Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 **Shabila Diaskara **
Shabila Diaskara duduk bersila di lantai kamar tidurnya yang luas namun terasa dingin. Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, waktu di mana kebanyakan anak seusianya sudah bersiap berangkat sekolah. Namun bagi Shabila, hari-harinya selalu dimulai dengan cara yang berbeda.
Ia tidak mengenakan seragam. Tidak membawa tas. Tidak bergegas.
Shabila adalah anak homeschooling, keputusan yang diambil oleh abangnya.
Gadis berusia enam belas tahun itu mengenakan piyama bergambar kartun berwarna pastel. Rambut hitamnya dikuncir dua asal-asalan, beberapa helai jatuh menutupi dahi. Wajahnya imut, tapi sorot matanya selalu menyimpan harapan yang sama setiap pagi.
Harapan akan satu hal.
Ayahnya.
“Daddy sudah bangun belum ya…?” Shabila berdiri, lalu berlari kecil keluar kamar. Langkahnya ringan, hampir melompat-lompat. Ia menyusuri lorong panjang rumah mewah itu, berhenti tepat di depan pintu kamar utama.
Ia menempelkan telinganya di pintu.
Sunyi.
Shabila menggigit bibir, lalu tersenyum. Ia mengangkat tangan kecilnya dan mengetuk pelan.
“Daddy~ Ila sudah bangun, loh!”
Tak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa detik, lalu mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
“Daddy… Ila mau sarapan bareng Daddy…”
Pintu itu tetap tertutup rapat.
Senyum Shabila memudar perlahan, tapi tidak benar-benar hilang. Ia menarik napas, lalu melangkah mundur.
“Daddy pasti capek,” gumamnya menghibur diri sendiri. “Ila nanti aja.”
Ia berbalik, kembali menyusuri lorong. Di ruang makan, meja panjang itu sudah tertata rapi. Namun hanya satu kursi yang terisi—kursi di ujung meja, tempat ayahnya biasanya duduk. Kosong.
Pengasuh rumah tangga berdiri tak jauh dari sana.
“Non Shabila mau sarapan sekarang?” tanya wanita itu lembut.
Shabila mengangguk cepat. “Iya! Tapi… Daddy turun nggak?”
Pengasuh itu terdiam sesaat, lalu tersenyum kaku. “Bapak sudah berangkat kerja lebih pagi.”
“Oh…”
Shabila duduk. Kakinya tak sampai menyentuh lantai, ia mengayun-ayunkan nya pelan. Tangannya memegang sendok, tapi tak langsung makan.
“Bu…” panggilnya tiba-tiba.
“Iya, Non?”
“Kalau Ila pinter hari ini… Daddy bakal senang nggak?”
Pertanyaan itu membuat sang pengasuh menelan ludah. Ia menatap gadis kecil itu—terlalu kecil untuk usianya.
“Pasti, Non,” jawabnya, meski tak yakin.
Shabila tersenyum cerah. “Kalau gitu Ila mau jadi anak paling pinter hari ini!”
Ia mulai makan dengan semangat berlebihan, bahkan sampai menumpahkan susu ke meja. Namun alih-alih dimarahi, pengasuh hanya membersihkannya.
...****************...
Setelah sarapan, Shabila mengikuti kelas homeschooling-nya di ruang belajar. Guru privat menjelaskan materi matematika, namun perhatian Shabila sering melayang.
“Shabila, coba jawab soal ini.”
Shabila mengangkat kepala, tersenyum lebar. “Jawabannya… Ila nggak tahu!”
Ia tertawa kecil, seolah itu hal lucu.
Guru itu menghela napas. Ia tahu, memarahi Shabila tidak akan ada gunanya.
“Ila, fokus, ya,” katanya lembut.
“Iyaaa~” jawab Shabila ceria, meski lima menit kemudian kembali menggambar wajah tersenyum di buku catatannya.
Wajah ayahnya.
...****************...
Siang hari, Shabila duduk di ruang keluarga, menunggu. Ia tahu jadwal ayahnya. Biasanya Zidan akan pulang sebentar untuk makan siang sebelum kembali ke kantor.
Jam menunjukkan pukul satu siang.
Pukul dua.
Pukul tiga.
Tak ada tanda-tanda kehadiran ayahnya.
Namun Shabila tetap menunggu. Ia duduk manis, sesekali berdiri untuk merapikan rambutnya di cermin, memastikan ia terlihat lucu.
“Kalau Ila cantik, Daddy pasti mau lihat Ila,” gumamnya.
Akhirnya, suara mobil terdengar.
Mata Shabila langsung berbinar. Ia berlari ke pintu, hampir terpeleset karena kaus kakinya yang kebesaran.
“Daddy!”
Pintu terbuka. Zidan berdiri di sana, mengenakan setelan jas rapi. Wajahnya lelah, dingin, dan datar.
Shabila berdiri tepat di hadapannya, mengangkat kedua tangannya.
“Welcome home~” katanya ceria. “Ila kangen Daddy!”
Zidan menatapnya sekilas, lalu melangkah masuk tanpa membalas pelukan itu.
“Jangan menghalangi jalan,” katanya singkat.
