NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Menolak

Arsen seketika mengubah nada bicaranya ketika Asti datang menghampiri.

“Iya, terima kasih, Bu Asti,” ucapnya sopan.

Keira yang menyaksikan perubahan sikap itu hanya bisa terdiam. Entah mengapa, hatinya kembali terasa tidak nyaman.

Tatapannya bahkan tanpa sadar menunjukkan ketidaksukaan setiap kali melihat Arsen bersikap ramah kepada wanita tersebut.

Begitu Asti beranjak pergi, Keira segera mendekati Arsen. Ia sedikit memiringkan tubuhnya, lalu berbisik pelan agar tidak terdengar oleh mahasiswa lain.

“Ke kamar, yuk.”

Arsen langsung menoleh dengan mata membelalak. “Kamu serius?”

Keira hanya menatapnya sekilas, kemudian mengangguk kecil. “Iya. Ayo.”

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Keira berbalik dan melangkah lebih dahulu menuju rumah Pak Salim.

Arsen sempat terdiam selama beberapa saat, mencoba memahami maksud istrinya yang tiba-tiba mengajaknya pergi. Namun, pada akhirnya, ia tetap menyusul Keira.

Di tengah kesibukan para mahasiswa dan warga desa, kepergian mereka nyaris tidak menarik perhatian siapa pun.

Sementara itu, Asti masih sibuk mengatur makanan ringan dan minuman yang akan dibagikan kepada para mahasiswa.

“Pak Arsen, ini sudah selesai. Tinggal—” Ia menghentikan ucapannya ketika menoleh ke tempat pria itu sebelumnya berdiri. “Lho, Pak Arsen ke mana?”

Asti mengedarkan pandangan ke sekeliling, berusaha menemukan sosok Arsen di antara orang-orang yang masih sibuk bekerja.

Namun, pria itu sudah tidak terlihat.

Padahal, beberapa saat sebelumnya, mereka masih sempat berbincang.

Asti mengernyit heran. Ia tidak menyangka Arsen akan pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.

Meski merasa sedikit penasaran, ia akhirnya mengembuskan napas dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Barangkali ada urusan lain yang harus diselesaikan pria itu.

Namun, rasa ingin tahu masih tersisa di benaknya.

Di dalam kamar rumah Pak Salim, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan dengan keramaian di luar.

Arsen menutup pintu, lalu menguncinya dari dalam. Setelah itu, ia menggaruk kepalanya sekilas sambil memikirkan tingkah Keira yang mendadak mengajaknya ke kamar.

Ia kemudian berbalik dan mendapati istrinya sudah berada di dalam ruangan.

“Kamu sebenarnya mau apa?” tanyanya, menatap Keira dengan penuh rasa ingin tahu.

Keira justru melirik pintu yang baru saja dikunci oleh Arsen.

“Kenapa harus dikunci segala? Aku ngajak kamu ke sini bukan berarti mau melakukan yang aneh-aneh, tahu!” protesnya dengan nada sedikit kesal.

Arsen menghela napas pendek.

“Kalau enggak dikunci, bagaimana kalau tiba-tiba ada orang masuk? Bagaimana kalau mereka mendengar pembicaraan kita?”

Keira terdiam. Ia tidak bisa menyangkal bahwa alasan Arsen cukup masuk akal. Namun, tetap saja, tingkah pria itu membuatnya sedikit jengkel.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Keira berjalan menuju kasur tipis yang berada di tengah ruangan, kemudian duduk di tepinya.

Ia menundukkan kepala sejenak, sibuk merangkai kata-kata yang sejak tadi ingin disampaikannya.

Beberapa saat kemudian, Arsen ikut duduk di sampingnya. Ia tidak terlalu mendekat, tetapi jarak di antara mereka cukup dekat untuk membuat Keira menyadari kehadirannya.

“Jadi, ada apa?” tanya Arsen sekali lagi. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih tenang.

Keira tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia justru mengangkat wajah dan menatap Arsen cukup lama, seolah sedang berusaha menemukan sesuatu dari ekspresi pria itu.

Tatapannya tidak setajam biasanya, tetapi juga belum sepenuhnya menunjukkan kelembutan. Ada keraguan yang tertahan di sana, bercampur dengan kebingungan dan perasaan yang bahkan sulit ia pahami sendiri.

Arsen balas menatapnya, menunggu dengan sabar meskipun mulai merasa heran. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung.

