Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Pintu ruang rapat di lantai sepuluh terbuka dengan dentuman keras, memecah keheningan diskusi serius yang sedang berlangsung.
Joko, sang Manajer Keuangan senior, tersentak dari kursinya. Ia menatap putrinya, Rima, yang melangkah masuk dengan wajah cemberut dan napas memburu, mengabaikan tatapan heran dari para staf dan klien yang hadir.
"Ayah! Pokoknya Ayah harus dengar! Keamanan di kantor ini benar-benar payah!" seru Rima tanpa mempedulikan situasi. Ia menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
Joko memijat pelipisnya, merasa sangat malu di depan para mitra bisnis sekaligus karyawan lain. "Rima, Ayah sedang rapat. Kamu tidak lihat ada tamu?"
"Aku tidak peduli! Tadi ada gelandangan masuk ke lantai eksekutif! Ini penghinaan buat aku!" Rima terus meracau dengan suara melengking manja.
Hendra, yang duduk di sudut meja rapat sebagai notulen, hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ia menatap pemandangan itu dengan rasa jengah yang mendalam.
Dalam benaknya, ia membandingkan sikap Rima dengan istrinya. Aisya adalah wanita yang sangat mandiri, jangankan mengamuk di tempat kerja suami, meminta uang tambahan untuk makan saja Aisya sering merasa sungkan.
Kedewasaan Aisya terasa seperti oase jika dibandingkan dengan sikap kekanak-kanakan Rima yang sangat haus perhatian.
"Duduk di sana, Rima! Jangan bicara sepatah kata pun sampai rapat ini selesai!" perintah Joko dengan nada tegas yang jarang ia gunakan pada putrinya itu.
Rima menghentakkan kaki sekali lagi sebelum akhirnya duduk di pojok ruangan dengan bibir mengerucut. Ia terus memainkan ponselnya, sesekali melirik Hendra dengan tatapan posesif yang membuat Hendra merasa sangat tidak nyaman.
Dua jam berlalu. Setelah para klien berpamitan dan meninggalkan ruangan, barulah Joko menghampiri putrinya.
"Sekarang katakan, ada apa sebenarnya? Sampai kamu berani mengganggu rapat penting ini? Bagaimana kalau pak CEO tahu? Ayah yang kena omel!" ucap Joko lelah.
"Ayah, tadi ada preman! Dia keluar dari lift eksekutif dengan baju gembel dan wajah menyeramkan. Dia menabrak ku dan bahkan tidak mau minta maaf dengan benar! Bagaimana bisa orang kotor seperti itu masuk ke gedung ini?" Rima mengadu dengan nada bicara yang dibuat-buat.
Joko mengerutkan dahi, merasa ada sesuatu yang janggal dari ucapan putrinya itu.
"Preman? Tidak mungkin, Rima. Sistem keamanan di Adhitama Corp ini sangat ketat. Lagipula, Pak Kaisar sedang tidak bisa memimpin rapat karena katanya ada urusan mendesak. Mungkin yang kamu lihat itu staf lapangan atau kurir."
"Kurir tidak akan seberani itu menatapku dengan tajam, Ayah! Pokoknya dia itu preman!" Rima makin kesal karena merasa tidak dibela. Ia kemudian mendekati ayahnya, memegang lengan Joko. "Ayah... Ayah sayang tidak dengan Rima?"
Joko menghela napas, ia luluh seketika. Sejak istrinya meninggal dunia, ia memang sangat memanjakan Rima hingga gadis itu tumbuh menjadi sosok yang egois.
"Tentu saja Ayah sayang. Kamu adalah segalanya bagi Ayah."
"Kalau begitu, Ayah harus bantu Rima mendapatkan Mas Hendra," ucap Rima tanpa rasa bersalah, apalagi saat melihat Hendra keluar ruangan tanpa mempedulikannya.
Mata Joko membulat sempurna. Ia melirik ke arah pintu, memastikan Hendra sudah keluar dari ruangan.
"Rima! Apa yang kamu bicarakan? Hendra itu sudah punya istri! Kamu tahu itu, kan?"
"Ya tinggal buat dia menceraikan istrinya! Apa susahnya?" Rima membalas dengan santai, seolah-olah menghancurkan rumah tangga orang adalah perkara sepele. "Istrinya itu tidak berguna, Yah. Hanya beban bagi Mas Hendra. Ayah harus bantu Rima. Apapun akan Rima lakukan untuk mendapatkan Mas Hendra. Rima tidak mau tahu, pokoknya Mas Hendra harus jadi milik Rima!" ucap Rima lagi.
Joko terdiam. Sebagai orang tua, ia tahu ini salah. Namun, melihat air mata mulai menggenang di mata putri kesayangannya, egonya kalah. Ia tidak sanggup melihat Rima sedih atau kecewa.
"Baiklah, baiklah... Ayah akan bantu carikan jalan," bisik Joko akhirnya.
"Nanti malam ada pesta pertemuan antara klien perusahaan di hotel mewah. Ayah akan meminta Hendra untuk mendampingi kamu sebagai asisten pribadimu malam ini. Itu kesempatanmu untuk mendekatinya."
Rima langsung bersorak kegirangan dan memeluk ayahnya. "Terima kasih, Ayah! Rima sayang Ayah!"
*
*
Sementara itu, di sebuah gang dekat rumah Hendra, suasana tidak kalah panas.
Ibu Marni sedang duduk di teras depan bersama dua orang tetangganya yang dikenal sebagai ratu gosip di lingkungan tersebut.
"Ngomong-ngomong, Bu Marni, si Aisya mana? Kok tidak kelihatan dari tadi?" tanya Bu Ati sambil mengunyah kerupuk.
"Ke pasar. Beli kebutuhan dapur yang tidak seberapa itu," jawab Marni dengan nada ketus yang biasa ia gunakan jika membahas menantunya.
Bu Ratna, tetangga satunya, langsung condong ke depan dengan wajah penuh misteri. "Waduh, Bu Marni... hati-hati lho. Kemarin saya dengar ada kabar burung, katanya Aisya itu terlihat berduaan dengan preman di musala pasar. Jangan-jangan nanti malah kecantol beneran. Zaman sekarang kan banyak godaan, apalagi kalau suami sibuk kerja."
Wajah Marni seketika memerah karena malu sekaligus emosi. Telinganya terasa panas mendengar sindiran itu di depan umum.
"Apa?! Berduaan dengan preman lagi?!" Marni berdiri dari kursinya. "Dasar perempuan tidak tahu malu! Sudah numpang hidup, sekarang malah bikin malu keluarga di depan tetangga!"
"Eh, saya cuma dengar-dengar lho, Bu Marni. Tapi ya memang penampilannya Aisya itu kan kalem, siapa tahu di belakang..." Bu Ati sengaja memanas-manasi.
"Menantu kurang ajar! Awas kamu!" batin Marni.
Bu Ati dan Ratna saling pandang lalu tersenyum, seolah baru saja berhasil memprovokasi Marni.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat