NovelToon NovelToon
Jodoh Ku Sepupuku

Jodoh Ku Sepupuku

Status: tamat
Genre:Cerai / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ann,,,,,,

Menikah dengan seseorang yang tumbuh bersama kita sejak kecil—yang rasanya sudah seperti saudara kandung sendiri—namun harus terpaksa menikah dengannya. Itulah yang kualami.

Namaku Alif Afnan Alfaris, seorang arsitek.
Sedangkan dia, Anna Maida, adalah adik sepupuku sendiri. Sepupu, kata ayahku, sudah sah untuk dinikahi—alasannya demi mendekatkan kembali hubungan darah keluarga. Namun sungguh, tak pernah sedikit pun terlintas di benakku untuk menikah dengannya.

Hubungan kami lebih mirip Tom and Jerry versi nyata. Setiap bertemu, pasti ribut—hal-hal kecil saja sebenarnya. Dia selalu menolak memanggilku Abang, tidak seperti sepupu-sepupu yang lain. Alasannya sederhana: usia kami hanya terpaut satu hari.

Anna adalah gadis cerdas yang menyukai hidup sederhana, meski ayahnya meninggalkan warisan yang cukup banyak untuknya. Ia keras kepala, setia, penyayang… dan menurutku, terlalu bodoh. Bayangkan saja, ia mau dijodohkan dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal, di usia yang masih sanga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann,,,,,,, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lif aku egois gak kalau milih pisah dengan mas Rian

MUngkin aku bukan laki-laki sempurna. Bahkan soal rumah tangga, aku jelas belum ahli—secara teknis aku masih jomblo akut. Tapi satu hal yang kupahami betul: perempuan yang terluka bisa menjadi sesuatu yang tak terduga. Bukan karena mereka lemah, justru karena terlalu lama kuat.

Aku tidak belajar ini dari pengalaman menikah. Aku belajar dari rumah.

Aku dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan oleh perempuan, dan melihat sendiri bagaimana ayahku memperlakukan ibuku. Ayahku sosok yang tegas—bahkan dari luar terlihat keras. Tapi setiap kali itu tentang ibuku, egonya runtuh tanpa sisa. Ia tak pernah gengsi membantu pekerjaan rumah, tak pernah merasa “jatuh martabat” hanya karena memegang sapu atau mencuci piring.

Hebat, bukan?

Dari situlah aku bertekad—jika suatu hari aku menjadi suami, aku ingin menjadi laki-laki seperti itu.

Yang hadir.

Yang tahu caranya menunduk demi perempuan yang ia pilih.

Tapi tunggu dulu.

Kok malah bahas aku, sih? Seolah-olah mau nikah besok saja.

Sore itu, aku menemani anak-anak bermain bola di halaman depan. Tawa mereka ringan, polos—kontras dengan suasana rumah yang terasa lebih berat dari biasanya. Dari sudut mataku, kulihat Anna sedang duduk berhadapan dengan Mas Rian di ruang tengah.

Serius.

Bang Rian tampak tegang. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang—gestur klasik orang yang kehabisan kata. Sementara Anna… tetap tenang. Terlalu tenang. Gesturnya biasa saja, nyaris datar.

Dan justru itu yang membuatku tidak nyaman.

Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tak lama kemudian, Bang Rian berdiri. Langkahnya cepat, seolah ingin segera menjauh dari percakapan itu. Anna tetap duduk, menunduk sedikit—bukan lemah, lebih seperti sedang merapikan pikirannya sendiri.

Beberapa menit kemudian, Bang Rian turun kembali. Kali ini dengan pakaian rapi. Terlalu rapi untuk ukuran sore biasa.

Ia melangkah tergesa.

“Ayah, main yuk!” Ayyan memanggil ceria, bola masih di tangannya.

Rian berhenti sejenak. Menoleh.

“Papa buru-buru,” katanya singkat.

Lalu pergi.

Begitu saja.

Mobilnya menghilang di ujung jalan, meninggalkan debu dan satu anak kecil yang berdiri mematung.

Aku menelan napas. Ada sesuatu yang salah. Bukan firasat kosong—ini peringatan.

Aku menghampiri Anna. Berdiri di depannya tanpa basa-basi.

“Ann,” suaraku lebih rendah dari biasanya, “ada apa?”

Ia mengangkat wajahnya. Matanya tidak berkaca-kaca. Tapi justru itu yang membuat dadaku mengeras.

“Lif,” katanya pelan.”

Aku mengangguk, rahang ku mengeras.

“Iya,” jawabku mantap. “Dan kali ini, lo nggak sendirian.”

