Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga Berujung Kecewa
#12
Tersiar kabar simpang siur, bahwa panitia kompetisi mengundang para pemenang, untuk unjuk kebolehan dalam ajang fashion show yang akan diselenggarakan satu bulan sejak satu minggu setelah pengumuman lomba.
Hal itu disambut baik oleh Ayu, apalagi wajahnya yang masih misterius tentu mengundang rasa penasaran para penggemar pakaian hasil rancangannya.
“Menurut Kakak, ini bagaimana?”
Ayu menunjukkan sketsa gambar yang telah ia persiapkan selama beberapa hari ini di sela waktu sibuknya melayani pesanan para pembeli.
“Kau, juga membuat dua desain pakaian pria?” Gambar pakaian pria, tampaknya sangat menarik perhatian Giana, karena jarang sekali fashion show yang menampilkan pakaian pria.
“Tiba-tiba aku ingat, aku tak pernah membuat pakaian untuk anakku,” jawab Ayu sendu.
Melihat Ayu yang tiba-tiba murung, Giana pun segera mengalihkan topik pembicaraan. “Tapi ada bagusnya, kita bisa meminta Biru untuk jadi modelnya, gimana?”
Wajah Ayu berbinar senang, “Memang itu yang ku inginkan, Kak. Sebaiknya aku telepon Biru sekarang, supaya dia bisa meluangkan waktu jauh-jauh hari.”
Ayu mengeluarkan ponselnya, kemudian mulai menghubungi Biru.
“Halo, Ma.”
“Assalamualaikum, Nak,” sapa Ayu, senang sekali karena Biru langsung merespon panggilannya.
“Waalaikumsalam,” sahut Biru. “Ada apa, Ma?”
“Mama cuma ingin dengar suara Biru,” jawab Ayu berbasa-basi, semoga bisa mencairkan suasana.
Setelah mendengar jawaban Ayu, Biru malah terdiam. “Biru?”
“Eh, i-iya, Ma?”
“Kok, malah diam?”
“Ya, tak tahu harus bicara apa,” katanya apa adanya, memang masih secanggung itulah hubungan mereka.
Akhirnya Ayu pun inisiatif bertanya, “Biru kenapa tak pernah datang ke rumah lagi?”
“Oh, itu, aku— sedang sangat sibuk, Ma. Minggu lalu ada pertandingan, sebelum-sebelumnya ada pengambilan gambar untuk iklan dan endorse.”
“Kenapa kamu kerja begitu keras, Nak? Harusnya kamu cukup belajar saja.”
Biru kembali diam penuh misteri, “Sebelumnya Ayah, juga bilang begitu. Tapi, apapun alasan serta keinginan kalian, aku tetap ingin mandiri, Ma. Tak ingin merepotkan Mamah, Ayah, dan juga Mamak.”
Biru memang anak lelaki Restu Singgih, tapi benar-benar mewarisi sifat Ismail. Mau bagaimana lagi, Ayu pun tak ingin memaksa.
“Baiklah, terserah Biru saja. Tapi bila butuh bantuan, jangan sungkan hubungi Mamah, ya?”
“Iya, Mah.”
Perlu jeda sedikit lama, namun, akhirnya Biru pun menjawab iya. Hanya itu saja, Ayu sudah bahagia.
“Oh, Iya, sebenarnya, Mama mau minta tolong—”
“Apa, Mah?”
“Sekitar satu bulan lagi, ada fashion show untuk para pemenang kompetisi. Kami diberi kesempatan untuk membuat pakaian yang akan langsung dipamerkan di ajang fashion show. Kira-kira apa Biru punya waktu? Karena Mamah ingin kamu yang jadi model pakaian prianya.”
Sama seperti sebelumnya, kali ini pun Biru terdiam sejenak, tapi Ayu tak tahu bahwa Biru sedang menyesuaikan schedule pekerjaan juga jadwal kuliahnya. “Acaranya jam berapa, Ma?”
“Sebentar, Mama lihat lagi.” Ayu juga kembali membuka laman web melalui laptopnya. “Acaranya dimulai pukul 7 malam, tanggal 19 bulan depan.”
“Baiklah,” jawab Biru singkat.
“Bisa?”
“Kebetulan belum ada jadwal hari itu, Mah.”
Ayu berjingkrak senang, Giana hanya tersenyum saja melihat tingkah Ayu. “Syukurlah, Mamah senang sekali.”
