Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Athor
Apa yang biasa kalian lakukan saat sepertiga malam? Tentu jawabannya tidur.
Kebanyakan orang memang tengah asik terbuai dialam mimpi, meski ada beberapa yang sedang bekerja dan tentu sedikit orang yang menampakan wajahnya ke hadapan Allah untuk bermunajat kepadanya.
Padahal barang siapa yang rutin bermunajat ke pada Allah dalam waktu sepertiga malam maka tuhan akan mengabulkan segala doanya, tapi kebanyakan orang memilih tertidur lelap ketimbang sholat.
Di sebuah kamar sederhana, dengan cahaya kuning temaram. Seorang cewek tengah tertidur lelap dibawah selimut tebal, bergambar doraemon, dengan air mata yang turun membasahi pipinya, meski matanya dalam posisi terpejam.
Gadis itu berteriak-teriak sambil menendang apa saja yang ada di kasurnya, minta tolong seolah dia tengah di siksa.
"Tolong! Tolong! Lepaskan aku! Aku mohon!” Ucapnya pilu menyayat hati.
“Hik hik hik, lepaskan! Lepaskan! Lepaskan aku!”
Ia berteriak-teriak sambil menggoyang-ngoyang kepalanya ke kiri dan ke kanan.
“Aku mohon pada mu! Lepaskan aku! Aku tidak mau, aku tidak mau! Aku buka wanita murahan.”
Ia merancau tak karuan dengan tangan memukul-mukul udara, kaki menendang-nendang. Tagisan pilu menyayat Hati, dengan air mata yang tak berhenti mengalir, nafas yang memburu, dan detak jantung begitu cepat, di tambah keringat membanjiri tubuhnya.
Setelah berteriak, menagis dan meratap selama lima belas menit, tanpa adanya sang penolong atau pun orang membangun kan dirinya. Akhirnya gadis itu terbangun sendiri dari tidurnya. Matanya terbuka sempurna, dengan sisa air mata yang masih meleh dan nafas yang tak beraturan.
Gadis itu melayangkan pandangan menyapu sekelilingnya.
“Alhamdulillah," gadis itu mengucap syukur, ketika menyadari ia ada di kamar kostnya dan kejadian itu hanya mimpi semata.
Namun ia kembali terisak dengan posisi terduduk di atas kasur, memeluk kedua lututnya. Merasa tersiksa dengan rasa takut yang selalu menghantui dirinya.
Sejak kejadian pemerkosaan siang itu Nayla memang selalu mengalami mimpi buruk, tentang kejadian itu yang membuat ia sangat takut ketika harus tidur sendirian.
Sudah hampir satu bulan ini ia selalu mengalami mimpi yang sama. Kemarin ketika ia masih tertidur di rumah Pamannya, maka Bibi dan kedua sepupunya akan dengan senang hati menemani ia tidur dan membangunkannya tapi kali mimpi itu datang. Sekarang ia tertidur di kostnya sendirian.
Semua terasa sangat berat untuknya. Nayla benar-benar benci dengan pria itu, pria yang sudah menghancurkan hidup dan masa depannya. Pria yang memberikan hari-harinya bagai di neraka.
Saat seperti ini tak ada hal lain yang dapat di perbuat selain menangis meratapi nasib nya yang teramat sial.
Setelah dirasa sedikit tenang ia melangkah ke kamar mandi, mengambil wudhu dan menghadap pada sang Kholik berharap akan mendapat ketenangan. Ia memasrahkan semua perjalanan hidupnya pada yang diatas sana, karena hanya tuhan yang mampu membolak-balikan kehidupan dan hati manusia. Tuhan pasti tahu apa yang memang terbaik bagi dirinya juga kehidupannya ini.
Sudah lama ia terjaga namun gadis itu masih takut untuk tidur lagi, ia takut jika menutup mata, maka mimpi itu akan datang lagi. Hingga ia memilih menyalakan lampu kamar dilanjut membuka mushaf mini yang selalu di bawanya kemana-mana dan membaca ayat demi ayat yang tertera di kitab suci itu dengan suara pelan nan merdu. Bersaing dengan suara jangkrik di luaran sana, yang tidak tahu di mana keberadaanya.
