"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Lonceng Kepulangan
Berhari-hari lamanya, suasana di dalam Kediaman Jati Jajar terasa begitu dingin, seolah-olah kabur dari Lembah Kabut telah merayap masuk dan membekukan setiap sudut ruangan.
Rosie memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya. Dia menghabiskan waktu dengan menatap langit-langit atau sesekali memeriksa tumpukan koin emas yang kini dia sembunyikan di bawah dipan kayu.
Baginya, kepingan emas itu bukan sekadar harta, melainkan pengingat bahwa keajaiban di dunia ini memiliki harga yang harus dibayar dengan keringat dan darah orang-orang yang dia sayangi.
"Merah! Sampai kapan kamu mau bertingkah seperti ini?" teriak Citra menggelegar dari balik pintu kain kamarnya.
Rosie tidak bergerak. Dia hanya menarik napas panjang, mencium aroma melati yang kini terasa menyesakkan. Pintu kamar dibuka paksa.
Citra melangkah masuk dengan wajah yang memerah padam, tangannya sibuk mengibas-ngibaskan kipas pandan dengan gerakan yang sangat cepat.
"Ibu sudah menyuruh Laras membawakan makanan terbaik. Kamu bahkan tidak menyentuh nasi kuning itu sedikit pun. Apa kamu mau mati kelaparan hanya untuk melawan Ibu?" bentak Citra sambil berdiri di samping dipan.
"Aku enggak lapar, Ibu," sahut Rosie datar. Dia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada celah dinding bambu. "Atau mungkin, biarin aja aku enggak usah dikasih makanan juga enggak apa-apa. Toh, enggak ada bedanya dengan para pelayan yang enggak boleh makan selama aku menghilang, kan?"
Citra menghentikan gerakan kipasnya. Dia mendengus kasar, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Kamu keterlaluan, Merah! Mengapa sebegitunya hanya karena pelayan! Mereka itu budak yang ditakdirkan untuk melayani kita. Kalau mereka melakukan kesalahan, sudah sewajarnya mereka menerima akibatnya!"
Rosie tiba-tiba bangkit dan duduk tegak di atas tempat tidur. Dia menatap mata ibunya dengan sorot yang tajam dan berani, sesuatu yang belum pernah Citra lihat sebelumnya. "Bagiku, mereka adalah keluarga, Ibu! Mereka yang mencari aku sampai kaki bengkak. Mereka yang menangisi aku saat aku hanyut. Jadi, kalau Ibu memperlakukan mereka buruk, itu sama aja dengan melukai aku sendiri!"
Citra terpaku di tempatnya. Wajahnya yang cantik kini tampak sangat terkejut sekaligus tersinggung. Dia mengibas-ngibaskan kipasnya lagi dengan lebih bertenaga, seolah-olah sedang berusaha mengusir hawa panas yang membakar dadanya.
"Keluarga? Kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehat di sungai itu!" teriak Citra.
Dia berbalik dengan kasar, pakaian sutranya berkibas saat dia keluar dari kamar Rosie dengan langkah kaki yang menghentak keras di atas lantai tanah.
Rosie kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal. Dadanya naik turun karena emosi. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Dari arah gerbang depan, terdengar suara riuh rendah yang perlahan semakin keras.
Suara lonceng kecil yang dipasang pada tali kekang kuda berdenting bersahutan dengan teriakan penuh semangat dari warga sekitar.
"Tuan sudah datang! Tuan Menjangan kembali!"
Rosie seketika terduduk. Jantungnya berdegup kencang. "Tuan Menjangan?"
Sosok ayah yang selama ini hanya dia dengar dari bisikan Laras dan Gendis kini benar-benar ada di depan rumah. Dia segera beranjak, merapikan baju merahnya yang agak kusut, dan melangkah keluar menuju halaman tengah.
Di luar, sebuah kereta kuda kayu yang kokoh, dicat warna cokelat tua dengan ukiran sulur tanaman di setiap sisinya, perlahan memasuki halaman. Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda berbulu hitam mengkilap.
Di sekeliling kereta, terdapat enam orang pria lokal dengan pakaian sederhana tapi tampak gagah. Mereka adalah warga sekitar yang selama ini sangat menghormati kedudukan Menjangan.
Meskipun mereka sebenarnya hanya tetangga, mereka dengan senang hati merubah diri menjadi pengawal dadakan demi menjaga keselamatan sang saudagar yang telah mengangkat derajat wilayah mereka dari kemiskinan.
Seorang pria turun dari kereta tersebut. Dia mengenakan jubah katun tebal berwarna tanah dengan sulaman benang emas di bagian kerah. Wajahnya terlihat lelah setelah perjalanan jauh dari Kerajaan Indraloka, tapi sepasang matanya memancarkan ketenangan yang mendalam.
Guratan usia di dahinya menceritakan kisah kerja keras seorang pria yang membangun kejayaannya dari nol. Inilah Tuan Menjangan, sang ayah yang kehadirannya langsung mengubah suasana rumah menjadi penuh sukacita.
