Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15. Respect
Melihat ekspresi yang datang membawa teh manis hangat, Acha mendadak teringat kembali kepada momen-momen kebersamaan mereka berempat.
Sifat Tasya yang selalu terlalu protektif dan terkadang gampang curiga ini sebenarnya bukan hal baru bagi Acha, Vika, maupun Amina.
Persahabatan mereka sudah terjalin sejak merek kerja bareng di minimarket. Jauh sebelum drama-drama kecil seperti urusan kerjaan minimarket atau kecurigaan kepada kakak iparnya melanda hari-harinya Acha.
Kenangan paling manis tersimpan rapi di ingatan Acha. Tepatnya beberapa waktu lalu, saat mereka berempat—Acha, Vika, Amina, dan Tasya sendiri—merayakan hari ulang tahun Tasya yang ke-15.
Suasana hangat dan penuh tawa waktu itu masih sangat lekat di kepalanya. Di sebuah kafe kecil langganan mereka, sebuah kue ulang tahun sederhana dengan lilin angka 15 berdiri manis di tengah meja.
Di kelilingi gelak tawa, Tasya meniup lilin dengan penuh suka cita, merayakan bertambahnya usia sekaligus babak baru dalam hidup mereka yang sebentar lagi akan menginjakkan kaki di bangku sekolah SMA.
Di masa-masa itu, mereka selalu berjanji untuk saling menjaga dan tidak akan pernah terpisahkan oleh apa pun.
"Mungkin itu juga alasannya kenapa Tasya sebegitu khawatirnya sama aku sekarang", batin Acha melunak, menatap sahabatnya yang masih tampak cemberut karena kesal.
"Udah, Sya, nggak usah ditekuk gitu mukanya," bujuk Acha akhirnya dengan nada lembut sambil menerima secangkir teh manis dari Vika.
"Kan aku udah nolak tawarannya teh Suci. Jadi, kamu nggak usah khawatir berlebihan lagi, ya."
Tasya menerima uluran gelas teh manis dari Vika dengan helaan napas berat. Meskipun raut wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa kekesalan dan rasa curiga terhadap Suci, ketegasan di matanya perlahan melunak melihat kebaikan Acha.
Vika yang duduk di tepi kasur ikut tersenyum tipis, mencoba menengahi suasana kamar yang sempat tegang karena prasangka Tasya.
"Bener kata Acha, Sya. Yang penting kan Acha udah nolak ajakannya secara baik-baik. Kalaupun kakak iparnya itu punya niat aneh-aneh, dia nggak bakal bisa apa-apa karena Acha tetap di kosan bareng kita," ucap Vika menenangkan.
Acha mengangguk menyetujui perkataan Vika. Dia menyesap teh hangat buatan sahabatnya itu, merasakan kehangatan yang menjalar di tenggorokan sekaligus meredakan penat setelah seharian bekerja di minimarket.
"Iya, makasih ya kalian berdua udah peduli banget sama aku," ucap Acha tulus sambil menatap Tasya dan Vika bergantian.
"Untung ada kalian yang selalu siaga. Kalau nggak, mungkin aku udah gampang kena tipu omongan manis orang."
Mendengar pengakuan itu, Tasya akhirnya tersenyum tipis, meski dia masih menambahkan satu kalimat peringatan terakhirnya.
"Makanya, jadi orang jangan terlalu polos, Teh. Ingat, kita ini udah temenan cukup lama tahu, apalagi kita kan sudah seperti keluarga, susah senang bareng-bareng. Jadi aku cuma nggak mau ada apa-apa sama Teteh."
Suasana kosan Acha dan Vika kembali hangat, dipenuhi obrolan ringan dan candaan khas persahabatan mereka yang sudah terjalin begitu lama, mengikis sejenak bayang-bayang percakapan mencurigakan dari sang kakak ipar tadi.
Di tengah kehangatan obrolan bersama Tasya dan Vika, pikiran Acha mendadak melayang kembali kepada momen saat dia berpapasan dengan Sonia—adik kandung Fitri—beberapa waktu lalu.
Kala itu, Sonia sempat memberinya kabar penting bahwa abangnya, Alfian, pulang dari perantauannya di Jakarta. Acha ingat betul bagaimana dia awalnya merasa antusias menyambut kepulangan sang abang.
Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah Alfian benar-benar tiba di Garut, ada satu hal yang membuat Acha merasa janggal yang sangat mengusik benak Acha.
