Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Di belahan kota, di dalam ruangan privat bernuansa gelap tepat di sebuah restoran Jepang bintang lima, kebenaran tentang Bagas tertata rapi di atas meja yang mewah.
Suara dentingan gelas sake yang saling beradu memecah keheningan. Ia meneguk cairan bening itu dalam sekali sentakan. Di seberang meja, Arman Wijaya tersenyum tipis. Matanya yang tajam menatap Bagas.
"Bagaimana rasanya menikmati kemewahan ini, Bagas?" tanya Arman, suaranya berat dan penuh wibawa yang menekan. "Uang lima miliar yang kukirim ke rekening ibumu terbukti sangat berguna untuk menata kembali hidupmu."
Bagas tertawa pelan. Tawa yang terdengar serak, dingin, dan penuh dengan ambisi yang telah lama terpendam. "Luar biasa, Pak Arman. Saya hampir lupa rasanya menjadi orang kaya. Berada di titik terendah kemarin membuat saya sadar, menjadi orang baik di dunia ini hanya akan berakhir diinjak-injak oleh orang seperti Dikta."
Arman terkekeh, puas dengan jawaban itu. Ia mengambil sumpit, memutar-mutar sepotong sushi premium sebelum memasukkannya ke dalam mulut. "Lalu, bagaimana dengan istrimu? Arini. Dia sekarang berada di penthouse Dikta, menjadi ibu susuan untuk penerus musuh besarku. Kupikir kau akan mengamuk atau mendatangi gedung itu dengan parang saat tahu istrimu tinggal satu atap dengan pria lain."
Mendengar nama Arini disebut, gerakan tangan Bagas yang hendak menuangkan kembali sake ke gelasnya mendadak terhenti. Raut wajahnya berubah datar, tanpa ada kilat kerinduan atau kecemasan seorang suami yang kehilangan belahan jiwanya.
Bagas menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu tersenyum sinis. "Arini? Pak Arman, Anda tidak perlu khawatir soal wanita itu. Bagi saya, cinta saya pada Arini sudah mati dan terkubur bersama jasad anak kami yang meninggal di rumah sakit waktu itu. Dia tidak lebih dari masa lalu yang suram."
Arman menaikkan sebelah alisnya, tampak tertarik. "Oh ya? Kupikir kau sangat mencintainya sampai rela berutang ke sana kemari dulu untuk biaya pengobatannya."
"Itu dulu, Pak. Saat anak kami mati, aku sadar bahwa Arini tidak lebih dari pembawa sial dalam hidupku. Dia terlalu lemah, terlalu banyak menangis, dan tidak bisa diandalkan untuk menghasilkan uang," ucap Bagas kejam, tanpa beban sedikit pun di wajahnya. "Tapi sekarang? Dia adalah pion terbaik yang kita miliki untuk menjatuhkan Dikta."
Arman meletakkan sumpitnya, memajukan tubuhnya ke depan meja. "Apa maksudmu? Kau tidak takut dia jatuh cinta pada Dikta? Pria itu punya segalanya untuk memikat wanita kelas bawah seperti istrimu."
"Jatuh cinta pada Dikta?" Bagas tertawa terbahak-bahak, seolah baru saja mendengar lelucon paling lucu. "Pak Arman, Anda tidak tahu seberapa bodoh Arini. Dia itu wanita yang dikendalikan oleh rasa bersalah. Sampai detik ini, dia mengira aku sedang mendekam di dalam sel tahanan."
Arman mengernyitkan dahi, meletakkan gelas sakenya dengan ketukan pelan. "Maksudmu, dia tidak tahu kalau kasusmu sudah selesai?"
Bagas menggeleng pesat, matanya berkilat licik. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Arman, lalu berbisik dengan nada yang sangat puas.
"Pak Arman, dengarkan ini dengan baik. Bagas itu tidak di penjara. Ia hanya membohongi Arini saja. Aku tidak pernah sedetik pun menginjakkan kaki di dalam sel tahanan."
Arman tersentak kecil, lalu menatap Bagas dengan tatapan takjub. "Kau... tidak pernah ditangkap?"
"Sama sekali tidak!" Bagas terbahak lagi, meneguk sakenya dengan rakus. "Surat penangkapan dari kepolisian yang membuatnya menangis histeris malam itu, drama bahwa aku digebuki petugas, semuanya adalah skenario palsu yang aku rancang bersama orang dalam yang kubayar menggunakan sisa uangku. Aku sengaja membohonginya mentah-mentah!"
"Untuk apa kau melakukan kebohongan sejauh itu pada istrimu sendiri?" tanya Arman penasaran.