Tubuh Shabila goyah. Tangannya perlahan turun.
“Ila… cuma mau peluk…”
Zidan berhenti melangkah. Ia menoleh, tatapannya tajam.
“Kamu sudah enam belas tahun. Berhenti bertingkah seperti balita,” ucapnya dingin.
Kalimat itu seperti pisau.
Shabila terdiam. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya tetap berusaha tersenyum.
“Ila… Ila cuma mau Daddy senang.”
Zidan tidak menjawab. Ia kembali melangkah pergi, meninggalkan Shabila berdiri sendirian di ruang besar itu.
Tak ada pelukan.
Tak ada senyuman.
Tak ada kata sayang.
Sore itu, Shabila mengurung diri di kamar. Ia duduk memeluk lutut, memandangi boneka beruang lusuh di pangkuannya.
Malam hari, hujan turun deras. Petir menyambar langit berkali-kali. Shabila duduk di dekat jendela, menatap cahaya lampu jalan yang samar.
Shabila menggenggam dadanya.
“Kalau Ila nggak ada… Daddy bakal senang nggak?”
Pikiran itu muncul begitu saja.
Ia berdiri, lalu berjalan keluar kamar. Rumah itu gelap dan sunyi. Zidan masih berada di ruang kerjanya, lampu menyala.
Shabila berdiri di depan pintu itu lama. Sangat lama.
Akhirnya, ia membuka pintu perlahan.
“Daddy…” suaranya gemetar. “
Deddy... Ila boleh peluk Daddy sekali aja nggak…? Sekali aja…”
Zidan menatapnya, ekspresinya berubah keras.
“Kamu ini kenapa selalu mencari perhatian?” bentaknya. “Pergi!”
Shabila terkejut. Tubuhnya mundur selangkah.
"Daddy... Ila hanya ingin peluk sebentar aja." ucap Shabila.
"Diam Ila. "bentak sang Daddy
Ila yang dibentak menunduk dan berusaha menahan tangis, selalu saja begini.
"Kenapa Daddy selalu memarahi Ila, Daddy tidak suka Ila?
"Ila memberanikan diri untuk bertanya kenapa alasan sang Daddy tidak menyukai dirinya.
Zidan Diaskara Daddy Ila itu menoleh kearah Ila yang sedang menunduk.
"Kamu mau tau alasannya?"tanya Zidan dengan tersenyum pahit
Ila mendongak menatap sang Daddy lalu mengangguk pasti, dia ingin tau kenapa sang Daddy begitu membenci nya. kesalahan apa yang dibuat sehingga sang Daddy mengabaikan keberadaan nya, padahal dia sudah melakukan apapun untuk menarik perhatian sang Daddy tapi bukannya dilirik dia hanya dimarahi dan dibentak.
"Gara-gara ngelahirin kamu istri saya meninggal, dan saya membenci kelahiran kamu." ucap Zidan.
Ila mengerjab polos karena kurang mengerti apa yang dikatakan oleh sang Daddy. "Kenapa Mommy meninggal saat melahirkan Ila?" pertanyaan polos keluar dan mulut Ila yang membuat sang Daddy naik pitam.
"KARENA KAMU ANAK PEMBAWA SIAL ILA," teriak Zidan dengan keras.
"Loh Ila pembawa sial? Ila gak bawa apa-apa Daddy, tangan Ila kosong nih. "ucap Ila lalu memperlihatkan tangan mungilnya
“Pergi!” Zidan sangat geram dengan kepolosan putrinya itu.
Zidan Diaskara mempunyai dua anak, satu laki-laki yang bernama Galenio Diaskara abang dari Shabila Diaskara. Zidan hanya menyayangi putranya, tapi Zidan agak kesal karena Galenio perduli dengan Ila.
Saat ini Galenio sedang keluar untuk berkumpul dengan terman-teman nya, jika Galenio ada dirumah maka dapat dipastikan Zidan tidak akan puas membentak Ila karena Galenio selalu melindungi adek perempuan nya itu.
"Saya muak melihat kamu Ila, "ucap Zidan dingin.
Ila kembali mengerjab polos, "Daddy gak suka lihat Ila? Ila harus apa agar Daddy menyayangi Ila, Ila akan lakukan apapun demi Daddy. "ucap Ara tulus.
"Saya mau kamu mati," desis Zidan
"Kalau Ila mati Daddy gak bisa liat Ila lagi dong?"
"lya, emang itu yang saya mau." Ucapnya dengan penuh penekanan.
Ila menganggukkan kepalanya, "oke Daddy Ila akan lakukan yang Daddy mau, Ila sayang Daddy. "ucap Shabila berbalik, berlari keluar rumah tanpa jaket, tanpa alas kaki, hanya membawa satu boneka kecil. Perlu di garis bawahi Ila itu polos jadi dia akan menuruti apapun yang dikatakan orang-orang kepadanya.
Zidan tertegun mendengar ucapan Ara dan entah kenapa perasaannya jadi was-was tapi dia berusaha abai dan kembali duduk mencoba fokus lagi dengan kegiatannya.
...****************...
