NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:952k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Sepertinya mas Ryu nggak menyadari kalau Jani itu adalah nama belakangku. Tapi itu bagus, itu memang harapanku.

Jangan sampai dia tahu kalau Jani ku ambil dari namaku Anjani.

"Kenapa masih di situ?" Tanya mas Ryu. Nadanya datar sedatar raut wajahnya.

"M-maaf, mas"

Pria itu kembali mengarahkan sepasang netranya pada layar komputer.

Setelah meletakkan secangkir teh di meja kerjanya tadi, entah kenapa aku tiba-tiba melamunkan tentang Jani. Aku sampai nggak sadar kalau aku masih berada di dalam ruang kerja mas Ryu.

Berjalan keluar, sekilas mataku tertuju pada jam dinding. Ternyata sudah hampir pukul sebelas malam, tapi mas Ryu masih asyik di ruang kerjanya.

Dari awal menikah memang begitu, dia selalu dan bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja di bandingkan bercengkrama dengan keluarga. Tanpa ku tebak, sudah pasti dia menghindariku dengan cara seperti ini.

Lantas bagaimana peranku sebagai seorang istri di sini? Padahal aku juga ingin menikmati perhatian, pelukan dan bahkan nafkah batin dari seorang suami. Tentu saja kondisi ini sangat memprihatinkan. Ibarat aku sudah tenggelam ke dalam neraka yang cukup dalam, mau mundur aku nggak tahu harus kemana, bertahan tapi malah membuatku tersiksa.

Memasuki kamar, ku raih gawai rahasia yang ku simpan di bawah kasur.

Di layar ponsel bisa ku lihat ada beberapa pesan yang masuk. Aku sudah bisa memastikan kalau pesan itu pasti dari mas Ryu, karena hanya dia yang tahu nomor ini.

Dengan di iringi debaran jantung, ku buka pola kunci lalu membuka rentetan pesan darinya.

Mas Ryu : [Selamat malam] 20:03 Wib.

Itu artinya pesan ini di kirim sesaat setelah makan malam. Mas Ryu memang langsung naik usai makan bersama ayah bunda tadi, tidak denganku yang bantu bik Titik mencuci piring terlebih dahulu, baru setelah itu menghabiskan waktu di ruang keluarga dan di pukul sepuluh aku pergi ke kamar.

Selesai sholat isya, aku berniat mencari mas Ryu, tapi baru saja membuka pintu kamar, ku lihat pria itu juga baru saja keluar dari ruang kerja.

Disinilah dia menyuruhku membuatkan teh hangat.

Mas Ryu : [Sebenarnya kamu ini siapa? Masa iya, hanya salah nomor saja, sepertinya nggak mungkin] 20:05 Wib.

[Haloo] 21:00 Wib.

[Siapa kamu, Jani? Apa sebelumnya kita saling kenal?] 21:40 Wib.

"Ternyata cukup tidak sabaran juga mas Ryu" Aku bergumam lirih sembari mengetik sebuah pesan untuk membalas chatnya.

Ketika aku sedang mengetik, pesan berikutnya kembali masuk. Mungkin karena pesannya sudah tercentang biru, yang artinya sudah terbaca, makanya dia kembali mengirim chat.

Mas Ryu : [Dari siapa kamu dapat nomorku? Jujur saja, Jani!] 22:48 Wib.

Mengabaikannya, aku mengirim pesan yang sudah selesai ku ketik.

[Katanya aku nggak boleh ganggu-ganggu, kenapa sekarang jadi mas yang ganggu aku? Sudah ku bilang aku hanya salah nomor satu digit, dan kebetulan nomor itu adalah nomor mas, jadi aku harus jawab apalagi supaya mas percaya?] 22:50 Wib.

[Sudah ya, saya sibuk] 22:50 Wib.

Aku mengakhiri chatinganku, pura-pura jual mahal.

Dalam keterangan, mas Ryu ternyata sedang mengetik. Ku tunggu sampai pesannya masuk.

Sekian detik berlalu ponselku lagi-lagi menyala. Tak ada suara memang, karena aku sengaja menggunakan mode senyap.

Mas Ryu : [Jadi kamu nggak bohong?] 22:51 Wib.

[Terus dimana kamu tinggal?] 22:51 Wib.

Nah kan untung saja sudah ku siapkan apartemen meski hanya menyewanya untuk sebulan, jadi kalau mas Ryu bertanya dimana rumahku, aku bisa langsung kasih tahu dia. Karena aku yakin, dia bertanya seperti itu ya karena ingin memastikan saja bahwa aku ini adalah orang asing baginya.

Tanpa ragu akupun mengirim alamat apartemen yang ku sewa melalui chat. Nggak lama kemudian aku kembali mendapat balasannya.

Mas Ryu : [Jadi kamu tinggal di apartemen dekat taman kota? Bolehlah kapan-kapan main] 23:00 Wib.

[Boleh] 23:00 Wib.

Begitu membalasnya, aku langsung mematikan ponsel dan kembali menyimpannya di bawah kasur.

