NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:22.5k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Ketegangan di ruangan itu mencapai titik didih saat Winata, dengan keberanian yang entah datang dari mana, melemparkan bom atom di tengah-tengah amnesia Garvi.

"Asal kamu tahu, Garvi," suara Winata bergetar, bukan karena takut, tapi karena emosi yang tertahan. "Sava ingin bercerai darimu. Dia sudah tidak tahan dengan sikapmu yang seenaknya sendiri, yang menganggapnya hanya sebagai pajangan dan pion dalam permainan kekuasaanmu!"

Hening seketika.

Garvi membeku. Sorot mata elangnya yang biasanya tajam dan penuh kendali, kini berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan dan kemarahan yang tertahan. Ia menoleh perlahan ke arah Winata, memancarkan aura intimidasi yang membuat bulu kuduk siapapun berdiri.

"Ulangi sekali lagi," desis Garvi dengan suara rendah yang berbahaya.

Winata menegakkan bahunya, menantang tatapan sang CEO Skyline Group. "Kenapa menatapku seperti itu? Kamu pikir aku akan takut? Tidak ya, Garvi! Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menindas sahabatku lagi. Kamu lupa ingatan, tapi luka yang kamu torehkan di hati Sava tidak ikut hilang!"

Garvi mengalihkan pandangannya pada Sava yang sejak tadi hanya terdiam, mematung di sisi ranjang. Tangannya yang besar dan hangat meraih jemari Sava, menggenggamnya begitu erat seolah takut wanita itu akan menguap jika ia melepaskannya.

"Apakah itu benar, Ave?" tanya Garvi, suaranya melembut namun sarat akan keputusasaan. "Apakah aku punya kesalahan sejauh itu sampai kamu ingin mengakhiri semuanya? Katakan padaku, kesalahan fatal apa yang aku buat selama aku 'tidur'?"

Sava menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya. Jantung yang ia kira sudah mati rasa, kini berdenyut nyeri melihat sorot mata Garvi yang tampak begitu tulus—sesuatu yang jarang ia lihat sebelum kecelakaan itu terjadi.

"Mas Garvi..."

"Ave, tolong," potong Garvi cepat, suaranya serak. "Aku memang tidak ingat beberapa bulan terakhir, tapi aku tahu satu hal: di keluarga kita tidak ada kata perceraian. Darwin tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya. Terutama kamu."

Winata mendengus keras, memutar bola matanya. "Tuh, kan! Tetap saja posesif dan manipulatif. Dia tidak berubah, Va! Jangan tertipu dengan mode manjanya."

Garvi mengerang kesal, ia menatap Winata dengan kilat amarah. "Winata, aku sedang bicara dengan istriku. Kenapa kamu yang selalu menjawab? Apakah kamu sekarang merangkap jadi juru bicara hatinya?"

"Tepat sekali!" Winata bersedekap. "Aku asisten pribadinya dan juru bicaranya yang paling paham betapa menderitanya dia selama ini. Jadi, paham!"

Garvi tidak memedulikan Winata lagi. Ia menarik tangan Sava, membawa jemari lentik itu ke bibirnya dan mengecupnya lama.

"Aku akan berubah, Ave. Aku bersumpah. Aku akan menjadi pria yang kamu inginkan, asal jangan pernah ucapkan kata cerai lagi. Aku tidak akan membiarkannya terjadi."

Sava menarik tangannya perlahan, mencoba tetap profesional di tengah badai emosi. Ia menoleh ke arah Roy yang sejak tadi berdiri kaku di sudut ruangan.

"Roy," panggil Sava, suaranya kembali dingin dan tegas seperti COO Skyline Group yang disegani.

"Kita harus ke kantor sekarang. Masalah Victor tidak bisa menunggu. Dia sudah mulai menyebarkan rumor tentang ketidakstabilan saham kita di media sosial. Kita harus melakukan counter-attack sebelum bursa saham dibuka."

Roy mengangguk sigap. "Mobil sudah siap di lobi bawah, Miss Sava."

Sava berdiri, merapikan blazer mahalnya yang sedikit kusut. Ia menatap Garvi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mas Garvi, kamu tetap di sini. Istirahatlah. Biar aku dan Roy yang mengurus si ular Victor itu."

