Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
limolas (15)
Pagi itu, Han Jia sudah berdiri di tengah petak tanah yang baru disiapkan. Di tangannya ada sebuah kantong kecil berisi benih yang beratnya sangat tidak masuk akal untuk ukuran biji-bijian. Warnanya perak mengkilap dan teksturnya keras seperti logam.
"Shura! Berhenti mengelap zirahmu yang sudah mengkilap itu! Cepat ke sini dan bawa cangkul yang sudah kucelupkan ke... emmm... cairan pembersih kemarin!" teriak Han Jia.
Shura mendekat dengan langkah ragu. Ia masih sering melirik ke arah pagar tak terlihat di sekeliling ladang dengan tatapan trauma. "Ada apa lagi, Nona Han? Kau mau aku menanam logam di tanah hitammu ini?"
"Ini bukan logam biasa, Otot Besar! Ini adalah Padi Baja!" Han Jia menggerutu pelan. 'Ayo Elena, tahan lidahmu. Jangan sebut kalau ini adalah padi dengan struktur molekul karbon yang diperkuat oleh deposit besi organik. Sebut saja dia... padi yang sangat kuat.'
"Padi Baja? Memangnya bisa dimakan? Apa gigiku tidak akan rontok kalau mengunyah besi?" tanya Shura sambil menimbang salah satu benih di tangannya. "Berat sekali! Satu butir ini beratnya seperti sepuluh butir padi biasa!"
"Tentu saja bisa dimakan! Ini adalah padi yang mengandung... emmm... mengandung zat yang membuat tulangmu jadi sekeras batu!" Han Jia menjelaskan dengan wajah memerah karena menahan istilah densitas kalsium. "Tapi masalahnya, tanah ini harus sangat padat untuk menampung berat benih ini. Jadi, tugasmu adalah mencangkul dengan kedalaman tepat tiga puluh sentimeter, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih!"
Shura menghela napas panjang. Ia mulai mencangkul. Namun, setiap kali cangkulnya mengenai tanah, terdengar suara tring! seperti besi beradu dengan besi.
"Han Jia! Tanahmu ini kenapa jadi sekeras ini?!" keluh Shura. Keringat mulai membanjiri tubuhnya yang gagah.
"Itu karena reaksi antara... arggh! Maksudku, itu karena tanahnya sedang 'bekerja sama' dengan benihnya!" Han Jia mencak-mencak. "Hera! Berikan laporan kelembapan tanah! Aku tidak mau benih ini mengalami oksidasi maksudku, aku tidak mau benih ini berkarat sebelum tumbuh!"
Hera muncul dalam wujud hologramnya, kali ini dia memakai topi caping petani transparan yang terlihat sangat kontras dengan jas laboratoriumnya. "Profesor, tingkat kelembapan hanya 40%. Kita butuh sistem irigasi... eh, maksud saya, kita butuh air mengalir yang lebih banyak. Jika tidak, butiran logam maksud saya benih ini akan memicu panas berlebih di dalam tanah."
"Shura! Jangan cuma mencangkul! Ambil air dari sungai, tapi campurkan dengan bubuk putih di ember biru itu!" perintah Han Jia.
"Bubuk apa lagi itu? Kau mau membuat ledakan lagi?" Shura bertanya curiga.
"Itu hanya... pupuk! Hanya vitamin untuk tanah!" Han Jia berteriak, hampir saja ia menyebut Kalium Nitrat. "Cepat! Jika matahari makin tinggi, suhunya akan memicu reaksi... maksudku, akan membuat benihnya kepanasan!"
Shura berlari bolak-balik dari sungai ke ladang. Warga desa yang melihat dari kejauhan (dan masih takut mendekat karena pagar petir) hanya bisa menggeleng-geleng. Mereka melihat seorang pria yang tampak seperti pangeran sedang diperbudak oleh seorang gadis kecil yang terus-menerus bicara pada udara kosong.
"Dia benar-benar gila," bisik seorang pemuda desa dari jauh. "Lihat, pangeran itu sampai mandi keringat hanya untuk menanam batu perak."
Setelah beberapa jam bekerja keras, benih Padi Baja akhirnya tertanam. Han Jia menyiramkan cairan terakhir ke atas tanah. Seketika, terdengar suara desis halus dari dalam tanah, seolah-olah logam panas sedang didinginkan oleh air.
"Sempurna," gumam Han Jia puas. "Hera, mulai hitung mundur fase... emmm... fase tumbuh cepatnya."
"Dipahami, Profesor. Estimasi munculnya tunas metalik dalam tiga jam," sahut Hera.
Shura duduk tersungkur di tanah, napasnya memburu. "Han Jia... aku bersumpah, jika setelah semua kerja keras ini padi yang tumbuh rasanya seperti mengunyah paku, aku akan mogok kerja dan bergabung dengan jin penyanyimu itu untuk memprotesmu."
Han Jia tertawa kecil, ia memberikan secangkir air dingin pada Shura. "Jangan khawatir, Shura. Jika padi ini panen, kau akan menjadi orang paling kuat di kekaisaran ini. Bahkan pedang lawanmu akan patah saat mencoba menebas kulitmu."
Shura menatap Han Jia dengan pandangan yang sulit diartikan. Di satu sisi, gadis ini sangat menjengkelkan dengan bahasa-bahasanya yang aneh dan perintahnya yang gila. Tapi di sisi lain, setiap hal "ajaib" yang ia lakukan selalu membuahkan hasil yang nyata.
"Kau benar-benar bukan dewi, kan?" tanya Shura pelan.
"Aku sudah bilang! Aku manusia! Profesor! Ilmuwan!" Han Jia mencubit lengan Shura dengan kesal. "Sudahlah, ayo masuk. Aku harus menyiapkan ramuan... eh, jamu untuk pegal-pegalmu itu. Tapi jangan protes kalau baunya seperti belerang!"
Shura hanya bisa pasrah, mengikuti sang "Profesor Gila" masuk ke dalam gubuk, sambil membayangkan apakah besok ia harus menanam pohon yang bisa berbuah koin emas atau tidak