"Ayah!" teriak Putih yang muncul dari arah teras belakang.
Dia berlari kecil menuju ayahnya dengan wajah yang dipaksakan cerah, meskipun rona pucat di pipinya tidak bisa sepenuhnya hilang.
Citra juga menyambut suaminya dengan senyum lebar yang dipaksakan, seolah-olah keributan besar baru saja terjadi dengan putri sulungnya tidak pernah ada. Dia segera memegang lengan Menjangan dengan manja.
"Kakang, perjalanannya pasti sangat melelahkan," ucap Citra dengan suara yang sangat lembut.
Menjangan tersenyum, mengusap kepala Putih sekilas, lalu pandangannya segera menyapu seluruh halaman. Dia berhenti saat melihat Jaka dan Wira yang berdiri tegak di dekat gudang, meskipun gerakan mereka tampak kaku karena luka memar yang belum sepenuhnya sembuh. Matanya juga menangkap Laras dan Gendis yang tangannya masih terbalut kain lusuh di dekat dapur.
"Mengapa mereka semua tampak terluka?" tanya Menjangan dengan suara yang rendah penuh wibawa.
Keningnya berkerut dalam, menatap ke arah pelayan-pelayannya yang setia. Putih baru saja hendak membuka mulut. Dia sudah menyiapkan rangkaian kata-kata yang akan menceritakan betapa kacaunya rumah selama ayah tidak ada karena ulah Merah. Dia ingin menunjukkan bahwa dia adalah satu-satunya yang menderita dalam diam.
"Itu karena ... anu, Ayah—"
"Ayah!"
Rosie melangkah maju, memotong kalimat Putih dengan cepat. Dia segera menghambur ke arah ayahnya, lalu membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat sebelum akhirnya menatap wajah pria itu dengan binar mata yang jujur.
Di dalam hati, Rosie merasakan kehangatan yang aneh. Melihat sosok pria ini, dia seolah melihat sosok ayah yang selama ini dia rindukan di Jakarta, sosok yang pernah bekerja keras tanpa henti demi keluarganya.
"Aku bahagia Ayah sudah kembali ke rumah dengan selamat," ucap Rosie dengan nada suara yang penuh kasih.
Dia tidak ingin menyusahkan ayahnya yang baru saja pulang dengan kabar buruk mengenai dirinya yang sempat hanyut atau hukuman cambuk yang diberikan Citra kepada para pelayan. Dia tidak mau kebahagiaan kepulangan ini dirusak oleh laporan-laporan tentang kecerobohannya.
Menjangan menatap putri sulungnya dengan pandangan terkejut. Dia melihat wajah Rosie yang bersih dari bedak tebal, menampakkan kecantikan yang segar dan sorot mata yang jauh lebih cerdas daripada biasanya. Dia memegang bahu Rosie, merasakan kekuatan yang baru dari tubuh putrinya.
"Merah? Kamu tampak ... berbeda," gumam Menjangan. Dia sedikit tersenyum, lalu kembali menatap ke arah pelayan-pelayannya. "Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini selama aku pergi?"
Citra mencoba menyela, tapi Rosie lebih cepat memberikan isyarat kepada Jaka dan Wira untuk tetap diam. "Tidak ada hal besar, Ayah. Mereka hanya bekerja terlalu keras karena ingin menyambut kepulangan Ayah dengan gudang yang paling rapi. Jaka dan Wira bahkan sempat berkelahi dengan semak berduri hanya untuk mencari rempah tambahan. Bukankah begitu?"
Jaka dan Wira segera mengangguk patuh, menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Mereka merasa sangat bersyukur karena Nona Merah justru melindungi mereka dari kemarahan sang tuan besar.
Menjangan menghela napas panjang, tampak sedikit lega tapi tetap menyimpan kecurigaan di hatinya. Dia menatap Rosie lagi, lalu beralih ke arah Putih yang kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya karena gagal menjadi pusat perhatian.
"Baiklah, kalau begitu. Mari kita masuk. Aku membawa banyak cerita dari istana Indraloka dan tentu saja, oleh-oleh untuk kalian semua," ucap Menjangan sambil merangkul bahu Rosie dan Putih secara bersamaan.
Suasana di halaman Kediaman Jati Jajar pun kembali riuh dengan canda tawa para pengawal dadakan yang mulai menurunkan peti-peti barang dari kereta.
Rosie berjalan di samping ayahnya, merasakan detak jantungnya yang mulai tenang. Dia tahu, mulai hari ini, dia memiliki pelindung baru di rumah ini.
Namun, dia juga tahu bahwa dia harus berhati-hati agar kebenaran tentang perubahannya tidak menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di masa depan. Di belakang mereka, Citra berjalan dengan wajah yang masih menyimpan kekesalan, sementara Putih terus menatap punggung Rosie dengan pandangan yang semakin gelap.
Kebahagiaan keluarga ini tampak sempurna di permukaan, tapi di bawahnya, arus kecemburuan dan rahasia masih terus mengalir deras seperti sungai Amerta di musim penghujan.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..