Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25— Rapat Aliansi
Berita tentang pertemuan dengan Penjaga World Tree dan pengungkapan tentang Fragmen Darah Primordial menyebar cepat di kalangan petinggi Sylvariel Kingdom dan delegasi Heavenly Sword Sect.
Rapat darurat segera diadakan di ruang pertemuan istana, kali ini dengan kehadiran yang lebih luas—Raja Sylvariel, Sect Master Aldric, beberapa penasihat senior dari kedua belah pihak, dan tentu saja Kael serta Seraphina sebagai sumber informasi utama tentang apa yang telah terungkap.
"Jika informasi ini benar," Raja Sylvariel berkata dengan wajah serius setelah mendengarkan laporan lengkap, "maka ancaman yang kita hadapi jauh lebih kompleks dari sekadar satu individu berambisi berlebihan. Kita berbicara tentang kemungkinan kebangkitan kekuatan yang bisa mengubah tatanan dunia secara fundamental."
"Pertanyaannya sekarang," Aldric menambahkan, "adalah berapa banyak fragmen lain yang mungkin sudah dikumpulkan Dravos, dan di mana fragmen-fragmen itu mungkin tersembunyi."
"Aku memiliki beberapa catatan kuno di perpustakaan kerajaan yang mungkin menyinggung tentang legenda Darah Primordial," Raja Sylvariel menawarkan.
"Meski sebagian besar dianggap sebagai mitos belaka sebelum hari ini, mungkin ada petunjuk berharga yang tersembunyi di dalamnya."
"Aku juga ingat beberapa fragmen informasi dari catatan klan vampir kuno," Seraphina menambahkan. "Meski sebagian besar arsip itu mungkin sudah hancur atau hilang setelah seribu tahun, mungkin masih ada salinan yang tersimpan di suatu tempat."
Diskusi berlanjut selama berjam-jam, membahas berbagai kemungkinan dan strategi.
Salah satu kesimpulan utama yang muncul adalah pentingnya memperluas jaringan aliansi lebih jauh, tidak hanya antara Valtherion dan Sylvariel, tetapi juga melibatkan kerajaan-kerajaan lain yang mungkin memiliki informasi atau sumber daya berharga.
"Fenrir Kingdom mungkin memiliki catatan tentang fragmen yang berhubungan dengan kekuatan fisik atau naluri primal," Aldric menyarankan, mengingat reputasi Beastman sebagai penjaga tradisi kuno yang berhubungan dengan kekuatan alam liar.
"Ragna Fenrir, yang bertarung melawan Kael di turnamen, mungkin bisa membantu membuka jalur komunikasi dengan kerajaannya."
"Dan Drakoria Empire," Lyra menambahkan, "sebagai kerajaan Dragonkin, mungkin memiliki pengetahuan tentang fragmen yang berhubungan dengan kekuatan elemen murni, mengingat naga secara tradisional dianggap sebagai salah satu manifestasi awal kekuatan elemental di dunia ini."
Kael mendengarkan diskusi itu dengan seksama, menyadari bahwa perjalanannya di Elyndra akan segera membawanya jauh melampaui yang pernah dia bayangkan—bukan hanya untuk menjadi kuat secara pribadi, tetapi untuk menjadi bagian dari upaya yang jauh lebih besar untuk melindungi seluruh dunia dari ancaman yang telah lama tersembunyi.
"Aku akan mengirim pesan kepada Ragna," katanya akhirnya, "meminta bantuannya untuk membuka komunikasi dengan Fenrir Kingdom."
"Dan aku akan mencoba menghubungi kontak lama di Drakoria," Seraphina menambahkan.
"Meski hubungan antara vampir dan Dragonkin tidak selalu harmonis, ada beberapa individu yang mungkin masih mengingat hutang budi lama denganku."
Rapat itu berakhir dengan rencana yang lebih jelas: membangun aliansi seluas mungkin di antara kerajaan-kerajaan utama Elyndra, mengumpulkan informasi tentang fragmen Darah Primordial yang mungkin tersembunyi, dan secara bersamaan terus memperkuat kekuatan Kael sebagai garis pertahanan utama jika konfrontasi langsung dengan Dravos menjadi tidak terhindarkan.
Setelah rapat resmi berakhir, Kael menemukan waktu untuk berjalan-jalan sendirian di taman istana Sylvariel, mencoba mencerna beban tanggung jawab baru yang terus bertambah di pundaknya.
Lyra menemukannya di sana, duduk di bawah pohon besar yang cabang-cabangnya bersinar lembut dengan cahaya keemasan alami.
"Berat, bukan?" katanya, duduk di sampingnya tanpa diminta. "Menyadari bahwa dirimu sendiri mungkin menjadi kunci untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah kau bayangkan."
