Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PERJAMUAN CAIRAN HITAM
BAB 16: PERJAMUAN CAIRAN HITAM
Arga berdiri mematung di tengah dapur yang hancur. Di tangan kirinya, toples berisi cahaya merah—nyawa ibunya sekaligus paket nomor 29—berdetak lemah. Di tangan kanannya, angka 8 berpendar merah, seolah haus akan pengabdian.
"Arga... jangan ke gudang..." rintih suara ibunya dari kegelapan ruang tengah yang kini terlihat seperti lubang hitam tak berujung.
Arga tidak menjawab. Ia berjalan perlahan keluar dari dapur. Namun, ia tidak menuju pintu keluar. Ia justru menuju meja makan. Di sana, ia duduk dan meletakkan toples itu di atas meja.
"Kalian ingin pilihan, bukan?" teriak Arga ke arah langit-langit yang masih meneteskan cairan hitam. "Aku tidak akan memilih keduanya!"
Arga mengambil koin emasnya dan meletakkannya di atas tutup toples. Melalui lubang koin, ia melihat bahwa toples itu tidak terkunci dari luar, melainkan terikat oleh rantai tak kasat mata yang terhubung langsung ke jantungnya sendiri.
Jika ia menyerahkan toples ini ke Gudang, jantungnya akan ditarik keluar. Jika ia membukanya paksa, ia akan hancur.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka perlahan. Bukan Pengawas yang masuk, melainkan sosok pria tua mirip Arga yang ia temui di gudang sebelumnya. Kali ini, pria itu membawa sebuah cangkir keramik tua.
"Pilihan ketiga selalu ada, Arga," ucap pria itu sambil duduk di depan Arga. "Tapi harganya adalah ingatan."
Pria itu menuangkan cairan hitam pekat dari cangkirnya ke atas meja. Cairan itu tidak tumpah ke lantai, melainkan membentuk sebuah peta jalan yang rumit.
"Ini adalah peta menuju Sektor 00, tempat di mana kontrak ayahmu disimpan. Jika kau bisa menaruh toples ini di sana sebelum jam 12 siang, kau bisa menukar angka 29 ini dengan kebebasan ibumu. Tapi, kau akan melompati angka 9 sampai 29 di tanganmu."
"Maksudnya?" tanya Arga curiga.
"Kau akan langsung menuju angka 30. Kau akan melewati semua proses 'pendewasaan' sebagai kurir. Kau akan memiliki kekuatan penuh, tapi kau tidak akan ingat siapa dirimu. Kau akan menjadi Pengawas baru di gudang ini."
Arga menatap toples itu. Detak merah di dalamnya semakin redup. Ibunya di dalam sana sedang sekarat.
"Lakukan, Arga... Ibu ingin kau... hidup bebas..." suara ibunya terdengar lagi, kali ini sangat dekat di telinganya.
Arga melihat ke arah jam dinding yang sudah pecah. Jarumnya menunjukkan pukul 11:15. Hanya tersisa 45 menit.
Ia menyambar toples itu dan berdiri. "Di mana Sektor 00?"
Pria tua itu menunjuk ke arah cermin besar di lemari ruang tamu. "Di balik pantulanmu. Masuklah ke sana, tapi ingat satu hal: Di dalam sana, jangan pernah menyebut namamu sendiri. Sekali kau menyebut 'Arga', kau akan terjebak dalam cermin selamanya sebagai bayangan."
Arga melangkah menuju cermin. Di dalam pantulan, ia melihat rumahnya yang utuh, bersih, dan hangat—seperti saat ia masih kecil. Ia melihat ibunya sedang tersenyum sambil membawa sepiring nasi goreng. Itu adalah godaan terbesar.
Arga memejamkan mata, menggenggam toples angka 29, dan menabrakkan dirinya ke permukaan kaca.
PRANG!
Bukan pecahan kaca yang ia rasakan, melainkan sensasi jatuh ke dalam air es yang sangat dalam. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di rumah. Ia berada di sebuah lorong putih yang tak berujung, di mana ribuan paket melayang-layang di udara.
Di ujung lorong, sebuah pintu baja raksasa dengan ukiran angka 30 berdiri kokoh.
Namun, di depan pintu itu, berdiri seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Arga saat berusia 5 tahun. Anak itu memegang sebuah buku absen dan sebuah pena yang terbuat dari tulang manusia.
"Sebutkan namamu untuk lewat," ucap anak kecil itu dengan wajah polos namun mata yang sepenuhnya hitam.
Arga terdiam. Ia ingat peringatan pria tua itu. Jika ia menyebut namanya, ia kalah. Tapi jika ia diam, ia tidak bisa lewat.
Arga melihat ke arah toples 29. Cahayanya kini tinggal redup sekali, seperti kunang-kunang yang mau mati.
Bagaimana cara Arga melewati anak kecil itu tanpa menyebutkan namanya? Dan apa yang sebenarnya menunggu di balik pintu angka 30?
Berdasarkan alur cerita yang sedang kita bangun, berikut adalah kelanjutan kisah