NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-35

Setelah kencan singkat tujuh menit di balkon semalam, pagi ini atmosfer di kamar utama terasa berbeda. Tidak ada suara tawa kecil Elisa saat melihat Kalandra salah memasang kancing baju bayi Anaknya, juga tidak ada obrolan hangat tentang rencana akhir pekan. Yang ada hanyalah kesunyian yang berat, di temani ketiga bayi yang sedang tertidur pulas setelah sesi menyusui subuh tadi.

Elisa duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah luar jendela. Matanya sembap dan terlihat lelah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena perasaan hampa yang tiba-tiba datang tanpa diundang. Ia merasa sedih, sangat sedih, tapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Padahal, ia sudah memiliki segalanya, suami yang mencintainya, anak-anak yang sehat, dan kehidupan yang lebih dari cukup.

Kalandra yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu, langsung menyadari perubahan yang terjadi pada istrinya itu. Radar suami siaga nya menangkap sinyal bahaya.

"Sayang?" Kalandra mendekat, duduk di samping Elisa. "Apa ada yang sakit? Punggung kamu pegal lagi?"

Elisa hanya menggeleng pelan, lalu tiba-tiba setetes air mata jatuh di pipinya. "Aku nggak tahu, Mas. Aku cuma... aku tiba-tiba pengen nangis aja. Aku merasa aku bukan ibu yang baik buat mereka. Aku capek, tapi aku merasa bersalah karena merasa capek."

Kalandra tertegun. Ia teringat artikel yang pernah ia baca di kantor tentang Baby Blues. Ia tidak panik, tapi justru menarik Elisa ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di dadanya. Hal semacam ini pasti akan terjadi apalagi usia sang istri yang masih terbilang muda.

"Sstt... nggak apa-apa sayang. Kamu itu ibu yang hebat, El. Wajar kalau kamu merasa capek. Kamu bawa tiga nyawa sekaligus selama sembilan bulan, terus sekarang harus urus mereka 24 jam. Kamu bukan robot," bisik Kalandra sambil mengusap punggung Elisa.

"Tapi Mas juga kerja, Mas juga kurang tidur, tapi Mas nggak secengeng aku," isak Elisa.

Kalandra tersenyum tipis. "Karena tugasku sekarang adalah menjadi jangkar kamu. Kalau jangkarnya ikut hanyut, kapalnya bisa hilang arah, kan?"

...----------------...

Kalandra tahu ia harus bertindak cepat sebelum kabut biru ini menyelimuti Elisa terlalu dalam. Ia keluar dari kamar sebentar dan memanggil Bimo serta Gery ke ruang tengah.

"Bim, Ger, gue butuh bantuan kalian. Hari ini nggak ada urusan di kantor. Kita punya operasi yang khusus, Operasi Relaksasi untuk Ibu Negara," ujar Kalandra dengan wajah sangat serius.

Gery mengerutkan kening. "Operasi apaan tuh, Bos? Kita mau gerebek tempat spa?"

"Bukan. Kita bawa spanya ke sini. Gery, lo cari terapis spa terbaik yang bisa datang sekarang juga. Bilang harganya berapa pun gue bayar, asal dia bisa bikin Elisa rileks. Bimo, lo cari koki makanan sehat yang bisa bikin hidangan penenang, jangan yang aneh-aneh."

"Terus bayi-bayi gimana, Lan?" tanya Bimo.

Kalandra menghela napas panjang, lalu menatap kedua asistennya itu dengan tatapan mengancam. "Itu tugas kita bertiga. Ditambah Bi Inah. Kita bakal jadi babysitter seharian ini. Elisa harus punya waktu lima jam tanpa gangguan suara tangisan bayi."

Gery menelan ludah. "Tiga bayi, Bos? Berarti satu orang pegang satu dong? Gue pegang si Abang aja deh, dia kayaknya lebih laki kalau diajak diskusi."

"Nggak ada diskusi, Ger! Kalau dia nangis, lo gendong!" tegas Kalandra.