"Tidak."

Jawaban itu singkat, padat, dan tidak terbantahkan. Garvi mulai mencabut kabel-kabel monitor yang masih menempel di dadanya dengan kasar.

"Mas! Apa yang kamu lakukan?" teriak Sava panik, mencoba menahan tangan Garvi.

"Aku ikut ke kantor," ujar Garvi sambil mencoba turun dari ranjang. Tubuhnya sempat goyah, namun ia segera menumpukan berat badannya pada tiang infus.

"Aku adalah CEO Skyline Group. Tidak ada yang boleh menyentuh perusahaanku, apalagi bajingan seperti Victor."

"Kamu baru saja sadar dari koma, Mas! Kepalamu masih terluka, ingatanmu saja belum pulih!" Sava mencoba menahan dada tegap suaminya.

Garvi menatap Sava dalam-dalam, sebuah senyum miring yang karismatik muncul di bibirnya.

"Hilangnya ingatanku tidak mempengaruhi otak bisnisku, Ave. Dan aku tidak akan membiarkan istriku menghadapi predator itu sendirian sementara aku bersembunyi di balik selimut rumah sakit yang bau karbol ini."

Sava menghela napas frustrasi. Benar kata dr. Aris, ingatan Garvi mungkin hilang, tapi keras kepala dan sifat dominannya tetap tinggal di tempatnya.

"Winata, panggil dr. Aris. Jika dia mengizinkanmu keluar, aku akan membawamu. Jika tidak, aku akan menyuruh sepuluh bodyguard untuk mengikatmu di ranjang ini," ancam Sava.

**

Setelah perdebatan panjang dan pemeriksaan singkat, dr. Aris akhirnya menghela napas pasrah. Ia melihat tekad yang tidak bisa digoyahkan di mata Garvi Darwin.

"Baiklah, Tuan Garvi. Saya izinkan Anda keluar dengan status rawat jalan," ujar dr. Aris sambil menuliskan resep obat. "Tapi dengan satu syarat: Anda tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang berat, jangan dipaksa untuk mengingat hal-hal traumatis, dan jika kepala Anda mulai berdenyut nyeri, Anda harus segera kembali ke sini. Mengerti?"

Garvi mengangguk puas. "Terima kasih, Dokter. Roy, siapkan pakaianku. Aku tidak mungkin ke kantor dengan baju rumah sakit yang jelek ini."

Dua puluh menit kemudian, sosok Garvi Darwin telah bertransformasi. Meskipun wajahnya sedikit pucat, ia tetap terlihat sangat berwibawa dalam balutan kemeja hitam slim-fit dengan dua kancing teratas terbuka, dipadukan dengan celana kain mahal yang menunjukkan kaki panjangnya. Aura cassanova dan pemimpinnya kembali memancar, membuat beberapa perawat yang lewat di koridor menahan napas.

Sava berjalan di sampingnya, tampak serasi dengan gaya boss-lady yang elegan. Mereka melangkah menuju lobi rumah sakit, dikawal oleh Roy dan empat bodyguard bertubuh besar.

**

Di tengah deru mesin dan klakson kendaraan yang memadati jantung kota, sebuah Rolls Royce hitam mengkilap meluncur dengan tenang, membelah kemacetan dengan wibawa yang tak terbantahkan. Kaca filmnya yang sangat gelap menyembunyikan badai emosi yang sedang terjadi di kabin belakang yang mewah.

Di dalam mobil yang kedap suara itu, suasana terasa sesak. Bukan karena ruangannya sempit, melainkan karena aura dominan pria yang duduk di samping Alsava.

Garvi Darwin tidak melepaskan genggamannya sedetik pun. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh bertautan erat dengan jemari Sava, seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kabut ingatannya yang hilang.

Sava melirik tangannya yang terperangkap. Ia bisa merasakan kehangatan dari telapak tangan Garvi, sebuah kehangatan yang dulu selalu ia rindukan, namun kini terasa asing dan membingungkan.

"Mas Garvi, tolong lepaskan. Kita hampir sampai," bisik Sava lembut, mencoba menarik tangannya tanpa menimbulkan kegaduhan.

