"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hari persidangan Seruni dan Hamdan akan berlangsung hari itu. Seruni datang di temani kedua orang tua nya dan juga Adel. Anak-anak nya pun ikut.
Sedangkan Hamdan, ia datang membawa Susan dan juga anak laki-laki nya. Sungguh wanita itu tidak tahu malu. Jelas sekali mereka belum resmi berpisah. Tapi Hamdan sudah terang-terangan seperti itu.
Di ruang itu, Hamdan masih saja tidak terima dengan semua tuduhan yang di timpakan kepada nya. Padahal semua bukti yang di berikan oleh Seruni jelas dan kuat. Pria itu seakan-akan ingin menyulitkan Seruni.
Namun, dengan pengacara keluarga Adel yang membantu nya, Hamdan tidak bisa berkutik. Akhirnya hari itu, Seruni sah berpisah dengan pria yang sudah menyakiti nya selama ini.
"Alhamdulillah. Akhirnya Kak Runi selesai juga dengan nya."
"Iya, Del. Terima kasih, ya. Semua ini juga berkat kamu yang menyadarkan kakak. Kakak tidak tahu harus mengatakan apa."
"Sudah lah, kak. Jangan terlalu di pikirkan. Ayo sekarang kita makan-makan untuk merayakan hari ini."
"Kamu benar juga. Ayo kalau gitu."
Hamdan dan keluarga nya, menatap tak suka ke arah Seruni yang saat itu sangat bahagia karena telah berhasil cerai darinya. Hamdan mengira jika Seruni akan sedih dan putus asa ketika kehilangan dirinya.
Tapi nyatanya, saat ini wanita itu benar-benar sangat bahagia dan tidak berhenti tersenyum dan tertawa sejak tadi. Hal itu membuat Hamdan sangatlah kesal dan marah.
"Sudahlah, Hamdan. Tidak perlu lagi kau lihat wanita sial itu. Kamu masih bisa mendapatkan banyak wanita di luar sana yang bisa memberikan cucu laki-laki buat ibu."
"Tentu saja, Bu. Aku sekarang bukanlah Hamdan yang dulu. Uangku banyak. Aku memiliki rumah dan juga mobil yang bagus. Jabatanku juga tidak main-main. Wanita mana yang akan menolakku? Sedangkan Seruni, ia hanyalah janda beranak 6."
Hamdan masih begitu sombong dengan membanggakan pekerjaan dan juga hasil jerih payah yang ia miliki selama ini. Tanpa Ia sadari, bahwa semua rezeki yang ia dapatkan berasal dari istri dan juga anak-anaknya.
Hamdan pun berjalan ke arah parkiran. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan mereka yang akan makan-makan demi merayakan kejadian besar di hari itu. Mulut Hamdan tidak bisa untuk tidak ikut berbicara.
"Sombong sekali kau Seruni. Dapat uang dari mana kamu mau makan-makan? Tidak mungkin kan, dari hasil orang tua mu jual rumah di desa. Atau jangan-jangan, uang dari anak-anak yang kamu suruh mengemis di lampu merah?" Ucap Hamdan sambil tertawa meremehkan.
"Diam lah, Hamdan. Kamu sudah tidak ada lagi urusan nya dengan hidup kami."
"Oh ya? Jangan salah, Seruni. Anak-anak mu semua nya perempuan. Suatu saat nanti mereka pasti akan membutuhkan aku untuk menjadi wali nikah."
"Jangan bermimpi terlalu jauh. Aku akan mendoakan mu ma-ti dengan cepat. Supaya mereka tidak di persulit lagi oleh mu nanti."
"Kau..."
"Kenapa? Sudah lah. Aku tidak ada waktu dengan mu. Ayo semua nya, kita senang-senang."
Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil dan pergi. Hamdan masih berdiri dan diam di sana melihat kepergian Seruni. Masih ada sedikit rasa tidak rela di dalam hati nya, saat tahu jika saat ini Seruni sudah bukan milik nya lagi.
