NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kompak

Subuh di Darunnajah biasanya ramai oleh suara Ning Ummah yang membangunkan santriwati putri satu per satu dengan senter kecilnya. Tapi subuh itu, asrama putri sepi dari suara Ning Ummah.

Jam 05.00, Ning Ummah sudah bangun, sudah pakai mukena putihnya, sudah mau keluar dari Ndalem kecil untuk mengambil ember dan sapu lidi seperti biasa. Tapi begitu pintu Ndalem dibuka, di depan pintu sudah berdiri aku, Ning Latifah, dan dua santriwati senior, Mba Iza dan Mba Husna.

"Ning Ummah mau kemana?" tanya Latifah dengan suara pelan tapi tegas.

Ning Ummah agak kaget, "Mau... mau ke asrama putri, jam segini sudah harus..."

Aku langsung maju, menggandeng tangan Ning Ummah yang dingin itu.

"Ning, mulai hari ini yang ngurus asrama putri biar Sopiah sama Latifah dulu ya. Gus Azam dawuh, Ning Ummah istirahat dulu di Ndalem."

Ning Ummah menggeleng cepat, matanya langsung berkaca-kaca. "Piah... jangan begitu... Ummah masih kuat... kalau Ummah gak ngurus asrama, Ummah mau ngapain? Ummah malah kepikiran terus..."

Itulah Ning Ummah. Bahkan di saat sakitnya, yang dia pikirkan tetap santriwatinya.

Aku menatapnya, dan Latifah menatapku. Kami sudah janjian semalam. Kami tidak akan membiarkan Ning Ummah mengurus asrama putri yang lembab, yang harus naik turun tangga, yang harus marah-marah karena santriwati yang telat bangun. Tidak untuk kondisi Ning Ummah yang baru ketahuan sakit 3 bulan dan masih harus cek lagi ke rumah sakit kota.

"Ning," bisikku sambil memeluk bahunya, "Justru karena Ning Ummah sayang sama santriwati, Ning harus sehat dulu. Gimana mau ngurus 200 santriwati kalau Ningnya sendiri pucat begini? Santriwati butuh Ning Ummah yang sehat, bukan Ning Ummah yang memaksakan diri."

Latifah ikut menimpali, dia yang paling muda, tapi kalau soal ketegasan dia nomor satu. "Betul kata Ning Sopiah, Mba Ummah. Mba Iza dan Mba Husna sudah saya bagi jadwal piket. Asrama aman. Mba Ummah di Ndalem saja, sarapan nanti dianter. Ini perintah Gus juga."

Mendengar kata Gus, Ning Ummah terdiam. Dia tahu, kalau sudah Gus Azam yang dawuh, tidak ada yang bisa membantah.

Dari kejauhan, Gus Azam datang dari masjid dengan peci hitamnya masih terpasang, sarungnya masih terlipat rapi. Melihat kami berkerumun di depan Ndalem kecil, Gus Azam langsung paham.

Gus Azam mendekat, menatap Ning Ummah yang masih berdiri memegang gagang pintu dengan ragu.

"Ummah," panggil Gus Azam lembut, tapi semua santri yang di situ langsung diam dan menunduk. Suara Gus yang lembut itu tetap wibawa. "Masuk dulu. Angin subuh gak baik untuk Ummah."

Ning Ummah akhirnya masuk lagi, duduk di karpet ijo botol. Kami semua ikut masuk. Ndalem kecil yang biasanya hanya untuk satu orang, pagi itu jadi penuh, sesak tapi hangat.

Gus Azam duduk di depan Ning Ummah, aku di samping kanan Ning Ummah, Latifah di samping kiri. Mba Iza dan Mba Husna pamit kembali ke asrama.

"Gus, Ummah bosen di kamar terus..." keluh Ning Ummah pelan seperti anak kecil. Ini pertama kalinya kami melihat Ning Ummah yang biasanya tegar dan mandiri, mengeluh manja seperti ini. Dan justru itu membuat kami lega, karena akhirnya Ning Ummah mau jujur kalau dia tidak baik-baik saja.

Gus Azam tersenyum, senyum yang sangat tulus. "Bosennya ditahan dulu ya, Ratu nya Darunnajah. Hari ini kita ke rumah sakit di kota. Sopiah temani Ummah."

Aku langsung mengangguk kencang. "Ngih Gus, baiklah. Sopiah akan menemani Ning Ummah, tentunya dengan disertai Gus Azam juga. Sopiah sudah siapkan berkas-berkasnya, KTP Ning Ummah, kartu berobat, hasil lab kemarin yang terlipat itu, semua sudah Sopiah masukin map coklat."

Ning Ummah menatapku, matanya berkaca-kaca. "Piah... kamu repot..."

Aku langsung menggeleng, menggenggam tangan Ning Ummah erat.