Satu jam kemudian, operasi relaksasi sesuai permintaan kalandra dimulai. Kalandra membujuk Elisa untuk masuk ke ruang santai yang sudah disulap menjadi area spa pribadi. Aroma lavender dan musik instrumental yang lembut memenuhi ruangan.

"Mas... ini apa?" tanya Elisa bingung saat melihat dua terapis sudah menunggu.

"Ini waktu buat kamu, Sayang. Lima jam ke depan, kamu nggak boleh mikirin popok, nggak boleh mikirin susu, nggak boleh mikirin aku. Ini Cuma tentang kamu dan ketenangan. Aku yang bakal jaga anak-anak hari ini," ujar Kalandra sambil mencium kening istrinya.

Elisa merasa hatinya sedikit menghangat. "Tapi kalau mereka nangis nanti gimana Mas??."

"Tenang, ada Gery dan Bimo yang sudah siap ikut bertempur. Percaya sama aku."

Begitu pintu ruang spa itu tertutup, Kalandra berbalik dan menghadapi pemandangan luar biasa di ruang tengah. Gery sedang duduk di lantai dengan muka tegang, memegangi Adik Dua yang sedang memainkan ujung kaosnya. Bimo sedang menggendong si Abang sambil membaca laporan keuangan, sepertinya itu cara Bimo untuk menidurkan bayi. Sedangkan Kalandra sendiri mengambil Adik Satu yang mulai rewel.

"Oke, tim. Tetap waspada," instruksi Kalandra pelan.

Keadaan masih aman selama tiga puluh menit. Sampai akhirnya, Aris pulang dari sekolah dengan berlari riang.

"Kak Landra! Tadi di sekolah Aris cerita kalau dedek bayi Aris ada tiga! Temen-temen Aris nggak percaya!" seru Aris dengan suara nyaring.

"Sstt! Aris! Pelan-pelan!" bisik ketiga pria dewasa itu serempak dengan wajah horor.

Aris langsung menutup mulutnya dengan tangan, matanya bulat menatap tiga adiknya yang untungnya tidak bangun. "Maaf, Kak..."

"Sini, Ris. Bantu Kak Landra. Aris jagain Adik Satu ya, tapi jangan berisik," bisik Kalandra.

Tantangan sesungguhnya datang di jam kedua. Si Abang mendadak pup, dan baunya langsung memenuhi ruangan.

"Aduh, bau apaan nih?! Siapa yang bocor?!" seru Gery sambil menutup hidungnya.

Bimo melihat ke arah popok si Abang. "Gue rasa ini tugas lo, Ger. Gue lagi pegang data penting di kepala."

"Nggak ada alasan! Gery, lo yang ganti!" perintah Kalandra yang sedang sibuk menyuapi susu ke Adik Satu.

Gery akhirnya menyerah. Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka popok bayi untuk pertama kalinya. "Aduh, kecil banget sih kakinya. Takut patah gue... Lan, ini warnanya emang gini?"

Kalandra melirik sekilas. "Iya, Ger. Jangan banyak tanya, cepet bersihin sebelum dia nangis!"

Di tengah kekacauan itu, seorang kerabat jauh dari keluarga Mahendra sebut saja Tante Lastri datang berkunjung tanpa diundang. Beliau dikenal sebagai wanita yang sangat cerewet dan suka mencampuri urusan pola asuh orang lain.

"Lho, kok Bapak-bapak semua yang jaga anak-anak? Mana Elisa? Masa ibunya malah enak-enakan?" suara Tante Lastri terdengar tajam saat masuk ke ruang tengah.

Kalandra berdiri dengan tenang, menyerahkan bayinya ke Bi Inah sebentar. Ia menghadap Tante Lastri dengan aura CEO yang keluar kembali.

"Selamat siang, Tante. Elisa sedang istirahat atas perintah saya. Dia sudah berjuang luar biasa melahirkan tiga anak sekaligus, jadi hari ini adalah haknya untuk dihargai," ujar Kalandra dengan nada sopan namun sangat tegas.

"Tapi Landra, bayi itu harusnya nempel sama ibunya terus, nanti kalau…."

