"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit mendung menggantung rendah, membiarkan rintik hujan mulai membasahi kaca jendela apartemen mewah di lantai 22 tersebut. Di dalam unit itu, kehangatan justru terpancar dari sosok Hana Anindita.
Hana baru saja kembali dari pusat perbelanjaan. Meski perutnya yang berusia tujuh bulan membuatnya cepat lelah, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
Ia baru saja membeli sepasang sepatu bayi mungil berwarna putih bersih dengan aksen pita biru kecil di bagian samping. Sepatu itu begitu kecil, hingga Hana bisa menggenggam keduanya hanya dengan satu telapak tangan.
"Anak kita pasti sangat tampan saat memakainya," bisik Hana pelan sembari mengelus perut buncitnya.
Suara pintu depan yang terbuka membuat jantung Hana berdesir senang. Bima pulang lebih awal. Hana segera bangkit, merapikan daster hamilnya yang berbahan sutra, dan berjalan menyambut suaminya.
Bima Erlangga melangkah masuk dengan wajah yang lebih dingin dari hujan di luar sana. Dasinya sudah dilonggarkan, jasnya tersampir sembarangan di lengan kiri. Tidak ada sapaan, tidak ada kecupan di kening seperti biasanya.
"Mas Bima sudah pulang? Mau mandi dulu atau mau minum?" tanya Hana lembut, mencoba mengabaikan aura dingin yang dibawa suaminya.
Bima tidak menjawab. Ia justru melempar tas kerjanya ke atas sofa kulit, lalu duduk dengan menyandarkan kepala. Matanya terpejam, tapi rahangnya mengeras.
Hana mendekat, membawa kotak sepatu kecil yang tadi ia beli. "Mas, lihat ini. Aku tadi pergi ke toko perlengkapan bayi. Bukankah ini lucu? Aku membayangkan dia menendang-nendang kecil saat memakainya nanti."
Hana menyodorkan sepatu mungil itu tepat di depan wajah Bima. Ia berharap Bima akan tersenyum, mengelus perutnya, atau setidaknya memberikan sedikit perhatian pada calon putra mereka. Namun, yang terjadi justru di luar nalar.
Bima membuka mata. Bukannya binar bahagia, yang ada hanyalah tatapan muak. Dengan kasar, Bima menepis tangan Hana. Sepatu mungil itu terlepas dari genggaman Hana dan jatuh ke lantai, terpisah begitu saja di dekat kaki meja.
"Jangan bahas soal anak itu terus, Hana. Aku muak," suara Bima rendah, namun tajam bagai sembilu.
Hana terpaku. Ia mematung, menatap sepatu yang tergeletak di lantai. "Mas... ada apa? Apa ada masalah di kantor? Kenapa bicara begitu?"
Bima berdiri, membuat Hana harus mendongak untuk menatap mata suaminya. "Masalahnya bukan di kantor. Masalahnya ada di sini. Di rumah ini. Di pernikahan ini."
Bima merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan melemparkannya ke atas meja. "Aku ingin kita selesai."
Jantung Hana seolah berhenti berdetak. "Selesai? Apa maksudmu, Mas?"
"Aku ingin kembali pada Clarissa," ucap Bima tanpa ragu. Nama itu terucap dengan begitu penuh kerinduan, berbanding terbalik dengan cara ia menatap istrinya sendiri. "Dia sudah kembali. Dia membutuhkanku. Dan jujur saja, selama dua tahun ini, aku terus mencoba mencintaimu, Hana. Tapi nyatanya, aku gagal. Aku tetap menginginkan dia."
Hana merasa dunianya seolah runtuh. Oksigen di sekitarnya mendadak hilang. "Lalu... bagaimana denganku? Bagaimana dengan bayi ini? Kamu yang memintaku berhenti bekerja agar fokus menjaga kandungan, kamu yang bilang ingin membangun keluarga kecil yang bahagia..."
"Itu sebelum Clarissa kembali!" potong Bima keras. "Aku tidak mau berbelit-belit. Aku tidak mau menunggu sampai anak itu lahir. Semakin lama aku di sini, aku merasa semakin terpenjara."
Bima menarik napas panjang, menatap Hana dengan sorot mata penuh tantangan. Ia mengharapkan reaksi yang biasa ia lihat di drama televisi atau yang ia bayangkan semalaman.
Bayangan di mana Hana yang akan menangis histeris, bersimpuh di kakinya, memohon-mohon demi janin yang ia kandung, atau setidaknya memaki-makinya dengan amarah yang meluap.