Ah, ada apa dengan jantungku, kenapa bisa segila ini. Apa ini tanda-tanda keberhasilan rencana yang ku buat. Lantas mau sampai kapan aku memainkan permainan ini?

Oh ya Tuhan...

Ku usap wajah dengan kedua telapak tanganku sebelum kemudian merebahkan diri di atas ranjang.

Biarlah aku mengikuti alur yang ku buat saja, akan ku nikmati peranku sebagai Jani. Jika suatu saat penyamaranku ketahuan, aku sudah menyiapkan alasan kenapa aku melakukan itu. Aku bahkan siap jika mas Ryu langsung menceraikanku, aku juga siap andai saja bunda dan ayah tidak membelaku.

***

Paginya, seperti biasa aku bangun lebih dulu. Aku sudah terbiasa bangun pukul tiga dini hari untuk sholat malam, itu sudah menjadi rutinitasku semenjak pindah dari Surabaya ke Banyuwangi. Aku tidak akan tidur lagu usai sholat malam sampai adzan subuh berkumandang.

Dan setelah sholat subuh, baru aku keluar dari kamar, dan akan langsung menuju dapur.

Kadang sudah ada bik Titik di sana, tapi terkadang juga dapur masih gelap. Seperti pagi ini dimana semua penghuni rumah belum ada yang bangun.

Menyalakan lampu dapur, aku membuat teh hangat untuk ku nikmati sendiri. Sepotong roti kasur menjadi pelengkap untuk mengisi perut kosongku.

"Loh mbak Nena, sudah bangun?" Tanya bik Titik yang sudah beberapa hari ini tertular panggilan Dara ke aku.

"Sudah bik, tapi maaf aku belum siapin apapun buat sarapan"

"Lah ya nda apa-apa to. Itu kan tugas bibik" Sahutnya melangkah ke arah kulkas. "Mbak Nena sehat to, kok suaranya bendeng begitu?"

"Masa si bik?"

"Iya, mbak. Kayak lagi flu"

"Iya ini bik, kemarin perasaan baik-baik saja, tapi pas bangun tadi kepalanya berasa pusing, terus hidungnya juga mampet, makannya ini ke dapur langsung bikin teh hangat"

"Kalau nggak enak badan langsung ngomong aja ke mas Ryu supaya di periksa" Katanya sambil menyalakan kran untuk mencuci beras. "Bibik juga biasanya gitu, di periksa, kasih obat, satu sampai dua kali minum, udah langsung enteng"

"Nanti bik" Jawabku lalu bangkit dari duduk dan bergegas menuju wastafle "Mau bikin sarapan apa bik?" Tanyaku membilas gelas bekas teh yang ku minum.

"Mau bikin bubur ayam, tapi mbak Nena ndak usah bantu, mbak Nena istirahat saja, siapa tahu pusingnya karena sesuatu"

"Sesuatu apa maksud bibik?" Alisku pasti menukik tajam karena tak mengerti maksud kalimatnya.

"Siapa tahu pusingnya karena lagi ngidam"

"Apa?" Aku terkejut, pasalnya aku sama mas Ryu kan belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri, di samping itu pernikahan juga belum genap satu bulan. Hamil dari mana?

"Nggak usah kaget gitu, mbak" Suara bik Titik kembali ku dengar. "Bu Arimbi dan pak Bima pasti senang kalau mbak Nena hamil"

Sepertinya bik Titik semakin ngawur saja. Kalau aku nggak buru-buru mengalihkan topik, pasti wanita ini terus bicara soal kehamilan.

"Bik, aku mau bikin sandwich buat mas Ryu dulu, ya"

Aku langsung ke meja makan usai mengatakan itu.

**

Seperti yang pernah bik Titik katakan, mas Ryu langsung menyantap sandwich yang ku buat usai dia berolahraga pagi.

Selagi menemani mas Ryu sarapan, aku menyiapkan bubur yang bik Titik masak dan menyajikannya di atas meja makan.

Tiba-tiba bunda bersuara yang membuatku tercengang. Tidak hanya aku, mas Ryu bahkan sampai menghentikan gerakan di mulutnya yang tengah mengunyah makanan.

"Ryu, coba kamu periksa Arimbi? siapa tahu dia positif hamil"

Hamil??? Mulutku bergerak dengan tanpa suara.

Sementara mas Ryu langsung mengalihkan mata ke arahku yang membuatku detik itu juga langsung menunduk.

"Kamu hamil? Dengan siapa?" Tanya mas Ryu dan kini ganti bunda yang kaget.

"Apa maksud pertanyaan kamu, Ryu?" Tanya bunda spontan. Matanya lekat menatap sang putra.

Mas Ryu tampak bingung, ku rasa dia tadi reflek dan mungkin saja pertanyaan itu tanpa ia sadari keluar dari mulutnya.

"E-enggak bun, a-aku lagi nggak fokus tadi" balas mas Ryu tergagap. "Naina, aku tunggu di kamar" Tambah mas Ryu merujuk padaku lalu meninggalkan ruang makan.

Untuk menghindari bunda, akupun menyusul langkah mas Ryu menuju kamar.

Bersambung.

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!