Hingga akhirnya, Keira mengalihkan pandangannya dan bergumam pelan, “Enggak jadi.”

Arsen langsung menoleh tajam.

“Apa maksudmu enggak jadi?” tanyanya, jelas tidak menyukai jawaban tersebut. “Jangan bercanda, Keira. Aku enggak suka kalau kamu seperti ini.”

Keira menggigit bibir bawahnya, sementara Arsen masih menunggu penjelasan darinya.

Kini, suasana kamar yang semula tenang kembali dipenuhi rasa penasaran.

“Enggak jadi,” ulang Keira singkat. Ia terdiam sebentar sebelum menambahkan, “Aku cuma ingin ditemani ke kamar ini.”

Kalimat sederhana itu justru membuat suasana di antara mereka terasa berbeda.

Tidak ada perdebatan seperti biasanya. Tidak ada sindiran pedas ataupun adu mulut yang menjadi kebiasaan mereka. Hanya keheningan yang perlahan terasa semakin canggung.

Arsen menatap Keira lekat-lekat.

“Keira...” panggilnya lirih.

Keira tidak menjawab. Namun, ia juga tidak berusaha menjauh. Ia tetap duduk di tempatnya, membiarkan keheningan menyelimuti mereka, sementara pikirannya sendiri masih dipenuhi kebingungan.

Perlahan, Arsen mengangkat tangannya dan menyentuh tengkuk Keira dengan hati-hati. Gerakannya kali ini jauh lebih lembut daripada sebelumnya, seolah memberikan kesempatan kepada istrinya untuk menolak jika memang tidak menginginkannya.

Keira terdiam. Ia tidak menjauh, tetapi sikap diamnya juga bukan berarti Arsen boleh melakukan apa pun sesuka hati.

Arsen menarik napas pelan, kemudian mendekatkan wajahnya. Tanpa banyak bicara, ia mengecup bibir Keira.

Keira sempat terkejut. Namun, ciuman kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak terburu-buru ataupun dipenuhi luapan emosi, melainkan lembut dan perlahan, seolah Arsen sedang mencoba memahami perasaan yang selama ini tidak pernah mampu ia ungkapkan melalui kata-kata.

Mata Keira sempat terbuka lebar karena terkejut. Anehnya, kali ini ia tidak langsung mendorong Arsen menjauh.

Tidak ada tamparan ataupun bentakan seperti yang akan terjadi sebelumnya. Hanya keheningan dan perasaan asing yang perlahan memenuhi dadanya.

Di luar kamar, suara kesibukan mahasiswa yang menjalankan program KKN masih terdengar samar. Namun, di dalam ruangan itu, Keira seolah kehilangan kemampuan untuk memikirkan hal lain.

Gawat! Kenapa aku malah mulai menyukai ciuman ini? batinnya, merasa panik dengan perasaannya sendiri.

Beberapa saat kemudian, Arsen perlahan melepaskan ciuman tersebut. Napas keduanya sedikit tidak teratur. Jarak wajah mereka masih begitu dekat, membuat tatapan mereka bertemu tanpa satu pun berani memulai percakapan.

Tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya detak jantung Keira yang terasa semakin cepat, sementara Arsen menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.

Tatapan pria itu tampak lebih dalam daripada biasanya. Ada sesuatu yang seolah ingin disampaikannya, tetapi ia sendiri belum menemukan cara untuk mengungkapkannya.

Keira masih terpaku. Ia tidak lagi berusaha melawan, tetapi jauh di dalam hatinya, ia juga belum memahami apa arti semua ini bagi hubungan mereka.

Perlahan, Arsen kembali mendekat. Kali ini, wajahnya bergeser ke sisi leher Keira. Tubuh Keira seketika menegang.

“A-Arsen...” panggilnya pelan. Suaranya terdengar seperti peringatan yang nyaris kehilangan kekuatannya.

Namun, Arsen sempat mengecup sisi lehernya dengan lembut, membuat Keira tersentak dan spontan memegang lengan pria itu.

“A-ah...” Keira mengeluarkan suara kecil karena terkejut.

Sentuhan tersebut terasa begitu asing baginya. Selama ini, Arsen selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, sehingga perlakuan lembut seperti ini justru membuat Keira tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Arsen sendiri tampak larut dalam perasaannya. Seolah-olah ada sesuatu yang selama ini ia tahan, tetapi kini mulai sulit ia kendalikan.

