Seorang pemuda bernama Devan dia adalah seorang kurir paket yang hidup sederhana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah menemukan sebuah gelang giok misterius.
Sejak saat itu, keberuntungan mulai menghampirinya dan satu per satu wanita cantik memasuki kehidupannya.
Namun, siapa sebenarnya mereka dan mengapa semuanya terhubung dengan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Not men, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : Saat Takdir Memilihku
Devan mendengar laporan dari, begitu terkejut karena orang yang di sebutkan syafir itu "Biarlah, itu urusan mereka, coba aja kalau mereka bisa" ucap Devan
"Baiklah tuan!" jawab Syafir.
Devan pun kembali fokus dengan pekerjaan nya, dia beranjak pergi menuju lantai bawah yaitu toko "Yus, antar aku" ucap Devan
"Antar kemana Van?" tanya Yusa.
Devan serta Yusa menuju mobil, namun saat hendak menaiki mobil, Ibu dari Vivi yaitu Hasna, datang dengan wajah yang terlihat tidak ramah.
"Kemana anak saya!" tanya Wanita setengah tua itu dengan nada ketus, saat berada di depan Devan dan Yusa.
"Ada tante, dia lagi kerja" jawab ramah Devan
Yusa hanya menyimak, dia menyenderkan badan nya ke badan mobil.
"Cihh! Mau cari masalah nih orang!" batin Yusa.
"Kamu kan yang udah ngehasut anak saya Devan!" tuduh bu Hasna.
"Maksud tante? Gimana, ngehasut gimana?" tanya Devan bingung.
Namun sebelum ibu dari vivi itu menjawab, Vivi datang di antara mereka, menarik lengan ibu nya untuk sedikit menjauh, Devan serta Yusa yang memperhatikan itu saling bertukar pandang.
"Dasar tante-tante aneh!" bisik Yusa di sebelah Devan.
"Hus! Jangan begitu" jawab Devan
Sementara itu Vivi sedang berbincang dengan ibunya "Bu ngapain sih! Pake nuduh-nuduh orang segala!" ucap Vivi dengan nada sedikit meninggi.
"Kamu jadi pinter ngelawan, semenjak kamu kerja bareng si Devan!" jawab ibu nya.
"Aku kerja buat lunasin hutang ibu! Jadi ibu gak usah nuduh Devan yang engga-engga, dia udah banyak bantu aku bu, sebaik nya ibu pulang" jelas Vivi.
Setelah perbincangan yang alot pun, akhir nya ibu dari Vivi itu mengalah dan pergi, Vivi membalikan badan nya, namun saat melihat tatapan Yusa dan Devan dia menunduk malu, karena mungkin saja mereka mendengar percakapan nya dengan sang ibu.
"Van maafin ibu ku, aku jadi malu" ucap Vivi, seraya menunduk menyembunyikan wajah nya.
"Santai aja kali Vi, yaudah gak usah di pikirin" ucap Devan
Vivi pun kembali melakukan pekerjaan nya, sementara Devan serta Yusa melanjutkan rencana mereka.
"Aneh aku sama ibu nya si vivi, dari dulu kagak berubah ya!" ucap Yusa saat di dalam mobil.
"Udah lah santai aja, anggap aja cuma angin lalu Yus, di tanggepin malah menjadi orang kaya gitu" jawab Devan
Lalu Devan pun kembali fokus menyetir, keadaan hening di sepanjang perjalanan. Devan pun sampai di sebuah rumah yang cukup besar di pinggiran kota itu. Yusa heran dia kira Devan menuju sebuah perkantoran seperti waktu itu, namun dugaan dia ternyata salah, Devan menuju sebuah hunian yang cukup besar di antara rumah lain nya.
"Rumah siapa ini Van?" tanya Yusa.
"Nanti juga tau Yus" jawab Devan
Devan memencet bel rumah itu, tak berselang lama muncul lah pria seumuran ibu nya.
"Kau!! Mau apa kemari?!" tanya Pria tua itu.
"Saya mau melunasi hutang tante Hasna om, dan jangan mengganggu lagi, dan mengirimkan penagih ke rumah nya" jawab Devan, seraya memberikan 3 amplop coklat tebal.
Mata pria tua itu berbinar, dia menerima amplop itu dan menghitung nya. "Baiklah urusan ku dengan Hasna selesai! 300 juta pas!" ucap pria tua itu, yang tak lain adalah Bagas, orang yang menginginkan Vivi.
