Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
Setelah pembicaraan yang menguras emosi itu, Rangga akhirnya pamit pulang. Namun, sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa tenang. Kalimat Ayu tentang mengapa ia tidak membenci wanita itu terus berputar di kepalanya. Pengakuan jujur Rangga bahwa ia gagal membencinya justru membuat hatinya sendiri terasa perih. Ada rasa sesak yang tak kunjung hilang, sebuah kegundahan yang membuatnya merasa rumahnya yang mewah terasa terlalu sepi malam ini.
Karena merasa gelisah dan tidak bisa tidur, Rangga memutuskan untuk keluar lagi. Ia memacu mobilnya menuju sebuah supermarket 24 jam hanya untuk membeli beberapa jajanan dan minuman, sekadar mencari pelarian dari rasa gundah yang menyiksa.
Di dalam kabin mobil yang dingin, ia menyalakan lagu dan memutar playlist secara acak. Namun, seolah takdir sedang menertawakannya, sebuah melodi familiar mulai mengalun.
Sampai kutemukan caraku untuk lupakanmu pergi dan hidup mati rasa
Pastikan aku untuk menunggumu sampai pada palung kecewa
Bila pada akhirnya kita menjadi asing pada kata bahagia
Sialnya, sayangnya, sialnya, aku akan tetap percaya
Suatu kala nanti
Bila nanti kita berdua telah bahagia lagi
Tiada lagi ruang tempat untuk
Ku terlatih mengerti kala sedih temani
Ku tak masalah asal kau di sini
Lagu "Bahagia Lagi" oleh Piche Kota menceritakan tentang perjuangan cinta setelah kesalahan, di mana seseorang menyesali perbuatannya dan memohon kesempatan kedua agar bisa kembali bahagia bersama kekasihnya, meski harus melalui proses penyesalan mendalam dan kerinduan, berharap suatu saat mereka bisa tertawa lagi tanpa kesedihan.
Mendengar lirik itu, tangan Rangga mencengkeram kemudi dengan kuat. Dadanya terasa sesak. Lirik itu seolah menelanjangi perasaannya yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kesuksesan dan sikap dinginnya.
"Sialan!" umpat Rangga dengan suara rendah.
Ia segera menekan tombol skip dengan kasar, mengganti lagu itu dengan musik rock bervolume kencang, berusaha menenggelamkan suara hatinya yang sedang berteriak. Ia benci betapa mudahnya sebuah lagu membuatnya merasa lemah, dan ia lebih benci lagi kenyataan bahwa setelah bertahun-tahun, Ayu masih memiliki kendali penuh atas kebahagiaannya.
Rangga memarkirkan mobilnya di depan supermarket. Dia melangkah masuk ke dalam supermarket dengan sisa-sisa kekesalannya. menyambar sebuah troli, berniat untuk berkeliling tanpa tujuan jelas agar pikirannya sedikit teralihkan. Namun, baru saja ia berbelok di lorong bagian biskuit dan makanan ringan, matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali.
"Loh, Rangga? Kamu di sini juga malam-malam begini?"
Rangga menoleh dan mendapati Dimas, sedang mendorong troli yang penuh dengan perlengkapan bayi. Di sampingnya, istrinya sedang mencoba menenangkan seorang balita yang duduk di dalam troli sambil memegang sebungkus cokelat.
"Eh, Dim. Iya nih, lagi cari angin... eh, cari jajanan maksudnya," jawab Rangga.
Dimas tertawa kecil melihat troli Rangga yang masih kosong melompong. "Cari angin di supermarket? Gaya kamu, Ngga. Biasanya jam segini kamu masih berkutat sama mesin di bengkel."
"Lagi bosen di rumah," kilah Rangga pendek.
"Ini nih, si kecil rewel minta jajan," ujar Dimas sambil mengacak rambut anaknya yang mulai tenang setelah mendapatkan keinginannya. "Tiba-tiba bangun jam segini minta coklat sama es krim. Terpaksalah bapaknya ini jadi supir antar jemput jajanan malam-malam."
Rangga mengangguk paham, bibirnya memaksakan sebuah senyum tipis melihat pemandangan keluarga kecil di depannya.
"Ya sudah, Dim. Duluan ya, kasihan si kecil kalau kelamaan di sini, makin malam makin dingin."
"Oke, Ngga. Hati-hati ya. Jangan dipikirin terus, bawa santai!" seru Dimas sambil melambaikan tangan, sementara istrinya tersenyum sopan sebagai tanda pamit.
Setelah membayar di kasir yang tampak mulai mengantuk, Rangga berjalan kembali ke mobilnya. Udara malam kota Bandung menyapa kulitnya, terasa lebih dingin dari biasanya. Ia meletakkan kantong belanjaannya di kursi samping, lalu menyalakan mesin mobil.
......................
Dimas mendorong trolinya menjauh dari Rangga, tangannya sesekali mengelus kepala Dafin, putra kecilnya yang kini mulai anteng.
Davina, sang istri, merangkul lengan Dimas sambil sesekali melirik ke arah Rangga yang masih berdiri mematung di lorong biskuit.
Setelah jarak mereka cukup jauh, Davina berbisik pelan, "By, itu teman kamu yang dulu pernah kamu ceritain itu ya? Rangga yang katanya belum bisa move on selama bertahun-tahun?"
Dimas mengangguk kecil sambil menghela napas. "Iya, siapa lagi kalau bukan dia. Kasihan sebenarnya. Tampangnya sukses, bengkelnya paling ramai se-Bandung, tapi kalau urusan hati, dia yang paling berantakan."
"Tadi itu wajahnya galau banget, By. Padahal dia berusaha tutup-tutupi," sahut Davina iba. "Emangnya belum ada kemajuan sama Mbak Ayu? Kan katanya kemarin dia yang nolongin waktu kecelakaan?"
Dimas menghentikan langkah trolinya sejenak di depan rak es krim. "Tadi dia bilang sudah ketemu, tapi ya gitu, belum ada kepastian. Kamu tahu sendiri kan ceritanya, mereka putusnya nggak baik-baik. Luka tujuh tahun itu nggak gampang keringnya, apalagi sekarang hidup Ayu berubah drastis."
Davina menghela napas, matanya menatap Dafin yang duduk tenang di dalam troli. "Kasihan ya. Padahal kalau mereka jadi nikah dulu, mungkin Dafin sudah punya kakak seumuran dia. Sayang banget, padahal Mas Rangga kelihatan tulus banget."