NovelToon NovelToon
Rahasia Prajurit Li

Rahasia Prajurit Li

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.Terbangun 4 tahun yang lalu.

Gelap itu retak.

Retaknya seperti kain sutra yang disobek dari sudut. Cahaya merembes masuk pelan, panas, lalu berubah dingin.

Lalu—napas.

Yun Lan menghela napas pertama setelah mati.

Kelopak matanya bergetar, dan dunia kembali dengan suara samar:

cicak di dinding, suara kipas kayu, dan aroma kayu basah yang begitu familiar dibandingkan bau dupa ritual.

“Aah…”

Ia terbatuk ringan. Tenggorokannya tidak perih, tidak bau ramuan mati, tidak terasa darah. Tubuhnya… berat. Bukan karena dirantai, tapi karena dagingnya sendiri.

Ia membuka mata sepenuhnya.

Dan untuk pertama kali setelah ritual pembakaran, ia melihat—atap kamar lamanya.

Bukan altar.

Bukan kabut.

Bukan dewa.

Melainkan kayu pinus dengan ukiran awan sederhana, pekerjaan terakhir ayahnya setelah pensiun menjadi tentara.

Yun Lan membeku.

“…Tidak mungkin.”

Ia memejamkan mata lagi, kemudian membukanya keras—seolah dunia akan berubah kalau ia salah.

Tetap sama.

Kipas kayu yang berderit karena usia. Poster permainan festival yang ia beli dengan koin. Rak kecil yang dipenuhi kertas catatan sekolah.

Semua masih ada. Semua masih utuh. Semua masih milik gadis berumur sebelas tahun yang belum tahu bahwa empat tahun kemudian ia akan dilempar hidup-hidup ke altar.

Tangan Yun Lan meraba pipinya. Terasa tebal. Pipi bulat, lembut, bukan cekung dan pucat seperti semalam—atau apa pun yang dianggap semalam oleh jiwanya.

Ia menurunkan pandangan ke tubuhnya.

Tubuhnya gemuk. Lengan bertumpuk lemak sehat. Perut menggelambir manis di balik baju tidur kuning.

Ini tubuh lamanya.

Tubuh sebelum ritual.

Sesuatu meledak di dada Yun Lan—campuran takut, lega, dan teror.

Ia menyambar selimut dan memakainya seperti benteng kecil.

“Tidak… tidak… ini tidak mungkin. Ini…” napasnya tercekat. “Aku kembali?”

Tangannya gemetar hebat.

Sebelum logika menang, suara lain menyusul—suara kayu pintu digeser.

“Lan’er? Kau sudah bangun?”

Yun Lan berhenti bernapas.

Pintu kamar terbuka.

Dan di sana berdiri seorang wanita dengan rambut hitam disanggul sederhana, mata teduh namun selalu tampak letih, tubuh kurus namun hangat—ibunya.

Ibunya. Yang di kehidupan sebelumnya ia hanya lihat terakhir kali dari balik kabut asap ritual, menjerit dan ditahan penduduk desa.

Wanita yang lemah tidak bisa melindungi putrinya, dan akhirnya ikut mati bersama putrinya.

Wanita itu kini hidup. Bernafas. Utuh.

Dan memandangnya dengan senyum lembut yang pernah hilang bertahun-tahun sebelum kematiannya.

“Bangunlah cepat,” ujar ibunya. “Ayah sudah siap mengantarmu ke pasar sebelum buka.”

Yun Lan menutup mulutnya untuk menahan isak yang tidak diundang.

Suara itu—suara itu pernah ia ingat sebagai suara yang tidak pernah lagi terdengar setelah ayahnya meninggal dan ibu menyalakan dupa setiap malam untuk menenangkan diri.

Sekarang suara itu masih penuh dunia.

“Lan’er?”

Yun Lan tidak menjawab. Ia langsung turun dari ranjang dan berlari—lebih cepat dari tubuh gemuknya seharusnya mampu—dan memeluk ibunya keras sekali.

Pelukan itu kasar, meledak, dan terasa seperti menutup lubang yang menganga di dalam dadanya.

Ibunya terkejut. “Eh? Kenapa nangis?”

Yun Lan hanya mengguncang kepala di bahu ibunya.

“Aku… mimpi buruk,” katanya dengan suara pecah.

“Oh, anak ini…” suara ibunya pelan dan penuh senyum. “Itu hanya mimpi. Lihat, ibu di sini.”

Kalimat itu menghancurkan Yun Lan.

Karena ia tahu di kehidupan sebelumnya, mimpi buruk justru menjadi kenyataan dan ibunya tidak ada untuk melindunginya.

Yun Lan memeluk lebih lama dari seharusnya, sampai ibunya mengusap kepala dengan lembut.

“Cepat cuci muka. Ayah sudah menunggu.”