"Tidak mau, Ave. Kenapa aku harus melepaskan tangan istriku sendiri?" sahut Garvi datar. Matanya menatap tajam ke depan, namun genggamannya justru mengerat.

Sava menghela napas panjang. "Mas, dengarkan aku. Sebelum kita turun, Mas Garvi harus turun lebih dulu di lobi utama. Biarkan aku turun di pintu samping atau tunggu lima menit setelah Mas masuk."

Garvi menoleh, alisnya bertaut rapat membentuk garis tegas yang menambah kesan maskulin pada wajahnya yang rupawan.

"Kenapa harus begitu? Kita datang bersama, kita turun bersama. Apa susahnya?"

"Karena di kantor, kita adalah CEO dan COO, bukan pasangan suami istri. Tidak ada yang tahu hubungan kita, Mas. Kita sepakat untuk menjaga profesionalitas," tegas Sava.

Garvi berdecak sinis, sebuah suara yang menunjukkan ketidaksenangan yang amat sangat. "Kesepakatan tidak bermutu macam apa itu? Kenapa aku harus menyembunyikan fakta bahwa wanita sehebat dirimu adalah milikku? Itu ide yang sangat bodoh, Ave. Siapa yang membuatnya? Pasti aku yang dulu sedang tidak waras."

Sava tertegun. Memang kamu yang dulu tidak ingin status kita terbongkar agar bisa bebas bermain di luar, Mas, batinnya perih. Namun, ia tidak mengucapkannya. Ia hanya menatap gedung Skyline Group yang mulai menjulang di depan mata.

"Ini demi kebaikan Skyline, Mas. Mas Garvi jangan merusak semuanya sekarang," ucap Sava dingin saat mobil berhenti tepat di depan lobi megah yang dilapisi kaca kristal.

Tanpa menunggu jawaban Garvi, Sava segera menarik tangannya dengan paksa dan keluar dari mobil. Ia tidak memperdulikan raut wajah Garvi yang menggelap karena penolakan itu.

Begitu kaki jenjang Sava yang dibalut stiletto mahal menyentuh lantai marmer lobi, suasana mendadak senyap. Para karyawan yang sedang berlalu-lalang seketika menghentikan langkah. Namun, keterkejutan mereka berlipat ganda saat melihat Garvi Darwin keluar dari pintu yang sama dengan wajah yang memancarkan aura predator.

Mereka berjalan beriringan. Sava dengan langkahnya yang anggun dan tegas, sementara Garvi berjalan di sampingnya dengan bahu tegap, sesekali melirik Sava dengan tatapan posesif yang tak lagi ia sembunyikan.

“Tunggu, itu Miss Sava dan Mr. Garvi? Satu mobil?”

*“*Bukannya mereka biasanya datang terpisah dan selalu terlihat seperti mau saling bunuh di rapat?”

“Sangat langka... Musuh bebuyutan satu mobil? Apakah kiamat sudah dekat?”

Bisikan-bisikan itu laksana lebah yang berdengung di telinga Garvi. Ia menghentikan langkahnya secara mendadak tepat di depan lift khusus eksekutif. Ia menoleh pada Sava, matanya menyipit penuh selidik.

"Kenapa mereka bicara seperti itu, Miss Sava?" tanya Garvi, sengaja menekankan panggilannya dengan nada yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Kenapa mereka menyebut kita musuh? Apakah selama ini aku sejahat itu padamu di kantor ini?"

Sava merasakan tenggorokannya kering. "Abaikan mereka, Mr. Garvi. Kita punya rapat penting dalam sepuluh menit."

Sava segera masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai 40 dengan cepat. Garvi menyusul masuk, berdiri tepat di belakang Sava hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napas Garvi di tengkuknya. Kecanggungan itu menyiksa, namun lift yang melesat cepat segera membawa mereka ke puncak kekuasaan Skyline Group.

Begitu pintu lift terbuka di lantai 40, aroma pengharum ruangan sandalwood yang mewah menyambut mereka. Di depan meja resepsionis eksekutif, sudah berdiri Desi, sekretaris Sava yang dikenal dengan gaya berpakaiannya yang selalu menonjolkan lekuk tubuh.