Alfian yang dulu dikenal hangat, periang, dan selalu perhatian kepada adik-adiknya, kini terasa begitu asing. Sikap abangnya itu berubah drastis menjadi jauh lebih pendiam, tertutup, dan terkesan dingin dan acuh.
Tidak ada lagi sapaan hangat atau candaan akrab seperti dulu di pesan whatsapp nya yang ada hanyalah balasan singkat dan respons seadanya yang membuat Acha merasa seolah ada tembok tebal tak kasat mata di antara mereka berdua.
"Kenapa Aa jadi beda banget sekarang, ya? Dingin banget, kayak lagi menyembunyikan sesuatu," batin Acha dalam hati, meresapi kembali rasa ganjil yang dia rasakan sejak kepulangan Alfian dari Jakarta.
Melihat Acha yang mendadak melamun dengan tatapan kosong menerawang ke arah jendela kamar, Tasya dan Vika langsung menghentikan obrolan mereka. Tasya melambaikan tangan di depan wajah Acha sambil mengerutkan kening.
"Heh, Acha! Malah melamun. Mikirin apa sih sampai serius banget mukanya?" tegur Vika penasaran.
Acha mengerjapkan pelan, lalu menghela napas pendek untuk mengusir rasa penat di kepalanya.
Dia menatap kedua sahabatnya bergantian sebelum akhirnya bersuara pelan. "Aku cuma lagi mikirin Aa aku..."
Vika ikut mendekat, merapikan duduknya. "Emangnya kenapa lagi sama Aa kamu? Bukannya dia udah pulang dari Jakarta dan sekarang lagi kumpul di rumahnya?"
"Itu dia masalahnya," gumam Acha lirih.
"Kalian kan tahu sendiri, waktu teh Sonia ngabarin kalau Si Aa pulang ke Garut, tapi gak ngabarin aku. Padahal biasanya nih yah kalau si Aa mau pulang ke Garut suka bilang dulu terus nawarin mau dibawain oleh-oleh apaan!!... Aku kaya ngerasa dia beda banget, Vik. Sumpah, dingin banget."
Tasya mengernyitkan dahi, ikut merasa penasaran. "Dingin gimana maksud teteh? Emang dia ngapain?"
"Bukan cuma masalah ngapa-ngapain, Sya," jawab Acha dengan nada prihatin.
"Tapi sikapnya itu loh, kaya gak ada pedulinya gitu... rasanya si Aa udah berubah. Kayak ada sesuatu yang besar banget yang lagi dia tutupi dari keluarga, tapi dia sengaja nutup rapat-rapat."
Suasana kamar mendadak sedikit senyap. Tasya dan Vika saling berpandangan mendengar cerita Acha, menyadari bahwa di balik kepulangan sang abang yang harusnya membahagiakan, ada ganjalan misterius yang kini justru menghantui pikiran Acha.
Melihat ekspresi Acha yang tampak begitu terbebani, Mila langsung menggeser duduknya lebih dekat. Dia merangkul pundak sahabatnya itu dengan penuh kelembutan, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Udah, Cha, jangan terlalu dipikirin sampai segitunya," bujuk Vika dengan nada sabar.
"Namanya juga orang baru pulang merantau dari kota besar kayak Jakarta. Mungkin Aa kamu mungkin lagi sibuk sama anak dan istrinya, makanya gak sempat ngabarin kamu. Nanti juga kalau urusannya udah beres pasti dia bakal balik kok ke rumah kamu."
Tasya yang tadinya sempat ikut terbawa suasana serius, ikut mengangguk menyetujui ucapan Vika. Dia menimpali dengan gaya khasnya yang santai namun meyakinkan.
"Betul kata teh Vika, teh. Teteh jangan hobi banget mikir yang aneh-aneh atau berasumsi kejauhan. Nanti malah bikin kepala teteh pusing sendiri, padahal Aa teteh baru aja pulang kampung kan," ujar Tasya sambil menepuk pelan lutut Acha.
"Bisa jadi dia cuma butuh waktu buat melepas rasa kangennya dengan keluarga kecilnya. Sekarang kan Aa teteh udah nikah jadi wajar aja Aa teteh lebih fokus sama keluarganya dulu, nanti pasti akan ada waktunya Aa teteh pulang menemui orang tuanya."
Mendengar nasihat dan dukungan dari kedua sahabat setianya itu, Acha merasa bebannya sedikit lebih ringan. Helaan napas lega perlahan terlepas dari bibirnya.
Dia tersenyum tipis, bersyukur karena selalu memiliki Tasya dan Vika yang sigap menenangkan saat pikirannya mulai kalut.
