NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Tiga

Ruangan itu terasa sangat hening setelah pertanyaan itu diucapkan.

Hanin masih menunduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam di atas pangkuannya. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Semua mata tertuju padanya.

Ustaz Hamid menunggu dengan sabar. Papanya Arsenio juga tidak terburu-buru. Sementara Arsenio sendiri duduk sedikit tegang di kursinya. Meskipun sebelumnya Hanin sudah menyatakan kesediaannya, tetap saja mendengar jawaban langsung di depan orang tua membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Beberapa detik berlalu.

Akhirnya Hanin mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya lebih dulu tertuju kepada Ustaz Hamid, seolah meminta restu dalam diam. Sang ustaz hanya membalas dengan senyum kecil yang menenangkan.

Barulah Hanin menoleh kepada kedua orang tua Arsenio. Dengan suara pelan namun jelas ia berkata, “InsyaAllah … saya bersedia.”

Kalimat itu sederhana, tapi maknanya begitu besar. Begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, suasana ruangan langsung berubah hangat.

Mama Arsenio spontan menutup mulutnya dengan tangan seolah menahan haru. Matanya langsung berbinar. “MasyaAllah …,” ucapnya pelan.

Arsenio yang sedari tadi tegang akhirnya menghembuskan napas panjang. Ia bahkan tanpa sadar tersenyum lebar. Bahunya yang tadi kaku kini terlihat jauh lebih rileks.

Papanya Arsenio mengangguk pelan dengan wajah puas. “Alhamdulillah.”

Ustaz Hamid juga ikut tersenyum. “Semoga Allah memberkahi niat baik ini.”

Belum sempat suasana benar-benar tenang, Mama Arsenio tiba-tiba berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati Hanin.

Hanin yang melihatnya langsung ikut berdiri dengan sedikit gugup. Tanpa ragu, wanita elegan itu langsung memeluk Hanin dengan hangat.

Pelukan itu membuat Hanin sedikit terkejut, tetapi ia segera membalas dengan sopan.

“Terima kasih, Nak,” ucap Mama Arsenio dengan suara lembut yang terdengar sedikit bergetar. “Terima kasih sudah menerima Arsenio.”

Hanin merasa pipinya kembali memanas. “InsyaAllah saya akan berusaha menjadi yang terbaik,” jawabnya pelan.

Mama Arsenio melepaskan pelukan itu sambil menatap wajah Hanin dengan penuh kasih. “Mulai sekarang kamu bukan hanya calon menantu … tapi sudah menjadi anak Mama sendiri.”

Kalimat itu membuat hati Hanin terasa hangat. Ia hanya bisa tersenyum malu sambil menunduk sedikit. Setelah itu Mama Arsenio kembali duduk di kursinya.

Namun, beberapa detik kemudian ia seperti teringat sesuatu. “Oh iya, sebentar.”

Ia menoleh kepada suaminya. “Papa, tunggu sebentar ya.”

Papanya Arsenio mengangkat alis. “Kenapa?”

Mama Arsenio tersenyum misterius. “Mama ada sesuatu.”

Ia lalu berdiri lagi. “Maaf, saya keluar sebentar.”

Ustaz Hamid mengangguk. “Silakan.”

Mama Arsenio pun keluar dari ruangan itu dengan langkah yang cukup cepat.

Beberapa saat ruangan kembali dipenuhi suasana santai. Papanya Arsenio menatap Hanin dengan ramah.

“Kami sudah sering mendengar tentang kamu dari Arsenio.”

Hanin tersenyum kecil. “Begitu ya, Om?”

Pria itu mengangguk. “Katanya kamu gadis yang sederhana, rajin, dan sangat menghormati orang tua.”

Arsenio langsung menggaruk tengkuknya dengan canggung. “Papa .…”

Papanya tertawa kecil. “Apa? Papa hanya mengatakan yang kamu ceritakan.”

Hanin menahan senyum. Beberapa menit kemudian pintu ruangan kembali terbuka.

Mama Arsenio masuk lagi. Namun kali ini di tangannya ada sebuah kotak kecil berwarna beludru.

