Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan pagi ini
Javier yang merasa tak perlu ada yang di urus dan bicarakan lagi keluar dari ruang baca meninggalkan nenek yang memperhatikannya. Melangkah ke kamarnya Javier samar mendengar ada seseorang bernyanyi didalam sana, Nella yang baru akan mengikat rambutnya dengan sisir tiba-tiba diambil dari tangannya sisir itu.
"Aku mau pergi sekarang kamu aman disini aku jamin." Javier mengecup pucuk kepalanya Nella tidak terbiasa dengan pemberian itu.
"Aku akan baik-baik saja jadi jangan sampai tidak makan dan tidak tidur dengan baik, bisa di pahami... Nella?"
"Hah?" Ini bukan jawabannya Nella salah.
"Iya, iyaa paham aku tau itu, kemana tapi?"
Javier membalik posisi berdirinya di samping Nella dan Nella berbalik ke samping menghadap Javier.
"Subuh aku sudah ada didekatmu." Mengecup lagi dahi Nella yang tiba-tiba dapat pemberian itu merasa tidak bisa bersikap normal.
"A-aku akan baik-baik saja, yaa.." Javier tersenyum kembali membatu Nella mengikat rambutnya.
"Nenek akan meminta pelayan mengantarkan makanan kemari dan aku tidak bisa menemanimu makan jadi makan yang banyak dan istirahat, ini sudah sangat gelap."
Suara detak jam dinding di kamar jelas terdengar Nella juga tidak bisa tidur dengan baik bagaimana jika ia ternyata akan di jual oleh orang rumah ini, terlihat mereka sangat kaku sekali untuk di sebut sebagai kakek nenek dan cucu, hah keluarga bahagia itu hanya bagian depan bukan dalamnya.
Nella sudah melakukan semuanya, makan istirahat bermain ponsel menatap keluar jendela dan kekamar mandi juga sudah lalu apa lagi yang belum ia lakukan, membalik badannya ke kiri dan tempat di sebelahnya kosong juga dingin. Hembusan nafasnya terdengar lelah sekali bahkan seperti bebannya berat. Dari kamera cctv yang Javier pasang tanpa Nella tahu itu membuatnya sedikit khawatir karena harus sendirian dimalam pengantin mereka.
"Kapan kamu pulang, jangan lama-lama ya." Javier tersenyum senang mendengar suara Nella yang tidak mau di tinggal sendirian.
****
Subuh yang masih gelap tapi Nella sudah membuka mata dan menatap ke tirai jendela yang terlihat tenang warna keabuan dan sedikit kekuningan merah karena lampu tidur itu.
"Ayo kita pulang, Nella?" Suara Javier yang sangat mirip dan ini nyata, ada didekatnya, suara nafasnya kan, takut rasanya menoleh tapi, cepat Nella bangun tanpa sadar wajah Javier yang merunduk memperhatikan wajah Nella dari dekat terbentur kepala Nella yang bangun tiba-tiba, sama-sama sakit keduanya.
"Aw."
"Maaf, sakit banget ya?" Javier mengusap kepalanya dan Nella memperhatikan baju Javier.
"Darah!"
Membekap mulut Nella sambil menempelkan dahinya, Nella menarik tangan bau amis darah milik Javier menjauh dari mulutnya.
"Jangan teriak keras kamar ini tidak kedap suaranya..." Nella turun tidak mendengar ucapan Javier tangan penuh darah yang Nella pegang tidak sadar menariknya ke kamar mandi.
"Disini, buka semuanya dan masuk bak mandi..." Nella terdiam, oh sial ia lupa bak mandinya belum ada airnya.
Javier menurut saja tapi, tangan Nella menahan gerakannya membuka kancing setelah melepas dasinya.
"Sebentar, akh sialan aku lupa." Javier menurut saja diam berhenti bergerak.
Setelah air bak mandi siap dan juga sabun di dalamnya sudah bercampur.
"Setelah di buka langsung masuk..." Javier melepas kemejanya dan Nella sudah keluar kamar mandi. Javier masuk kedalam bak mandi sama sekali tidak menutupi apapun. Nella siap menyiapkan semua baju Javier diatas kasur dan masuk kedalam kamar mandi dengan santai mengambil pakaian Javier tapi, tangan Javier meraihnya.
"Biarkan saja jangan di cuci..." Nella mengedip bingung.
"Lalu diapakan?" Javier membawanya mendekat Nella juga ikut tarikan tangan Javier yang masih di dalam bak mandi.
"Bantu aku mandi ya?" Nella tidak salah dengar ini nyata dan ini sungguhan. Ok ini hari pertama dan ia bisa. Semangat Nella.