"Iya juga sih... mungkin aku nya aja yang terlalu overthinking," gumam Acha, mulai bisa menerima logika dari perkataan sahabat-sahabatnya.
Suasana di kamar kosan itu mendadak terasa lebih ringan. Vika langsung menghembuskan napas lega sambil menepuk pelan bahu Acha, sementara Tasya tertawa kecil sembari menyeruput teh manis miliknya yang hampir habis.
"Nah, gitu dong! Jangan suka bikin drama di kepala sendiri, Cha. Energi kamu habis cuma buat mikirin hal-hal yang belum tentu terjadi," ujar Vika dengan nada gemas.
"Makanya, kalau ada apa-apa tuh diobrolin, jangan dipendam sendiri terus disimpulkan sendiri. Sering banget kan akhirnya teteh sendiri yang pusing?" timpal Tasya menambahkan.
Acha tersenyum tipis. Dia sadar ada benarnya juga apa yang dikatakan kedua sahabat setianya itu. Kadang kala, pikirannya memang suka berlari terlalu cepat dan menciptakan skenario-skenario buruk yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata.
"Iya, iya, kalian benar. Maaf ya malah bikin kalian ikutan repot mikirin masalah aku yang nggak jelas ini," ucap Acha tulus, matanya menatap bergantian ke arah Vika dan Tasya.
"Halah, kayak sama siapa aja," sahut Vika cepat.
"Sebagai sahabat, tugas kita kan emang jadi tempat penampungan keluh kesah kamu, sekaligus tukang sadar-in kalau kamu mulai melenceng ke jalur overthinking."
"Udah, yuk, mumpung hari masih belum terlalu malam dan perut aku mulai keroncongan, gimana kalau kita pesan makanan yang manis-manis atau camilan asin? Hari ini Teh Acha yang traktir sebagai bentuk permintaan maaf karena udah bikin kita stres," usul Tasya dengan mata berbinar, sengaja menggoda.
Acha tertawa lepas, beban di dadanya seketika menguap begitu saja. "Dih, modus! Tapi ya udah deh, ayo. Mau pesan apa? Biar aku yang pesenin makanannya."
Sedangkan ditempat lain ada seseorang cowok yang dari tadi mukanya sedang ditekuk karena merasa sedih dan kecewa.
"Kenapa lagi sih loh, Than? Dari tadi muka loh ditekuk mulu kayak baju belum disetrika tahu gak lecek banget," celetuk Iyan sambil meletakkan ponselnya di atas meja warkop.
Dia menatap Nathan yang tampak sibuk mengaduk kopi hitamnya yang sudah hampir dingin tanpa dia minum sama sekali.
Nathan menghela napas panjang. "Susah, Yan... beneran susah banget mau ketemuan sama Acha."
Iyan dan satu temannya lagi, Yana, langsung saling bertukar pandang mendengar cewek yang biasanya Nathan sendiri tidak pernah mempunyai urusan dengan cewek.
"Susah gimana maksudnya? Tinggal datengin ke rumahnya atau samperin ke kosannya, apa susahnya?" tanya Yana, bingung dengan sikap Nathan yang mendadak jadi rumit begini.
Nathan menggeleng pelan, lalu menegakkan duduknya. Wajahnya menyiratkan kekesalan bercampur frustrasi.
"Masalahnya nggak semudah itu. Bambang, gue mau kasih nomor gue malah di tolak. Gue minta nomornya malah dia gak mau, gue temuin dia ketempat kerjanya malah sibuk. Kayaknya dia benar-benar gak suka kali yah sama gue."
Iyan manggut-manggut paham. "Ohh... pantesan loh keliatan kusut banget. Kena silent treatment level akut rupanya."
"Nah, itu! Gue pengen ketemu langsung buat tanya sama dia kalau dia tuh suka gak sih sama gue, tapi kalau dia cuma anggap gue teman biasa aja gimana, gue takut cinta gue bertepuk sebelah tangan" keluh Nathan sambil menyandarkan punggungnya, lalu memijat pelipisnya yang mendadak pusing.
Padahal, di tempat yang tidak terlalu jauh dari sana, Acha sebenarnya baru saja mulai melunak berkat nasihat Vika dan Tasya. Sayangnya, Nathan sama sekali tidak tahu hal itu dan masih terjebak dalam rasa galaunya.
Sore menjelang senja, setelah lelah menunggu Acha yang tak kunjung datang, Nathan akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah nekat.