“Tapi, aku punya syarat, Mah.”
“Heh—”
•••
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.00 tengah malam, dan Anjani belum bisa memejamkan mata, karena sang suami belum juga pulang.
Sejak mengurus firma hukumnya sendiri, Gunawan memang semakin sibuk, dan terus sibuk dari hari ke hari. Hingga pulang larut malam pun sudah jadi hal biasa.
Anjani bangun dari pembaringan, melangkah ke jendela kamar yang langsung menghadap ke arah jalan di samping rumah. Pikirannya masih saja gelisah akibat tercemar ucapan Giana, sesuatu yang dulu ia dapatkan dengan cara yang salah, kini mati-matian ingin ia pertahankan. Tentu saja karena Anjani masih membutuhkan uang Gunawan, demi menyokong kehidupannya.
Satu jam kemudian, barulah mobil Gunawan tiba, Anjani segera keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah menyambut suaminya. Wajah Gunawan terlihat lelah, namun tak uring-uringan seperti biasa.
“Mas, sudah pulang?” sambut Anjani dengan panggilan mesra mereka dulu sebelum Miranda lahir.
“Hmm,” sahut Gunawan singkat, ia berjalan melewati Anjani yang bermaksud membawakan tas kerjanya. “Tidurlah, masih ada hal yang harus ku kerjakan.”
Anjani tetap mengikuti suaminya ke ruang kerja, kendati Gunawan sudah melarangnya. “Tapi, ini sudah hampir dini hari, Mas.”
Tiba-tiba langkah Gunawan terhenti, “Sejak kapan kamu peduli pada jam kerjaku?” selidik Gunawan curiga.
Tak siap dengan pertanyaan Gunawan, Anjani pun tergagap. “A-Apa salahnya?” tanyanya.
“Karena sikapmu membuatku curiga, Jangan-jangan kamu membuat masalah lagi,” sindir Gunawan. Pria itu menyipitkan sebelah matanya sambil melepas dari yang memang sudah acak-acakan.
“Ah, aku ingat, plagiarisme. Aku sudah bilang, kalau memang tak berbakat lebih baik kamu berhenti. Membuatku malu saja!” ejek Gunawan.
Resiko memiliki istri yang tidak pintar, alih-alih belajar diam dan menjaga sikap, Anjani justru bertingkah ajaib. Hingga semakin lama, semakin terlihat jelas perbedaan Anjani dengan istri pertama Gunawan, yang dulu selalu membuat namanya harum di mata para rekan kerjanya.
Istilah kasarnya, tak malu-maluin kalau diajak jalan, atau pergi kondangan.
Sungguh menyakitkan rasanya ketika mendengar sindiran dan ejekan dari pasangan sendiri. Agaknya itulah yang kini dirasakan Anjani, hingga wanita itu pun kembali menelan kecewa karena hasratnya lagi-lagi terabaikan.
•••
Masih di waktu yang sama dan tempat yang berbeda.
Rasti terbangun karena ingin ke toilet, wanita itu bangkit, namun heran karena tempat Aslan suaminya masih kosong. “Bang Aslan masih belum pulang?” gumam Rasti. Tapi ia mengabaikan rasa penasarannya, dan buru-buru ke toilet yang ada di luar kamar.
Setelah selesai membuang hajatnya, Rasti pun keluar dari toilet.
Gludak!
Terdengar suara benda jatuh dari arah ruang makan dekat dapur, Rasti semakin curiga karena selain suara benda jatuh, seperti ada suara gemerisik.
Tiba-tiba ia melihat Aslan keluar dari arah ruang makan dengan pakaian acak-acakan. “Bang—”
“Eh, Ras, belum tidur?” sahutnya.
“Aku terbangun, karena ingin ke kamar mandi. Abang sedang apa di dapur, kenapa tak menyalakan lampu?” Rasti melongok ke belakang tubuh suaminya. Tapi Aslan menghalanginya.
Aslan menghalau Rasti yang tengah kepo, lalu merangkul pundak wanita itu. “Abang haus, tapi malas menyalakan lampu, jadi akhirnya menabrak kursi.”
“Oh, kirain ada apa.”
“Ayo, Abang mengantuk, mau di belai dan mau yang lainnya,” rayunya manja, hingga membuat Rasti tersipu, lupa dengan kecurigaannya.
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan