NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lupa naruh kunci

Selamat pagi...

  Aku menyapa dari balkon rumah ku, menikmati keindahan alam yang tiada tara ini, dengan hati yang penuh rasa syukur.

 Pagi ini, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tampak begitu megah. Matahari pagi yang berwarna kuning lembut, terbit dari sela-sela Gunung. Cahayanya memancar ke seluruh lembah, menyinari TANAH WONOSOBO yang masih sepi. Pemandangan indah ini, akan membuat siapapun yang melihatnya merasa tenang dan damai.

...----------------...

  Pagi ini, Rama bangun penuh rasa semangat tiada tara. Pertemuannya dengan bu Winda kemarin sore, telah memberinya suatu harapan.

  "Aku harus membuat bu Winda dan ayah lebih dekat lagi," gumamnya sambil memastikan tidak ada buku yang tertinggal. "Aku yakin, ayah akan menerima bu Winda dengan baik. Tidak sekarang, mungkin nanti!" ucapnya penuh keyakinan.

  "Tidak sekarang, tidak juga nanti!" Galih menekankan.

  Rama menoleh cepat, "ayah!" ucapnya, lalu kembali pada buku-bukunya. "Sejak kapan, ayah berdiri di sana?" bisiknya.

 "Rama, jangan menjodoh-jodohkan, ayah nggak mau." Kata Galih.

  "Aku nggak maksa, ayah. Cuma berharap," kata Rama.

  Galih duduk menyilangkan kakinya di sofa kecil yang berada di kamar Rama. "Jangan terlalu memikirkan, ayah. Kamu belajar yang giat saja, supaya apa yang kamu cita-citakan kelak dapat terwujud." Katanya.

  "Ayah, apa sih yang kurang dari bu Winda? bu Winda itu guru yang menginspirasi, bagi murid-murid yang bercita-cita ingin menjadi guru. Bu Winda cantik, menarik, usianya juga lebih muda dari ibu." Kata Rama, "oh, atau ayah tidak suka sama yang sudah punya anak?" Sambung Rama sebelum Galih menjawab.

 Galih kembali berdiri, untuk mengalihkan pembicaraan berkedok mengajak sarapan. "Ayo kita sarapan, ayah tunggu di meja makan, ya!"

  "Iya, ayah." Jawab Rama dengan perasaan sedikit kecewa.

 Rama kembali melanjutkan persiapannya, lalu keluar untuk bersarapan. Diletakkannya tas sekolah itu di kursi, lalu Rama duduk di kursi sebelahnya.

  Galih mengamati, "hari ini buku mu tidak di bawa semua ya, Rama?"

 Rama tersenyum menanggapi gurauan ayahnya.

 "Kenapa senyum?" tanya Galih lagi.

 "Ayah berharap kemarin terulang lagi, ya?" balas Rama yang membuat sang ibu ikut tertawa.

 Galih menatap ibu, lalu ke anaknya yang setiap hari selalu saja meledeknya. Dia tahu, anak dan ibunya akan selalu berkata sama setiap hari. "Ini hidup aku, mau bagaimana aku, ya suka-suka aku," ucap Galih yang membuat ibu dan anaknya semakin ingin mencarikan pasangan buat Galih.

  Mereka pun melanjutkan sarapan tanpa percakapan. Hingga teman-teman Rama menghampiri Rama untuk berangkat ke sekolah bersama.

  "Aku berangkat, mbah ibu." Ucapnya sambil mencium tangan bu Susi, lalu ke Galih, "berangkat dulu, ayah." Ucapnya lalu memasangkan tas ke bahunya.

 "Semangat, Rama!" Seru bu Susi, lalu menatap Galih "Galih, cobalah membuka hati untuk Winda, siapa tahu kalian jodoh," ucap bu Susi saat Galih hendak meninggalkan meja makan.

 "Bagaimana aku ingin membuka hati, ibu? sedangkan aku sendiri lupa naruh kuncinya." Ucap Galih santai.

  Bu Susi menghembuskan napas, "kapan kamu serius, Galih?"

  "Aku serius, ibu..." Ucapnya sambil pergi meninggalkan ibunya.

  * *

  Di gerbang sekolah, Tya sedang menunggu kedatangan Rania. Ia tak sabar, ingin tahu, apa yang Rania rasakan, mengapa dia takut pada ayahnya?

  "Ah, itu dia yang aku tunggu-tunggu." Ucap Tya saat melihat Rania sedang berjalan ke arah sekolahnya.

  Zayra mendekat, "kamu sekarang berteman sama anak baru itu?"

  "Ya, gimana lagi? dia nggak punya teman, kan?" jawab Tya.

 Rania berjalan menunduk melewati Tya dan Zayra, bahkan Rania tak menjawab saat Tya memanggilnya.

 "Anak sombong begitu, kamu jadikan teman? cih, kalau aku sih ogah," ucap Zayra sambil berjalan menuju kelasnya.

