi wanita itu, rasanya tak ada rasa bosan memandangi wajah itu.

"Kamu terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri?" Abi merasa takjub dengan hasil pekerjaan Zella.

"Aku bukan anak sultan yang saat membuka mata sampai memejamkan mata dilayani pembantu. Aku hanya rakyat jelita yang harus berjuang sendiri."

"Rakyat jelita? Narsis sekali!" ledek Abi.

"Kenapa Anda tak terima? Apa di mata Anda aku tak cantik jelita?"

Abi tersenyum sendiri memandangi wajah Zella. "Iya kau memang cantik, kecantikanmu dan apa saja yang ada padamu, membuatku lupa kalau sebelumnya aku pernah menolakmu."

Andai kamu tahu, penolakan darimu hal yang membahagiakan, tapi saat ku tahu kalau tak bisa jadi istrimu sulit membebaskan Ayahku, seketika hal bahagia itu jadi hal yang mengerikan. Batin Zella.

"Andai aku tahu aku sebahagia ini setelah menikah lagi, aku tak akan menolak tawaran Anjani. 2 tahun dia terus membujukku, tapi terus aku tolak." Abi menertawakan dirinya sendiri.

Abi kembali menoleh pada Zella. "Saat di rumahku, ku harap kau tidak merindukan pekerjaan ini. Karena semua pekerjaan sudah ada yang melakukannya."

"Em ... di dengar bagus. Tapi apakah aku betah tak melakukan apa-apa?"

"Tugasmu di rumahku nanti hanya menikmati setiap detik waktu yang berjalan lalu menjagaku saat aku di rumah, apakah ini akan sangat membosankan?"

"Menjaga Anda, tentu tidak membosankan. Semakin ke sini Anda semakin menyenangkan."

"Bisa panggil aku dengan kata yang lebih santai, terkadang kamu, terkadang Anda, kita sekarang sudah sah menjadi suami-istri apa masih harus seformal itu?"

"Maaf, aku belum terbiasa, dan beri aku waktu untuk beradaptasi."

"Zella kemarilah." Abi lagi-lagi meminta Zella duduk di sampingnya.

Zella langsung duduk di samping Abi tanpa rasa sungkan.

"Aku--" Abi merasa sulit mengungkapkan kalimat yang ingin dia sampaikan.

"Aku apa?" Zella menatap wajah Abi dengan sorot mata yang begitu lembut.

"Aku sangat ingin melakukan ibadah suami-istri bersamamu."

Degg! Deg! Deg!

Jantung Zella berdetak kencang namun temponya melambat.

Apakah karena aktivitas itu membuat Abi menginginkan hal itu? Bagaimana ini? Jangan sampai dia bersedih dan merasa bersalah.

Abi membelai lembut wajah Zella dengan jemarinya. "Tapi aku tak bisa memandu kegiatan itu karena kedua kakiku tak bisa menopang tubuhku."

Zella bingung harus merespon apa. Keinginan itu wajar ada, terlebih mereka selalu kontak fisik. "Ta-tapi--"

"Tapi kita bisa melakukannya jika kau bersedia memandu dan berada di atasku." sela Abi.

Bulu kuduk Zella seketika meremang, dia mengira Abi tak bisa melakukan itu, ternyata keyakinan yang Arumi tanamkan di kepercayaannya sangat berlawanan.

Arumi!! Siwalan kau! Kau bilang Abi lumpuh dan tak akan meminta hal itu!

Abi berusaha memahami raut wajah Zella yang sangat syok ketika dia meminta hal itu. "Aku hanya lumpuh, Zella. Bukan impoten."

Abi merebahkan dirinya, namun satu tangannya menarik lengan Zella, membuat tubuh wanita itu tertarik kearah Abi. Zella dapat merasakan tonjolan di bawah sana.

"Kamu bisa merasakan itu bangkit bukan? Sejak tadi malam aku sangat ingin, tapi aku tidak bisa memegang kendali. Tapi jika kamu bersedia membantuku, kita bisa melakukan itu. Apakah kamu bersedia?"

"Ada apa ini? Aaaa!" Zella meringis dalam hati.

"Am-" Tenggorokan Zella terasa tercekat, bagaimana bisa menolak Abi, apa alasannya?

"Sudahlah, lupakan. Seperti yang aku duga, perempuan akan jijik padaku, termasuk dirimu." Abi melepaskan Zella dan langsung membuang wajah.

"Bukan begitu, aku bersedia. Tapi tidak harus sekarang dan saat ini juga kan?"

Abi langsung tersenyum. "Jadi kamu bersedia kalau di rumahmu? Atau menunggu saat tiba di rumahku?" Wajah Abi seketika semangat.

"Di mana saja Anda mau, aku siap. Tapi tidak di sini."

"Akan ku tagih janjimu."

Wajah Zella terlihat sangat tertekan setelah menyetujui hal itu, Abi pun bisa menangkap perasaan itu.

"Kamu menyesal?" tanya Abi.

