NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5.Kue pancong

Matahari perlahan mulai tenggelam di balik cakrawala, memancarkan warna jingga keemasan yang menembus kaca-kaca besar mansion Diksara. Di halaman depan, Pak Mamat yang dibantu oleh dua orang pelayan rumah tangga terlihat bolak-balik mengangkut belasan kantong belanjaan berlogo merek desainer kelas atas milik Naya.

Naya sendiri melangkah masuk ke dalam rumah dengan gaya santai, memutar kunci mobil di jarinya sambil bersenandung kecil. Wajahnya berseri-seri, mencerminkan kepuasan hakiki setelah berhasil memborong barang-barang mewah dan menumbangkan kesombongan Lea di depan publik.

Namun, suasana di dalam ruang tengah mansion mendadak terasa dingin memencekik. Tidak ada kehangatan sama sekali. Di atas sofa kulit raksasa, sudah duduk Mamah Ratna dengan wajah merah padam dan napas yang memburu. Di sampingnya, tampak Lea yang sedang terisak-isak dramatis sambil memegang tisu, pura-pura menghapus air mata imajinernya. Dan di sofa tunggal seberang mereka, duduk Damar Diksara yang masih mengenakan kemeja kerjanya, menatap lurus ke arah pintu masuk dengan pandangan mata sedingin es kutub.

Naya menghentikan langkahnya. Bukannya takut melihat pemandangan "Pengadilan Eksekusi" di depannya, ia justru menyunggingkan senyum lebar. Wah, mantap! panggung dramanya udah siap, nih! batin Naya riang.

"Aduh, ada acara kumpul keluarga ya? Rame banget kayak mau tasyakuran," sapa Naya santai tanpa dosa seraya berjalan menuju ruang tengah.

"Naya! Berani-beraninya kamu masih bisa tersenyum setelah apa yang kamu perbuat hari ini?!" bentak Mamah Ratna sambil berdiri dan menunjuk Naya dengan telunjuknya yang gemetar emosi. "Kamu bener-bener cewek kurang ajar! Sudah memeras uang Damar ratusan juta, sekarang kamu malah memaki dan mempermalukan Lea di mall?!"

Lea makin mengeraskan suara isakannya, membuat badannya berguncang seolah-olah dia adalah korban penganiayaan paling tragis abad ini.

"Damar... Tante Ratna..." bisik Lea dengan suara serak yang dibuat-buat penderitaannya. "Aku tadi cuma mau menyapa Naya baik-baik di mall. Aku cuma khawatir dia kebingungan belanjanya. Tapi Naya malah ngatain aku 'Mbak Pancong', nuduh aku penonton bayaran, dan ngusir aku di depan orang banyak... Aku malu banget, Damar..."

Naya menepuk tangannya pelan tiga kali, memberikan standing ovation secara imajiner. "Bagus! Aktingnya sepuluh dari sepuluh, Mbak Pancong! Air matanya dapet, getaran suaranya dapet, kepalsuannya apalagi! Luar biasa!"

"Naya!" potong Damar. Suaranya yang berat dan dalam menggelegar menembus ruangan, menghentikan kalimat Naya.

Damar berdiri dari sofanya, melangkah pelan mendekati Naya. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang memberikan tekanan intimidasi yang sangat kuat. Ia menatap Naya tepat di manik matanya.

"Jelaskan," perintah Damar pendek, tanpa ekspresi.

Naya menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap balik mata tajam Damar tanpa ada kedipan rasa takut sedikit pun. "Penjelasan apa, Mas? Soal belanjaan atau soal Mbak Pancong ini?"

"Dua-duanya," jawab Damar dingin. "Pertama, kamu menghabiskan lebih dari dua ratus lima puluh juta hanya dalam waktu tiga jam. Kedua, kamu membuat keributan dengan Lea di tempat umum yang bisa merusak citra nama baik keluarga Diksara."

Naya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan hingga membuat Mamah Ratna makin kehabisan napas.

"Poin pertama, Mas Kulkas yang terhormat," ujar Naya seraya mengacungkan jari telunjuknya. "Kemarin di meja makan, Mas sendiri kan yang meletakkan Black Card itu di tangan saya dan bilang 'Pakai sepuasmu'? Masa pengusaha sukses nomor satu se-kota Medan mau jilat ludah sendiri cuma gara-gara uang dua ratus lima puluh juta? Bagi Mas Damar kan uang segitu cuma kayak remahan keripik tempe. Kalau Mas emang miskin dan enggak sanggup biayain skincare saya, bilang dari awal dong! Nanti kartu ini saya kembalikan!"

Damar membeku. Alisnya bertaut tajam. Disebut "miskin" oleh istri sahnya sendiri di depan ibu dan mantan gebetannya adalah pukulan telak yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

"Saya tidak pernah bilang tidak sanggup," desis Damar menahan gengsinya yang terkoyak.

"Nah, kalau sanggup ya udah, jangan protes!" balas Naya cepat. Ia lalu beralih mengacungkan jari tengahnya—eh, maksudnya jari telunjuk kedua. "Sekarang poin kedua, soal Mbak Pancong alias Mbak Lea ini."

