Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJANJIAN DAMAI BERFORMAT DOSSIER
Suara alunan musik slow jazz yang sengaja diputar dengan volume sedikit terlalu pelan mengisi seluruh ruangan kafe bergaya klasik itu. Taplak meja bermotif kotak-kotak merah putih, pelayan dengan dasi kupu-kupu yang berdiri kaku di sudut ruangan, dan aroma kopi tubruk yang dicampur dengan parfum air freshener lavender murahan. Ini adalah kafe wajib sinetron tahun 90-an, tempat di mana semua percakapan penting, perselingkuhan, dan pengumuman kehamilan selalu terjadi.
Di salah satu meja paling pojok, Vania duduk dengan postur tegak. Wajahnya datar, tatapannya tajam, dan tangannya dengan gerakan lambat namun tegas menggeser sebuah map manila tebal berwarna cokelat melintasi permukaan meja. Map itu berhenti tepat di depan wanita yang duduk di seberangnya.
Larasati menatap map itu. Bahunya bergetar hebat. Tangannya yang kecil dan halus mencengkeram erat kalung mutiara palsu di lehernya, membuat butiran-butiran putih itu beradu dan menghasilkan suara klik-klik kecil yang terdengar sangat dramatis di tengah keheningan kafe. Matanya yang besar dan berkaca-kaca menatap Vania dengan campuran antara ketakutan dan kebingungan yang sangat heroine.
"K-Kak Vania..." suara Larasati bergetar, nyaris seperti bisikan yang penuh dengan keputusasaan. "Apa... apa isinya? Apakah ini... racun? Atau surat ancaman agar aku menjauh dari Mas Raka? Aku mohon, Kak, aku tidak punya apa-apa..."
Vania menatap Larasati. Dia menatap "kamera" imajinernya yang melayang di atas pot tanaman hias plastik di sudut kafe.
Lihat kan? batin Vania pada penonton tak terlihat. Ini dia masalah utama heroine sinetron 90-an. Otaknya langsung melompat ke skenario terburuk yang paling melodramatis. Padahal ini cuma map manila biasa yang bisa dibeli di toko alat tulis seharga dua ribu rupiah. Tapi tidak, dia langsung pikir ini racun sianida. Tolonglah, Las, aku bahkan tidak punya akses ke laboratorium kimia di mansion ini.
"Larasati," ucap Vania, suaranya datar dan tanpa emosi. "Buka saja map itu."
Larasati menelan ludah. Tangannya gemetar saat meraih map manila tebal itu. Dia membukanya dengan gerakan lambat, seolah-olah dia sedang membuka peti mati yang berisi mayat kekasihnya.
Tapi yang ada di dalamnya bukanlah foto mayat, bukan pula surat ancaman yang ditulis dengan potongan koran.
Di halaman pertama, terdapat sebuah judul yang diketik dengan rapi menggunakan mesin tik, dicetak tebal, dan digarisbawahi dua kali:
PANDUAN BERTAHAN HIDUP: EDISI RAKA
Larasati berkedip. Dia menatap halaman itu, lalu menatap Vania, lalu kembali menatap halaman itu. Otaknya yang terbiasa dengan skenario air mata dan teriakan histeris jelas mengalami error saat mencoba memproses kata-kata di depannya.
"Pa... Panduan?" gumam Larasati, suaranya kehilangan nada ketakutan tadi, digantikan oleh kebingungan yang tulus. "Kenapa... kenapa kau membuatkan ini untukku? Kenapa kau melakukan ini, Kak Vania?"
Vania menatap lurus ke dalam mata Larasati. Dia tidak tersenyum. Dia tidak menunjukkan kelembutan palsu ala sinetron. Dia hanya menunjukkan kebenaran yang paling pragmatis dan paling menyakitkan.
"Karena aku ingin hidup, Las," ucap Vania pelan, namun setiap katanya terdengar jelas dan berat. "Dan kau adalah jaminan keselamatanku."
Larasati terdiam, matanya membelalak.
Vania menatap ke arah jendela kafe yang berkabut, otaknya sejenak melayang kembali ke kejadian pagi ini. Hanya beberapa jam yang lalu, dia berdiri di ruang kerja Kevin yang megah. Dia telah mencoba bernegosiasi. Dia telah mencoba menggunakan logika, data, dan alasan rasional untuk membatalkan rencana pengumuman pertunangan Kevin dengan Larasati malam itu.
