Alena: My Beloved Vampire
Sejak seratus tahun yang lalu, dunia percaya bahwa vampir telah punah. Sejarah dan kejayaan mereka terkubur bersama legenda kelam tentang perang besar yang melibatkan manusia, vampir, dan Lycan yang terjadi 200 tahun yang lalu.
Di sebuah gua di dalam hutan, Alberd tak sengaja membuka segel yang membangunkan Alena, vampir murni terakhir yang telah tertidur selama satu abad. Alena yang membawa kenangan masa lalu kelam akan kehancuran seluruh keluarganya meyakini bahwa Alberd adalah seseorang yang akan merubah takdir, lalu perlahan menumbuhkan perasaan cinta diantara mereka.
Namun, bayang-bayang bahaya mulai mendekat. Sisa-sisa organisasi pemburu vampir yang dulu berjaya kini kembali menunjukan dirinya, mengincar Alena sebagai simbol terakhir dari ras yang mereka ingin musnahkan.
Dapatkah mereka bertahan melawan kegelapan dan bahaya yang mengancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syafar JJY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Sisi Lain Alena
Chapter 36: Alberd dan Nina Diserang
Mobil Alberd melaju di jalanan perkotaan yang cukup ramai meski jam telah menunjukan pukul 9 malam.
Dia sedang mengantar Nina pulang setelah makan ramen bersama pada sore hari.
"Mobil hitam itu sepertinya mengikutiku sejak tadi.." gumamnya dalam hati seraya melirik kaca spion mobilnya.
Nina yang sedari tadi melihat kakaknya melirik spion beberapa kali lalu bertanya,
"Ada apa kak?"
"Tidak apa apa.." balas Alberd mencoba tenang, meski hatinya tak bisa mengabaikan firasat buruknya.
Mereka melaju meninggalkan pusat kota, menuju jalanan yang lebih sepi. Namun begitu mereka berbelok ke ruas jalan yang minim penerangan, mobil hitam tiba-tiba memacu kecepatan, memotong jalur lalu berhenti didepan mereka.
"Sial..!"
Sontak Alberd menginjak pedal rem kuat kuat, ban berdecit diatas aspal. Mobil Alberd berhenti hanya beberapa meter dari mobil misterius itu.
Dua orang pria keluar dari dalam mobil, salah satunya memegang sebuah belati, berjalan mendekat ke arah mereka.
Melihat itu tanpa pikir panjang Alberd langsung membuka pintu mobilnya.
"Nina, ayo cepat lari..!"
Nina yang panik ikut keluar, namun baru saja dia melangkah, Alberd sudah meraih tangannya, membawanya berlari masuk ke jalan kecil yang gelap.
Kedua pria itu langsung mengejar mereka.
Ditempat lain, Alena yang sedang berbaring santai di kamar tiba tiba membuka matanya..
Mata merahnya menyala terang seperti bara api, sorot matanya tajam.
Dia langsung bangkit lalu membuka jendela kamar.
Alena berdiri dibalkon apartemen tanpa sepatah katapun, napasnya memburu.
Angin malam menerpa wajahnya, namun yang dia rasakan hanyalah amukan amarah di dalam dadanya.
Sayap hitam tiba tiba mekar dari punggungnya, berkibar kuat dalam hembusan angin.
Dalam sekejap tubuhnya langsung melesat ke langit malam.
Sementara itu Alberd dan Nina sedang berlari terengah-engah.
Kedua pria itu terus mengejar mereka dibelakang.
Nina sangat panik dan ketakutan, dia hampir menangis.
"Nina sembunyi disana! jangan keluar apapun yang terjadi..!" teriak Alberd keras.
"Tapi kak..!"
"Tidak ada tapi! cepat!" bentak Alberd.
Nina akhirnya berlari ke sudut gelap gang kecil. Tubuhnya gemetar saat ia menutup mulutnya sendiri menahan isak tangis.
Sementara Alberd berbalik menghadang kedua pria itu,
"Siapa kalian? mengapa kalian mengejar kami?! Apa mau kalian!" tanya Alberd marah.
Kedua pria itu bertukar pandang, lalu salah satunya menyeringai.
"Tentu saja menghabisimu.. lalu.. hehe..menyantap adikmu yang cantik itu" ucapnya seraya menjilat bibir.
Lalu keduanya tertawa.
