NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Reinkarnasi Jendral Sains Di Kultus Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad Mikyail Ilham

Sinopsis:
Ethan Vance—Panglima Tertinggi Pasukan Gabungan Bumi dan jenius biomekanika—tewas mengenaskan akibat sabotase reaktor fusi. Namun, bukannya masuk neraka, jiwanya justru terlempar ke dunia Murim dan lahir kembali sebagai Cheon Ryeon, bayi dari klan paling bawah di Kultus Iblis.
​Keluarga Cheon yang dulunya berjaya kini hanya dianggap sampah dan terus ditindas oleh klan-klan utama lainnya. Tidak punya pil energi mahal atau kitab pusaka? Tidak masalah. Bagi seorang mantan jenderal, Dantian manusia tidak ada bedanya dengan reaktor mikro, dan jurus pedang tak lebih dari kalkulasi arah dan sudut jatuh!
​Bersama sahabat-sahabat senasib yang tak kalah aneh—mulai dari anak buangan ahli racun yang matre, gadis perkasa bertulang tebal, sampai pembunuh jalanan yang sinis—Ryeon mulai membangun kekuatannya dari nol.
​"Dunia ini bertarung pakai takdir dan mistis? Lucu sekali. Mari kuajarkan cara bertarung menggunakan logika dan sains!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad Mikyail Ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Rumus Baru di Balik Tembok Kayu

​Malam setelah insiden leparan batu di gudang beras, pemukiman Klan Cheon kembali hening. Orang-orang tua di klan mengira ada "Master Tersembunyi" dari generasi lampau yang diam-diam melindungi mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang curiga bahwa pelaku di balik kekacauan anak-anak Klan Ma malam itu adalah seorang balita dua tahun yang sedang tertidur lelap di kamar lapuknya.

​Tentu saja, Cheon Ryeon tidak peduli dengan rumor konyol itu.

​Bagi Ryeon, hal terpenting saat ini adalah efisiensi konversi.

​Setiap pagi, setelah ibunya pergi menenun dan memilah sisa-sisa hasil panen yang tak seberapa, Ryeon berjalan menuju hutan kecil di belakang bukit Klan Cheon. Tempat itu sepi, jarang dilewati pengawal, dan punya banyak material alam yang bisa dieksplorasi.

​"Kuantitas Ki-ku saat ini terlalu kecil," gumam Ryeon sambil duduk bersila di atas batu datar yang dingin. "Kalo aku bertarung pakai cara orang-orang Murim—mengadu energi secara langsung—aku pasti kalah telak dari anak-anak Klan Ma yang dicekoki pil energi tiap minggu."

​Ryeon memejamkan mata, memfokuskan pikirannya ke dalam Dantian.

​Di dunia ini, para master selalu mengajarkan bahwa Ki adalah "hawa murni dari alam" yang harus diserap dan disimpan sebanyak-banyaknya. Tapi bagi Ryeon, cara pandang itu terlalu primitif.

​Ki tidak beda jauh dengan arus listrik atau bahan bakar fusi. Kunci utamanya bukan seberapa banyak bahan bakar yang kau punya, melainkan seefisien apa mesinmu mengubah bahan bakar itu menjadi daya dorong.

​Ryeon mulai bereksperimen. Dia mengingat kembali rumus-rumus biomekanika dan mekanika kuantum yang dulu dia kuasai di Bumi.

​"Kalau sirkulasi Ki standar Murim cuma muter di Meridian Utama," Ryeon memvisualisasikan sistem saraf dan pembuluh darah di dalam kepalanya, "kenapa gak memfokuskan energi ke tingkat serat otot paling dalam? Memanfaatkan tekanan osmosis dan reaksi percepatan saraf?"

​Ryeon menarik napas dalam-dalam.

​Satu... dua... tiga...

​Ia mengalirkan seberkas Ki tipis—yang jumlahnya tak lebih besar dari sehelai benang—menuju lengan kanannya. Alih-alih membiarkan energi itu menyebar luas seperti aura, Ryeon memampatkannya hingga mencapai titik jenuh tertinggi, lalu melepaskannya tepat di ujung persendian siku saat ia mengepalkan tangan dan melayangkan tinju lurus ke udara.

​BOOM!

​Suara letupan kecil berbunyi nyaring di udara kosong. Tekanan angin dari pukulan mungil itu membuat dedaunan di pohon berjarak dua meter di depannya bergoyang keras.

