NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: TITIK PALING LEMAH

Hujan turun perlahan sejak sore, membasahi kaca-kaca gedung Dirgantara Group dengan garis-garis tipis yang menyerupai retakan.

Aira Senja baru saja menyelesaikan revisi jadwal rapat ketika ponselnya bergetar.

Nama rumah sakit muncul di layar.

Jantungnya langsung mencelos.

Ia berdiri, menjauh sedikit dari meja resepsionis lantai eksekutif sebelum menjawab.

“Halo?”

“Selamat sore, Mbak Aira,” suara petugas administrasi terdengar formal, terlalu formal. “Kami ingin mengonfirmasi perubahan status pembayaran ICU atas nama Ibu Ratna.”

Perubahan.

Kata itu saja sudah cukup membuat napas Aira berubah.

“Perubahan apa, Mbak?”

“Penjamin perusahaan atas nama Dirgantara Group dinonaktifkan per pukul 14.37 hari ini. Status kembali menjadi pembayaran mandiri.”

Darah di wajah Aira seolah tersedot habis.

“Itu tidak mungkin,” bisiknya. “Kontrak itu resmi.”

“Kami hanya menerima notifikasi sistem, Mbak. Jika hingga malam ini belum ada klarifikasi, kami terpaksa menyesuaikan kelas perawatan.”

Menyesuaikan kelas.

Artinya keluar dari ICU.

Artinya risiko.

Artinya—

Aira memejamkan mata sesaat. “Tolong beri saya waktu. Saya akan mengurusnya.”

Panggilan terputus.

Beberapa detik ia hanya berdiri diam, menatap lantai marmer yang mengilap tanpa benar-benar melihatnya.

Ini bukan kesalahan teknis.

Ini serangan.

Dan ia tahu siapa yang punya cukup pengaruh untuk menyentuh administrasi perusahaan tanpa menimbulkan kecurigaan.

Tanpa mengetuk, Aira membuka pintu ruang CEO.

Arlan mendongak perlahan dari berkas di tangannya. Tatapannya langsung berubah tajam.

“Kau lupa tata krama?”

“Biaya ICU ibu saya ditarik.”

Suasana langsung berubah.

Hening.

Arlan berdiri perlahan. “Apa maksudmu?”

“Administrasi rumah sakit mengatakan penjamin dari perusahaan dinonaktifkan siang ini.”

“Aku tidak memberi perintah apa pun.”

Nada suaranya tidak meninggi. Justru terlalu terkendali.

Itu lebih menakutkan.

Aira menelan ludah. “Tapi sistem mencatatnya atas nama legal perusahaan.”

Arlan berjalan menuju mejanya, membuka laptop, mengetik cepat.

Beberapa menit kemudian ia memanggil kepala keuangan dan supervisor legal ke ruangannya.

Wajah mereka terlihat bingung.

“Kami menerima email resmi pembatalan dari akun legal senior, Pak,” ujar kepala keuangan.

“Dengan otorisasi tanda tangan digital,” tambah supervisor legal.

Arlan menyipitkan mata. “Legal senior sedang di Singapura.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Siapa yang punya akses ke ruang konsultan?” tanya Arlan.

“Biasanya tamu VIP, atau… keluarga.”

Kata terakhir itu tidak perlu disebut dua kali.

Aira berdiri kaku. Dadanya terasa berat, tapi ia menahan diri untuk tidak menunjukkan emosi.

Ia tidak akan runtuh di depan mereka.

“Aktifkan kembali jaminan itu,” perintah Arlan tenang.

“Tapi, Pak—”

“Sekarang.”

Nada suaranya cukup untuk menghentikan perdebatan.

Semua orang keluar ruangan.

Hanya tersisa Arlan dan Aira.

Hujan di luar makin deras.

“Kau pikir ini tentang kecemburuan?” tanya Arlan pelan.

Aira tidak menjawab.

“Ini tentang posisi,” lanjutnya. “Seseorang ingin mengingatkan siapa yang punya kuasa.”

Aira mengangkat wajahnya. “Kalau begitu, saya yang seharusnya mundur.”

Arlan langsung menatapnya tajam.

“Kau pikir jika kau mundur, mereka akan berhenti?”

Aira terdiam.

“Kau sudah masuk terlalu jauh ke dalam sistemku, Aira.”

Kalimat itu membuat napasnya tercekat.

“Saya tidak pernah ingin—”

“Masalahnya bukan apa yang kau inginkan.”

Arlan mendekat beberapa langkah.

“Masalahnya adalah mereka melihatmu sebagai celah.”

Celah.

Titik lemah.

Ponsel Aira bergetar lagi.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Lain kali mungkin bukan administrasi yang ditarik.

Tangan Aira membeku.

Arlan merebut ponsel itu tanpa meminta izin.

Ia membaca pesannya, lalu ekspresinya berubah.

Bukan marah.

Bukan terkejut.

Tapi sesuatu yang lebih gelap.

“Baik,” gumamnya pelan.

Aira menatapnya. “Pak Arlan, tolong jangan membesar-besarkan ini. Saya tidak ingin—”

“Kau tidak ingin apa?” potongnya.

“Saya tidak ingin jadi alasan perang.”

Hening.

Arlan menatapnya lama. Tatapan itu berbeda dari biasanya.

Lebih dalam.

“Perang sudah dimulai sejak kau menandatangani kontrak itu,” ucapnya pelan.

“Dan jika mereka pikir bisa menyentuh ibumu untuk menggoyahkanku…”

Ia menghela napas tipis.

“Mereka salah memilih sasaran.”

Beberapa menit kemudian, notifikasi masuk ke ponsel Aira.

Status pembayaran ICU: aktif kembali.

Ia menutup mata, lega sekaligus takut.

Karena ini belum selesai.

Di sisi lain kota, Clarissa duduk di lounge hotel mewah, menatap layar ponselnya dengan senyum tipis.

“Dia mengaktifkannya kembali,” ujar asistennya pelan.

“Tentu saja,” jawab Clarissa santai. “Aku hanya ingin melihat seberapa cepat ia bergerak.”

Ia berdiri, merapikan gaunnya.

“Sekarang aku tahu.”

“Mengetahui apa, Nona?”

Clarissa tersenyum.

“Bahwa gadis itu benar-benar titik lemahnya.”

Kembali di ruang CEO, Arlan berdiri di depan jendela besar, menatap hujan.

Aira berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Pak Arlan.”

Ia tidak menoleh.

“Kalau ini terus berlanjut, saya yang akan pergi.”

Kalimat itu membuat Arlan akhirnya berbalik.

Tatapannya keras.

“Kau tidak akan pergi tanpa izinku.”

Itu terdengar seperti ancaman.

Tapi ada sesuatu yang lain di sana.

Takut.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali—

Arlan Dirgantara terlihat seperti pria yang tidak ingin kehilangan sesuatu.

Dan Aira menyadari satu hal yang jauh lebih berbahaya daripada sabotase atau ancaman.

Ia bukan lagi sekadar bagian dari kontrak.

Ia sudah menjadi bagian dari pertarungan ego, kuasa—

dan perasaan yang mulai keluar dari kendali.

Dan dalam perang seperti ini,

tidak ada yang benar-benar menang tanpa kehilangan sesuatu.

Nah.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!