"Hamdan, ayo pulang. Ngapain kamu bengong di sini? Atau jangan-jangan kamu menyesal dengan perceraian ini?"
"Tentu saja tidak, Bu. Aku hanya kesal pada Seruni. Dia malah mendoakan ku cepat mati supaya tidak menghalangi niat anak-anak nya menikah kelak."
"Wanita itu itu memang kurang ajar. Untung saja sekarang kalian sudah bercerai. Jika tidak, bisa makan hati setiap hari."
Hamdan pun menghampiri Susan sebelum pulang. Sejak tadi anak laki-laki nya Susan sangat rewel dan tidak mau menunggu berakhir nya sidang.
Sungguh anak itu sangat susah di atur. Sangat berbeda dengan anak-anak nya Seruni. Entah bagaimana Seruni bisa mendidik anak-anaknya yang banyak itu dengan baik.
"Susan, ayo kita pulang. Aku akan mengantar kalian dulu."
"Baiklah. Tapi, Taro mau beli jajan sebelum pulang."
"Baiklah. Nanti kita akan mampir ke suatu tempat."
Hamdan pun pergi dan meninggalkan gedung itu. Ia berharap, ini kali terakhir nya ia datang ke sana. Ia pun mengantar Susan dan anak nya untuk membeli makanan dan jajanan terlebih dahulu.
Ia baru sadar saat itu. Selama ini, ia tidak pernah membelikan jajan untuk anak-anak nya. Melihat Taro yang memborong jajanan yang sangat banyak, ia jadi merasa aneh. Anak nya Susan benar-benar sangat di manjakan.
*****
Di sebuah restauran mewah, Seruni dan yang lain nya sedang menikmati makanan yang enak dan lezat. Mereka semua fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka.
Mereka tampak bahagia dan sesekali tersenyum satu sama lain. Adapun anak-anak nya Seruni, sudah di tempat kan di kursi khusus supaya Seruni nyaman.
"Bu, makanan di sini enak. Tapi, aku lebih suka makan makanan buatan Ibu."
"Rima, jangan buat ibu malu dong. Ibu kok di samakan dengan chef yang ada di restauran ini sih. Kamu ini ada-ada aja."
"Tapi, aku benar, Bu. Adik-adik juga mengatakan hal yang sama. Masakan buatan ibu, sungguh sangat enak."
Seruni jadi tersipu malu karena di puji oleh anak-anak nya. Ia benar-benar tidak menyangka anak-anak itu begitu manis. Anak-anak yang ia besarkan dengan kedua tangan nya sendiri.
"Sudah makan saja. Setelah ini, kita akan berbelanja untuk kebutuhan rumah. Kalian juga boleh membeli makanan ringan."
"Horeeeee...."
Mereka bersorak riang dan gembira. Tidak menyangka jika hari itu sangat lah menyenangkan.
"Jadi, apa rencana mu nak? Apa Hamdan tidak memberikan sepeser uang pun untuk kalian saat bercerai?" Bapak nya Seruni menatap anak perempuan satu-satunya itu dengan sedih.
"Aku akan terus bekerja keras, Pak. Bapak jangan khawatir. Sudah sejak lama Aku tidak mengharapkan lagi uang darinya. Aku justru ingin langsung bercerai darinya dan tidak meminta harta gono gini. Karena aku tidak ingin ada urusan lagi dengannya di masa yang akan datang."
"semoga saja Hamdan tidak mengurusi kehidupan kalian lagi. kalau dia berani macam-macam pada kalian maka bapak yang akan turun tangan."
"Terima kasih Bapak. Seandainya saja dulu aku mendengarkan apa yang Bapak katakan, mungkin saat ini aku tidak akan menjadi janda. Tapi aku juga tidak menyesal karena aku telah memiliki anak-anak yang sangat pintar dan juga baik." Seruni berbicara sambil menatap keempat anak-anaknya.
"Terima kasih, Bu. Kami sayang ibu."
"Ya, sayang. Ibu juga sayang kalian semua. Kalian adalah anak-anak ibu yang baik, cantik, pintar dan juga sangat hebat."
bersinar 😮