Alberd menggertakkan giginya, dia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.
"Bajingan! Kalau begitu aku akan menghabisi kalian lebih dulu..!"
Tanpa peringatan Alberd langsung melesat dengan sangat cepat menerjang pria yang berbicara.
Duackk!
Pria itu mencoba menangkis dengan kedua tangannya.
Tapi tendangan itu membuatnya tubuhnya terpental sejauh 10 meter.
Darah langsung keluar dari mulutnya.
Melihat rekannya terhempas jauh, pria satunya langsung menyerang Alberd dengan pisau.
Tapi Alberd menangkap pergelangan tangan pria itu, memutar lalu menghempaskan tubuhnya ke tanah, kemudian menendangnya dengan keras hingga tubuh pria itu terseret jauh.
Disisi lain Alena mendarat di atap sebuah gedung tak jauh dari tempat Alberd bertarung.
Dia melihat kekasihnya itu sedang bertarung, lalu melirik ke arah Nina yang sedang menangis seraya menyaksikan pertarungan kakaknya.
Sorot mata Alena menajam dipenuhi amarah, tangannya mengepal dengan kuat.
"Stealth" bisiknya pelan.
Kemudian dia melesat terbang menukik kebawah.
Sementara itu ditempat Alberd bertarung,
Pria pertama bangkit, dia lalu mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya dan langsung menodongkannya ke arah Alberd.
DORR! DORR!
Dua peluru melesat cepat ke arahnya.
Tapi Alberd dengan cepat mengulurkan satu tangannya lalu dalam sekejap menangkap kedua peluru itu dengan tangan kosong.
Mata pria itu membelalak terkejut,
"Kau.. kau bukan manusia!"
Alberd membuka telapak tangannya, melihat dua proyektil panas yang ada ditangannya.
"Hmmm.. bukan perak?" gumamnya pelan.
Tapi sebelum sempat bergerak, tubuhnya berlutut ke tanah, napasnya terengah-engah, dia telah menguras terlalu banyak energinya.
Kedua pria itu mencoba berdiri sambil menahan sakit lalu berbalik dan berlari pergi meninggalkan tempat itu, menuju ke arah mobil mereka.
Nina langsung berlari ke arah kakaknya mencoba membantunya berdiri dan memapahnya berjalan kembali ke mobil.
Alena yang melihat dari kejauhan, sorot matanya dipenuhi kemarahan, aura merah meluap-luap dari tubuhnya, napasnya berpacu dengan cepat.
Kemudian dengan cepat mengatur napas, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya.
"Summon familiar.."
Kelelawar kecil keluar dari telapak tangannya lalu terbang melesat dengan cepat mengejar kedua pria tadi yang kabur menggunakan mobil.
Alena mengawasi Nina yang sedang memapah Alberd.
Air mata jatuh membasahi pipinya.
Setelah memastikan keduanya sampai ke mobil.
Alena mengusap air matanya lalu ia langsung melesat ke udara, menghilang dalam kegelapan malam.
Chapter 37: Kemarahan Alena
Ditempat lain disebuah jalan yang sepi jauh dari kota, mobil dua pria itu melaju kencang.
Dari ketinggian Alena mengejar mobil mereka.
Tapi sebelum mereka menyadarinya, sebuah bayangan hitam dengan cepat melesat menghadang mobil mereka.
Alena menggunakan telekinesisnya menghentikan laju mobil itu, mengangkatnya ke udara lalu melemparnya ke samping hingga membentur pohon dengan keras.
BRAKKK!
Kedua pria itu keluar dari dalam mobil dengan tubuh gemetar dan penuh luka.
Alena berjalan perlahan mendekati mereka, wajahnya dipenuhi amarah, matanya menyala terang, aura merah bercampur niat membunuh meluap dari dalam tubuhnya.
"Katakan, dengan cara apa kalian ingin mati..?!" tanya Alena dengan nada penuh amarah.
Wajah Kedua pria itu semakin pucat ketakutan, sorot mata mereka dipenuhi keputusasaan, tubuh mereka gemetar hebat.
"Am.. ampun.. ku mohon amp.. Ahhckk!!"
Sebelum menyelesaikan kalimat, Suaranya tiba tiba terhenti, mereka memegangi leher seakan tercekik oleh sesuatu.
