Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—16
Sore itu, Arumi datang ke rumah sakit tempat Dipta di rawat, karena sekujur tubuh nya penuh lebam, bahkan wajah nya babak-belur, hampir tak Arumi kenali.
Namun disana bukan hanya ia saja yang ada di ruangan itu, di sana juga ada perempuan lain nya, yang kemungkinan wanita milik Dipta.
Entah, Arumi tak mengenali nya, karena wanita yang bermain di apartemen Dipta hanya bisa ia lihat punggung berserta rambut ke kecoklatan nya saja.
"Kamu siapa?" tanya perempuan tinggi langsing itu, kepada Arumi yang berdiri di sebelah Dipta yang hanya terdiam tanpa bersuara.
"Saya Arumi, hanya teman," jawab Arumi santai, sebenarnya ia tak ada niat ingin menjenguk si brengsek ini, tapi ia takut Bumantara terkena masalah, karena membuat anak orang babak-belur. Bahkan ini juga atas perintah Dipta, yang ingin ia datang ke rumah sakit.
Dan ia setuju, mengingat ada yang harus masih ia luruskan, seperti hubungan mereka yang sudah berakhir, dan ia juga harus mengucapkan permintaan maaf atas nama Bumantara. Tapi ruangan ini terasa menegangkan, atmosfer nya terasa dingin yang mencengkam kan.
"Teman? Banyak sekali teman perempuan mu, Mas! Hari ini aku ketemu sama mereka, dan yang ini, ini yang ke empat."
Perempuan itu menunjukkan Arumi dengan wajah yang geram, "Semua nya kamu bilang ini teman, Mas..."
"Maaf, saya memang teman. Bukan siapa-siapa, dan enggak ada hubungan nya sama, Dipta," sela Arumi cepat, ia tak mau mengaku pernah menjalin hubungan dengan pria brengsek itu, dan lebih baik ia mengaku teman untuk sekarang, besok-besok nya ia akan pura-pura tidak kenal.
"Laras, bisa kamu keluar sebentar. Ada yang ingin Mas sampai kan kepada, teman," pinta Dipta lembut, dengan tangan nya yang juga selalu ada dalam genggaman perempuan yang bernama Laras tadi.
Arumi yang melihat itu hanya bisa menghela napas, kesal, ia bukan cemburu, tapi hanya ke jijik saja, dan jadi kesal juga kepada diri nya sendiri karena pernah jatuh cinta kepada pria brengsek ini.
"Bicara kan aja disini... tanpa harus aku keluar, Mas," decak perempuan itu kesal.
"Ras, hanya sebentar kok —"
Krek...
Suara pintu yang terbuka kencang, membuat ucapan Dipta terhenti, mereka serentak melihat kearah pintu yang terbuka, dengan berdiri nya sosok yang tampan dan tinggi, bahkan ekspresi nya terlihat santai. Sosok itu pun melangkah kan kaki nya kearah Arumi yang tercengang.
"Maaf telat, sayang," ucap Bumantara lembut, tak ketinggalan dengan kecupan manis di dahi Arumi yang masih mematung sedari tadi.
Dipta yang melihat itu, tidak sadar justru meremas tangan Laras dengan kencang, sehingga membuat Laras meringis. "Mas... sakit ih," sentak Laras kesal.
Bumantara menyeringai, melihat ekspresi pria yang sedang terbaring di ranjang pasien itu. "Sore pak Dipta, bagaimana keadaan nya, apakah masih sakit, atau justru semakin parah?"
Mendengar itu, membuat tangan Arumi dengan cekatan mencubit pinggang Bumantara. "Sssttt... diam," bisik Arumi, melotot menatap Bumantara dan itu justru membuat Bumantara kegemasan sehingga tak malu-malu lagi kembali mencium Arumi. Namun kali itu tepat di bibir Arumi, dengan dilihat Dipta bahkan Laras yang pipi nya memerah.
Arumi semakin tak bergerak dengan menatap Bumantara, syok, tidak habis pikir ia dengan kelakuan Bumantara dan sejak kapan ia menjadi selembut ini kepada Bumantara. Seharus nya ia memaki pria yang kurang ajar ini, karena berani-berani menciumnya, di saat mereka tak ada hubungan sama sekali.
Tapi Arumi berubah pikiran, saat menatap kearah pria brengsek — Dipta, yang wajah nya sedang menahan amarah — pasti harga dirinya terluka, karena tak percaya dengan Arumi yang juga sudah memiliki pria lain nya, tanpa harus sakit hati dengan menangisi nya.
"Brengsek..."
Bumantara menaikan sebelah alisnya, menatap Dipta, menyeringai, "Maaf, membuat kalian tak nyaman dengan keromantisan saya dan Arumi ... kekasih saya." Bumantara menarik pinggang Arumi, melingkarkan tangan nya dengan nyaman di pinggang kecil itu.
Wajah Arumi sudah merona sedari tadi, ia malu dan kesal dengan tingkah Bumantara, tapi ini juga seperti balas dendam nya untuk Dipta yang sudah mengkhianati nya.