Keesokan harinya Nathan langsung melajukan motornya menuju minimarket tempat Acha bekerja paruh waktu, berharap bisa menemui gadis itu secara langsung.
Sesampainya di sana, Nathan langsung memarkirkan motornya dan melangkah masuk ke dalam minimarket yang ber-AC dingin.
Matanya menyapu setiap sudut ruangan hingga akhirnya menangkap sosok Acha yang sedang merapikan rak display minuman di dekat kasir.
Melihat Acha yang ada di depannya, rasa kesal dan penasarannya langsung mendesak keluar. Nathan mendekati meja kasir dengan langkah pasti.
"Cha," panggil Nathan dengan suara yang cukup jelas untuk menghentikan aktivitas Acha.
Acha yang tadinya fokus menata botol langsung mendongak. Begitu melihat siapa yang berdiri di hadapannya, matanya membelalak kaget.
Dia sama sekali tidak menyangka Nathan akan nekat mencarinya sampai ke tempat kerjanya.
"A Nathan? Kok Aa bisa ada di sini? A Nathan mau beli apa? Biar aku bantu!!" tanya Acha, nada suaranya terdengar kaget bercampur kikuk.
Tanpa membuang waktu atau berbasa-basi lagi, Nathan langsung melontarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di kepalanya.
"Aku cuma mau tanya, kemarin kenapa kamu nggak dateng ke acara keluarganya Teh Suci—kakak ipar kamu—di rumah barunya Topan? Padahal aku nungguin kamu sampai tengah malam berharap kamu datang!."
Suasana di sekitar kasir mendadak terasa hening. Acha terdiam, menatap Nathan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Acha mengerjapkan, menatap Nathan dengan kening berkerut dalam. Ada rasa heran dan bingung yang bercampur aduk di kepalanya.
"Lah kok... kok A Nathan bisa tahu sedetail itu soal aku nggak datang ke acara kumpul keluarganya teh Suci? Aa emangnya kenal..."
Melihat kebingungan di wajah Acha, Nathan menghela napas pendek. Dia tahu Acha pasti heran kenapa dia sampai tahu seluk-beluk urusan keluarganya. Mau tidak mau, Nathan harus menjelaskan alasannya agar Acha paham posisinya.
"Kamu pasti bingung kan kenapa aku bisa tahu dan peduli soal kamu yang nggak datang, kan?" ujar Nathan sambil menatap Acha lurus-lurus.
"Jujur, aku nggak mungkin nggak tahu, Cha. Kamu ingat waktu kejadian kamu tumpahkan minuman ke baju aku di acara pertunangannya Sonia," lanjut Nathan, mulai merinci hubungannya.
"Jadi aku ini sebenarnya anak angkatnya Umi Nani. Almarhumah mamah aku, itu adalah bibinya Umi Nani. Dan sejak bunda meninggal dunia, Umi Nani lah yang merawat aku sampai sekarang."
Acha terdiam, menyimak penjelasan Nathan yang mengalir pelan namun tegas.
"Karena diurus sama Umi Nani, otomatis aku jadi sangat dekat dan kenal banget sama seluruh lingkaran keluarga Umi Nani," tambah Nathan.
"Termasuk sama teh Suci dan A Alfian—Aa kamu kan itu, Cha. Jadi, waktu kemarin acara di rumah barunya Topan dan aku langsung ngobrol sama teh Suci supaya kamu datang ke acara keluarga, niatnya biar aku bisa jemput kamu malam itu. Tapi kamu malah gak datang juga."
Penjelasan itu sukses membuat Acha tertegun di balik meja kasir. Selama ini Acha baru menyadarinya kalau Nathan dekat dengan keluarganya Umi Nani, pantas saja wajahnya memang tidak asing.
Acha terdiam cukup lama. Penjelasan Nathan barusan berhasil meruntuhkan separuh rasa penyesalan karena Acha tidak datang.
Dia menatap jemarinya sendiri yang bertumpu di tepi meja kasir, lalu melirik sekilas ke arah Nathan yang masih berdiri menunggu responnya. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup di dadanya.
Selama ini, dia terlalu sibuk dengan masalah keluarganya sendiri. Dan berpikiran negatif kepada Suci, sekarang dia jadi paham kenapa Suci tiba-tiba menyuruh Acha untuk ikut ke acara keluarganya Suci.
"Ahh... Iya aku baru ingat sekarang, pantas yah muka Aa kaya gak Asing aja gitu, kaya pernah lihat tapi gak tahu dimana?" cicit Acha, nada suaranya kini jauh lebih lunak, tidak lagi bernada defensif seperti tadi.
