Rumah?
Ayra tidak memiliki rumah untuk benar-benar pulang. Rumah yang seharusnya menjadi pelukan hangat justru terasa seperti dinding-dinding dingin yang membelenggunya. Tempat yang semestinya menjadi surga perlindungan malah berubah menjadi neraka sunyi yang mengikis jiwanya.
Siapa sangka, rumah yang katanya tempat terbaik untuk pulang, justru menjadi penjara tanpa jeruji, tempat di mana harapan perlahan sekarat.
Nyatanya, rumah tidak selalu menjadi tempat ternyaman. Kadang, ia lebih mirip badai yang mencabik-cabik hati tanpa belas kasihan.
Ayra harus menanggung luka batin yang menganga, mentalnya hancur seperti kaca yang dihempas ke lantai, dan fisiknya terkikis habis, seakan angin menggempurnya tanpa ampun. Baginya, rumah bukan lagi tempat berteduh, melainkan medan perang di mana keadilan tak pernah berpihak, dan rumah adalah tangan tak terlihat yang paling kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @nyamm_113, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJADIAN DI LAPANGAN BASKET
HAPPY READING
Ayra kembali beraktivitas seperti biasanya, menyambut pagi dengan senyum kecil yang tidak pernah pudar dari wajah cantik dan anggun itu. Menutupi lukanya dengan topeng yang selalu diperlihatkan kepada semua orang jika dia baik-baik saja.
Manusia memang membutuhkan dua topeng dalam kehidupannya, satu untuk terlihat baik-baik saja dan satunya lagi untuk menutupi luka.
Nasib sial memang tidak ada dalam kelender, begitulah Ayra. Untuk kedua kalinya dia kembali terlambat datang ke sekolah akibat Agista yang banyak mengomelinya karena melakuka kesalahan kecil yang bahakn Syan atau Vynessa tidak pernah mengomelinya.
“Lo pingsan, gue yang repot.”
Ah, Ayra tidak sendiri kok dihukum. Ada si Bagas yang juga tengah menjalankan hukuman seperti dirinya.
“Ngak kok, aku ngak bakalan ngerepotin kak Bagas.” Ayra menahan rasa pening yang tiba-tiba saja datang.
Bagas melirik Ayra dengan ekor matanya, tubuh Ayra yang pendek ini membuatnya diam-diam mengukir senyum yang bahkan tidak terlihat dan si Bagas pun mungkin juga tidak menyadarinya jika dia tengah tersenyum.
“Awas aja lo kalau pingsan,” ucapnya penuh nada peringatan.
“Iya kak.”
Dua puluh menit berlalu, hingga Ayra merasa jika kepalanya semakin terasa berat dan tubuhnya sakit bersamaan dengan cairan merah yang tiba-tiba saja keluar dari hidungnya.
“D-darah?” lirihnya. Tangannya dengan cepat menyeka darah itu, bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk sebelum sempat menyeka mimisannya.
“Gue udah ngomong, kalau lo pingsan gue yang repot.” Bagas hanya melihat tubuh Ayra yang tidak sadarkan diri itu tanpa berniat menolongnya.
Tanpa merasa kasihan, laki-laki jangkung itu menendang kecil kaki Ayra. “He! Bangun lo.”
Apakah Bagas memang tidak memiliki sisi kemanusiaan dan rasa empati sedikit saja? Ayra sedang pingsan di bawah teriknya matahari dan Bagas yang hanya diam saja tanpa berniat membawa Ayra ke uks. Sungguh Bagas adalah laki-laki yang pantas mendapatkan predikat brengsek!
Masih berusaha membangunkan Ayra dengan menendang kecil kaki gadis itu, tetapi tetap saja tak ada respon dari gadis yang telah menjadi babunya ini.
“Ckkk,” decaknya kesal. Menatap sekelilingnya yang tak ada satupun siswa yang berlalu lalang karena ini adalah waktu proses belajar mengajar.
“Ngerepotin!”
Dengan berat hati, dia mengangkat tubuh yang kecil itu. “Ringan banget.” Bagas seperti tak mengangkat apapun.
Bagas berlalu dari lapangan itu tanpa menyadari Maverick sedari tadi melihat Bagas yang memperlakukan Ayra sangat tidak manusiawi, laki-laki dengan seragam sekolah yang tidak rapih itu menahan sesuatu dalam dirinya.
“Gue kenapa si?”
&&&
“Aelah,” decaknya lagi. Bagas tak mendapati petugas uks satupun juga hingga membuatnya kesal.
Meletakkan tubuh Ayra di tempat tidur dengan sedikit kasar tentunya, begitulah Bagas. Sudah kesal dengan Ayra yang pingsan, lalu petugas uksnya pun juga entah kemana menambah kekesalannya.
“Nih anak pake mimisan segala lagi.”
Kemana sifat dingin Bagas? Nyangkut di tiang benderah kah? Ayra adalah satu-satunya siswa yang berhasil membuat Bagas mengeluarkan banyak kalimat dalam sehari.
Mengambil kursi kayu yang tak jauh dari posisinya, lalu duduk di dekat tempat tidur Ayra. Melihat sekelilingnya kembali, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan mimisan Ayra yang entah sejak kapan berhenti.
“Ckkk, gue bersihin ni?” Tanyanya entah pada siapa. Dengan tisu yang diambilnya dari atas meja sebelahnya, dia mulai membersihkan sisa darah di wajah Ayra.
“Kenapa ngak mati aja ni anak,” ucapnya dengan sesuka hati.
Bagas sedang datang bulan? Mengapa sangat sensi kepada Ayra yang tidak melakukan apapun?
“Memar?”