Hujan mengguyur tubuhnya. Jalanan licin dan gelap.
“Ila cuma mau Daddy sayang Ila…” ucapnya terus berlari tanpa arah. Sampai suara klakson keras terdengar.
Lampu menyilaukan mata.
Tubuh kecil itu terpental.
Waktu seakan berhenti.
Dalam detik terakhir kesadarannya, Shabila tersenyum kecil.
“Daddy… sekarang lihat Ila, kan…?”
Gelap.
...****************...
Disisi lain Galenio yang baru saja pulang dari nongkrong menatap orang-orang yang sedang berkerumunan dijalan dan membuat dirinya penasaran apa yang terjadi. Galenio memasukkan mobilnya ke garasi lalu berjalan menghampiri orang-orang yang berkerumun didekat rumahnya itu.
Galenio menyusup di antara orang-orang yang berkerumun itu, saat sudah menerobos Galenio mengalihkan pandangan nya pada gadis kecil yang tergeletak dengan bersimpah darah.
Deg
Galenio lemes dengan apa yang dia lihat, gadis kecilnya?
Gadis kecil yang selalu manja kepada nya dan selalu ingin minta perhatian dari sang Daddy sekarang sedang tidur dengan berselimut kan darah.
Galenio mendekat ke arah gadis kecil itu lalu segera memeluknya, Galenio menangis dan orang-orang hanya bisa menyaksikan itu semua.
"Dek, kenapa bisa jadi seperti ini" ucap Galenio dengan suara serak sya.
Galenio berdiri dengan menggendong Ila, orang-orang memberi jalan kepada Galenio. Mereka menatap sedih dengan kejadian kecelakaan itu.
Galenio membawa Ila ke mobil nya dan segera pergi kerumah sakit untuk membawa adek kecilnya itu.
"Dek bertahanlah, abang akan menyelamatkan mu," lirihnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kenapa kamu bermain di jalan sayang, abang kan sudah bilang jangan keluar tanpa abang. Dan sekarang lihat apa yang terjadi? Abang gak suka ya kamu keluar tanpa abang. "Galenio menangis, Sungguh dia sangat menyayangi adek nya itu.
Ckitttt...
Galenio rem mendadak saat sudah sampai dirumah sakit, dia keluar lalu meraih tubuh sang adek yang terlihat seperti sudah tidak bernyawa itu.
"Dokter tolong adek saya." Galenio berlari di lorong rumah sakit. Para perawat yang melihat itu segera menarik brankar dan menghampiri Galenio.
"Baringkan disini tuan," pinta perawat laki-laki dan Galenio membaringkan adeknya di brankar tersebut.
"Tuan tunggu diluar saja," ucap perawat itu saat hendak
memasuki ruangan IGD.
Galenio menghela nafas kasar lalu menghubungi sang Daddy,
dia tau pasti Daddy nya itu memarahi adek nya lagi sehingga adek kecilnya keluar rumah.
Setengah jam setelah Galenio menghubungi Zidan dan mengatakan bahwa Galenio sedang dirumah sakit Zidan bergegas menyusul takut terjadi sesuatu dengan putra nya itu. Ya Zidan berpikir Galenio terjadi apa-apa padahal kenyataan nya yang terjadi sesuatu adalah putrinya.
Zidan mengernyit saat melihat Galenio baik-baik saja, lalu siapa yang dirumah sakit? Bingung Zidan.
"Galenio." panggil Zidan.
Galenio menoleh dan mendapati sang Daddy sedang berjalan
Kearahnya. Bertepatan dengan itu dokter keluar dari ruang IGD. Galenio menghampiri doker tersebut.
"Bagaimana keadaan adek saya dok?"tanya Galenio.
"Maaf, adek anda sudah tidak bernyawa saat dibawa menuju kemari," ucap dokter tersebut.
Degg
Zidan yang berada di sisi putra nya begitu terkejut, Galenio? Dia tidak kalah terkejut bahkan sekarang dia sudah menangis kembali
"Saya permisi dulu tuan, "pamit dokter tersebut lalu menjauh dari dua laki-laki yang berbeda usia itu.
Galenio menatap sang Daddy yang terdiam itu, "apa yang Daddy lakukan sehingga membuat Ila keluar rumah?" tanya Galenio
Zidan hanya diam, dia tau kalau pada akhirnya akan terjadi begini.
Galenio geram, "PUAS DADDY HAH, SEKARANG ADEK KU SUDAH TIDAK ADA LAGI, AKU GAGAL MEN JAGA PESAN MOMMY UNTUK TERUS MENJAGA ILA DAD... Galenio membentak sang Daddy.
"Maaf, maafin Daddy.... Ila tolong maafin Daddy!" Zidan menangis dia menyesali perlakuannya terhadap sang putri. Istri nya dulu juga berpesan kepadanya untuk menyayangi anaknya tapi karena kematian dari sang istri membuatnya lupa akan pesan sang istri.
"Terlambat Dad, Ila sudah menyusul Mommy dan aku yakin Mommy membenci kita karena sudah gagal menjaga Ila." ucap Galenio dan Zidan hanya bisa menangis dan menyesali perbuatan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...