Ia membaca ayat-ayat Allah hingga kantuk menghampiri matanya, kemudian ia pun tertidur di atas sajadah ungu yang sedang digunakan.
Terapi Al-Qur'an adalah hal yang bibinya sarankan kepada Nayla untuk menenangkan hatinya jika ia merasa gundah dan takut, karena Nayla menolak ketika sang bibi hendak mengantarkan ia untuk pergi menemui psikiater dan menanyakan masalah mimpi yang selalu mengganggunya.
Nayla memang tidak bercerita meski pamannya memaksa ia untuk berkata jujur. Ia tidak mau semua orang tahu tentang apa yang terjadi padanya. Terlebih lagi Nayla tidak mau pamannya mencari pria itu dan memintanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya pada Nayla, karena ia tidak sudi kalau harus menikah dengan pria gila itu.
Jika ia tidak hamil, maka Nayla tidak akan memberi tahu sang paman dan juga tidak akan mencari pria itu lagi.
Gadis buka perawan itu, hanya selalu berdoa semoga dirinya tidak bertemu lagi dengan orang yang sudah membuat jiwanya tercabik itu.
Pemerkosaan memang benar-benar menyakitkan, meski ia sudah bersikap biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tetep saja hal itu membekas di jiwa nya. Membuat ia setres dan setengah gila. Namun Nayla selalu bersyukur karena Ia punya Allah dan keluarga yang sayang padanya.
Gadis itu terbangun saat berkokok ayam jago, kembali terdengar. Menandakan jika hari sudah pagi. Maka buru-buru ia ke kamar mandi untuk wudhu dan menunaikan sholat subuh sebelum akhirnya melanjutkan aktifitasnya seperti biasa.
*
*
Nayla baru selesai mencuci piring ketika sahabatnya nongol ke kamar. Padahal biasanya kalau jam delapan pagi Faya masih tertidur pulas, karena cewek itu pulang kerja jam empat subuh sehingga dia menggunakan siang harinya untuk tidur, bahkan Nayla sering mengejek Faya dengan sebutan Wanita kalong lantaran dia sering pergi saat menjelang malam dan akan tidur bila pagi tiba.
“Ada apa?” Tanya Nayla pada sahabatnya yang dari wajahnya menadakan jika dia masih ngatuk berat.
“Nih, ibu elo nelpon," Faya menyerahkan poselnya kepada Nayla.
Begitu Nayla menerima benda hitam itu, Faya langsung kabur ke kamaranya lagi untuk menajutkan mimpi yang tertunda.
Tak seberapa lama Hp Faya kembali berbunyi. IBU calling itu yang tertera di monitor Hp.
“Hallo, Assalamualaikum!” Sapa Nayla pada sang penelpon yang tidak lain adalah ibunya.
“Walaikum salam. Ini Nayla ya?”
“Iya ibu, ibu apa kabar?”
“Alhamdulillah baik ndok, kamu apa kabar disana?”
“Nayla baik ibu. Bapak dan Aldi apa kabar ibu?”
“Semuanya baik-baik saja nak.”
“Alhamdulillah.”
Nayla memberitahukan jika Hanponenya hilang sehingga ia tidak bisa memberi kabar ke orang tuanya selama ini. Dan selanjutnya obrolan mereka tentang ibunya yang memenita maaf karena belum bisa kirim uang kepada Nayla.
Nayla juga mengatakan jika bibi memberi cukup uang untuk membayar kuliah juga kostnya sehingga ibunya tidak usah menghawatirkan keberadaan dirinya apalagi mengenai masalah uang.
Nayla juga bercerita kalau ia di beri uang saku sang bibi, belum lagi honor ia selama ngelesin disana dan uang saku yang di beri pamannya juga lumayan banyak.
Mereka asik ngobrol ngalor ngidul bergosip layaknya ibu dan anak, karena memang banyak yang harus di ceritakan kedua wanita itu saat saling melepas rindu.
“Kamu bener baik-baik saja kan ndok? Tidak menyembunyikan apa-apa dari ibu?” Tanya prempuan itu meminta purtinya jujur.