Ia kembali duduk di kursinya sambil tersenyum. “Baik,” ucapnya ringan. “Sekarang Mama sudah siap.”

Arsenio langsung menatap kotak itu dengan sedikit heran. “Mama …?”

Mama Arsenio membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya terlihat dua cincin yang berkilau sederhana namun sangat elegan.

Mama menatap Hanin dengan penuh kehangatan. “Nak, ini hanya tanda kecil dari kami.”

Hanin terlihat sedikit terkejut.

Mama Arsenio melanjutkan dengan nada lembut. “Ini bukan cincin pernikahan. Ini hanya tanda jadi … bahwa mulai hari ini kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”

Ia lalu mengambil salah satu cincin dan menyerahkannya dan memasangkan ke jari manis Hanin. “MasyaAllah, cocok sekali.”

Hanin menunduk malu. Satu cincin diserahkan pada Arsenio dan dipasangkan juga di jari manisnya.

Setelah suasana kembali tenang, Papanya Arsenio kemudian berkata, “Sekarang kita bicara tentang rencana berikutnya.”

Ustaz Hamid mengangguk. “Silakan.”

Papanya Arsenio melanjutkan dengan nada santai namun tetap serius. “Kami sebenarnya tidak ingin menunda terlalu lama.”

Ia menoleh kepada Hanin. “Bagaimana menurutmu, Nak?”

Hanin terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, tetapi ia tetap menjawab dengan sopan. “Saya mengikuti keputusan keluarga Mas Arsenio saja.”

Mama Arsenio tersenyum. “Kalau begitu Mama punya usul.”

Semua orang menoleh kepadanya. “Satu bulan lagi.”

Arsenio langsung menoleh cepat. “Sebulan?”

Mama Arsenio tertawa kecil. “Kenapa? Terlalu lama?”

Arsenio langsung menggeleng. “Bukan begitu .…”

Papanya Arsenio mengangguk setuju. “Satu bulan cukup untuk mempersiapkan semuanya.”

Ia kemudian menatap Hanin dengan lembut. “Bagaimana menurutmu, Nak?”

Hanin berpikir sebentar. Satu bulan memang waktu yang tidak terlalu lama, tetapi juga tidak terlalu cepat.

Akhirnya ia mengangguk pelan. “InsyaAllah saya setuju, Om.”

Mama Arsenio langsung tersenyum lebar. “Alhamdulillah.”

Ustaz Hamid juga terlihat puas. “Kalau begitu kita sepakati saja.”

Beberapa menit berikutnya mereka berdiskusi ringan mengenai waktu akad, tempat, dan beberapa hal lainnya.

Setelah semuanya terasa cukup jelas, Papanya Arsenio akhirnya berdiri dari kursinya. “Baiklah. Sepertinya kami tidak ingin mengganggu terlalu lama.”

Mama Arsenio juga ikut berdiri. “Kami pamit dulu, Ustaz.”

Hanin dan Arsenio ikut berdiri. Hanin menunduk ke Papanya Arsenio dengan hormat. “Terima kasih sudah datang, Om.”

Pria itu tersenyum ramah. “Kami yang berterima kasih, Nak.”

Kemudian Hanin menyalami Mama Arsenio. Namun, sebelum benar-benar melepaskan tangannya, wanita itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya.

Ia menyodorkannya kepada Hanin. “Nak, ini untuk kamu.”

Hanin langsung terkejut. “Eh … tidak usah, Tante.”

Mama Arsenio menggeleng lembut. “Ambil saja.”

Hanin tetap menolak dengan sopan. “Benar, tidak perlu.”

Namun Mama Arsenio memegang tangan Hanin dengan lembut dan memasukkan amplop itu ke dalam genggamannya. “Tolong diterima ya, Nak.”

Hanin terlihat sangat tidak enak. “Saya sungguh tidak enak .…”

Mama Arsenio tersenyum penuh pengertian. “Ini bukan apa-apa.” Ia lalu berkata dengan nada hangat, "Anggap saja ini untuk membeli keperluan kecil menjelang akad.”