"Sangat berat," Kael mengakui jujur.
"Beberapa bulan lalu, aku hanya mencoba bertahan hidup di hutan yang mencoba membunuhku setiap hari. Sekarang aku mungkin menjadi kunci untuk mencegah kehancuran seluruh dunia."
"Kau tidak sendirian dalam menanggung beban ini," Lyra berkata dengan lembut, menyentuh tangannya dengan gestur penuh empati.
"Kau punya Seraphina, punya sekutu-sekutu yang terus bertambah, dan sekarang punya dukungan dari kerajaan-kerajaan yang bersedia bekerja sama untuk menghadapi ancaman ini bersama."
Kael menatapnya, menghargai kehangatan dan pengertian yang selalu dia tunjukkan sejak pertama kali mereka bertemu di turnamen. "Terima kasih, Lyra. Untuk semuanya—dukunganmu, kebijaksanaanmu, dan persahabatan yang kau tawarkan."
"Persahabatan," Lyra mengulang kata itu dengan senyum tipis yang sulit dibaca, matanya menatap ke arah lain sejenak sebelum kembali menatapnya. "Ya, tentu saja."
Ada momen canggung singkat di antara mereka, sesuatu yang tidak sepenuhnya terucapkan namun terasa jelas di udara.
Kael, meski tidak sepenuhnya memahami kompleksitas perasaan yang mulai berkembang di sekitarnya—baik dari Lyra maupun dari Seraphina—memilih untuk tidak mendesak lebih jauh, menyadari bahwa dia belum siap untuk menghadapi kerumitan emosional semacam itu di tengah ancaman besar yang sedang mereka hadapi.
"Aku harus kembali berlatih di grove," katanya akhirnya, berdiri dengan sedikit canggung.
"Waktu kita terbatas, dan aku ingin memanfaatkan setiap kesempatan sebaik mungkin sebelum kita harus kembali ke Grandis."
"Tentu," Lyra menjawab, tersenyum meski ada sesuatu yang tersembunyi di balik ekspresinya.
"Aku akan menemanimu jika kau tidak keberatan."
Mereka berjalan bersama kembali menuju grove, dan meski percakapan mereka kembali ke topik yang lebih ringan tentang kultivasi dan strategi, Kael tidak bisa sepenuhnya mengabaikan kesadaran baru bahwa hidupnya di Elyndra telah menjadi jauh lebih kompleks dari sekadar pertarungan melawan monster atau bahkan Dravos sekalipun—melibatkan jaringan hubungan dan tanggung jawab yang terus berkembang dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Pesan yang dikirim kepada Ragna mendapat balasan lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun, datang hanya empat hari setelah burung sihir dikirim dengan permintaan bantuan untuk membuka jalur komunikasi dengan Fenrir Kingdom.
Balasan itu, berbeda dari surat formal Lyra sebelumnya, ditulis dengan gaya yang jauh lebih langsung dan penuh semangat khas Ragna sendiri.
*Kael,*
*Mendengar tentang ancaman yang kau hadapi membuat darahku mendidih. Aku sudah bicara dengan ayahku, Raja Fenrir, dan dia setuju untuk menerima kunjunganmu secara langsung. Lebih dari itu, dia penasaran untuk bertemu langsung dengan pemuda yang berhasil mendorongku sejauh yang kau lakukan di turnamen.*
*Datanglah ke Frostgard secepat yang kau bisa. Aku sudah tidak sabar menunjukkan kepadamu bagaimana Beastman menyambut sekutu sejati.*
*Ragna*
Kael tersenyum membaca surat itu, menghargai keterusterangan yang menjadi ciri khas Ragna sejak pertama kali mereka bertemu.
"Sepertinya kita akan mengunjungi Frostgard selanjutnya," katanya kepada Seraphina dan yang lainnya yang berkumpul untuk membahas perkembangan terbaru.
"Perjalanan ke wilayah utara tidak akan mudah," Tetua Marcus memperingatkan, mempelajari peta yang menunjukkan jarak antara Sylvaria dan Frostgard.
"Medan pegunungan bersalju, dan Fenrir Kingdom dikenal memiliki iklim yang jauh lebih keras dibanding wilayah yang pernah kita kunjungi sebelumnya."
"Aku sudah terbiasa dengan medan sulit," Kael menjawab dengan senyum percaya diri, mengingat pengalamannya di Death Forest dan Pegunungan Aschen.
Setelah berpamitan dengan Raja Sylvariel dan berterima kasih atas keramahan luar biasa yang telah mereka terima selama kunjungan di Sylvaria, rombongan—kini juga disertai dua kultivator Elf yang ditugaskan Raja Sylvariel untuk membantu misi aliansi—memulai perjalanan panjang menuju utara.