Ayah.

Ayahnya masih hidup.

Yun Lan menghapus air mata secepat mungkin lalu berlari ke luar kamar.

Tangga kayu berdecit—suara yang dulu ia anggap menjengkelkan, tapi kini merupakan musik paling indah di dunia.

Di ruang tamu, seorang pria berusaha menata kotak kayu dan sekantong soba kering ke dalam keranjang.

Tubuhnya tegap, wajahnya berkerut di mata karena terlalu sering tersenyum, dan noda gergaji masih menempel di lengan.

Ayah.

“Aha! Putri saya sudah turun!” katanya ceria tanpa sadar bahwa dunia baru saja retak dan disambung kembali untuk anaknya.

Yun Lan terpaku.

Pria itu menengok dan mengangkat alis. “Eh? Kok bengong?”

“I… I…” suara Yun Lan bergetar.

Ayahnya mendekat dan menekan dahinya dengan punggung tangan. “Tidak demam. Kamu hanya lapar.”

Yun Lan terkikik kecil sambil menutup mulut. Sungguh, ia bahkan merindukan cara ayahnya salah diagnosis semua hal sebagai lapar.

“Cuci muka. Kita berangkat.”

Setelah mencuci muka, Yun Lan berdiri di depan cermin pualam kecil di sudut kamar mandi.

Wajah itu—chubby, bulat, gemuk, dan sering dihina penduduk desa—menatap balik dari permukaan kaca.

Gadis sebelas tahun yang belum pernah dipangkas harga dirinya oleh ritual bodoh.

Yun Lan menggerakkan jarinya ke arah perut dan pipi.

Tubuh ini… adalah tubuh yang dulu ia benci.

Sekarang… ia ingin melindunginya.

Ia mengambil napas panjang.

“Aku kembali,” bisiknya dengan suara yang tidak goyah. “Empat tahun sebelum ritual.”

Dan dengan itu, dunia mulai menyambung.

Begitu keluar dari pintu rumah, ia melihat nuansa yang sama seperti empat tahun yang lalu saat semuanya masih baik-baik saja.

Ada sinar matahari masuk, panasnya yang membuat Yun lan rindu.

Di kehidupan dulu setelah perang besar, desa Ying mengalami musim dingin yang panjang.

Sekarang dirinya kembali lagi, tapi berdiri sebagai Yun lan yang baru.

Cukup waktu untuk memutar takdir.

Cukup waktu untuk menyelamatkan ayahnya dari titah istana.

Cukup waktu untuk menghentikan takdirnya sebagai pengorbanan.

Cukup waktu untuk menghentikan pendeta dungu itu dari menjualnya ke Dewa Yun seolah-olah ia kambing kurban.

Dan cukup waktu… untuk menghadapi Dewa itu sendiri.

Dadanya naik-turun.

Yun Lan mengepalkan tangan.

“Tidak akan ada altar,” gumamnya. “Tidak akan ada pengorbanan. Aku sendiri yang akan melindungi keluargaku.”

Angin pagi melewati pipinya.

Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, hatinya terasa ringan.

Namun langkahnya baru bergeser satu langkah ketika suara lain menggema samar—bukan dari dunia manusia, tetapi dari jauh di belakang pikirannya, seperti gema dari lubang kabut:

Manusia kecil… kau akan melewati jalan takdir setiap kali kau merubahnya…

Yun Lan menggertakkan gigi, tetapi matanya tidak lagi takut.

“Kalau takdir bisa diubah, aku akan mengubahnya,” ucapnya pelan. “Dan kalau dewa keberatan, biar dia sendiri yang turun.”

Tiba-tiba di pagi yang cerah suara petir menggelegar diatas desa Ying.

Ia membuka pintu pagar.

Dan dunia mulai berjalan ke arah yang berbeda, langkah yang berbeda.

Bukan Li yun lan yang dulu lagi, mudah di tindas oleh orang lain. Dia akan membalas jika orang itu jahat pada keluarganya dan dirinya, sekarang dirinya menikmati hidup sebagai anak kesayangan keluarga Li lagi.

Tanpa dirinya sadari dirinya membawa sesuatu dari kematian, yang membantu dirinya melewati jalannya melawan takdir keluarganya.

1
Nurhasanah
suka bangett cerita mu thor .... rajin2 up ya thor semangattt 🥰🥰🥰💪💪💪💪
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
kau bukan tidak berguna tapi kau terlalu berharga untuk anak yang sudah kau besarkan Jendral Li
Nurhasanah
makin seru .. semangatt thor 🥰🥰🥰
Nurhasanah
lanjut thor ... semangattt 💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Nurhasanah
karya bagus gini semoga banyak yg baca ya thorr semangatt ... suka bangett ceritanya 🥰🥰🥰🥰🥰
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir dulu aku
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!