Sementara itu, matahari di luar bersinar terik. Suara mahasiswa dan warga desa yang menjalankan aktivitas KKN masih terdengar dari kejauhan.

Namun, suasana di dalam kamar kecil itu terasa sangat berbeda. Sunyi. Tertutup. Dipenuhi ketegangan dan perasaan yang belum terungkap.

Keira memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan napasnya yang mulai tidak beraturan.

“Arsen... cukup,” ucapnya sekali lagi.

Kali ini, suaranya terdengar lebih jelas.

Bukan bentakan, tetapi juga bukan tanda bahwa ia mengizinkan Arsen melanjutkan. Keira hanya ingin pria itu memahami batas yang sedang ia coba tegaskan.

Arsen langsung menghentikan gerakannya. Ia mengangkat wajah, kemudian menatap Keira dalam diam selama beberapa detik.

“Aku enggak tahan!” ucap Arsen tiba-tiba. Karena sedari tadi sesuatu dibawah sana sudah menegang sejak kali pertama ia mendekatkan diri kepada Keira.

Keira sontak membuka matanya. “Hah?” Ia menatap suaminya dengan alis terangkat. “Maksud kamu enggak tahan apa?”

Arsen terdiam, seolah baru menyadari bahwa ucapannya telah membuat Keira semakin kebingungan.

Sementara itu, di luar rumah Pak Salim, pria pemilik rumah tersebut sedang berdiri di dekat pintu ketika melihat Asti datang menghampiri.

“Permisi, Pak Salim. Apa Pak Arsen ada di dalam?” tanya Asti sopan.

Pak Salim segera menghalangi jalan masuknya dengan sikap sedikit canggung.

“Maaf, Bu Asti. Rumah saya baru saja disemprot obat nyamuk,” jelasnya. “Sebaiknya jangan masuk dulu.”

Asti mengernyit kecil.

“Oh, begitu, Pak. Sebenarnya saya cuma mau mencari Pak Arsen. Tadi beliau tiba-tiba menghilang, jadi saya ingin memastikan apakah ada sesuatu yang perlu dibicarakan.”

Pak Salim mengangguk, berusaha tetap bersikap biasa. “Kalau begitu, mungkin Ibu bisa mencarinya nanti saja.”

Asti akhirnya mengangguk pelan. “Baiklah, Pak. Terima kasih.”

Setelah berpamitan, Asti berbalik dan meninggalkan rumah tersebut. Namun, ada sedikit kebingungan yang masih tersisa di wajahnya.

Ia hanya ingin mencari Arsen, tetapi entah mengapa, sejak tadi pria itu seolah sulit ditemukan.

Sementara Pak Salim tetap berdiri di depan pintu, memastikan Asti benar-benar sudah pergi sebelum kembali menghela napas lega.

1
Praja Nasution
lanjut trus thor!
Hosniyah Niyah
mantap lanjutkan Thor, cerita x bagus ❤❤❤💞💞💞🥰🥰🥰👌👌👌👍👍👍
Praja Nasution
Arsen ini 😭😭
Praja Nasution
❤❤❤
Praja Nasution
Kasihan kmu Kevin❤
Praja Nasution
Itu mahasiswa nya gak ada yang curiga sama sikap Arsen ke Keira kah? 😭
Praja Nasution
gengsi + gengsi, kpn jadi pasangan akur itu? 🤣
Praja Nasution
sengaja banget sih kamu Keira buat Arsen cemburu🤣
Praja Nasution
barang apa ya itu🤣🤣
Praja Nasution
cuek² gitu, ternyata Arsen perhatian yaaw🤭
Praja Nasution
bagus thor
Feronika Sari
pls update lgsung 5 eps kaa huhu seru bgt
isd: nanti author usahain ya, tapi kayaknya paling banyak 3 eps aja ya 😭😭
total 1 replies
Praja Nasution
lanjut terus ya thor
Praja Nasution
❤💪❤
Praja Nasution
❤❤❤
Praja Nasution
💪💪💪
Praja Nasution
bagus ❤
Feronika Sari
kaa sering up dong huhu galau nunggunya
isd: tiap hari author bakalan up kok, tenang aja jangan galau, intinya stay aja beb, dan jan lupa dukung author terus ya, Love you all❤😭
total 1 replies
Praja Nasution
😍😍❤
Praja Nasution
❤😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!