"Tante," potong Kalandra halus. "Anak-anak saya butuh ibu yang sehat secara mental dan fisik. Dan saya, sebagai suaminya, bertanggung jawab memastikan itu terjadi. Jadi, kalau Tante datang untuk mengkritik cara kami mengurus rumah tangga, lebih baik kita bicarakan di lain waktu saat saya sedang tidak sibuk mengganti popok." Tegas Kalandra dengan dingin

Tante Lastri langsung bungkam. Ia tidak menyangka Kalandra yang kaku akan membela Elisa sefrontal itu. Ia akhirnya hanya bisa duduk diam dan menerima teh dari Bi Inah tanpa berani bicara lagi.

Sore harinya, Elisa keluar dari ruang spa dengan wajah yang jauh lebih cerah. Kulitnya tampak segar, dan beban di matanya seolah sedikit terangkat. Ia terkejut melihat pemandangan di ruang tengah.

Dimana Kalandra tertidur di sofa dengan Adik Satu di dadanya. Gery tertidur di karpet dengan si Abang yang menendang-nendang mukanya, dan Bimo sedang telaten memberikan botol susu ke Adik Dua sambil mengetik di ponsel. Aris juga tertidur di samping Kalandra sambil memeluk buku gambarnya.

Elisa merasakan matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia merasa sangat dicintai.

Kalandra terbangun saat merasakan kehadiran Elisa. Ia tersenyum ngantuk. "Gimana? Sudah lebih enak?"

Elisa mengangguk, ia duduk di samping Kalandra dan menyandarkan kepalanya. "Makasih ya, Mas. Makasih sudah ngelakuin semua ini buat aku."

"Apa pun buat kamu, El. Maaf ya kalau tadi itu ada insiden bau pup atau Tante Lastri yang nyebelin, tapi kita semua berhasil bertahan hidup," canda Kalandra.

Elisa tertawa, tawa pertamanya hari ini yang terdengar sangat lepas. Kabut biru itu belum sepenuhnya hilang, tapi dengan dukungan seperti ini, Elisa tahu ia tidak akan tenggelam didalamnya.

"Mas, aku siap pegang mereka lagi sekarang. Jadi sekarang Mas yang istirahat ya."

Kalandra menggeleng, ia merangkul bahu Elisa. "Kita pegang mereka bareng-bareng. Tapi sebelumnya... Gery, bangun! Anak gue jangan lo jadiin bantal!"

Gery meloncat kaget. "Hadir, Bos! Siap, popok aman!"

Tawa pecah di mansion Mahendra sore itu. Kehidupan dengan kembar tiga memang tidak menjanjikan ketenangan, tapi bagi Elisa, cinta yang nyata adalah saat suaminya bersedia ikut kacau, ikut kotor, dan ikut lelah demi kewarasannya. Dan bagi Kalandra, melihat senyum Elisa kembali adalah profit terbesar yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat membaca guysss...

...Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya manteman🙏🏻🙌🏾❤️...

1
Hari Saktiawan
lope lope lope author /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
memei
harusnya berusaha menemui apapun yg trjadi ,jangan ikutin kata teman2mu yg mlh kesannya kalandra biar gak bisa tanggungjwab dan mana mgkn masalah bisa selesai kalo gak dihadapi
memei
2 teman kalandra ini mkstnya gimana sih , kalandra mau tanggung jawab mlh kayak gak dukung gitu ... mereka ini temsn ato musuh sih kan elisa sudah terlanjur hamil mau gak mau harus tetap tanggungjwab .ini 2 temen kalandra emang profokator
memei
gak akan rumit ,tanggung jawab nikahi elisa
memei
ceritanya bagus tp kok sepi koment
falea sezi
sweet bgt sih ndra
falea sezi
sayang bgt ya paak ma anak duhh gemess.. q ksih hadiah lagi buat triple
falea sezi
suka deh lahir si triple jd keinget anak ku Thor kembar 3 jg tp cowok semua yg satu keguguran
Xyaz Dewi
seru banget
falea sezi
q ksih hadiah biar ending nya bagus
falea sezi
moga sehat ampe lahiran
fatih faa
Thor manggil nya jangan saya
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara is here
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!