NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:595
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Di dalam ruang operasi, Alesya sedang berjuang melawan traumanya sendiri. Ia sudah memakai baju bedah, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet gemetar hebat saat melihat tubuh adiknya yang hancur di atas meja operasi. Monitor jantung berbunyi bip cepat dan tidak teratur seolah suara kematian datang mengintai.

​"Dokter Alesya, tekanan darah pasien turun drastis!" teriak perawat asisten.

​Alesya memejamkan mata sedetik, menghirup napas dalam-dalam di balik maskernya. “Fokus, Sya. Dia bukan cuma pasien, dia adikmu sekarang.” batinnya memerintah. Dengan sisa-sisa ketegaran profesionalnya, ia mengambil skalpell. "Suction! Kita harus hentikan pendarahan internal di toraks sekarang juga!"

​Di bawah lampu operasi yang menyilaukan, Alesya membedah tubuh adiknya sendiri dengan air mata yang menggenang di balik kacamata pelindung, berjuang mati-matian menebus kelalaian dua saudara laki-lakinya.

​----

​Di luar, suasana jauh lebih mencekam. Papi Adrian berdiri mematung di depan kaca besar, matanya merah padam. Rahangnya mengeras saat ia berbalik dan melihat Alana yang baru saja tiba, bersandar di dinding dengan tubuh lemas.

​Adrian melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat menggema di koridor sunyi itu. Andrew mencoba berdiri, namun tatapan ayahnya seolah memaku dirinya di tempat.

​"Om Adrian... maafkan aku," isak Alana, mencoba meraih tangan Adrian.

​"Jangan sentuh saya," suara Adrian rendah, dingin, dan penuh racun. "Dan jangan pernah sebut diri kamu bagian dari keluarga saya lagi."

​Alana tersentak, wajahnya pucat pasi. "Om, aku hanya ingin tahu keadaan Ares—"

​"Keadaan Ares?" Adrian tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Anak saya sedang bertaruh nyawa di dalam sana karena kamu. Kamu datang ke rumah ini, merusak pikiran putra sulung saya, dan menghancurkan hati putra bungsu saya sampai dia kehilangan akal sehatnya."

​Adrian menunjuk ke arah pintu keluar rumah sakit dengan jari yang gemetar karena amarah yang ditahan. "Pergi dari sini, Alana. Sekarang juga. Sebelum saya melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal seumur hidup. Kamu adalah kutukan bagi anak-anak saya."

​Alana menatap Andrew, memohon pembelaan. Ia berharap pria yang pernah menciumnya dengan penuh gairah dan mengaku mencintainya akan berdiri di sampingnya. Namun, Andrew hanya menunduk dalam, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Kemejanya yang berlumuran darah Ares menjadi saksi bisu pengkhianatannya. Andrew tidak sanggup mengangkat wajahnya. Ia tahu, setiap kata yang ia ucapkan untuk membela Alana hanya akan mempercepat kematian Ares di dalam sana.

​"Andrew... tolong," bisik Alana pilu.

​Andrew tetap diam. Ia mengabaikan panggilan itu seolah Alana hanyalah bayangan semu.

​"Kamu bisa lihat, kan?" desis Adrian. "Bahkan anak saya yang paling tidak punya malu pun tidak sanggup melihat wajahmu sekarang. Pergi!"

​Tanpa ada seorang pun yang membela, Alana terhuyung mundur. Ia melihat Mommy Revana yang menatapnya dengan kebencian nyata, dan Andrew yang memilih untuk menjadi asing. Alana berbalik dan berlari menyusuri lorong rumah sakit, merasa seperti sampah yang dibuang setelah menghancurkan sebuah istana.

​Setelah Alana pergi, koridor kembali sunyi. Hanya suara isak tangis tertahan dari Mommy Revana. Satu jam berlalu, hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Alesya keluar dengan wajah yang sangat pucat, masker bedahnya tergantung di leher. Ia tampak sangat lelah, seolah seluruh energinya telah tersedot habis.

​Semua orang berdiri, termasuk Andrew yang menatap kakaknya dengan mata penuh ketakutan.

Alesya tidak langsung bicara. Ia bersandar pada dinding koridor, tangannya yang masih terbungkus sisa-sisa aroma antiseptik dan darah gemetar hebat. Ia menatap Papi Adrian, lalu beralih ke Andrew dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, campuran antara kelegaan luar biasa dan kemarahan yang mendalam.

​"Dia selamat," suara Alesya serak, hampir habis. "Secara fisik... dia berhasil melewati masa kritisnya. Pendarahan internal di paru-parunya sudah aku tangani."

​Lembah napas lega sempat terdengar dari Mommy Revana, namun kalimat Alesya selanjutnya kembali menjatuhkan mereka ke jurang yang lebih dalam.

​"Tapi Ares mengalami trauma kepala yang sangat berat. Benturannya terlalu keras, kakinya patah. Sebagian syarafnya rusak." Alesya menatap Andrew tepat di mata. "Dia jatuh ke dalam koma dalam. Secara medis, kita sudah melakukan segalanya. Sekarang, semuanya tergantung pada keinginan Ares untuk kembali. Kita tidak tahu kapan dia akan bangun... seminggu, sebulan, atau mungkin lebih lama."

​Mommy Revana luruh ke lantai, menangis histeris di pelukan Papi Adrian. Sementara Andrew, ia merasa seolah jantungnya baru saja berhenti berdetak. Koma. Adiknya yang paling ceria, yang tidak pernah bisa diam, kini terbaring kaku di dalam sana karena perbuatannya.

----

​Hari-hari berikutnya di rumah sakit berubah menjadi siksaan yang lambat bagi Andrew. Papi Adrian benar-benar menutup akses bagi siapa pun yang bukan keluarga inti untuk mendekati ruang ICU. Penjagaan diperketat, Alana benar-benar dilarang berada dalam radius 100 meter dari kamar Ares.

​Andrew menjadi seperti mayat hidup. Ia tetap pergi ke kantor di pagi hari karena Papi Adrian menuntut profesionalisme di tengah badai, namun setiap malam, ia kembali ke rumah sakit. Ia duduk di kursi koridor, tidak berani masuk ke kamar Ares, karena ia merasa kehadirannya hanya akan membuat kondisi adiknya memburuk.

​Suatu malam, Papi Adrian menemukan Andrew sedang duduk tertunduk di depan pintu ICU.

​"Kenapa kamu tidak masuk?" tanya Adrian dingin. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti malam kecelakaan, tapi dinginnya jauh lebih mematikan.

​"Aku merasa tidak pantas, Pi," jawab Andrew tanpa mendongak.

​"Benar, kamu memang tidak pantas," sahut Adrian ketus. "Setiap detik Ares terbaring di sana, itu adalah hutang nyawa yang kamu tanggung. Kamu tahu apa yang paling menyakitkan bagi Papi? Bukan fakta bahwa kamu mencintai wanita itu, Andrew. Tapi fakta bahwa kamu membiarkan nafsumu merusak ikatan yang papi bangun selama puluhan tahun di keluarga ini."

​Adrian menumpukan tangannya di pundak Andrew, namun bukan untuk menguatkan, melainkan untuk memberikan beban. "Jika Ares tidak bangun, jangan pernah berharap keluarga kita akan sama lagi, kamu memang tetap putra Papi dan Mommy, tapi di rumah ini, kamu hanyalah orang asing yang menyebabkan kematian adiknya sendiri."

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung.......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!