Bima sudah menyiapkan tameng egonya. Ia ingin merasa dibutuhkan, ingin merasa bahwa ia adalah pusat semesta Hana yang jika ia pergi, maka Hana akan hancur lebur.
Namun, keheningan menyergap.
Hana tidak menangis. Tak ada air mata yang jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia hanya berdiri mematung, menatap lurus ke dalam bola mata Bima. Tatapannya kosong, namun sangat dalam. Seolah-olah saat itu juga, Hana sedang menghapus setiap inci kenangan tentang Bima dari kepalanya.
Satu menit berlalu. Dua menit. Hana tetap diam membeku.
Bima mulai merasa tidak nyaman. "Kenapa diam? Marah? Maki aku! Bilang kalau aku jahat! Ayo, teriak!" Bima berteriak, mencoba memprovokasi istrinya.
Hana masih diam. Keheningan itu justru terasa lebih mengerikan daripada teriakan bagi Bima. Keheningan yang menunjukkan bahwa Hana tidak lagi menganggap kata-kata Bima berharga untuk ditanggapi.
"Kau dengar tidak?" Bima mencengkeram bahu Hana, mengguncangnya sedikit. "Aku menceraikanmu! Aku menjatuhkan talak padamu sekarang juga! Pergi dari hidupku dan kembali ke keluargamu. Aku akan urus semua dokumennya lewat pengacara."
Hana melepaskan cengkeraman tangan Bima dari bahunya dengan gerakan yang sangat tenang, nyaris mekanis. Ia membungkuk, mengambil kembali dua sepatu bayi yang tadi terjatuh. Ia mengusap debu imajiner yang menempel di sana dengan ujung jarinya.
"Hanya itu?" suara Hana keluar. Datar. Tanpa getaran.
Bima terperangah. "Apa?"
Hana menatap Bima kembali. Kali ini ada sedikit kilatan di matanya, bukan cinta, melainkan rasa jijik yang murni. "Hanya itu alasanmu? Karena wanita dari masa lalu?"
"Dia bukan sekadar wanita masa lalu, dia cintaku!" bela Bima, meski dalam hatinya ia merasa aneh karena Hana tidak menunjukkan kerapuhan.
Hana mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau itu yang kamu inginkan. Terima kasih sudah mengatakannya sekarang, sebelum aku membuang lebih banyak waktu untuk mencintai orang yang salah."
Hana berbalik, berjalan menuju kamar tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tegak, meski perutnya berat. Tidak ada isak tangis, tidak ada bahu yang berguncang.
Bima berdiri mematung di ruang tamu. Ia merasa kalah. Harusnya ia yang merasa menang karena telah melepaskan beban, tapi melihat ketenangan Hana, ego Bima justru terasa tercabik.
Ia ingin Hana memohon, ia ingin Hana menangis agar ia bisa merasa kuat dengan memberikan belas kasihan.
Tapi Hana justru memberinya kesunyian yang mematikan.
Di dalam kamar, Hana menutup pintu dengan perlahan. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Tangannya menggenggam sepatu bayi itu begitu erat hingga kukunya memutih. Barulah di sana, dalam kesendirian, satu tetes air mata jatuh. Hanya satu.
Ia mengusap perutnya. "Jangan takut, Sayang. Ayahmu mungkin sudah mati hari ini. Tapi ibu akan menjadi duniamu." lirihnya dalam hati.
Di luar, Bima menendang meja kopi dengan kesal. "Sial! Kenapa dia bersikap seolah aku tidak penting?!" umpatnya.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang menangis, sebuah janji suci telah dibunuh dengan dingin. Bima tidak tahu, bahwa dengan menjatuhkan talak tersebut, ia bukan hanya kehilangan seorang istri, tapi ia baru saja menutup pintu surga yang selama ini Hana bukakan untuknya setiap hari.
...----------------...
To Be Continue...
**Apa kabar, Sahabat NovelToon?**
**Aku hadir lagi dengan cerita yang lebih berani dan emosional. Kali ini, aku ingin mengajak kalian masuk ke dalam kisah Hana, dan merasakan dinginnya talak yang diucapkan Bima.**
**Jangan lupa tinggalkan jejak, karena komentar kalian adalah energi bagiku untuk menyelesaikan perjalanan panjang ini hingga episode terakhir.**
**Selamat membaca semuanya, i love u sekebon buat kalian semua. Sampai jumpa di Up selanjutnya...**
**See You. ❤️🤗**