"Agar dia merasa terdesak, Pak! Agar dia merasa bersalah, cemas, dan ketakutan setengah mati memikirkan suaminya membusuk di penjara akibat utang biaya rumah sakit anak kami," jelas Bagas, senyumnya tampak begitu mengerikan di bawah temaram lampu. "Aku tahu persis watak Arini. Dia itu wanita kolot yang sangat patuh pada suaminya. Kalau aku tidak berpura-pura menjadi korban yang malang dan dizalimi, mana mau dia menjual harga dirinya menjadi ibu susu di penthouse Dikta?"
Bagas menuangkan kembali sake ke gelas Arman dengan tangan yang tampak santai. "Dia bersedia menandatangani kontrak gila itu karena dia pikir uang muka ratusan juta dari Dikta digunakan ibuku untuk membayar jaminan kebebasanku. Padahal uang jaminan itu tidak pernah ada! Aku melenggang bebas di luar sini menikmati fasilitas mewah dari Anda, Pak Arman. Sementara uang dari Dikta? Sudah habis dipakai ibuku untuk belanja perhiasan dan bersenang-senang."
Arman menggeleng-gelengkan kepala, tertawa geli mendengar kelicikan pria di hadapannya. "Kau benar-benar iblis yang cerdas, Bagas. Kau membiarkan istrimu menangis darah di atas sana, menyerahkan tubuhnya untuk menyusui anak musuhku, sementara kau di sini bersulang denganku."
"Tentu saja. Biarkan wanita bodoh itu tetap di sana, merawat anak Dikta, dan menangis setiap malam merindukanku. Semakin dia merasa bersalah padaku, semakin mudah aku mengendalikannya nanti saat waktunya tiba," jawab Bagas penuh percaya diri.
"Kapan kau akan mengeksekusi rencana utama kita?" tanya Arman, matanya menyipit, kembali ke mode bisnis yang dingin. "Aku tidak membayar lima miliar hanya untuk mendengarkan drama rumah tanggamu. Aku ingin Dikta hancur. Jabatan Direktur Utama di Wijaya Corp hanya milikmu jika Dikta merangkak di kakiku."
Bagas memasang ekspresi serius, menatap Arman dengan mata yang penuh dengan keserakahan. "Malam Gala Investor, Pak. Itu adalah waktu yang paling sempurna."
"Bagaimana cara kau menembus pengamanan ring satu miliknya? Penthouse Dikta dijaga seperti pangkalan militer," tanya Arman ragu.
"Saya sudah memikirkan semuanya, Pak Arman. Uang dari Anda membuat saya bisa bergerak bebas," jawab Bagas sambil merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus dan meletakkannya di meja. "Aku dan Doni sudah mengatur semuanya. Jadi Anda tak perlu khawatir."
Arman mengangguk-angguk kecil, mulai terkesan. "Apa kau yakin dengan rencana ini? Aku tahu betul seperti apa Dikta itu? Dia itu selalu punya rencana licik," ujar Arman lagi.
"Ada petugas lift barang bernama Joko. Dia terlilit utang judi online yang besar. Aku akan memberinya uang muka seratus juta untuk mematikan sensor pengaman pada malam Gala. Saat perhatian seluruh tim keamanan Dikta fokus pada tamu-tamu VVIP di aula bawah, aku, Doni, dan beberapa jurnalis media gosip yang sudah kubayar mahal akan menyusup ke atas," papar Bagas panjang lebar, senyum liciknya semakin melebar.
"Jurnalis? Untuk apa?"
"Untuk menangkap basah Arini di kamar Dikta, Pak! Kita akan membuat narasi di media sosial dan televisi nasional bahwa pengusaha suci Dikta itu telah menculik, menyekap, dan memaksa istri orang lain menjadi budak pemuas atau ibu susu anaknya dengan ancaman. Aku akan merekam suara palsu yang diedit, seolah Dikta mengancam nyawaku. Di depan kamera, aku akan berakting sebagai suami miskin yang menderita demi merebut istrinya kembali," kata Bagas, matanya berbinar membayangkan kehancuran musuhnya. "Dikta itu temperamental jika menyangkut anaknya. Jika aku memprovokasinya di depan kamera, dia pasti akan memukulku. Dan boom! Live streaming penganiayaan itu akan menghancurkan reputasinya dalam hitungan detik. Saham perusahaannya akan anjlok, investor akan lari, dan dewan komisaris akan menendangnya dari kursi CEO."
Arman Wijaya terdiam sejenak, lalu tawa menggelegar keluar dari mulutnya. Ia menepuk bahu Bagas dengan keras. "Luar biasa! Kau benar-benar memanfaatkan istrimu sebagai umpan. Kasihan sekali Arini, dia mengorbankan tubuh dan air matanya di atas sana, tidak tahu kalau suaminya sedang merencanakan neraka untuknya."
Bagas ikut tertawa, menyambut dentingan gelas Arman dengan kepuasan. "Di dunia ini tidak ada yang gratis, Pak Arman. Arini harus membayar harganya karena telah melahirkan anak yang lemah hingga mati. Sekarang, biarlah dia berguna sedikit untuk masa depanku."