"Apa yang kalian ingin kan disini?" tanya Laras, penasaran, apa lagi saat melihat wajah Dipta yang seperti menahan amarahnya.
"Saya?" Bumantara menunjukkan dirinya. "Saya, ingin menjemput kekasih saya," jawabnya enteng.
"Lalu....?" Kerutan di kening Laras semakin dalam, dan anehnya, tatapan mata nya selalu tertuju ke Bumantara. Arumi bisa menyimpulkan itu tatapan terpesona, karena ia pun sempat mengalami nya.
"Lalu... Sayang, kamu kesini mau ngapain? Bukannya kita ada janji mau kencan hmm," ujar Bumantara, menatap manik Arumi dengan tatapan lembut, mengusap pinggang Arumi, tidak memperdulikan kedua manusia yang lainnya di depan sana.
Arumi tersentak dengan pipi yang merona, ia berdeham, sebelum berkata, "Saya cuma mau bilang, masalah perkelahian ini enggak usah sampai ke meja hukum, kita bisa membicarakan ini secara baik-baik."
"Tenang sayang... semuanya sudah aku urus, Pak Dipta juga sudah setuju, tentang masalah ini yang juga sudah dibicarakan dengan baik-baik," sela Bumantara. "Benarkan, Pak Dipta?"
Tatapan Bumantara berubah saat menatap kearah Dipta yang langsung melongos, namun juga terlihat pria yang sedang berbaring itu menahan amarahnya.
Arumi menelengkan kepala nya, menatap Bumantara dengan raut penasaran. "Kapan kalian membicarakan hal ini?"
Gerakan itu justru membuat Bumantara gemas, sehingga membuat tangan Bumantara bergerak mencubit pipi Arumi, sembari menjawab, "Tadi pagi hm."
Tindakan itu malah membuat Arumi merona, jantung nya jadi berdebar tak karuan — Arumi berdeham, ia mencoba menetralkan irama jantung dan juga hatinya, dengan kembali menatap kearah Dipta dan Laras, yang ekspresi wajah nya aneh.
"Tunggu... tunggu..." Laras kembali menyela, dengan tetap menatap Bumantara. "Jadi... yang membuat, Mas Dipta seperti ini itu karena ulah kamu?!" seru Laras, menunjukkan Bumantara dan juga Dipta bergantian.
"Ras... Bisa tolong bantu Mas carikan makanan. Mas, lapar Ras," pinta Dipta sambil menyentuh tangan Laras.
Laras menghela napas kasar, wajah nya merengut kesal, namun tetap bergerak, keluar dari ruangan itu untuk mengambil yang di inginkan Dipta. "Kenapa harus aku," gumam Laras.
Setelah perempuan tadi keluar, Dipta menghela napas dalam-dalam. "Kalian bisa keluar. Saya sedang tak ingin berbicara sekarang," usir Dipta, yang menatap Arumi dengan surut tajam, sebenarnya masih banyak yang ingin ia bahas bersama Arumi, namun tidak sekarang. Apa lagi dengan adanya perempuan itu — Laras.
Arumi yang tak ingin berlarut-larut segera saja menggeleng, apa lagi jika harus kembali bertemu si brengsek ini — ia tak ingin, dan ia ingin ini yang terakhir kali nya ia bertemu dan melihat Dipta. Arumi tak ingin ada yang ke sekian kali nya, sangat tidak ingin.
"Saya harap pertemuan ini yang terakhir. Saya juga ingin, memperjelas kan masalah kemaren. Saya benar-benar tak ingin kita ada hubungan lagi," ujarnya.
Arumi bisa melihat wajah Dipta yang geram, namun ia hirau kan, ia malah ingin melihat ekspresi wajah Bumantara yang ada di sebelah nya, yang sedari tadi memainkan jari tangan nya.
"Kenapa hm?" Suara serak dengan pertanyaan lembut itu, kembali membuat Arumi deg-deg gan.
Arumi lekas menggeleng, lalu kembali mengalih kan pandanganya menatap Dipta, lalu kembali berkata, "Saya harap, Mas Dipta bisa mengerti."
Arumi berbalik, setelah selesai mengatakan itu, ia sekarang bisa bernapas lega karena bisa lepas dari pria brengsek itu, yang baru ia tau belang nya.
"Apa karena dia, Arumi!? Jadi, benar selama ini kamu selingkuh di belakang ku," celetuk Dipta tiba-tiba dengan nada dinginnya.
"Dia bukan seperti Anda. Yang bebas mengeluar masuk kan wanita yang berbeda di apartemen. Seperti wanita tadi," balas Bumantara tak kalah dingin, ia menatap Dipta dengan sorot tajamnya, seakan-akan bisa melubangi tubuh pria itu jika kembali menghina Arumi-nya.
"Dan... tentu Anda tidak ingin masalah ini di ketahui perempuan yang keluar tadi bukan? Maka hentikan omongan kosong Anda, dan jangan pernah sekali-kali nya Anda kembali menghina Arumi. Saya tidak akan tinggal diam. Cam kan itu...."
——
Bersambung....