Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Untuk pertanyaan itu Damon hanya diam. Ia hanya berdiri disana menunggu, memberi Karina waktu hingga tangis dan kesedihannya sedikit mereda.
Setelah napas Karina mulai lebih teratur, Damon mengambil peti hitam yang tadi dibawanya, lalu meletakkannya perlahan di depan Karina.
“Apa isinya?” Tanya Karina, tatapannya terpaku pada peti itu. Ada firasat buruk yang membuat dadanya kembali terasa sesak.
Karina terhenyak. Nafasnya tersendat, dan hampir saja ia berteriak sebelum suaranya tenggelam menjadi isak yang kembali pecah. Di dalam peti itu terbaring Ranra, kepalanya telah terpisah dari tubuhnya, disangga seolah berusaha dipasangkan kembali.
Wajah Ranra yang biasanya pucat kini jauh lebih pucat, hampir keabu-abuan. Bibirnya menghitam, dan di sekitar mata yang tertutup terbentuk lingkaran gelap bercampur ungu yang menyedihkan. Semua tanda-tanda itu menjelaskan kematian tragis yang beberapa waktu lalu menimpanya.
“D–dia,” Karina tidak sanggup berkata-kata, tubuhnya melemah. Ia menjatuhkan diri di samping peti itu, lututnya menyentuh lantai. Air mata yang sebelumnya hampir kering kini kembali mengalir deras. Lebih panas, lebih menyakitkan, seolah merobek dadanya dari dalam.
Mungkin karena kini Karina tahu, wanita yang terbaring di dalam peti itu adalah bagian terpenting dari dirinya yang pernah hilang. Bagian yang terlupakan begitu lama, hingga ketika kebenaran itu kembali, rasanya jauh lebih menyesakkan dan menyakitkan. Ikatan dan perasaan yang sebelumnya tak pernah disadari keberadaannya kini datang menghantamnya sekaligus, tanpa ampun.
“A–apa dia benar-benar mati?” tanya Karina di sela isakannya. Tangannya terulur, menyentuh jemari Ranra yang terlipat kaku di atas perut. Kulit itu dingin. “Dia dingin sekali…”
“Ya,” jawab Damon pelan. Ia ikut duduk di lantai dingin di samping Karina, pandangannya tertuju pada Ranra. “Dia benar-benar sudah pergi. Hugo mematahkan lehernya sampai terputus, dan dia melakukan sesuatu yang membuat Ranra mati sepenuhnya.”
“Apa kamu nggak bisa melakukan sesuatu untuknya?”
Damon menggeleng perlahan. “Tidak ada yang bisa dilakukan,” katanya jujur. “Kecuali Andamon kembali.”
Andamon? Karina pernah membacanya di dalam lembaran kertas yang ada di ruang ganti kamar Ranra.
“Siapa Andamon? Dimana dia sekarang?” Tanya Karina, sedikit harapan kembali menyala di matanya. Mungkin… mungkin Ranra masih bisa diselamatkan.
Damon mengalihkan pandangannya dari Ranra kepada Karina yang menatapnya penuh harap. Ia meneliti wajah Karina yang pucat dan kelelahan cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Hingga akhirnya, ia kembali membuka suara.
“Dia adalah bagian paling istimewa dari Demon Silence,” ujar Damon pelan. “Dulu dia pernah menjadi pemimpin tertinggi mereka. Tapi…” Ia terdiam, menelan ludah, dan kalimatnya terhenti di sana seolah lidahnya kelu untuk melanjutkan.
“Tapi apa?” desak Karina, nadanya tak sabar.
“Dia sudah lama meninggalkan Demon Silence, tidak ada yang tahu keberadaannya.”
Karina hanya mengangguk meskipun ia merasa Damon tidak mengatakan yang sebenarnya. Damon seperti sengaja menyembunyikan beberapa informasi tentang sosok bernama Andamon ini.
“Aku akan menyimpan Ranra di tempat peristirahatannya,” kata Damon sambil menutup kembali peti hitam itu. “Kamu mau ikut?”
“Iya,” jawab Karina tanpa ragu. “Aku ikut.”
“Baik,” Damon mengangkat peti yang telah tertutup ke bahunya, lalu mengangguk ke arah Karina sebagai isyarat singkat agar ia mengikutinya.
Damon tidak membawa peti itu ke pemakaman. Ia juga tidak membawanya keluar rumah untuk menggali makam bagi jasad tersebut. Sebaliknya, ia melangkah menuju sebuah ruangan yang terpisah, terletak di ujung lantai satu rumah itu.
Ia berhenti di depan sebuah pintu polos tanpa gagang. Dengan tenang, Damon menekan rangkaian huruf dan angka ganjil pada sebuah panel. Kombinasi yang cukup aneh bagi Karina.
D1M18IN59G3201P.
Pintu terbuka lebar. Hawa dingin segera menguar dari dalam, menyentuh kulit Karina hingga membuatnya bergidik. Pandangannya terpaku ke dalam ruangan yang didominasi cahaya biru laut. Dari keempat sudut ruangan, uap putih dingin terus mengalir, memenuhi udara, jelas menjadi sumber suhu ekstrem di tempat itu.
“Ruangan apa ini?” tanya Karina pelan sambil mengikuti Damon masuk.
Begitu mereka melangkah masuk, pintu di belakang tertutup otomatis. Karina refleks menoleh, terkejut saat menyadari pintu itu seolah menyatu dengan dinding, nyaris tak meninggalkan jejak keberadaannya.
“Ruangan peristirahatan,” jawab Damon singkat.
Ia meletakkan peti di lantai, lalu dengan sangat hati-hati mengeluarkan tubuh Ranra.
Karina hanya bisa memperhatikan, alisnya bertaut penuh kebingungan.
Damon kemudian membawa jasad Ranra ke sebuah kotak bening berisi cairan berwarna biru gelap. Tanpa ragu, dan tetap berhati-hati, ia memasukkan Ranra ke dalamnya.
“Kenapa kamu memasukkannya ke sana?” Karina mengikuti setiap gerakan Damon. “Bukankah seharusnya kita menguburkannya?” Ia terdiam sesaat, lalu melanjutkan dengan nada tak nyaman, “Atau… kamu ingin membekukan tubuhnya?”
Apakah Damon benar-benar berniat membekukan jasad ibunya?
...***...
...Ada yang tahu apa arti kombinasi huruf dan angka tersebut? Yang suka teka-teki mungkin bisa memecahkannya☺️...
...Jangan lupa like, komen dan vote......
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor