Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Di Balik Rak Buku
Langkah kaki Gathan terdengar mantap di atas lantai marmer yang dingin, sementara Alisha mengekor di belakangnya dengan langkah yang jauh lebih ragu. Bagi Alisha, menyusuri koridor rumah Ardiansyah seperti sedang berjalan di dalam sebuah museum sejarah yang hidup. Kemewahan yang terpampang bukan hanya soal harga, melainkan soal selera tinggi yang terjaga selama puluhan tahun.
"Kita mulai dari tempat yang paling sering kamu kunjungi sejak kecil," ucap Gathan pelan sembari membuka sepasang pintu kayu jati berukir yang menjulang tinggi.
Begitu pintu terbuka, napas Alisha seolah tertahan di tenggorokan. Di hadapannya, terhampar sebuah perpustakaan keluarga yang luasnya melampaui imajinasi terliar Alisha. Jika perpustakaan mini di kamar Aruna saja sudah membuatnya terpukau, tempat ini adalah sebuah kuil bagi ilmu pengetahuan. Rak-rak kayu setinggi lima meter berjajar rapi, menampung ribuan jilid buku yang aroma kertas tuanya memenuhi udara, menciptakan suasana hening yang sakral.
Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah karpet persia tebal dengan sofa kulit berwarna cokelat tua yang terlihat sangat nyaman sebuah sudut yang mengundang siapa pun untuk tenggelam dalam bacaan selama berjam-jam. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela-jendela besar di bagian atas, memberikan sentuhan keemasan pada debu-debu halus yang menari di udara.
"Mama dan Papa kita dulu adalah kolektor buku yang sangat fanatik," Gathan menjelaskan sembari menyentuh punggung salah satu buku dengan ujung jarinya.
"Dan hobi itu menurun langsung padamu, Na. Kamu bisa menghabiskan waktu berhari-hari di sini hanya untuk menyelesaikan satu seri ensiklopedia kuno."
Alisha hanya bisa memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa getir di sudut bibirnya. Di dalam benaknya, ia merasa seperti seorang pencuri yang sedang menempati tempat yang bukan miliknya.
Memang, ia dan Aruna memiliki wajah yang bagaikan pinang dibelah dua, namun jiwa mereka adalah dua kutub yang berseberangan. Aruna adalah wanita yang dibangun dari logika, teks, dan data-data sains yang dingin. Sementara Alisha? Ia adalah murni aliran emosi dan warna.
Di rumah kecilnya, tidak akan ditemukan rak buku setinggi langit seperti ini. Yang ada hanyalah tumpukan kain perca, palet kayu yang penuh noda cat, dan berlembar-lembar sketsa baju yang ia buat dengan penuh gairah.
Alisha adalah seseorang yang lebih suka berbicara melalui goresan kuas daripada deretan kata-kata di atas kertas. Untuk membeli sebotol cat minyak berkualitas tinggi atau selembar kain sutra murni, ia rela menahan lapar dan memotong uang jajannya selama berbulan-bulan. Seni adalah napasnya, desain adalah detak jantungnya. Menjadi desainer baju bukan sekadar cita-cita baginya, melainkan takdir yang sudah melekat sejak ia pertama kali bisa menggenggam pensil warna.
Bagaimana bisa aku berpura-pura menyukai semua kertas kusam ini? batin Alisha cemas.
Namun, kejutan sesungguhnya belum berakhir. Gathan menuntunnya berjalan lebih dalam ke sudut perpustakaan yang paling gelap, tempat rak-rak buku sejarah kuno berada. Gathan berhenti di depan sebuah rak yang tampak biasa saja, namun ia melakukan sesuatu yang membuat mata Alisha membelalak. Pria itu meraih sebuah buku tebal bersampul kulit hitam tanpa judul, lalu memutarnya ke arah kanan.
Klik.
Suara mekanisme mesin yang sangat halus terdengar dari balik dinding. Perlahan, deretan rak buku itu bergeser, memperlihatkan sebuah pintu baja modern dengan pemindai sidik jari dan kode digital.
Sebelum melangkah lebih jauh, Gathan menoleh ke arah Alisha. Wajahnya yang tadi hangat mendadak berubah menjadi sangat serius, namun tetap menyimpan kelembutan khusus untuk adiknya.
"Dengar, Na," suara Gathan merendah, hampir berbisik.
"Seluruh penghuni rumah ini, termasuk Elena dan anak-anaknya, tahu bahwa perpustakaan ini adalah area terlarang bagi mereka. Kakak selalu memberi alasan bahwa ini adalah ruang privasi kita untuk mengenang orang tua, agar mereka tidak berani menginjakkan kaki di sini. Tapi itu hanya alibi."
Gathan menatap pintu rahasia itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Alasan sebenarnya adalah ruangan di balik pintu ini. Hanya ada dua orang di dunia ini yang boleh memegang kuncinya dan mengetahui isinya. Aku, dan kamu. Ruangan ini adalah pusat dari segala rahasia yang tidak boleh sampai jatuh ke tangan Elena atau siapa pun."
Alisha menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa suaranya sendiri tertahan di kerongkongan. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Gathan, dengan segala rasa percaya dan kasih sayangnya yang tulus, baru saja membukakan pintu menuju jantung rahasia keluarga Ardiansyah kepada seseorang yang sebenarnya adalah orang asing.
Tanpa Gathan sadari, sosok yang ia bawa masuk ke dalam ruang suci ini bukanlah Aruna sang pemegang rahasia, melainkan Alisha seorang gadis sederhana dari gang sempit yang kini memikul beban yang terlalu berat untuk pundaknya.
Pintu baja itu terbuka dengan desisan udara yang pelan. Gathan memegang tangan Alisha, menariknya lembut untuk masuk ke dalam kegelapan ruangan rahasia tersebut.
"Masuklah, Na. Mungkin melihat ini akan membantu ingatanmu kembali... atau setidaknya, mengingatkanmu mengapa kita harus selalu waspada di rumah ini," ucap Gathan pelan.
Alisha melangkah masuk, merasakan sensasi dingin menyentuh kulitnya. Di dalam hatinya, ia menjerit kecil. Ia tidak hanya takut ketahuan, tapi ia juga mulai merasa bersalah. Bagaimana jika suatu saat Gathan tahu bahwa ia telah mengkhianati kepercayaan suci ini? Bagaimana jika kasih sayang yang begitu besar ini berubah menjadi amarah yang menghancurkan?
Namun, di pergelangan tangannya, jam tangan pemberian Aruna terasa berat. Ia tahu, di sisi lain, Aruna sedang melihat segalanya melalui kamera kecil itu. Alisha tidak punya pilihan. Ia harus tetap melangkah, menjadi bayangan Aruna, meski nuraninya mulai memberontak.
Setiap langkah Alisha di dalam ruangan gelap itu adalah sebuah pengkhianatan, namun juga sebuah keharusan. Di dalam sana, di bawah cahaya lampu yang perlahan menyala otomatis, Alisha melihat deretan layar monitor, berkas-berkas dokumen rahasia, dan sesuatu yang membuat napasnya benar-benar terhenti.
Permainan ini bukan lagi sekadar sandiwara keluarga. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang menyangkut hidup dan mati. Dan Alisha, kini berada tepat di pusat pusarannya
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