"Aku akan merindukan grove itu," Kael berkata saat mereka meninggalkan perbatasan Sylvaria, merasakan sedikit kehilangan meninggalkan tempat yang telah memberikan kemajuan luar biasa bagi kultivasinya.
"Kau selalu bisa kembali," Lyra menjawab, yang telah memutuskan untuk turut serta dalam misi diplomatik ke Frostgard sebagai perwakilan resmi Sylvariel Kingdom. "Pintu Sylvaria akan selalu terbuka untukmu, Kael."
Perjalanan menuju Frostgard memakan waktu delapan hari, medan yang mereka lalui secara bertahap berubah dari hutan hijau subur menjadi padang tundra yang semakin dingin, dan akhirnya pegunungan bersalju yang menjulang tinggi dengan angin kencang yang menusuk tulang meski mereka semua telah mengenakan pakaian hangat yang disediakan khusus untuk perjalanan ini.
"Beastman benar-benar hidup di lingkungan yang keras," Aria berkomentar sambil menggigil, mencoba mempertahankan kehangatan tubuhnya di tengah badai salju ringan yang mereka lalui.
"Lingkungan keras menciptakan jiwa yang kuat," sebuah suara familiar tiba-tiba menyahut dari kejauhan, dan mereka semua menoleh untuk melihat Ragna sendiri berdiri di atas batu besar, mengenakan zirah kulit tebal yang jauh berbeda dari penampilannya di turnamen, namun senyum lebar khasnya tidak pernah berubah.
"Ragna!" Kael menyapa dengan gembira, terkejut namun senang melihat kedatangannya yang tidak terduga jauh dari ibu kota Fenrir.
"Aku tidak akan membiarkan sekutu baru tersesat di wilayahku sendiri," Ragna berkata sambil melompat turun dari batu itu dengan gerakan anggun khas Beastman, mendarat tepat di depan mereka.
"Ikuti aku. Ibu kota masih setengah hari perjalanan lagi, tapi aku tahu jalan pintas yang akan menghemat banyak waktu."
Dia memimpin mereka melalui jalur tersembunyi yang jelas hanya diketahui oleh penduduk asli wilayah itu, melewati celah-celah gunung yang sempit namun jauh lebih terlindung dari angin kencang dibanding jalur utama.
Sepanjang perjalanan, Ragna berbicara dengan antusias tentang budaya dan tradisi Fenrir Kingdom, menjelaskan sistem klan yang kompleks di antara berbagai jenis Beastman—Wolf, Fox, Tiger, Bear, dan Cat—yang semuanya hidup di bawah pemerintahan terpadu Raja Fenrir namun mempertahankan identitas dan tradisi unik masing-masing klan.
"Klanku sendiri, Wolf, secara tradisional memegang posisi kepemimpinan tertinggi," Ragna menjelaskan dengan bangga, "meski itu tidak berarti klan lain tidak memiliki pengaruh signifikan dalam pemerintahan kerajaan."
Ketika mereka akhirnya mencapai ibu kota Fenrir—sebuah kota yang dibangun dengan cerdik di antara formasi bebatuan alami dan gua-gua besar yang memberikan perlindungan dari cuaca ekstrem, namun tetap mempertahankan estetika yang mencerminkan kekuatan dan ketahanan khas Beastman—Raja Fenrir sendiri sudah menunggu di gerbang utama untuk menyambut kedatangan mereka.
Raja Fenrir adalah sosok yang mengesankan, tinggi besar dengan ciri-ciri serigala yang lebih jelas terlihat dibanding putrinya, bulu abu-abu kehitaman menutupi sebagian lengan dan lehernya, dan matanya yang kuning menyala menatap tajam ke arah rombongan yang mendekat.
"Jadi kau pemuda yang berhasil mengalahkan putriku," Raja Fenrir berkata dengan suara berat yang bergema, menatap Kael dengan penilaian yang jelas dan langsung, khas gaya Beastman yang tidak suka berbasa-basi berlebihan.
"Itu pertarungan yang sangat sengit, Yang Mulia," Kael menjawab dengan hormat namun tanpa rasa takut berlebihan. "Putri Ragna adalah lawan yang luar biasa."
Raja Fenrir tertawa keras, suara tawanya bergema di seluruh area gerbang. "Jawaban yang jujur dan rendah hati. Aku suka itu."
Dia melangkah maju, menepuk bahu Kael dengan kekuatan yang hampir membuatnya terhuyung.
"Selamat datang di Frostgard, Kael dari Heavenly Sword Sect. Mari kita bicara tentang ancaman yang kalian hadapi, dan bagaimana kekuatan Beastman bisa membantu menghadapinya."