Hanin masih terlihat ragu. Mama Arsenio menambahkan dengan cepat, “Bukan untuk baju atau yang besar-besar ya. Itu biar Mama saja yang urus.”

Ia tertawa kecil. “Kamu cukup beli hal-hal kecil saja yang kamu butuhkan.”

Papanya Arsenio ikut tersenyum. “Terima saja, Nak. Mama Arsenio memang begitu orangnya.”

Hanin akhirnya tidak bisa menolak lagi. Ia menunduk sopan. “Terima kasih banyak, Om, Tante.”

Mama Arsenio menepuk tangan Hanin dengan lembut. “Sama-sama.”

Ia lalu berkata dengan penuh kasih, “Jaga diri baik-baik ya sampai hari akad nanti. Nanti pas mau pesan baju nikahnya, mama datang sama Arsenio menjemput.”

Hanin mengangguk. “InsyaAllah.”

Arsenio yang sedari tadi berdiri di dekat pintu menatap Hanin sebentar dengan senyum yang sulit disembunyikan. Hari itu terasa seperti awal dari sesuatu yang besar dalam hidup mereka.

Setelah berpamitan dengan Ustaz Hamid, kedua orang tua Arsenio akhirnya keluar dari ruangan.

Arsenio ikut mengantar mereka sampai halaman pesantren. Sementara Hanin masih berdiri di dalam ruangan dengan perasaan yang campur aduk.

Ia menatap cincin kecil di jarinya. Satu bulan lagi. Kalimat itu terus terngiang di pikirannya. Ia menarik napas pelan, lalu tersenyum kecil.

1
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Teh Euis Tea
yg datang pasti di fahri nih
Teh Euis Tea
syukurlah hanin sudah berdamai dgn hatinya, memaafkan arsen wlu tdk terucap tp dari tingkahnya udah membuktikan klu hanin memaafkan arsen, tinggal emaknya di fahri nih yg blm jujur, berani ga dia jujur sm hanin?
ken darsihk
Lupakan masa lalu mu yng menyakitkan Hanin , ambil sisi baik nya sajah sekarang saat nya meniti hari bersama Arsenio suami mu
Eka ELissa
Hanin udh berdamai dgn. knyataan Fahmi dan dia udh bahagia..
jdi kini giliran kmu bhgia...dn bhgiain gania clon bini mu
vania larasati
lanjut kak
Ida Nur Hidayati
saling memaafkan itu membawa kita kekedamaian
Ilfa Yarni
alhamdulillah udah berdamai semuanya ske hanin tinggal menara masa sekarang apan dgn kluarga kecilnya nanti dan bahagia
Radya Arynda
semangaaat hanin,,arsen,,,selalu ber sama dalam suka duka,,,biar kan orang orang yang sudah jahat sama kamu mendapat karma ya sepadan...
Maulana ya_Rohman
lanjut lagi thor
Lela Angraini
uuhhh so sweet 😍😍🥰🥰. semga kebahagiaan sellu berlimpah utk mu haniin amiinnn 🙏🙏
Ayu Ayuningtiyas
Suka sama Hanin yg sdh ikhlas dan sdh bisa move on dgn masa lalunya.
Nani Rahayu
sudah saatnya Hanin bahagia setelah kesakitan yg dilewati nya♥️..semoga ghania juga bisa menemukan kebahagiaan nya
Rieya Yanie
bagus hanin..berdamia dengan masa lalu dan memaafkan semua takdir..
semoga bahagia selalu..
Hikari_민윤기
aihhh thorrr, kebalik..

masak orang hidup minta do'a sama yg udah almarhum, Pak Ustadz lihat author ini Pak Ustadz... 🤭
Hikari_민윤기: wkwkwk
pun, ini fiksi ye kan...
total 5 replies
Retno ataramel
kaya si weni udah ngaku kefahmi makanya dia kemakam
Eka ELissa
mo ngapain....kmu Fahmi...
GK usah bikin huru hara...
lah.... ribet bgt....
Ida Nur Hidayati
pasti Fahmi....
ken darsihk
Fahmi kah ??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!