Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Tikus Kecilku
...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...
Setelah beres mengurusi kesepakatan dengan pihak Singapura, aku akhirnya mengawasi Quinn Musielak selama dua puluh empat jam terakhir.
Beberapa hari lalu, saat aku dekati dia di toko, aku bisa merasakan ketakutan yang terpancar dari dalam dirinya.
Dia tahu kalau aku sedang mengawasinnya, bahkan ketika ada di rumah sekalipun. Dia selalu waspada, matanya selalu berkeliling ke mana-mana, menunggu aku muncul.
Aku enggak bakal bohong. Aku sangat menikmati permainan kucing dan tikus ini.
Sekarang ... Aku sedang duduk di meja paling ujung, di restoran yang sama tempat Quinn makan malam bersama Papanya. Dia tampak bahagia dengan ginjal itu, tanpa ada rasa penyesalan sama sekali.
Sialan.
Sudut bibirku pun langsung terangkat saat aku menatapnya.
Dasar tikus kecil.
Ya ... memanggil dia dengan sebutan itu, “Tikus Kecil” rasanya pas.
Sama seperti kucing, aku bakal mempermainkan dia dulu … sebelum akhirnya aku hancurkan.
Aku melihat dia tersenyum ke arah Papanya, membicarakan sesuatu, lalu berdiri dan berjalan ke bagian belakang restoran, menuju ke arah kamar mandi.
Aku pun sempat menunggu beberapa detik sebelum bangkit dan mengikuti dia. Aku melihat sekeliling untuk memastikan enggak ada yang memperhatikanku, lalu aku ikut masuk ke kamar mandi.
Begitu menemukan sakelar lampu, langsung aku matikan. Kamar mandinya langsung menjadi gelap gulita.
“Aaah ... Sialan!” Aku dengar dia bergumam. Butuh beberapa detik lagi sebelum pintu bilik terbuka. “Aduuhhh ... Aku enggak bisa lihat apa-apa.”
Dia berdiri dekat banget sama pintu keluar. Tapi untuk bisa keluar, dia harus melewati aku dulu, dan aku enggak perlu menunggu lama.
Aku dengar langkahnya mendekat dengan hati-hati, sampai akhirnya … tangannya menyentuh tanganku.
Dadaku langsung berdebar keras.
Dia pasti sedang merentangkan kedua tangannya ke depan biar wajahnya enggak menabrak tembok. Suara kecil yang keluar dari mulutnya pun membuatnya terdengar seperti tikus yang sedang ketakutan.
Sebelum dia sempat bergerak, aku langsung ambil satu langkah, melilitkan tanganku di lehernya, lalu tarik dia ke belakang sampai punggungnya menempel ke dadaku.
“Ya Tuhan,” bisiknya dengan setengah teriak.
Mulutku menempel di telinganya, terus aku menggeram pelan, “Kamu takut, ya ... Tikus Kecil? Humm?”
Dia mengangguk panik. “I—iya.”
“Bagus.”
Aku mencium aroma vanila lembut dari tubuhnya dan merasakan tubuh itu gemetar di tanganku.
“Jangan sakitin aku,” pintanya pelan, suaranya bergetar karena takut.
Saat aku diam, dia bertanya dengan suara yang hampir putus asa, “Kenapa kamu ngelakuin ini?”
Bibirku menyentuh kulit sensitif dia di bawah telinganya, membuat getaran keras menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Kamu punya sesuatu ... Kamu udah renggut ... yang jadi milik aku.”
Karena enggak mau ketahuan di kamar mandi dan aku merasa sudah cukup untuk membuatnya ketakutan, jadi aku lepaskan dia.
Aku bergerak diam-diam memutari dia, buka pintu pelan-pelan, lalu meninggalkan dia sendirian di dalam kegelapan, jelas ... dengan penuh rasa takut.
Begitu sampai di meja, aku langsung lempar beberapa lembar uang ke taplak meja untuk membayar, terus langsung keluar dari restoran.
Saat melewati pintu, aku sempat menengok ke belakang, tapi enggak ada tanda-tanda dari Quinn, mungkin saja dia masih di kamar mandi, gemetar ketakutan.
Sampai bertemu lagi, Tikus Kecilku.
Saatnya masuk ke langkah berikutnya dari rencana aku.