Nathan, yang sedari tadi memasang wajah tegang, perlahan mengendurkan bahunya. Melihat Acha yang mulai melunak membuatnya sedikit bernapas lega.
"Terus kenapa kemarin kamu nekat nggak datang, Cha? Kamu tahu sendiri kan, jarang-jarang loh teh Suci ajak kamu? . Padahal semalam aku udah berharap banget tahu bisa bonceng kamu," ucap Nathan dengan nada yang kini terdengar lebih mirip sebuah keluhan kecil dari pada interogasi.
Acha menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak. "Kemarin... Aku beneran lagi badmood banget, A. Badannya capek banget, kepala aku pusing, ditambah lagi pikiran aku lagi kusut. Aku males aja harus senyum-senyum di depan keluarga besarnya teh Suci kalau energi aku lagi kosong."
Mendengar kejujuran Acha, Nathan menghela napas panjang. Garis-garis ketegangan di wajahnya benar-benar hilang. Dia memahami bagaimana kondisinya Acha sedang lelah dan menarik diri dari dunianya.
"Ya gak papa kok, Cha santai aja. Yang penting sekarang kamu udah tahu kan asal usul keluarganya aku. Jadi boleh dong sekarang kamu jangan menghindari aku terus" protes Nathan, kali ini dengan nada setengah bercanda sambil menatap Acha lekat-lekat.
Acha mendengus pelan, meski sudut bibirnya sempat tertarik membentuk senyuman tipis mendengar keluhan Nathan.
"Iya, iya, aku gak. Bakal menghindari Aa lagi deh. Sekarang kan udah tahu ternyata kita masih saudara kan." Ucap Acha.
Melihat suasana yang mulai mencair dan menyadari jam kerja paruh waktu Acha sudah hampir selesai—ditambah beberapa pelanggan lain mulai mendekati area kasir—Nathan memutuskan untuk menyudahi pembicaraan mereka.
"Yaudah kalau gitu. Yang penting aku udah tahu kamu gak kenapa-napa," kata Nathan sambil merapikan jaketnya.
"Iya aku gak papa kok" Ucap Acha tersenyum merasa aneh dengan perlakuannya Nathan, namun Acha masih tidak mau kegeeran dulu.
"Kalau gitu aku cabut dulu ya, . Nanti kalau ada apa-apa, bilang aja jangan sungkan."
Acha mengangguk pelan. "Iya,hati-hati di jalan yah, A."
Nathan pun berbalik dan melangkah keluar minimarket, membiarkan pintu kaca bergeser menutup di belakangnya.
Acha menatap punggung Nathan yang perlahan menjauh ke arah parkiran motornya, sementara pikirannya kembali melayang kepada kejadian-kejadian belakangan ini.
Tidak lama setelah Nathan pergi, Tasya—rekan kerja Acha yang baru saja selesai merapikan lorong sebelah—mendekati meja kasir sambil membawa sisa gulungan struk. Dia sempat melihat interaksi Acha dan Nathan dari kejauhan tadi.
"Pacar barunya teteh yah?" tanya Tasya usil sambil tersenyum menggoda.
Acha langsung menggeleng cepat, menepis asumsi Tasya. "Bukan, Sya. Mana ada. Temen doang kok."
Tasya terkekeh kecil, lalu bersandar di tepi meja kasir dengan raut wajah yang mendadak serius.
"Tapi, ngomong-ngomong soal ceritanya dari cowok tadi teh... Teteh nggak pengen kepikiran soal manfaatin kedekatan dia sama keluarga besarnya?"
Acha mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan temannya itu. "Maksud kamu Sya?"
"Begini, lho teh," bisik Tasya pelan, mendekatkan wajahnya.
"Teteh kan akhir-akhir ini sering bilang kalau Aa teteh sikapnya agak beda atau berubah sama keluarganya teteh, tapi teteh nggak tahu kenapa alasannya. Kenapa teteh nggak coba dekati cowok itu lagi dan cari informasi soal perubahan sikapnya Aa teteh lewat dia? Cowok itu kan deket banget sama teh Suci dan keluarganya Umi Nani, pasti dia tahu sesuatu dong soal Aa nya teteh."
Mendengar saran tersebut, Acha langsung tertegun. Dia terdiam sejenak, menatap Tasya dengan pandangan penuh keraguan.
