Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Detektif Dadakan
Minggu ketiga bekerja di Arka Corporation, Kirana resmi berubah menjadi detektif dadakan.
Rasa penasarannya terhadap sosok di balik kebaikan-kebaikan misterius itu semakin menjadi, terutama setelah kejadian terbaru: sebuah obat pereda nyeri lengkap dengan segelas air hangat muncul di mejanya tepat di hari ia mengeluh sakit kepala pada salah satu rekan kerja, padahal keluhan itu hanya ia ucapkan sekilas, tanpa ada niat serius meminta bantuan siapa pun.
"Ini beneran aneh, Dew," Kirana berbisik lewat telepon saat jam istirahat, bersembunyi di tangga darurat agar tidak ada yang mendengar percakapannya. "Kayak ada yang ngawasin aku terus-terusan."
"Udah, coba pasang perangkap," usul Dewi dengan nada serius yang terdengar konyol.
"Bilang aja ke orang-orang di kantor kalau besok kamu pengen banget makan cokelat tertentu, terus liat besoknya ada yang muncul apa nggak."
Kirana tertawa mendengar ide itu, tapi entah kenapa ia benar-benar mempertimbangkannya.
Keesokan harinya, dengan setengah iseng setengah serius, ia berkata cukup keras di dekat meja kerjanya, seolah bicara pada diri sendiri, "Duh, pengen banget minum cokelat panas, dingin banget hari ini."
Ia tidak berharap apa pun akan terjadi. Tapi ketika kembali dari toilet siang itu, sebuah gelas cokelat panas yang masih mengepul tergeletak rapi di mejanya, aromanya menguar menggoda.
Kirana menatap gelas itu dengan mata membulat, jantungnya berdegup kencang antara takjub dan sedikit ngeri. Ini beneran ada yang ngawasin aku diam-diam.
Ia melirik sekeliling ruangan, mencoba mencari petunjuk siapa pun yang mungkin terlihat mencurigakan, tapi semua orang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing seperti biasa, tidak ada yang menatap balik dengan tatapan bersalah atau gugup.
Sore harinya, kebetulan Kirana harus mengantarkan beberapa dokumen ke lantai eksekutif atas perintah Bu Marlina. Saat melintasi koridor menuju ruangan Rangga, ia berpapasan dengan pria itu yang baru saja keluar dari ruang rapat, masih mengenakan jas rapinya dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Kirana," sapa Rangga singkat, menganggukkan kepala sekilas.
"Pak," Kirana membalas sopan, meski jantungnya berdebar aneh setiap kali berpapasan dengan atasannya itu—sesuatu yang mulai sering terjadi belakangan, meski ia berusaha keras mengabaikannya.
Rangga hendak berlalu, tapi tiba-tiba berhenti, menatap Kirana sejenak. "Kudengar dari Bu Marlina, tugas kamu sekarang udah lebih terbagi rata?"
Kirana mengangguk. "Iya, Pak. Makasih banyak, katanya Bapak yang minta ke Bu Marlina soal itu."
"Itu memang tugas saya, memastikan semua staf bekerja dalam beban yang wajar," jawab Rangga datar, meski ada sesuatu di matanya yang sulit Kirana artikan.
Kirana, dengan keberanian yang entah datang dari mana, akhirnya memutuskan bertanya sesuatu yang sudah mengganjal pikirannya beberapa hari terakhir. "Pak, boleh saya tanya sesuatu?"
Rangga mengangkat alis, menunggu.
"Belakangan ini, ada beberapa... barang aneh yang muncul di meja saya. Bekal makan siang, payung, pulpen, obat sakit kepala, bahkan tadi siang cokelat panas. Semuanya tanpa nama pengirim." Kirana menatap Rangga lekat-lekat, mencoba membaca reaksinya. "Bapak tahu sesuatu soal itu, nggak?"
Untuk sepersekian detik, Kirana melihat sesuatu berkelebat di mata Rangga—sesuatu yang mirip kegugupan, meski segera tertutup rapi oleh ekspresi datarnya yang biasa. "Kenapa kamu tanya saya soal itu?"
"Karena... entahlah, Pak. Cuma perasaan aja," Kirana menjawab jujur, meski terdengar konyol diucapkan.
"Saya CEO perusahaan ini, Kirana. Saya nggak punya waktu untuk mengurus hal-hal sekecil itu," jawab Rangga, nadanya kembali dingin dan menjaga jarak, meski ada sesuatu yang terdengar sedikit terlalu buru-buru dalam cara ia menjawab.
"Baik, Pak. Maaf kalau pertanyaan saya lancang," Kirana mundur, meski keraguan di hatinya justru semakin besar mendengar jawaban itu.
Rangga mengangguk singkat, lalu berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Kirana yang berdiri termenung di koridor, semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan pria itu, meski ia belum berani menyimpulkan apa artinya.
Malam itu, di ruang kerjanya yang sepi, Rangga duduk sendirian menatap jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta, pikirannya masih terpaku pada percakapan singkat tadi sore. Ia menghela napas panjang, menggeleng pada dirinya sendiri.
Kenapa aku jadi seceroboh ini, batinnya, mengingat bagaimana ia nyaris kelepasan mengakui semuanya di depan Kirana tadi. Ia yang biasanya begitu terkontrol, begitu ahli menyembunyikan emosi di balik topeng profesionalnya, kini merasa seperti remaja canggung setiap kali berhadapan dengan gadis satu itu.
Ia mengingat kembali momen pertama mereka bertemu—kopi yang tumpah, wajah panik Kirana yang lucu tanpa dibuat-buat, keberaniannya menatap balik meski jelas ketakutan. Ia mengingat cara Kirana membela dirinya sendiri dengan jujur saat masalah dengan Sandra, tanpa berusaha menjilat atau mencari muka di hadapan atasan.
Ada sesuatu pada gadis itu yang berbeda dari siapa pun yang pernah Rangga temui—sesuatu yang jujur, yang tidak dibuat-buat, yang membuatnya penasaran lebih dari yang pernah ia rasakan pada siapa pun sebelumnya.
Ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari Bu Marlina: "Pak, besok jadwal rapat direksi jam sembilan pagi. Sudah saya siapkan bahannya."
Rangga membalas singkat, lalu kembali menatap jendela, pikirannya masih melayang. Ia tahu, sebagai CEO, ia seharusnya menjaga jarak profesional dengan seluruh karyawannya, terlebih dengan staf junior yang bahkan belum genap sebulan bekerja. Tapi entah kenapa, setiap kali ia mencoba menjauh, hatinya justru semakin tertarik untuk mendekat—diam-diam, lewat cara-cara kecil yang ia harap tidak akan pernah terbongkar.
Aku harus lebih hati-hati, pikirnya, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu peringatan itu mungkin sudah terlambat untuk diikuti.
Sementara itu, di kamar kosnya yang sempit, Kirana berbaring menatap langit-langit, pikirannya juga dipenuhi bayangan wajah datar namun entah kenapa terasa hangat milik atasannya itu. Ia menggeleng pada dirinya sendiri, mencoba menepis pikiran-pikiran aneh yang mulai mengganggu.
Nggak mungkin, Kirana. Dia atasan kamu. Lagian orangnya dingin banget, mana mungkin dia yang ngasih-ngasih hadiah misterius itu.
Tapi semakin ia mencoba meyakinkan diri sendiri, semakin besar pula rasa penasaran—dan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih hangat dan lebih membingungkan—yang mulai tumbuh di hatinya setiap kali memikirkan sosok CEO yang jutek itu.
ini novel saya pertama🥰🥰