"Ning Ummah, dengerin Sopiah ya," kataku, suaraku mulai bergetar karena haru. "Waktu Sopiah baru datang ke Darunnajah sebagai istri kedua Gus, siapa yang pertama kali ngajarin Sopiah cara ngelola dapur pondok? Ning Ummah. Siapa yang ngajarin Sopiah cara ngadepin wali santri yang cerewet? Ning Ummah. Siapa yang waktu Sopiah demam 3 hari gak bangun, yang kompresin Sopiah semaleman? Juga Ning Ummah."

Air mataku jatuh, Latifah juga ikut sesenggukan.

"Jadi sekarang giliran Sopiah. Biarin Sopiah yang gantian jaga Ning Ummah. Ini bukan repot, Ning. Ini... ini hutang budi Sopiah yang gak akan pernah lunas."

Gus Azam yang mendengar itu, matanya memerah. Ia menatap kami berdua, dua istrinya yang saling menggenggam tangan.

"Ummah lihat kan?" kata Gus Azam pelan, "Di Darunnajah ini, Ummah bukan hanya istri Gus. Ummah adalah kakak untuk Piah dan Latifah. Ummah adalah ibu untuk ratusan santriwati. Jadi kalau Ummah sakit, yang sedih bukan cuma Gus. Semua sedih."

Ning Ummah akhirnya menangis pelan, bukan tangis sedih, tapi tangis lega karena merasa begitu dicintai. Ia mengangguk.

Jam 07.30, mobil Innova hitam pesantren sudah siap di depan Ndalem. Sopirnya, Kang Asep, sudah mengecek bensin.

Sebelum berangkat, kejadian paling mengharukan terjadi. Santriwati putri, sekitar 30 anak, berbaris di depan Ndalem kecil. Mereka tidak tahu detail sakitnya Ning Ummah, mereka hanya tahu Ning Ummah mau berobat ke kota.

"Ning Ummah cepet sembuh ya... asrama sepi tanpa Ning Ummah," kata Syifa, santri kecil kelas 1 Tsanawiyah yang paling dekat dengan Ning Ummah, sambil menyerahkan bunga kertas yang dia buat semalam.

Ning Ummah yang melihat itu, tidak kuat lagi. Ia memeluk Syifa, memeluk satu per satu santriwatinya.

Gus Azam, aku, dan Latifah hanya melihat dari belakang, hati kami hangat sekali.

Di dalam mobil, aku sudah menyiapkan posisi. Aku minta Gus Azam yang nyetir sendiri, tidak usah Kang Asep. Jadi Gus Azam di depan nyetir, aku dan Ning Ummah di tengah. Aku sengaja bawa bantal leher dan selimut kecil.

"Ya tentu aku akan menemani kalian kemana pun agar Ning Ummah segera sehat kembali," bisikku sambil menyelimuti kaki Ning Ummah yang dingin.

Sepanjang perjalanan ke kota, yang biasanya 1,5 jam, Gus Azam sengaja nyetir pelan, menghindari lubang. Setiap ada polisi tidur, Gus Azam bilang, "Pelan-pelan ya, ada Ratu yang lagi istirahat di belakang."

Ning Ummah yang tadinya tegang, jadi tertawa kecil. Tawa pertamanya setelah 3 hari menangis terus.

Aku memijat pelan tangan Ning Ummah, "Ning, nanti di rumah sakit jangan takut ya, ada Gus dan ada Sopiah. Kita hadapi bareng. Kalau hasilnya nanti butuh pengobatan panjang, kita jalani bareng. Darunnajah kuat karena kita kompak, kan?"

Ning Ummah menatapku, lalu menatap Gus Azam dari spion tengah yang juga menatapnya dengan penuh cinta.

"Iya Piah... makasih ya... makasih sudah mau temenin Ummah yang rusak ini..."

Aku langsung menutup mulut Ning Ummah dengan lembut.

"Jangan pernah bilang rusak lagi ya, Ning. Ning Ummah itu utuh. Sangat utuh. Ning Ummah itu Berliannya Darunnajah. Dan Berlian itu, kalau tergores sedikit, kita gosok bareng-bareng sampai kinclong lagi."

Gus Azam dari depan menimpali, "Betul kata Piah. Dan Gus adalah tukang gosoknya yang paling setia."

Kami tertawa bertiga di dalam mobil itu. Tawa yang pecah di antara isak tangis yang masih sisa.

Dan Innova hitam itu pun melaju ke kota, bukan hanya membawa seorang pasien, tapi membawa sebuah keluarga kecil dari Darunnajah yang sedang berjuang bersama, saling menggenggam, saling menguatkan, agar salah satu Berlian mereka kembali sehat dan kembali pulang untuk mengurus asrama putri kesayangannya.

Karena di Darunnajah, sakit satu, sakit semua. Sehat satu, bahagia semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!