  "Tunggu, Zay!" teriak Tya sambil mengejarnya.

  Rania duduk di bangku belakang paling pojok, setelah sebelumnya ia duduk bersama Selfi di bangku tengah, di dekat Tya.

  Bel berbunyi, membuat semua siswa berlari memasuki kelas masing-masing.

  "Eh, Rania!" Teriak Selfi, "sombong banget kamu nggak mau duduk sama aku."

  Rania tak berani menatap, sejujurnya ia tak ingin bertemu Tya yang duduk satu baris dengan dirinya, namun ia bingung ingin mengungkapkannya.

  "Eh, patung! jawab napa?" teriak Eza yang di susul ledakan tawa dari teman-temannya yang lain.

  Rania tak ingin menanggapi, namun ejekan dari semua yang berada di kelas itu membuat nyalinya menciut. Rania berlari ke toilet, ia menangis cukup lama di sana.

 Semua duduk di kelas, mengikuti pelajaran yang guru berikan. Namun Tya menyusul dan tetap menunggu Rania keluar dari toilet.

  Ia habiskan waktu tiga puluh menit lamanya menunggu Rania keluar, Rania keluar dengan mata yang masih berair, dan hidung yang berdenyut kemerahan.

  Rania hendak melewati Tya begitu saja, namun Tya menahan kedua bahunya. Tubuh Rania yang mungil, membuatnya tak mampu melepaskan diri dari Tya.

  "Jauhi aku, aku nggak mau berteman dengan mu." Ucapnya dengan suara lembut tanpa berani menatap.

 Tya mendorong tubuh mungil Rania ke tembok, menekan tubuhnya hingga Rania tak mampu bergerak. "Aku cuma mau tahu, apa alasan kamu ingin menjauh dari ku?"

  "Itu hak ku, mau sama siapa dan tidak mau sama siapa sama sekali bukan urusanmu. Tolong lepaskan aku!" ucap Rania.

 Tya terkekeh ingin tahu, "pokoknya kamu harus jawab dulu, apa salah aku?"

  "Kamu tidak salah apa-apa, tapi aku memang nggak mau berteman sama kamu." Rania masih menunduk.

  Tya menahannya semakin kuat, ia merasa harus tahu, apa sebabnya Rania menjauhinya. Tya terus mendesak, namun Rania tetap tidak ingin memberi tahu.

 Tanpa terasa mereka telah melewatkan dua jam pelajaran. "Argh! tinggal jawab aja susah amat sih? Kamu tahu nggak, gara-gara kamu kita jadi tidak mengikuti pelajaran, tahu nggak?!" Tya menekan kalimatnya, hingga tanpa sadar telah mencengkram bahu mungil Rania, lalu menghempaskan nya ke tembok.

  "Aow! sakit...!" Rania menangis kesakitan, hingga seorang satpam mengetahui insiden itu, lalu membawa mereka ke ruang guru, untuk di mintai keterangan.

"Kenapa kalian tidak mengikuti pelajaran?" Tanya bu Vera, guru kelasnya.

  Tya beralasan menunggu Rania, "maaf,bu. Tadi saya menunggu Rania keluar dari toilet." Katanya.

"Maaf, bu. Saya sakit perut, perutku terasa mulas, oleh karena itulah saya kelamaan di toilet." Alasan Rania.

 Guru tidak langsung percaya begitu saja, camera CCTV menunjukkan Tya sedang mendorong lalu menekan bahu Rania.

Bu Vera membuka kacamatanya sedikit, mengamati wajah keduanya dengan tatapan yang menusuk. "CCTV menunjukkan Tya sedang mendorong, lalu menekan Rania di tembok. Tolong beri tahu ibu, apa masalah kalian?"

  Rania merasa Tya tidaklah bersalah, "Tidak,bu. Tya tidak melakukan itu." ia pun terus membela meski dirinya tengah kesakitan akibat cengkraman dari Tya tadi.

 Pembelaan Rania terhadap Tya, membuat guru menuduh bahwa Tya telah memberi ancaman pada Rania, agar terbebas dari tuduhan. "Apa Tya mengancam mu?"

Rania menggelengkan kepalanya, "Tidak, bu."

Keduanya tidak ada yang mau mengakui kejadian yang sebenarnya, membuat guru kelasnya terpaksa memberi surat peringatan.

"Maaf, ibu terpaksa memberikan ini."

"Apa itu, bu?" ucap keduanya.

"Surat peringatan untuk kalian, pastikan orang tua kalian menandatangani surat ini, dan kembalikan besok. Dan berjanjilah untuk tidak mengulangi hal ini lagi." Ucap bu Vera lembut.

"Iya, bu. Kami berjanji tidak akan mengulangi lagi." Jawab keduanya sebelum pergi meninggalkan kelas.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!