Bagas tanpa sengaja melihat memar pada pergelangan tangan gadis itu, lengan seragam gadis tersebut sedikit terlipat hingga membuat memar itu terlihat dengan jelas.
Bagas tanpa takut meraih tangan kecil milik Ayra, lengan seragam Ayra semakin dia lipat hingga batas sikunya dan terlihat jelas luka memar yang hampir menutupi semua lengan gadis itu.
Bagas melihat wajah Ayra yang sedikit pucat namun tetap cantik. “Lo berantem sama siapa?”
Ha?
&&&
Bagas mengisap nikotin yang di selipkan dikedua jarinya, menikmati pemandangan gedung sekolahnya yang megah ini.
“Lo benaran angkat Ayra tadi bos? Lo ngak ngapa-ngapain calon pacar gue kan?” Cecar Marsel dengan nada dibuat se khawatir mungkin.
“Si Samsul,” bisik Marsel menatap Lion kesal. “He! Jangan mimpi lo jadi pacar Ayra, sana lo tidur lagi.”
Lion mencibir Marsel. “Halla, bilang aja lo cemburukan? Lo cemburu karena gue-,”
“Hueeekkk, ngak ya nyet! Ayra mana mau sama lo yang modelan kek pantat sapi.”
“Lo kalau ngomong jangan sembarangan ya, adu otot ni kita.”
“Ayo, siapa takut.”
“Berisik banget si lo berdua! Turun aja sana.” Adam jengah menatap kedua makhluk jadi-jadian ini.
“Ampun Dam, noh si Lion yang mulai.” Marsel malah kembali menantang Lion.
Lion mengejek Marsel, enggan lagi menanggapi ucapan Marsel karena dirinya takut di amuk Adam dan berakhir dia tidak diberi contekan lagi.
Mereka berlima seperti biasa, menghabiskan waktu istirahat di rooftop gedung kelas mereka. Tak ada yang berani datang ke sini, tempat ini seperti markas bagi mereka berlima.
Ada banyak meja dan bangku kelas yang tidak terpakai lagi, ada sofa yang entah dari mana datangnya dan masih banyak barang lainnya.
“Dia mimisan.” Bagas menginjak puntung rokoknya. Membuka seragam sekolahnya menyisahkan baju kaos hitamnya yang membentuk otot tubuhnya.
“Mimisan? Ayra mimisan?” Tanya Adam memastikan ucapan Bagas.
“Hm,” jawab laki-laki itu yang sudah mengambil ancang-ancang untuk tidur siang.
Adam bangkit dan berlalu dari sana dengan langkah lebarnya. Tujuannya adalah uks sekolah, memastikan satu timnya itu dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada tujuan lain.
“Lah, Lo mau kemana Dam?” Tanya Lion.
“Susul Ayra.” Adam segera turun dan menuju uks meninggalkan tanda tanya dari sahabatnya.
“Si Adam kenapa? Suka sama Ayra?” Tanya Marsel.
“Jangan-jangan si Adam benar-,”
“Ngak mungkin.” Maverick meleparkan dasi sekolahnya ke wajah Marsel.
“Kan, siapa tahu Verick.”
&&&
“BISA NGAK SI LO JAGA JARAK DARI BAGAS HA? GUE BENCI LO ANAK SIAL!”
Kaliyah berteriak tepat di depan wajah Ayra, mereka hanya berdua di gudang yang lumayan jauh dari bangunan sekolah lainnya.
“Lo kenapa si susah banget dibilangin? Lo emang suka ya ke Bagas?”
Ayra menggeleng pelan, dia juga tidak tahu perihal Bagas yang ternyata membantunya saat dia pingsan bahkan petugas uks juga mengatakan jika Bagas lah yang mebantunya membersihkan bekas darah pada wajahnya.
Dan, berita itu dengan cepat menyebar hingga sampailah kepada Kaliyah.
“Ngak kak, a-ku tadi dihukum bareng kak Bagas dan tiba-tiba aku mimisan-,”
Plak!
“Bohong, lo itu munafik pembunuh.” Kaliyah menggeram marah. Amarahnya meluap saat tahu lagi-lagi Bagas dan Ayra yang menjadi topik hangat.
Plak!
“Gue banci lo Ayra! Ayah harus tahu lo seorang pelakor.”
Ayra menggeleng kuat saat Kaliyah membawa nama Syan, tidak lagi jika harus berhadapat dengan Syan. “Jangan kak, aku mohon. A-ku janji ngak akan dekat-dekat lagi sama kak Bagas, tolong kak jangan bilang ke ayah.”
“Gue ngak peduli Ayra,” pekik Kaliyah dengan tangan mencengkram wajah Ayra. “Lo rubah kecil yang malang.”
“Lo harus tahu Ayra, ayah benci lo karena lo adalah pembunuh nyokapnya ayah.”
NGAK TAHU BUAT KONFLIK YANG PANAS GUYSSS, AUTHOR MASIH BUTUH BANYAK BELAJAR.
ADA MASALAH LAIN JUGA, LAPTOP YANG AUTHOR PAKE NULIS TU MALAH ADA BEBERAPA KEYBOARD NYA YANG NGAK BERFUNGSI LAGI.
TAPI TENANG AJA, AUTHOR BAKAL TETAP USAHAIN RAJIN UP DATE DEMI KALIAN SEMUA.
KASIH SARAN DAN SELALU DUKUNG AUTHOR YA🤗🫂
SEPERTI BIASA TINGGALKAN JEJAK 👣 KALIAN DAN TERIMAKASIH BANYAK KARENA TELAH MAMPIR😗😙
SEE YOU DI PART SELANJUTNYA👋👋👋
thor . . bantu dukung karya chat story ku ya " PUTRI KESAYANGAN RAJA MAFIA "