“Anak-anak mana?” tanya Anna pelan, matanya menyapu sekeliling seolah takut ada telinga kecil yang mencuri dengar.

“Masih di luar, Ann.”

Aku menatap sepupuku itu—bukan dengan tatapan iba. Aku tahu, Anna tidak butuh dikasihani. Ia hanya butuh seseorang yang mau mendengar tanpa menghakimi. Dan kalau itu tugasku hari ini, aku siap.

Anna menarik napas panjang. Berat. Seolah udara di dadanya tak pernah benar-benar cukup sejak lama.

“Lif…” suaranya sedikit bergetar, tapi tetap terjaga, “menurut lo… gue egois nggak kalau milih cerai dari Mas Rian?”

Jantungku berdetak lebih kencang. Bukan karena kaget—lebih karena akhirnya kalimat itu keluar juga. Kalimat yang dari tadi menggantung di udara, menunggu diakui.

Aku pura-pura terdiam sesaat, memainkan peran seolah baru mendengarnya sekarang.

Anna tersenyum kecut.

“Kenapa kamu, Lif?” katanya pelan, tapi menusuk. “Nggak usah pura-pura nggak tahu. Aku tahu kamu ngikutin tadi, kan?”

Aku menghela napas, lalu mengangguk kecil.

“Iya,” jawabku jujur. “Gue ngikutin. Bukan karena nggak percaya sama lo… tapi karena gue khawatir.”

Anna menunduk. Tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin.

“Gue udah capek,” katanya lirih. “Capek jadi kuat sendirian. Capek jelasin hal yang harusnya dia ngerti tanpa gue minta.”

Aku mendekat setengah langkah. Suaraku tetap tenang.

“Ann,” kataku pelan, “egois itu kalau lo ninggalin tanpa mikirin siapa pun. Tapi lo ini… lo mikirin semua orang, sampai lupa mikirin diri lo sendiri.”

Ia mendongak. Matanya berkabut, tapi belum menangis.

“Gue takut, Lif,” katanya jujur. “Takut anak-anak kenapa-kenapa. Takut dibilang gagal. Takut keluarga kecewa.”

Aku menggeleng pelan.

“Gagal itu bukan saat lo pergi dari pernikahan yang nyakitin,” ucapku tegas tapi lembut. “Gagal itu kalau lo bertahan tapi kehilangan diri lo sendiri.”

Anna terdiam lama.

Dan saat itu aku tahu—

keputusan di hatinya sebenarnya sudah bulat.

Ia hanya butuh keberanian… dan seseorang yang tidak memaksanya berubah pikiran.

1
WDY
Aku dah feeling emang mereka jodoh nih. soalnya berantam mulu kaya kucing sama anjing🤭🤭🤭
WDY
Thor aku orang nya suka melamun juga lho Thor 🤭🤭😭😭😭
Meee
Kayaknya Alif menunggu seseorang jadi janda, nih 🤭
Meee
Ada aja bahan lawakan mereka ini. Pocong jomblo katanya 😭
GreenForest
Rian percuma deh kamu singgung gitu
GreenForest
Rian nggak tahu aja kalau si Alif nih siap gantiin posisinya sebagai suami 🤣
Aruna02
nah kalo cerai itu paling ribet hak asuh anak mumet kalo keduanya rebutan
Aruna02
wih keren alif belain anak mati matian
Addb_Rh
biasanya kalo suka berantem kek tom and Jerry gini. nantinya bakalan mesra tu endingnya😅
Addb_Rh
jangan gitu dong, aku senang ngelamun orangnya😭😭
Ann: jangan dong kita sama kok aku juga susah. cari teman sprekuensi
total 1 replies
D'Mas0712
rian tergoda wanita diluaran sana. padahal dirumah punya istri spek bidadari
D'Mas0712
alif menjadi garda terdepan buat ana 😍😍
WDY
Wah... lif kamu mmg sepupu yang baik dan peduli
WDY
Lah dah nikah siri toh. 🤔
Meee
Harusnya laporin aja mereka ke polisi, An. Biar kapok. Biar dapat balasan. Hahaha 👹
Meee
Oh, nikah siri. Pantes suaminya gak merasa bersalah. Mungkin baginya, "Kan yang penting aku gak zina,"

Ih, keselll 😭 sakit hati aku kakkk
Ayank~Oma
itu karena dia udah kenyang nangis loh lif 🤭
Ayank~Oma
sedekat apapun saudara sepupu, tetap saja ada batasan yg harus di jaga
Aruna02
kalo sudah keputusan akhir aku dukung ana🤭🤭 semoga kamu dapat yang lebih baik
Aruna02
🤣🤣suka nya nyindir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!