"Kau kesepian semalam?"
"Tidak."
"Aku khawatir kalo kamu tidak bisa tidur sama sekali, kau begadang ?"
"Tidak lama tapi, aku tidur."
"Makan mu banyak semalam atau kau tidak makan?"
"Heh, makan aku banyak makanku!"
Javier tersenyum sendiri Nella sibuk memijat kepalanya dengan sampo.
"Aku datang orang rumah masih tidur jadi tidak ada yang tau aku datang seperti ini, Nella kamu tidak jiji?"
"Untuk apa jijik jika itu darahmu aku justru akan murka itu pasti darah orang lain, apa yang habis kau lakukan bahkan darah itu kena di kepalamu, ah lihat kulit kepalamu saja lecet berdarah."
Terkekeh geli seperti ini bukan adalah hanya lelucon biasa.
"Kau tertawa Javier, ini tidak lucu ya, perih tidak?"
"Tidak."
Nella mendumel sendiri dan segera mengambil air membilas kepala Javier perlahan sampai bebas busa lalu mengeringkannya dan mengambil handuk.
"Aku keringkan rambutmu lebih dulu dan aku tutup, nanti bilas ya aku tunggu. Gak lama!"
"Ok nyonya Javier." Wajah manis itu membuat Nella salah tingkah.
"Untuk semalam maaf yaa buat kamu sendirian, ini tiba-tiba aja..."
Nella berhenti tapi, melanjutkan gerakannya lagi menutup luka di kepala dan memakaikan pelindung kepala agar rambutnya tak basah dan lukanya basah.
"Aku biasa sendiri santai saja, lagian pula pernikahan kita tidak lama, ya kan... Sudah selesai aku keluar bilas sana."
Javier diam mengikuti Nella yang keluar dan melihatnya dari tempatnya Nella juga dengan tenang menutup pintunya.
Menghela nafasnya. Nella tidak biasa sendirian tapi, ia akan terpaksa biasa saja kalo itu yang di perlukan, ia mau ada yang temani tapi sepertinya sulit untuknya karena ia menikahi laki-laki sibuk.
Kekerasan pada anak buah sangat di halalkan oleh ayahnya, Javier sengaja menyusul kerumah ayahnya untuk mengambil Seam. Seam yang menelpon kalo ia akan menyusul kerumah nenek ternyata tidak datang dan malah pesan singkat ayahnya yang mengirimkan foto Seam di hajar habis-habisan.
Javier bangun dari bak mandi dan membilas dirinya. Nella sendiri duduk di samping pakaian Javier terkejut saat Javier Keluar kamar mandi.
Hanya dengan handuk di atas pusar sampai bawah lutut, cukup jelas seberapa bagus dan indah badan laki-lakinya.
Ludah yang jelas Javier lihat tertelan sedikit seret.
"Ah, a-aku harus keluar." Nella keluar dari kamar meninggalkan Javier yang geli dengan sikap malu-malu istrinya.
Memakai kaos putih polos dan memakai celana santai dan cepat sampai akan melihat dirinya di cermin dekat kursi santai ponselnya berdering.
Nama Raka disana.
"Halo?" Diangkatnya tombol hijau dan tanpa basa basi orang disebrang sana mengumpati kasar.
Terkekeh Javier, geli dengarnya.
"Siapa yang bajingan bodoh? Aku atau kau?"
"Jangan sampai aku menghajarmu didepan Nella!"
Tambah tertawa lagi Javier, mendudukan dirinya diatas kasur menatap keluar jendela.
"Oh yaa, lakukan jika kau bisa, akan lebih benci dirimu atau aku, aku tidak keberatan, Raka..."
"Sialan kau, Javier!"
"Eitss, kau yang sialan Raka, kau tidak ada pilihan selain memberikan bisa dari cantik penurut dan setia seperti dia pada pria bajingan ini, kau tau dia sangat cantik saat tidur sayang sekali aku belum memakan nya semalam."
Lebih marah dan lebih kasar ucapan Raka di telpon yang masih Javier dengan jelas suara marah itu.
"Lucunya, kau mengataiku, kau dan mereka sama, kalian tidak ada pilihan dan memberikan harta berharga kalian padaku."
"Lebih baik kau menjaganya sampai ajalnya tiba, Javier..."
Terdiam serius wajah Javier, ia belum mencari tahu detail tentang kesehatan Nella kapan ajalnya tiba dan apa yang di maksud Raka.
"Ia mungkin membawa penyakit dari ibunya..."
Telpon terputus.
"Sialan!" Melempar ponsel ke kaca sampai suara keras itu membuat pelayan yang lewat terkejut.