​Ryeon menatap kepalan tangannya sendiri. Tidak ada memar, tidak ada rasa sakit di persendian. Energi yang dibutuhkan hanya 5% dari metode standar Murim, tapi daya ledaknya meningkat tiga kali lipat.

​"Berhasil," senyum tipis terukir di wajah Ryeon. "Ini bukan cuma jurus... ini Sistem Kompresi Kinetik."

​Hari-hari berikutnya berlalu dengan rutinitas yang sangat teratur.

​Setiap pagi Ryeon membantu ibunya, siang hari mengikui latihan dasar bersama Tetua Boma untuk menjaga penyamaran sebagai balita biasa, dan malamnya dia menyempurnakan sirkulasi Ki serta riset sederhananya di hutan belakang.

​Ketika usianya menginjak empat tahun, tubuh Ryeon tumbuh sedikit lebih tegap dari anak-anak seumurannya. Proporsi ototnya sangat seimbang akibat latihan biomekanika terukur.

​Suatu sore, saat Ryeon sedang mengumpulkan kayu bakar di dekat perbatasan wilayah Klan Cheon dan pasar luar, dia mendengar suara gaduh dari arah semak-semak.

​"Awas kau, anak haram!"

​"Hajar dia! Bikin dia tahu diri!"

​BRUK!

​Sesosok anak laki-laki bertubuh agak gempal terlempar keluar dari semak-semak, jatuh tersungkur di atas tanah berlumpur tepat beberapa langkah di depan Ryeon. Baju anak itu robek di beberapa bagian, dan mukanya penuh coretan tinta hitam serta bekas lebam.

​Di belakangnya, tiga orang anak laki-laki berpakaian bersih dengan lambang Klan Ma keluar dari semak-semak sambil tertawa-tawa.

​"Ingat ya, Tang Jin-Bao!" teriak salah satu anak Klan Ma sambil menunjuk anak gempal di tanah. "Kau itu cuma anak buangan dari Klan Tang yang dibuang ke Kultus Iblis! Jangan sok pintar mau jualan bubuk racun racikanmu di pasar kami!"

​"T-tapi aku gak jualan di wilayah kalian..." bisik anak gempal itu—Tang Jin-Bao—dengan suara bergetar dan ketakutan. "Aku cuma mau tukar bubuk racun ini sama beras..."

​"Bercanda kau?! Semua wilayah di sekitar sini punya Klan Ma!" anak Klan Ma itu meludah ke arah Jin-Bao, lalu mengangkat kakinya hendak menendang dada Jin-Bao yang sudah terpojok.

​Ryeon yang berdiri tidak jauh dari sana mengamati kejadian itu dengan tenang.

​Tang Jin-Bao? Anak buangan dari Klan Tang Ortodoks? batin Ryeon.

​Mata analitis Ryeon langsung bekerja. Dia melihat kantong kain kecil yang terikat di pinggang Jin-Bao. Kantong itu memancarkan bau belerang, arang, dan sedikit aroma asam yang sangat khas.

​Anak ini... dia bukan cuma asal nyampur bahan. Campuran zat kimia di kantong itu punya rasio yang hampir sempurna buat bikin reaksi penetral dan gas anestesi dasar, pikir Ryeon.

​Anak gempal ini mungkin penakut dan lemah secara fisik, tapi dia punya pemahaman kimia material yang sangat langka di dunia Murim ini.

​Saat kaki anak Klan Ma hampir menghantam dada Jin-Bao, sebuah kerikil meluncur dari jari Ryeon dengan kecepatan tinggi.

​CTAK!

​"AAAGH!"

​Anak Klan Ma itu menjerit kesakitan saat batu kecil menghantam tepat di bagian lutut dalamnya. Kakinya mendadak lemas dan dia jatuh terjerembab mencium tanah.

​"Siapa lagi ini?!" teman-temannya panik sambil mencabut pisau kayu mereka.

​Ryeon melangkah keluar dari balik pohon kayu bakar, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kasarnya dengan santai.

​"Dua orang di kiri posisi kuda-kudanya terlalu lebar," kata Ryeon dengan suara tenang, menatap ketiga anak Klan Ma itu dingin. "Yang di tengah, kalau kau melangkah satu kali lagi ke depan, tumpuan ankle kakimu bakal terkilir."

​"Anak kecil sok tahu! Kau siapa, heh?!" teriak salah satu anak Ma sambil menerjang maju.

​Ryeon tidak bergeming. Dia tidak mencabut senjata, tidak pula memasang kuda-kuda megah. Saat musuhnya mendekat dan mengayunkan pisaunya secara liar, Ryeon cukup menggeser tumit kakinya sepuluh sentimeter ke samping.