Menyesal pun tak guna! Aku sudah jadi istrimu!

"Bukan, tapi apakah aku bisa? Bagaimana kalau Anda kecewa padaku?"

"Kita akan tahu jawabannya nanti, setelah kita melakukannya."

Membayangkan bagaimana keadaan kamar setelah pulang nanti, seketika Zella berharap bisa menginap di Rumah Sakit ini lebih lama. Namun harapannya tak sesuai kenyataan. Saat pemeriksaan siang, Abi dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang.

Mendengar kabar itu, Abi segera menghubungi Miko.

"Miko, kamu di mana?"

"Saya masih menyelesaikan pekerjaan. Ada apa Pak Abi menelepon saya?"

"Aku sudah boleh pulang, bagaimana keadaan mobilku?"

"Tadi malam sudah diperbaiki sama montir yang saya datangkan dari sini, kursi roda Anda juga sudah diantar ke ruang perawatan Anda, dan saya juga mengirimkan supir untuk menggantikan tugas saya sementara waktu."

"Baiklah, cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku belum terbiasa bersama orang lain selain kau."

"Siap Pak Abi. Setelah semua pekerjaan selesai, saya secepatnya menyusul Anda."

Selesai Abi menutup panggilannya, Zella tiba-tiba datang membawa beberapa kantong obat dan lembaran kertas.

"Administrasi sudah selesai. Sekarang kita boleh pulang. Tapi siapa yang bawa kita? Apa aku minta Ayah Saman jemput kita?" tanya Zella.

"Tidak perlu panggil Ayahmu. Ada supir di parkiran yang menunggu, tinggal ku panggil dia pasti datang."

"Sekarang, bagaimana aku membantu Anda pindah dari ranjang ke kursi roda?"

"Dekatkan kursi roda itu, kau bantu aku untuk pindah."

"Apa aku kuat?" Zella tak yakin bisa membantu Abi untuk berpindah tempat.

"Bagian atas tubuhku masih berfungsi dengan baik, hanya bagian bawah yang bermasalah. Kau bantu sedikit aku pasti bisa pindah."

Zella memberanikan diri untuk membantu Abi berpindah dari ranjang perawatan menuju kursi roda. Diturunkannya posisi ranjang di setelan terendah, kursi roda didekatkan dengan keadaan roda yang sudah dikunci. Kedua lengan Zella melingkar di badan Abi.

"Siap?" tanya Zella.

"Pada itungan ketiga pindah aku," pinta Abi.

1, 2, 3!

Hitung keduanya bersamaan. Tak sesulit yang Zella pikirkan, entah mengapa dia merasa ada bantuan hingga mengangkat Abi terasa lebih mudah.

"Alhamdulillah selamat, aku tadi sangat takut kalau akhirnya aku menjatuhkanmu." Zella berusaha mengatur napasnya.

"Aku tak keberatan jatuh, asal ada dirimu ikut jatuh di atas tubuhku." ucap Abi.

"Dudududuu ... aku tak dengar ...." Zella menyibukan diri dengan merapikan penampilan Abi.

"Maafkan aku karena merepotkanmu."

"Bukankah ini tugasku?" Zella berpindah merapikan barang miliknya, dan menyusun semua dalam 2 tote bag besar.

"Gantungkan saja di gagang kursi rodaku, agar kau tak repot menentengnya."

"Kalau begitu izinkan aku mendorong kursi rodamu"

"Itu tidak perlu, kursi roda ini bisa aku kendalikan sendiri."

"Tolong lah, aku merasa sedikit berguna jika aku membantumu mendorong kursi roda, anggap saja kita tengah berjalan sambil bergandeng tangan."

Abi tersenyum dan mengangguk. Zella langsung meraih pegangan kursi roda itu, dan perlahan mendorongnya meninggalkan kamar perawatan.

Selamat Zella, sekarang bersiaplah kala suamimu memintamu untuk melayaninya.

Huhu ... Tuhan aku belum siap.

Dia sudah menjadi suamimu, dia minta hak nya itu sudah semestinya.

Aku? Di atas?? Aku malu membayangkan itu huhu ....

Wajah Zella terlihat santai, namun hatinya terus menjerit membayangkan hal itu. Tanpa terasa mereka sampai di lobby Rumah Sakit, dan di sana ada seorang laki-laki yang berlari menyambut Abi, kala Abi dan Zella keluar dari lift.

"Permisi Pak Abi. Saya Antony, supir pengganti yang dikirim Pak Miko."

"Siapkan mobil, antar kami pulang," titah Abi.

Tidak menunggu lama, mobil Abi sudah berada di depan pintu utama. Abi dan kursi rodanya perlahan masuk mobil dengan bantuan alat yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Semua sudah berada dalam mobil, mobil pun melaju meninggalkan Rumah Sakit.

1
Yusna Wati
aku gk suka abi perhatian sama anjani pdhal anjani udh menghianati pernikahan apa gk jijik si abi deket2 anjani
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!