NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri Yang Terluka

Nina menatap langit-langit kamar barunya. Dia baru saja merebahkan diri usai menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan tubuhnya, terutama organ reproduksi.

Padahal Nina masih berharap jika dirinya tak lagi subur atau bermasalah dengan salah satu organ vitalnya itu. Tapi pemeriksaan oleh dokter ginekologi tadi mengatakan, organnya itu baik-baik saja. Walau untuk pemeriksaan kesuburan, baru berlangsung esok hari.

Karena hasil awal itulah, Nina dibawa kembali ke tempat yang bernama Penthouse milik Tuan Ammar dan menempati salah satu kamar di sana.

Nina sempat menolak, dan memohon pada Damian soal dirinya yang akan menjalani kontrak sewa rahim. Tapi lelaki blasteran itu memintanya untuk mengganti biaya sekolah si kembar yang Damian bayarkan plus bunga lima puluh persen. Jelas Nina terdesak dan tak punya pilihan lain.

Apa mungkin ini jalan agar dirinya dan si kembar hidup sejahtera, seperti yang mereka sempat impikan?

Tapi apa harus dengan cara seperti ini?

Apa ini tidak melanggar peraturan agama?

"Sudahlah, Lihat besok saja. Semoga ada jalan terbaik untuk aku dan si kembar." Gumamnya sambil memejamkan mata.

Tapi baru beberapa detik, matanya kembali terbuka. Dia menatap ke sekeliling kamar yang ditempatinya. Saking pusingnya menghadapi masalah rumit ini, Nina sampai tak benar-benar memperhatikan tempatnya saat ini.

Kamar ini cukup luas, dengan ranjang ukuran king size dan tentunya sangat nyaman. Ini mungkin pertama kalinya Nina tidur di kasur senyaman ini. Setelah sebelumnya hanya merasakan kasur tipis dan dingin ketika musim hujan. Atau ranjang dengan kasur kapuk saat masih tinggal di kampung halaman.

"Gede banget ya?" Nina bangkit dari rebahnya, dia menyadarkan punggungnya di kepala ranjang. "Aby sama Anin pasti bakal seneng banget kalau tidur di sini." Gumamnya.

Sudah enam bulan mereka tidak bertemu. Jangan ditanya soal rindu, jelas ini sangat menyiksanya sebagai seorang ibu yang nyaris selama hampir lima belas tahun tidak pernah terpisahkan dalam keadaan apapun. Tapi demi masa depan lebih baik, Nina menahannya.

Tanpa aba-aba, bulir bening luruh membasahi pipinya. Nina mulai terisak, dia merindukan anak-anaknya.

Lama Nina menangis, meratapi kerinduannya. Hingga lelah sendiri dan tertidur begitu saja.

***

Sudah jadi kebiasaan, Nina selalu bangun sebelum subuh. Tepatnya pukul tiga pagi.

Biasanya Nina menunggu Darmi pulang dari pasar, sambil bersih-bersih warung atau menyiapkan bahan yang tersisa untuk dimasak.

Tapi sekarang?

Nina lupa, jika mulai malam tadi. Dia tak lagi tinggal di warung Bu Darmi. Jadi apa yang harus Nina lakukan?

Ibadah? Tentu saja dia sudah menyelesaikannya beberapa menit lalu. Walau hanya mengenakan pakaian yang dipakainya sedari kemarin. Nina tak membawa mukena dan sajadah.

Lalu setelah ini apa?

Masih ada waktu satu jam lebih menunju waktu subuh. Ingin mengaji, tapi dirinya tak membawa kitab suci.

Nina memutuskan membuka gorden dan alangkah terkejutnya dia mendapati pemandangan kota dari ketinggian. Banyak lampu-lampu yang menghiasi malam.

"Bagus banget." Ujarnya pelan. "Aby dan Anin pasti bakal seneng banget kalau lihat."

Cukup lama Nina hanya duduk dan memandangi City light, hingga terdengar sayup-sayup azan berkumandang yang terbawa angin.

Setelah dua tahun lamanya, di waktu pagi. Nina menjadi pengangguran dan tak melakukan apa-apa. Rasanya ada yang hilang.

Usai beribadah, Nina kembali memandangi pemandangan kota dari ketinggian. Langit perlahan berubah kemerahan, indah sekali dilihatnya. Lalu warna kemerahan itu perlahan pudar, berganti mentari pagi yang terlihat malu-malu, bersembunyi di balik awan kelabu. Sepertinya hari ini juga akan turun hujan.

