Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dan Sebuah Permintaan
"Hah?"
Casey langsung melongo. Apa dia tidak salah mendengar barusan? Jayden mengajaknya berhubungan badan?
"Kau bilang apa? Coba ulangi?" Casey hendak memastikan apa pendengarannya bermasalah atau tidak.
"Malam ini kita berhubungan badan selayaknya pasangan suami istri," kata Jayden, tanpa menunjukkan ekspresi sama sekali.
"Apa?" Netra Casey mengerjap, berulang dan cepat. Dia mulai mematung, kini memandang Jayden dengan seksama. Ternyata indera pendengarannya masih berfungsi.
"Ber–hubungan badan kata–mu?" tanyanya lagi, terbata-bata.
Casey jadi berharap, dia salah mendengar. Mungkin saja otak Jayden sedang error atau restart saat ini, atau mungkin pria itu tengah mabuk berat, siapa tahu saja neneknya memberi Jayden minuman keras tadi, hingga menyebabkan lelaki itu berbicara melantur, begitulah isi pikiran Casey sekarang.
Namun, tak ada aroma alkohol tercium dari tubuh Jayden, yang ada bau antiseptik khas seorang dokter spesialis bedah.
"Iya," Jayden membalas singkat sambil menatap wajah Casey dengan raut wajah datar.
Nyatanya Jayden tidak mabuk. Dia mengatakan semua itu dalam keadaan sadar, otaknya pun masih terkoneksi dengan baik.
Ruangan mendadak hening. Pandangan Jayden masih terarah pada wanita yang baru saja dia nikahi beberapa hari yang lalu.
Masih teringat dengan jelas pembicaraan Jayden dan Marisa di ruangan tadi.
"Jayden, kau nggak perlu menjawab atau pun menanggapi apa yang akan aku katakan sekarang karena pendengaranku bermasalah di umurku yang nggak muda lagi."
Selepas pintu ganda tertutup rapat di ruang baca tadi. Sikap Marisa berubah drastis 360 derajat. Wanita itu tidak tantrum, wajahnya pun berubah nampak teduh, dan sorot matanya memancarkan kesedihan.
"Kau tahu Casey adalah cucu kesayanganku juga, dulu waktu aku dan nenekmu masih muda, kami bersumpah untuk menjodohkan salah satu cucu kami nanti, dan saat mendengar dari Mayang kalau kau membuat kamar terhubung di rumahmu kemarin, aku sangat sedih."
"Tapi setelah aku pikir lagi, perjodohan ini memang sejak awal sudah salah, akulah yang salah telah menikahkan Casey dengan pria yang sama sekali nggak mencintainya."
"Tuhan membenci yang namanya perpisahan, tapi aku nggak mau melihat cucuku menderita, maka dari itu jika kau nggak mau melanjutkan pernikahan ini, ceraikan saja Casey dan kembalikan pada kami, Casey sangat berharga di dalam hidup kami."
Ucapan itu terdengar lirih dan pelan, tak ada penghakiman di antara ucapan yang dilontarkan, menandakan Marisa benar-benar kecewa, dengan perbuatan yang dia lakukan terhadap Casey.
Dan kalimat itu pula menghujam dada Jayden seketika. Kini keningnya berkerut amat kuat, dia tengah bergelut dengan batinnya sendiri, mencoba memahami sudut pandang Marisa sebagai seorang nenek dan sebagai orang yang berperan penting dalam pernikahannya.
Kemarin sebelum pernikahan digelar, Jayden sudah diperingati Mayang untuk jangan menceraikan Casey apa pun yang terjadi. Sebab belum ada sejarahnya keluarga Spencer berpisah.
"Nenek tenang saja aku nggak akan menceraikan Casey!" teriak Jayden. Padahal sudah diberi peringatan oleh Marisa agar tak menanggapi, tapi sebagai seorang lelaki, dia tak mau mempermalukan nama keluarga besarnya.
Marisa tak segera membalas, wanita itu memandang Jayden dengan ekspresi wajah tampak terkejut. Bila Casey yang selalu lupa neneknya budek tapi tidak dengan Jayden, lelaki itu justru mengingatnya.
"Berarti kau mau belajar mencintai cucuku?"
Jayden mengangguk samar.
Senyum Marisa langsung mengembang. "Baguslah, jika kau nggak bisa mencintainya, kembalikan saja Casey pada kami."
"Akan aku usahakan!" Jayden akan berusaha mencintai Casey, meskipun tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti.
"Oh ya, tapi aku nggak bercanda ya soal cucu tadi! Kehadiran anak kadang kala bisa mempererat hubungan di dalam rumah tangga, lakukanlah tugasmu sebagai seorang pria sekaligus kepala keluarga." Suasana yang tadinya serius, kini berubah dalam sekejap. Marisa kembali ke setelan awal dan sekarang melempar senyum penuh arti ke arah Jayden.
"Iya Nek!" Jayden tersenyum kaku.
"Kalau kau nggak kasi aku cucu dalam waktu dekat ini, burungmu akan aku sembelih!"
Sebelum keluar dari ruangan, Marisa sempat mengancamnya lagi, dan membuat Jayden kembali merinding sekarang.
"Jayden, apa kau mabuk?" Suara Casey tiba-tiba menggema, memecah kesunyian di dalam ruangan.
Jayden menggeleng pelan. "Aku sama sekali nggak mabuk, Nenek kita mau cucu dan aku juga mau punya anak, aku mandi dulu, setelah itu kau yang mandi, selesai mandi kita berhubungan badan, bersiaplah."
Jayden menolehkan muka ke samping lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Mulut Casey langsung mengangga lebar.
"Jayden, kau bilang apa tadi?! Aku belum selesai ...."
Perkataan Casey terjeda kala Jayden sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Haaaaa!!!" Casey seketika berteriak lantang sambil menjambak rambutnya frustrasi, hingga para asisten rumah di lantai dua yang sedang lalu lalang terkejut dan mengira pasangan itu sedang berhubungan badan.
"Nggak, nggak, nggak, pasti aku salah dengar barusan." Casey tersenyum kaku, sangat kaku dengan rambutnya yang diikat kini terlihat berantakan.
"Iya benar, tarik napas dalam-dalam Casey, mungkin kau sedang bermimpi sekarang."
Casey menganggap apa yang terjadi barusan hanyalah imajinasinya akibat kelelahan berkerja.
Namun, beberapa menit kemudian, ketika baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengelap rambut panjangnya yang masih basah dengan handuk.
Jayden tiba-tiba berkata,"Buka bajumu ...."