"Jawaban yang salah..!" balas Alena,
Sorot matanya dipenuhi aura membunuh, sambil mengangkat kedua tangannya ke arah dua pria itu.
Kedua pria itu memegangi leher mereka, kesakitan tak bisa bersuara. Leher mereka terasa sedang dicekik oleh kekuatan tak kasat mata.
Tubuh mereka terangkat ke udara, dengan kaki yang meronta-ronta.
Mata Alena berkilat kejam.
Lalu dengan satu gerakan tangan, Alena menjatuhkan tubuh mereka dari ketinggian menghantam tanah dengan keras.
Bukk!
Seketika darah berhamburan dari mulut mereka.
Tapi dia tidak puas sampai disana.
Sorot matanya masih dipenuhi amarah dan aura membunuh, melihat keduanya masih bernapas.
Kemudian dari balik bayangan tubuhnya, puluhan kelelawar berhamburan keluar, mengerubungi kedua pria itu, mencabik-cabik tubuh mereka, serta meminum darah meraka.
Mereka berteriak merintih dan mencoba merangkak.
Bau darah tercium jelas memenuhi udara.
Teriakan mereka bergema dimalam yang sunyi.
Alena hanya berdiri disana menyaksikan.
Perlahan senyuman kecil terukir di bibirnya.
Ketika teriakan itu hilang,
ia berbalik, mengepakkan sayapnya lalu melesat kembali ke dalam kegelapan malam.
Di apartemen, Alena mendarat di balkon, lalu melangkah perlahan ke dalam kamar yang gelap.
Ponselnya bergetar,
Dia meraih ponselnya yang ada diatas meja, melihat pesan singkat dari Alberd:
"Sayang.. Aku tak bisa pulang malam ini ke apartemen, ada sesuatu yang terjadi. Aku akan menjelaskannya besok. Aku mencintaimu selalu.."
Alena hanya diam membaca pesan itu.
Lalu dia membalas singkat,
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, selamat malam sayangku. Aku juga mencintaimu.."
Dia meletakkan ponsel itu lalu melemparkan tubuhnya ke kasur, seraya sorot matanya menatap ke langit langit kamar.
"Pembunuhan pertama setelah 100 tahun.." ucapnya pelan saraya menutup matanya perlahan.
"Jika demi melindungi mereka yang ku cintai., Aku tak akan ragu.. Sekalipun harus melawan seluruh dunia, aku takkan membiarkan siapapun merenggut milikku lagi" gumamnya.
Sementara itu..
Di sudut kota yang suram dan sepi, sebuah motor melaju kencang, menyusuri gang-gang sempit yang nyaris tak tersentuh cahaya. Hanya lampu-lampu jalan yang temaram dan suara mesin kendaraan yang memecah kesunyian malam.
Pria di atas motor itu tampak gelisah. Nafasnya memburu, matanya liar menyapu sekitar saat ia menghentikan kendaraannya di depan sebuah gedung terbengkalai. Dengan tangan gemetar, ia mematikan mesin, lalu bergegas masuk setelah memastikan tak ada yang mengikutinya.
Di dalam, udara terasa lembab dan berdebu. Lampu redup dari bohlam tua berkelap-kelip, menciptakan bayangan samar di dinding yang lapuk. Seorang pria duduk di sofa reyot di sudut ruangan, menghisap rokok dengan santai, seolah tak peduli dengan dunia di sekitarnya.
Tanpa menoleh, pria itu berbicara dengan nada datar.
"Kau sudah kembali. Di mana dua orang lainnya?"
Pria yang baru masuk itu wajahnya masih diliputi kepanikan, sambil menelan ludahnya. Matanya berkedip-kedip gugup sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara bergetar.
"Me... mereka... melarikan diri..."
Simon, pria yang duduk di sofa, menghembuskan asap rokoknya perlahan. Ekspresinya tetap datar, tapi sorot matanya berbahaya. Dengan gerakan lambat, ia menekan puntung rokok ke dalam asbak, membiarkannya mati dengan suara mendesis.
"Melarikan diri?" suaranya rendah, nyaris berbisik. Tapi ada ketegangan di dalamnya.
Ia mengangkat wajah, menatap pria di hadapannya dengan dingin.
"Apa mereka tidak berhasil membunuhnya? Atau ada seseorang yang membantu pria itu?"
Pria yang berdiri didepannya menggeleng cepat.