Lalu terdengar bunyi dari perut Nina. Dia ingat kemarin menolak mentah-mentah ajakan Damian untuk makan malam usai pemeriksaan. Padahal terakhir dirinya menyantap makanan, siang kemarin. "Pantes aja udah laper. Biasanya makan sarapan yang dibelikan Bu Darmi." Gerutunya. Biasanya Darmi membelikan makanan berat atau camilan untuk sarapan para pekerjanya, termasuk Nina.

Nina merogoh tas miliknya, dia mengambil dompet dan memeriksa isinya. "Bisa beli makan kali di bawah, kayaknya kemarin pas kesini ada yang jualan di bawah. Tapi mahal nggak ya? Ini kan tempatnya orang kaya." Monolognya. "Bisa kali lah cuma beli roti." Dia mulai bersemangat.

Nina bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu. Namun begitu membukanya Nina dikejutkan dengan penampilan si empunya Penthouse.

Sontak Nina melebarkan matanya, dan sesat kemudian dia mengalihkan pandanganya ke sembarang arah. Asal jangan kearah lelaki berdarah timur tengah itu.

"Mau kemana kamu?" Tanya lelaki dengan penampilan Shirtless itu.

Nina sama sekali tak berani menoleh, "Saya mau beli sarapan di bawah, Tuan!" sahutnya gugup.

"Tidak usah, Dami akan membawakannya setengah jam lagi." Ammar melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Tapi Tuan ..." Nina keberatan, tapi tidak mau sama sekali menatap balik lawan bicara.

Ammar berkacak pinggang sambil mendengus kesal. "Kenapa sih, kamu keras kepala?" Tanyanya. Setelah menolak tawaran itu terang-terangan dan melukai harga dirinya sebagai lelaki. Perempuan yang merupakan kandidat penerima sper** sama sekali tak mau menatapnya ketika berbicara. Seolah, Ammar bukan lelaki yang pantas dilihat. Padahal banyak perempuan di luar sana yang ingin cari perhatian padanya. Meskipun sebagian dari mereka tau, jika Ammar sudah menikah. Tapi wanita ini?

"Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun? Kenapa setiap berbicara dengan saya, kamu tidak mau menatap balik?" Ungkap Ammar kesal. "Apa kamu anggap saya seperti benda jelek yang tidak pantas dilihat?" Ini benar-benar pertama kali Ammar merasa tidak dianggap keberadaannya. Harga dirinya terluka.

Perlahan, Nina menoleh guna menatap balik si lawan bicara. Tapi seperti tadi, dia kembali membuang pandangannya.

Sikap Nina membuat Ammar naik pitam, dia yang biasa dingin dan tak peduli dengan pandangan orang lain. Kini dibuat kesal setengah mati.

Dengan kakinya yang panjang, Ammar menghampiri perempuan berhijab maroon itu. Hingga jarak mereka kurang dari satu meter. "Tatap saya kalau bicara, apa kamu anggap saya seperti kotoran yang tak pantas dilihat?" Dia tidak meninggikan suara, tapi menekankan pada setiap kata yang diucapkannya.

Nina menahan napasnya, begitu jarak mereka begitu dekat. Dia gugup luar biasa. Mungkin ini kedua kalinya dirinya berinteraksi begitu dekat dengan laki-laki setelah bertahun-tahun lamanya. Pertama kemarin dengan lelaki blasteran bernama Damian, dan sekarang Ammar, calon majikannya tentu saja kalau jadi.

"Maaf Tuan!!!" gumamnya pelan, masih belum berani menatap balik. Nina takut.

Perbedaan postur tubuh, membuat Ammar harus membungkuk. Jemari tangannya menyentuh dagu perempuan yang masih enggan menatapnya balik. "Lihat sini!"

Kini pandangan mereka beradu. Dari jarak sedekat ini, Nina bisa melihat alis tebal, mata dengan sorot tajam, tulang hidung yang tinggi, bibir tebal berwarna merah alami serta bulu-bulu halus di sekitar dagu miliki pria beraroma maskulin itu.

"Sudah puas menatapnya, Nyonya?"

Bahkan Nina bisa mencium aroma mint, ketika Ammar berbicara. Tapi detik selanjutnya, dia menahan napasnya dan memejamkan matanya. Nyali Nina menciut karena aura dominan si lelaki yang sedang mengikis jarak dengannya.

Sementara Ammar, dari jarak cukup dekat dan sempat bertatapan. Dia bisa melihat netra cokelat milik Nina. Indah sekali.

Namun setelahnya Ammar menyadari, tidak seharusnya dia bersikap begini pada perempuan selain istrinya.

Tapi Nina yang tiba-tiba memejamkan matanya, membuat mata Ammar menatap ke arah lain ...

Jakun-nya yang menonjol, bergerak naik turun membayangkan rasa benda kenyal berwarna merah muda nan menggoda itu. Lalu tanpa sadar wajahnya mulai mendekat ...

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!