Naya melangkah mendekati sofa tempat Lea duduk. Lea yang melihat kedatangan Naya mendadak bergidik, bersembunyi di balik lengan Mamah Ratna.

"Mbak Lea," panggil Naya dengan nada manis yang dibuat-buat. "Coba jujur sama Mas Damar dan Tante Ratna. Siapa duluan yang nyamperin saya di toko tas? Siapa duluan yang nuduh saya mencuri kartu kredit? Dan siapa yang ngatain saya 'cewek kampung beruntung' di depan umum?"

Lea membelalakkan matanya, wajahnya mendadak pucat. "A-aku cuma bercanda, Naya! Aku cuma—"

"Bercanda?" potong Naya dengan suara tegas dan lantang. "Bercanda kok bawa-bawa status dan merendahkan orang lain? Dengar ya Mbak Lea, saya di diamkan selama dua bulan kemarin bukan berarti saya bodoh atau bisa diinjak-injak terus! Saya ini istri sah Damar Diksara secara hukum negara dan agama. Mau pernikahan ini karena utang budi atau kontrak nikah, yang duduk di posisi istri sah itu saya, bukan Mbak!"

"Damar! Lihat cara dia bicara!" teriak Mamah Ratna murka. "Dia benar-benar tidak punya tata krama!"

"Tante Ratna diam dulu!" bentak Naya santai tanpa menoleh, membuat Mamah Ratna yang biasa ditakuti semua orang langsung melongo tak percaya karena dibentak balik oleh menantunya.

Naya kembali menatap Lea yang kini sudah gemetaran ketakutan. "Mbak Lea, kalau Mbak emang kebelet banget mau jadi istrinya Damar, tunggu empat bulan lagi! Nanti kalau masa kontrak enam bulan saya usai dan uang kompensasi dua miliar saya sudah cair, Mas Damar ini silakan Mbak ambil, bungkus, bawa pulang, atau pajang di kamar Mbak sekalian! Saya kagak bakal sudi cemburu!"

DEG!

Kalimat Naya yang dengan gampangnya menawarkan Damar seperti barang bekas mendadak membakar dada Damar Diksara. Rasa panas yang tak kasatmata menjalar di seluruh tubuh pria itu. Kenapa rasanya sangat menyakitkan saat mendengar Naya berulang kali membuangnya demi uang dua miliar?

"Naya, cukup!" tegur Damar, nadanya tidak lagi sedingin es, melainkan sarat akan emosi yang tertahan.

"Kenapa, Mas? Saya kan bicara fakta," sahut Naya santai sambil menoleh ke arah Damar. "Mas emang enggak cinta sama saya, dan Mbak Lea ini katanya cinta mati sama Mas. Saya cuma memfasilitasi masa depan kalian kok setelah kita cerai nanti. Kurang baik apa coba saya jadi istri?"

"Kamu..." Damar mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya, kehabisan kata-kata untuk membalas argumen istrinya yang begitu savage dan tanpa cela.

Naya lalu membalikkan badannya, menatap Mamah Ratna, Lea, dan Damar secara bergantian dengan pandangan penuh kemenangan.

"Berhubung debat hari ini sudah selesai dan saya yang menang secara mutlak, saya mau naik ke atas. Belanjaan saya banyak banget yang harus ditata di lemari," kata Naya riang. Ia kemudian menunjuk Lea dengan lirikan mengejek. "Oh iya Mbak Pancong, lain kali kalau mau drama nangis-nangis di depan suami orang, pake eyeliner yang waterproof ya. Itu eyeliner Mbak udah luntur tuh, belepotan kayak hantu kramat tunggal."

Lea langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menjerit malu. "Aaaa! Damarrrr!"

Naya terkekeh puas. Tanpa memedulikan pertengkaran yang kembali pecah di ruang tengah, Naya memutar tubuhnya dan melangkah anggun menaiki tangga menuju lantai dua, membiarkan Mamah Ratna mengamuk dan Lea menangis histeris di bawah sana.

Sementara itu, Damar Diksara masih berdiri mematung di dasar tangga. Matanya menatap punggung Naya yang perlahan menghilang di belokan lantai atas.

Dua bulan yang lalu, Damar sangat membenci keberadaan Naya karena menganggapnya gadis membosankan yang gampang menangis. Tapi malam ini... gadis yang sama baru saja mengacak-acak mansionnya, membungkam ibunya, mempermalukan mantan gebetannya, dan menghancurkan gengsi Damar hanya dalam waktu sepuluh menit!

Bukannya murka hingga ingin mengusir Naya detik itu juga, dada Damar justru berdegup kencang secara tidak wajar. Ada desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Cewek itu... bener-bener gila, batin Damar. Sebuah sunggingan senyum tipis yang penuh pesona terukir di bibir sang pria dingin. Dan celakanya, saya makin tidak bisa berhenti melihatnya.

_Bersambung

1
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
Lenovo A
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!