“Benar ibu.”
“Kamu tahu ndok, kalau ibu itu selalu terasa setiap kamu ada masalah.”
Nayla diam. Ia hanya mendengarkan apa yang dikatakan ibunya,
“Memang ada apa ibu?”
“Ibu tak tahu ndok, Cuma sudah beberapa hari ini ibu selalu mimpikan kamu. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu disana. Kemarin juga begitu. Ibu mimpikan kamu dan ternyata kamu sakit, sekarang apa lagi?”
Nayla juga selalu mimpi buruk akhir-akhir ini, namun ia tidak mau bercerita pada sang ibu karena takut membuat prempuan yang paling ia cintai makin khwatir nantinya, “ibu itu kan Cuma mimpi, bunga tidur.”
"Ibu juga berharap begitu nduk, tapi entah kenapa ibu merasa takut terjadi sesuatu sama kamu.”
“Tak usah takut bu, Nayla baik-baik saja kok. Kan Nayla juga teleponan sama ibu gini, Nayla tidak Kenapa-napa, ibu sama bapak tidak usah khwatir ya?”
"Oh ya ndok, kata bibi kamu juga sering mengalami mimpi buruk ya? Apa mimpi itu masih suka mengagumu?" Tanya sang ibu.
"Kalau memang kamu masih tidak bisa tidur di malam hari, tidak masalah kalau kamu pergi ke psikiater manatahu dia bisa bantu kamu terapi menyembuhkan mimpi buruk mu.
Sebenarnya kenapa tho Nay kamu bisa sampai seperti itu?"
"Nayla juga tidak tahu Bu, mungkin itu efek karena kecapean. Tapi sekarang mimpi itu sudah tidak datang lagi kok Bu, jadi Nayla tidak harus datang ke psikiater."
"Beneran, ndok. Kamu tidak perlu periksa?"
"Gak ada loh Bu, Nayla baik-baik saja."
“Ya sudah kalau begitu. Tapi kamu juga harus hati-hati disana ya Nay! Apa lagi kalau pergi-pergi. Kalau ada masalah cerita sama ibu, tak perduli sebesar dan seberat apa masalah yang kamu hadapi ibu akan selalu ada buat mu nak. Ingat ya, ndok. Keluarga ini akan selalu ada untuk mu meski kamu terjatuh ke jurang sekalipun.”
“Iya ibu, Nayla akan selalu ingat pesan ibu.” Jawabnya meyakinkan.
Setelah telepon selama kurang lebih dua jam ahirnya sang ibu mengakhiri obrolan dengan putrinya. Setidaknya suara Nayla mampu mengobati rasa rindu dan gelisah yang selama ini menghapiri hati ibu Aisyah.
*
*
*
*
Habis telponan dengan sang ibu kini Nayla bersiap-siap ke kampus untuk menyerahkan surat balasan magangnya juga bukti pembayaran semester miliknya.
Nayla menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di depannya, rambutnya di ikat ala ekor kuda dengan poni menjuntai ke depan menutupi keningnya yang putih bersih.
Ia memoleskan lip blam ke bibirnya yang tipis sehingga menjadi berwarna pink naturan dengan sedikit kilatan minyak yang membuatnya tidak terlihat kering.
Mengenakan blus ungu muda yang baru dibelinya kemarin, dipadukan dengan celana jeans hitam membuat penampilnya sedikit lebih santai. Memakai jam tangan hitam yang di beri Faya sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin sore.
Lalu ia menyiapkan sepatu kets hadiah dari Farel yang akan di gunakan juga tas selempang hitam miliknya yang akan melengkapi penampilannya ke kampus kali ini.
Setelah dirasa cukup gadis itu, menyemprotkan Parfum kesayangannya pada bagian tertentu tubuhnya. Tidak banyak, namun aromanya dapat tercium siapa yang ada di dekatnya, mungkin radius satu sampai dua meter lah.
“Perfeck” ujarnya sambil meninggalkan kaca besar yang ada di meja riasnya, kini ia sudah siap menjalani aktifitasnya.
*
*
*
*
Jangan lupa
Like
Komen
bunga