"Tapi ingat! Jika kalian masih mengganggu Vivi dan ibu nya, ku pastikan kalian akan menderita!" ucap Devan kemudian.
Melihat tatapan tajam Devan, Bagas si pria tua, menelan ludah.
Gleug!
Namun dia seolah membisu, tak bisa membalas ucapan dari Devan, Yusa hanya menyimak dan diam saja. Devan pun beranjak pergi setelah urusan nya selesai. Yusa pun lantas bertanya kepada Devan saat sudah berada di dalam mobil, kenapa dia rela melakukan itu.
"Aku hanya menolong nya saja Yus, kasihan dia, kau tau sendiri bukan, bagaimana dia selama ini dengan ibu nya" jawab Devan
Yusa pun hanya mengangguk mengerti, dia pun kembali diam dan menyalakan sebatang rokok, lalu membuka jendela kaca mobil itu. Tak berselang lama, Devan pun sampai di toko milik nya.
Namun terlihat disana ada Hilma, mantan kekasih nya itu. Hilma yang melihat kedatangan mobil Marvin, lekas berdiri untuk menyambut Devan
Saat di dalam mobil, Yusa serta Devan saling bertukar pandang. "Ngapain dia kemari van?" ucap Yusa.
"Entahlah, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan disini" jawab Devan
Mereka pun turun dari mobil, Hilma pun langsung menyambut Devan dengan senyum manis nya.
"Haii Van! Apa kabar?" sapa Hilma.
Devan pun berusaha tersenyum ramah saat mendengar sapaan dari Hilma. "Baik, gimana kmu" jawab Devan datar.
Yusa pun hanya pergi, karena jengkel dengan wanita yang satu itu, biarlah itu menjadi urusan Devan dengan Hilma.
"Ini aku bawakan sesuatu untuk mu" ucap Hilma seraya memberikan papper bag dengan kedua tangan nya.
Devan memejamkan mata sejenak, untuk mengusir kebencian nya, meskipun yang dia ingat terasa menyakitkan, namun dia tak boleh membalas nya dengan keburukan lagi. "Terimakasih!" ucap singkat Devan seraya mengulas senyuman, walau sedikit di paksakan.
Rasa nyeri di hati itu, masih ada dan susah untuk menghilang, namun Devan sudah memaafkan perbuatan dari mantan kekasih nya itu.
"Makan lah, itu kue buatan ku" ucap Hilma kemudian.
Untuk menghargai Hilma, dia mengajak Hilma untuk duduk di kursi depan toko itu.
Vivi yang menyaksikan itu, wajah nya memerah dia merasakan dada nya panas, hati nya bergemuruh. "Ngapain sih tuh cewe balik lagi kesini! Dasar kegatelan! Udah bikin salah dan udah tau Devan kaya! Mau godain lagi!" batin Vivi menggerutu tanpa sadar.
Yusa terkekeh geli melihat expresi, teman nya itu, dia pun mencoba untuk menggoda Vivi dan mendekati nya. "Tenang aja, pangeran gak akan pindah kelain hati lagi pfffffft.." ucap Yusa seraya menutup mulut nya menahan tawa, saat melihat tatapan tajam Vivi.
"Kamu!! Awas yaa Yus!" ucap Vivi, namun Yusa melarikan diri ke dalam gudang di iringi tawa nya yang pecah.
Devan mendengar itu menoleh, keributan itu baginya sudah biasa, bahkan hampir setiap hari.
"Bagaimana Vin? Apakah enak?" tanya Hilma. Dengan wajah yang penug harap.
Devan menelan kue yang dia kunya terlebih dulu, sebelum menjawab nya. "Yaa..lumayan, ini cukup enak" jawab simple Devan
"Yes!! Apakah kamu sudah memaafkan aku vin? Aku harap iya, dan kita bisa kembali bersama, mengulang nya dari awal" batin Hilma penuh harap.
Tak lama mereka berbincang, Hilma pun berpamitan kepada Mariana ibu dari Devan
Namun saat dia pergi dan berpapasan dengan Vivi, dia menghentikan langkah nya sejenak. "Aku pastikan dia akan kembali, padaku!" bisik Hilma kepada vivi.
Namun sebelum Vivi menjawab, Hilma beranjak pergi dan menaiki ojek online yang dia pesan.
"Dasar wanita gila!" batin Vivi.