Desi melihat Garvi dengan mata yang berbinar. Ia segera membenahi letak blusnya yang rendah dan berjalan mendekat dengan gaya yang sengaja dibuat meliuk-liuk.

"Oh, Mr. Garvi! Selamat datang kembali! Kami semua sangat khawatir saat mendengar kabar kecelakaan itu," ucap Desi dengan suara yang dibuat-buat manja dan nada yang centil. Ia mengedipkan matanya, mencoba menarik perhatian Garvi seperti yang biasa ia lakukan dulu—dan biasanya Garvi akan membalasnya dengan senyum miring yang menggoda.

Namun kali ini, suasana berubah drastis. Garvi menatap Desi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat dingin. Tidak ada binar ketertarikan, yang ada hanyalah rasa muak yang nyata.

"Kenapa gaya bicaramu centil begitu? Seperti wanita murahan saja," ucap Garvi tajam, suaranya menggelegar di koridor yang sunyi itu.

Desi membeku. Senyumnya lenyap seketika, digantikan oleh wajah pucat pasi.

"M-Mr. Garvi? Kenapa bicara begitu? Bukankah suara saya terdengar merdu?"

Winata yang berdiri tidak jauh di belakang mereka harus bersusah payah menahan tawa hingga wajahnya memerah. Sementara Roy hanya bisa memijat pelipisnya, menyadari bahwa Garvi yang sekarang benar-benar tidak memiliki toleransi pada wanita selain istrinya.

Garvi tidak memedulikan Desi lagi. Ia menoleh pada Sava dengan raut wajah jijik.

"Miss Sava, ganti sekretarismu sekarang juga. Aku muak melihatnya. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar ini mempekerjakan wanita yang lebih mirip penari kelab daripada profesional?"

Setelah melempar kalimat pedas itu, Garvi berjalan masuk ke ruangannya sendiri tanpa menoleh lagi, membanting pintu jati besar itu hingga menimbulkan suara dentuman yang keras.

Desi lemas, ia hampir terduduk di lantai kalau tidak segera berpegangan pada meja. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Miss Sava... saya salah apa?"

Sava menghela napas, ia merasa sedikit kasihan namun juga menyetujui ucapan Garvi dalam hati.

"Winata, atur posisi baru untuk Desi di departemen lain. Dan Desi, jika kamu masih ingin bekerja di sini, ganti gaya berpakaianmu. Jangan biarkan Mr. Garvi melihatmu dengan gaya seperti itu lagi, atau dia benar-benar akan memecatmu tanpa pesangon."

Desi hanya bisa mengangguk pasrah, meratapi nasibnya yang tiba-tiba berubah dalam hitungan menit.

***

1
fuadi algifari
bagus
Rahayu Ayu
Penasaran,pengin tau gimana reaksinya Garvin, setelah nanti Winata/ Roy cerita tentang traumanya Alsava
Umi Kolifah
lanjut tor biar garvi tau kalau dia pernah mau punya anak dengan ave
Sri Murtini
tebak aja pil Kb biar sava nggk terbebani mslh pikirnya , tp itu mslh besar dan bikin gavin sadar knp istrinya begitu....
Rahayu Ayu
Gara " pil kontrasepsi, bakal ada kesalah pahaman.
semoga Sava bisa memberikan alasan yg logis yg bisa di terima , tanpa menyalahkan Sava,
dan semoga dengan adanya tragedi pil kontrasepsi, bisa mengawali hubungan kalian lebih mesra tanpa adanya keraguan lagi.
dw granny
perasaan d bab brp ya ada garvi tdr sm cewek lain deh .. bohong lu garvi , jgn percaya ave ... cerai aja cerai... udh d siksa batin 4 thn loh ave .. pisahin thor . sebel sm si garvi
Penta Ning Thiyas
semangat author. 👍😍
stela aza
jeleh
Sri Murtini
ungkapan kesadaran yg tulus semoga samawa Aamiin 😭😭😭
Nda
di tunggu double up-nya thor
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Nda
ditunggu double up-nya thor 😃
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!