​SWOOSH!

​Ayun pisaunya hanya mengenai udara kosong.

​Sebelum anak Klan Ma itu sempat menyadari apa yang terjadi, Ryeon menepuk lembut bagian samping siku lawan dengan ujung jarinya yang sudah dialiri titik Ki kompresi.

​TAK!

​Saraf motorik di tangan anak itu mati rasa seketika. Pisau kayunya terlepas dan jatuh ke tanah. Ryeon menyenggol sedikit bagian belakang lutut anak itu dengan ujung kakinya, membuat pemuda Klan Ma itu langsung berlutut hilang keseimbangan.

​Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik. Satu anak jatuh kesakitan di tanah, satu lagi berlutut lemas tanpa bisa menggerakkan tangannya.

​Anak ketiga yang melihat kejadian mistis itu mendadak gemetaran. Dia menatap Ryeon yang berdiri santai tanpa luka sedikit pun seolah sedang melihat hantu.

​"I-iblis! Anak ini iblis!" teriaknya panik sambil menarik dua temannya yang merintih dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

​Suasana di pinggir hutan mendadak hening.

​Tang Jin-Bao masih terduduk di tanah berlumpur, matanya yang sipit terbelalak lebar menatap Ryeon. Tubuh gempalnya gemetaran, antara takut pada anak Klan Ma dan bingung menatap anak kecil di depannya yang baru saja menghajar mereka tanpa emosi.

​"K-kau... siapa?" tanya Jin-Bao terbata-bata, memeluk kantong obatnya erat-erat. "K-kau mau merebut kantong racunku juga, ya?!"

​Ryeon berjalan mendekati Jin-Bao, lalu berlutut di depannya. Dia mengambil sedikit serbuk hitam yang tercecer dari kantong Jin-Bao di atas tanah, lalu mencium aromanya sebentar.

​"Racikan belerang 40%, arang kayu pinus 35%, dan sisanya ekstrak daun kecubung liar," ucap Ryeon datar. "Formulanya bagus buat bikin racun saraf ringan, tapi rasio pembakarannya salah. Kalau kau pakai pemicu gesekan batu biasa, gasnya bakal terlambat menguap dua detik."

​Jin-Bao yang tadinya ketakutan mendadak membeku. Mulutnya menganga lebar.

​"K-kau... kok kau tahu isi campuran racunku?!" jerit Jin-Bao histeris. "Bahkan para tetua pengrajin di klan asalku saja butuh waktu sejam buat membedakan aroma ekstrak kecubung liar!"

​Ryeon berdiri kembali, mengibaskan debu dari jarinya.

​"Namaku Cheon Ryeon," ujar Ryeon menatap anak gempal itu. "Kau mau terus-terusan dipukuli anak-anak Klan Ma dan dibuang kayak sampah, atau mau ikut aku?"

​Jin-Bao mengeripkan matanya bingung. "I-ikut kau? Bikin apa? Kita berdua ini cuma anak terbuang! Kau dari Klan Cheon yang bangkrut, dan aku anak buangan dari luar!"

​Ryeon menatap ke arah puncak Pegunungan Shiwan di mana Istana Utama Kultus Iblis berdiri megah di balik awan.

​"Bikin sesuatu yang bakal bikin orang-orang yang membuangmu menangis darah," jawab Ryeon tenang tapi penuh penekanan. "Aku butuh seseorang yang paham kimia dan racun buat bantu riset materialku. Dan kau butuh seseorang yang bisa melindungimu dari pukulan."

​Jin-Bao menelan ludahnya yang terasa kering. Dia menatap mata Ryeon yang begitu dalam dan tenang. Di mata anak berusia empat tahun ini, tidak ada rasa ragu sedikit pun. Ada wibawa alami yang sangat menekan—wibawa dari seorang jenderal perang yang pernah memimpin jutaan pasukan.

​Tanpa sadar, Jin-Bao menganggukkan kepalanya pelan.

​"B-baiklah..." bisik Jin-Bao ragu. "Tapi... kau janji gak bakal biarkan mereka memukulku lagi, kan?"

​Ryeon menyunggingkan senyum tipis. "Selama kau berguna buatku, tidak ada satu orang pun di Kultus Iblis ini yang boleh menyentuhmu."

​Hari itu, di pinggir hutan lapuk yang tak dilirik siapapun, dua pilar pertama dari organisasi yang kelak akan mengguncang seluruh benua Murim... resmi terbentuk.

1
Scorpy
mencoba baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!