Tapi Kevin tidak pernah duduk. Pria itu hanya berjalan melewatinya, menyesuaikan manset kemejanya dengan gerakan yang anggun dan arogan. Dia menatap Vania dengan senyuman yang membuat darah Vania membeku. Itu bukan senyum marah. Itu adalah senyum puas. Senyum seorang predator yang baru saja menyadari bahwa mangsanya sedang ketakutan, dan dia menikmati rasa takut itu. Kevin bangga karena dia bisa mengendalikan keadaan, mengendalikan Vania, dan mengendalikan seluruh narasi sinetron ini sesuai keinginannya. Dia beranjak pergi dengan langkah yang mantap, meninggalkan Vania sendirian di ruangan yang dingin.
Vania tahu, saat itu juga, bahwa negosiasi dengan Kevin adalah jalan buntu. Pria itu tidak akan berhenti. Dia akan menghancurkan Raka dan Larasati malam ini juga. Dan jika itu terjadi, plot akan menyimpang, dan Vania akan mati di tebing.
Jadi, jika dia tidak bisa menghentikan Kevin secara langsung, dia harus mengamankan Female Lead dan Male Lead. Dia harus memastikan Larasati dan Raka begitu bahagia, begitu solid, dan begitu tidak tergoyahkan sehingga rencana Kevin hancur dengan sendirinya. Dia harus menjadi wingwoman paling brutal dalam sejarah sinetron.
Kembali ke kafe, Vania menatap Larasati yang masih menatapnya dengan tatapan kosong.
"Raka itu Male Lead tahun 90-an, Las," lanjut Vania, suaranya kembali datar. "Dia punya rutinitas yang lebih kaku dari jadwal kereta api. Dia punya ego yang rapuh, dan dia punya pemicu mood yang sangat spesifik. Jika kau ingin bertahan hidup bersamanya, dan yang lebih penting, jika kau ingin aku bertahan hidup dari kekacauan yang akan ditimbulkan keluarga besarku, kau harus hafal isi map ini di luar kepala."
Larasati perlahan mulai memahami. Wajahnya yang tadi pucat karena takut, kini berubah menjadi merah padam karena malu dan bingung. "K-Kak Vania... ini... ini isinya apa saja?"
"Buka saja halamannya," perintah Vania, menyeruput orange juice-nya dengan tenang.
Larasati membalik halaman pertama.
Halaman kedua berisi jadwal harian Raka yang ditulis dengan detail yang mengerikan. 06.00: Jogging. 07.00: Mandi air dingin. 07.30: Sarapan roti tawar dan telur rebus (jangan kasih garam, dia benci garam). 08.00: Berangkat ke kantor.
Halaman ketiga berisi daftar makanan favorit Raka dan makanan yang dia benci. Favorit: Soto ayam tanpa seledri. Benci: Semua makanan yang berwarna ungu.
Halaman keempat berisi "Daftar Kata-Kata Ajaib". Gunakan kata-kata ini saat Raka merasa tidak dihargai oleh Pak Darmawan: "Mas Raka paling bertanggung jawab", "Mas Raka adalah tulang punggung keluarga", "Mas Raka, aku bangga padamu".
Larasati menatap halaman-halaman itu, matanya semakin membelalak. Ini bukan sekadar panduan. Ini adalah dossier intelijen tingkat tinggi. Ini adalah hasil observasi yang sangat mendalam, sangat teknis, dan sangat... gila.
"Kak Vania..." Larasati menatap Vania, suaranya bergetar, tapi kali ini bukan karena takut. "Kau... kau mengamati Mas Raka sedetail ini?"
"Aku mengamati semua orang di mansion ini, Las. Itu cara aku bertahan hidup," jawab Vania datar. "Sekarang, baca halaman selanjutnya. Ada bab khusus tentang cara menangani Om Reza saat dia mulai berbicara soal saham."
Larasati mengangguk pelan, masih dalam keadaan syok. Dia membalik kembali ke halaman pertama, ingin membaca ulang judulnya untuk memastikan dia tidak salah baca.
Matanya menatap tulisan tebal di bagian paling atas halaman itu. Tapi kali ini, dia melihat catatan kaki yang ditulis dengan tinta merah di bagian paling bawah halaman, tepat di bawah judul.
Tulisan itu berbunyi:
"PERINGATAN: JANGAN PERNAH MEMAKAI WARNA MERAH SAAT MAKAN MALAM BERSAMA KELUARGA BESAR."
Larasati terdiam. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Perlahan, dengan leher yang kaku, dia menunduk menatap gaun yang sedang dia pakai hari ini. Gaun itu berwarna merah marun. Cerah. Mencolok. Dan sangat, sangat merah.
Vania, yang sedang menatap Larasati dari seberang meja, menghela napas panjang. Dia meletakkan gelasnya di atas meja dengan suara tak yang berat.
"Ya Tuhan, tolong," gumam Vania, memijat pelipisnya. "Kita mulai dari nol lagi."
BERSAMBUNG...