Di dalam hatinya, Acha merasa cara itu terdengar tidak adil bagi Nathan. Rasanya licik jika dia mendekati Nathan hanya untuk mengorek informasi keluarganya, apalagi dia sendiri sama sekali tidak yakin apakah saran Tasya itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.
"Ah, nggaklah, Sya," balas Acha akhirnya sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Mana mungkin aku manfaatin dia cuma buat cari tahu urusan keluarga aku gitu aja. Nggak enak banget rasanya."
Tasya mengangkat bahunya acuh tak acuh mendengar jawaban Acha. "Ya terserah teteh sih, yah. Tapi kan, siapa tahu itu cara paling gampang buat tahu apa yang sebenarnya lagi disembunyikan sama Aa nya teteh. Dari pada teteh terus-terusan dihantui rasa penasaran sendiri kan?"
Acha hanya menanggapinya dengan senyuman tipis tanpa berniat melanjutkan perdebatan itu. Dia tahu Tasya mengucapkannya karena peduli.
Tetapi nuraninya menolak keras gagasan untuk mendekati seseorang demi sebuah kepentingan tersembunyi—terutama Nathan, yang baru saja repot-repot mencarinya demi meluruskan kesalahpahaman.
Tidak lama setelah obrolan itu usai, jarum jam dinding di atas pintu minimarket menunjuk tepat pukul delapan malam. Shift kerja paruh waktu Acha akhirnya resmi berakhir.
Acha segera berpamitan kepada rekan kerjanya yang lain, lalu bergegas menuju ruang istirahat untuk mengambil tas selempang miliknya.
Setelah merapikan seragam dan memastikan semuanya beres, dia melangkah keluar dari area karyawan. Udara malam yang sejuk langsung menyambutnya begitu sia mendorong pintu kaca minimarket.
Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan dibandingkan saat dia datang tadi sore. Beban pikiran akibat overthinking-nya perlahan menguap, digantikan oleh kelelahan fisik yang menuntutnya untuk segera sampai di rumah dan merebahkan diri di kasur empuk.
Sesampainya di halte di dekat minimarket, Acha merogoh saku jaketnya untuk memesan ojek online. Sambil menunggu jemputannya datang, dia menatap kendaraan yang lalu-lalang di jalanan kota yang mulai lengang.
Pikirannya sempat melayang kembali kepada perkataan Tasya tentang perubahan sikap Kak Alfian, namun Acha dengan cepat menggelengkan kepalanya, berusaha menepis bayang-bayang pikirannya.
Sesampainya di depan gerbang kos, Acha berjalan menyusuri koridor lantai dua hingga tiba di kamar nomor 12. Begitu pintu dibuka dan dia melangkah masuk, aroma masker sheet mask beraroma aloe vera langsung menyambut penciumannya.
Di pojok kasur, Vika—teman sekamarnya—tengah duduk bersila sambil menatap layar ponsel dengan wajah putih tertutup masker lendir, membuat tampilannya terlihat konyol.
"Baru pulang, Neng? Lemes amat kayak mie instan kurang air," sapa Vika santai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Acha mendengus pelan sambil melempar tasnya ke atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke kasur.
"Parah kamu, Vika... hari ini energi aku terkuras habis tahu. Ketemu pelanggan rewel, ditambah drama overthinking seharian."
Vika tertawa kecil mendengar keluhan sahabatnya itu. Dia bergeser sedikit, lalu menempelkan wajah maskernya yang basah ke arah Acha sambil bercanda,
"Mau nularin awet muda nih, biar beban yang ada di hidup kamu bisa luntur seketika."
"Ih, jangan deket-deket! Muka kamu serem banget tahu udah kayak siluman jadi-jadian!" seru Acha spontan sambil tertawa terbahak-bahak, mendorong pelan bahu Vika.
"Enak aja, nih yah aku peluk kamu biar muka kita tambah nempel nih" Ucap Vika tak Terima dengan kedepannya Acha yang membuat mereka saling tertawa lepas sambil berpelukan.
Suasana kamar kosan yang tadinya sunyi mendadak hangat oleh gelak tawa kecil mereka. Selepas candaan itu, keduanya sempat mengobrol ringan sejenak membahas hal-hal tidak penting sebelum kantuk benar-benar menyerang.
Tanpa membuang waktu lagi, Vika beranjak untuk membersihkan wajahnya, sementara Acha langsung mencuci muka dan mengganti pakaian tidurnya.
Begitu lampu kamar dipadamkan dan selimut tebal ditarik menutupi tubuh, rasa lelah yang teramat sangat membuat keduanya langsung terlelap dalam tidur lelap.
Be to continued