"T-tidak! Tidak ada yang membantu! Dia... dia mengalahkan mereka sendirian. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri..."
Simon menyipitkan mata.
"Sendirian?"
Pria itu mengangguk, tubuhnya sedikit bergetar.
"Ya... Dia bukan manusia... Aku yakin itu...Dia menghentikan peluru dengan tangannya, dia monster!" jawabnya dengan nada ketakutan.
Suasana hening.
Simon menghela napas panjang, lalu bersandar ke sofa sambil mengetukkan jari ke lengan kursi dengan ritme pelan. Ekspresinya sulit ditebak, seakan sedang mencerna informasi yang baru ia dengar.
"Aku mengerti." ucapnya akhirnya. "Sekarang, kau boleh pergi."
Pria itu tak membuang waktu.
"Ba... baik..."
Ia berbalik dan pergi secepat mungkin, seolah ruangan itu dipenuhi udara beracun yang siap membunuhnya kapan saja.
Setelah keheningan menyelimuti kembali, Simon tetap duduk di tempatnya. Tatapannya kosong, tapi pikirannya berputar cepat.
"Jadi dia memang bukan manusia biasa..," ucapnya pelan, lalu melanjutkan.
"Aku sengaja mengirim satu orang lagi mengintai dari jauh untuk mengantisipasi jika dua lainnya tak selamat." gumamnya.
Simon diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu, lalu dia menyeringai tipis.
"Apakah mungkin... wanita itu telah mengubahnya menjadi darah campuran?"
Simon perlahan bangkit dari sofa. Sepatunya berderak di lantai saat ia melangkah ke arah jendela tua yang penuh debu. Dengan satu gerakan, ia menggeser tirai tipis, membiarkan pandangannya menembus kegelapan malam.
"Mengapa mereka belum menghubungiku?" pikirnya.
"Kemana perginya dua orang itu?"
Malam terasa lebih dingin. Di luar sana, sesuatu bergerak dalam bayangan. Simon tahu, malam ini belum berakhir.
Tanpa disadarinya, di sudut ruangan yang diselimuti kegelapan, seekor kelelawar menggantung diam. Sepasang matanya yang tajam mengawasi, seolah menilai setiap gerakan Simon dalam senyap.
Sesaat kemudian, makhluk itu mengepakkan sayapnya, meluncur keluar melalui celah di atap, menghilang dalam gelapnya malam.
makasih Thor 👍 salam sehat selalu 🤗🙏
Bagian awal di bab pertama harusnya jangan dimasukkan karena merupakan plot penting yang harusnya dikembangkan saja di tiap bab nya nanti. Kalau dimasukkan jadinya pembaca gak penasaran. Kayak Alena kenapa bisa tersegel di gua. Lalu kayak si Alberd juga di awal. Intinya yang tadi pakai tanda < atau > lebih baik tidak dimasukkan dalam cerita.
Akan lebih baik langsung masuk saja ke bagian Alberd yang dikejar dan terluka hingga memasuki gua dan membangunkan Alena. Sehingga pembaca akan bertanya-tanya, kenapa Alberd dikejar, kenapa Alena tersegel di sana dan lain sebagainya.
Jadi nantinya di bab yang lain nya akan membuat keduanya berinteraksi dan menceritakan kisahnya satu sama lain. Saran nama, harusnya jangan terlalu mirip atau awalan atau akhiran yang mirip, seperti Alena dan Alberd sama-sama memiliki awalan Al, jadi terkesan kembar. Jika yang satu Alena, nama cowoknya mungkin bisa menggunakan awalan huruf lain.
Novel ini adalah karya pertama saya, sekaligus debut saya sebagai seorang penulis.
Mengangkat tema vampir dan bergenre romansa-fantasy yang dibalut berbagai konflik dalam dunia modern.
Novel ini memiliki dua karakter utama yang seimbang, Alena dan Alberd.
Novel kebanyakan dibagi menjadi dua jenis; novel pria dan novel wanita.
Novel yang bisa cocok dan diterima oleh keduanya secara bersamaan bisa dibilang sedikit.
Sehingga saya sebagai penulis memutuskan untuk menciptakan dua karakter utama yang setara dan berusaha menarik minat pembaca dari kedua gender dalam novel pertama saya.
Saya harap pembaca menyukai novel ini.
Selamat membaca dan terima kasih,
Salam hangat dari author.