"Hahaha… kamu memang tidak tahu apa-apa. Tidak heran kalau anak saya tidak senang denganmu nanti. Kamu tidak bisa memenuhi standar yang keluarga kami inginkan. Hhh!"
Nur Berliana Putri menggenggam tangannya sendiri, meremasnya karena merasa gugup. Tapi Kenzie segera menghentikan kegugupannya, dengan mengambil tangan tersebut.
Wajah Berliana mendongak ke arah suaminya, dan dia melihat bagaimana Kenzie tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberikan tanda, bahwa tidak usah menjawab atau menanggapi perkataan mamanya.
"Aku tidak pernah berharap memiliki menantu yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan seperti kami ini. Awas saja jika kamu membuat malu keluarga!"
***
Up hanya di Noveltoon untuk lomba menulis Novel wanita dengan tema air mata pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal
"Terima kasih, Mas. Liana sangat senang bisa pulang ke ponpes dan Mas mau menemani."
Kenzie tersenyum melihat sekilas ke arah istrinya, kemudian mengambil satu tangan Berliana untuk dia genggam. "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa menemanimu pulang ke pondok pesantren dan juga ingin tahu lebih banyak tentang duniamu di sana."
Percakapan mereka terhenti sejenak, karena sekarang mereka sudah berada di depan rumah. Kenzie turun terlebih dahulu, kemudian membantu istrinya.
"Terima kasih, Mas. Liana akan berusaha memberikan pengalaman yang menyenangkan di sana. Liana yakin jika Mas akan suka."
Kenzie mengangguk, kemudian membukakan pintu rumah. "Aku yakin juga. Aku senang bisa melihat duniamu di sana dan mengenal teman-temanmu di pondok pesantren."
"Terima kasih lagi, Mas. Liana akan menyiapkan semuanya besok pagi agar kita bisa berangkat lebih awal."
"Oke, Baiklah."
Mereka berdua sama-sama berjalan beriringan menuju ke arah kamar mereka, tidak memperhatikan keadaan sekitar. Sedangkan Juwita dan Alice yang duduk di ruang tengah, mendengar percakapan mereka berdua sehingga Juwita membuat rencana agar Kenzie gagal mengantar Berliana.
"Tante ada ide, Alice. Apakah kamu bisa membantu Tante, memujudkan rencana ini?" tanya Juwita penuh harap.
"Apa itu, Tante?"
Juwita segera berbisik-bisik di telinga Alice, memberitahukan pada Alice tentang rencana yang akan dia lakukan besok pagi. Dia tidak mau jika Kenzie pergi bersama Berliana ke pondok pesantren.
***
Sekitar pukul 10.30 pagi, Juwita duduk di ruang tengah sendirian. Dia tidak ada temannya, karena Alice baru saja pergi tadi pagi dan baru akan kembali siang nanti.
"Aku harus menghubungi Kenzie dengan segera. Aku akan menggagalkan rencana kepergiannya untuk pergi bersama dengan istrinya. Aku tidak suka."
Setelah selesai bergumam seorang diri, Juwita meraih ponselnya, kemudian menekan nomor telepon Kenzie.
Tut tut tut
..."Ya, Ma. Ada apa?" ...
..."Kenzie, Mama merasa kamu sangat kurang memperhatikan diriku akhir-akhir ini. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga dengan Berliana. Apa kamu lupa bahwa aku ini masih ada, dan aku adalah mamamu." ...
..."Ma, aku tidak sengaja mengabaikan mama. Kenzie hanya terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor, itu saja."...
Di seberang sana, Kenzie menghela nafas panjang mendengar protes mamanya yang kekanak-kanakan. Dia cemburu karena merasa Kenzie telah melupakannya.
..."Kamu tidak boleh begitu. Kamu harus bisa membagi waktu dan perhatianmu antara pekerjaan, dan juga aku sebagai mamamu. Aku merasa diabaikan dan tidak dihargai sama sekali. Kamu tidak bisa terus seperti ini, Kenzie."...
..."Maafkan Kenzie, Ma. Kenzie akan berusaha untuk lebih memperhatikan Mama dan membagi waktu dengan lebih baik."...
..."Baiklah, tapi kamu harus tahu bahwa kamu harus menempatkan aku di tempat yang lebih penting dengan pekerjaanmu. Aku adalah mamamu dan kamu tidak boleh melupakan hal itu."...
..."Ya, Ma. Maaf." ...
..."Ya sudah. Mama hanya mengingatkan saja. Tapi, mama boleh minta di transfer ke rekening Mama? Ada berlian model terbaru yang ingin Mama beli." ...
..."Iya, Ma. Kenzie transfer, berapa?" ...
..."3 M saja, tidak banyak-banyak." ...
..."Ya sudah, Ma. Kenzie harus kerja lagi."...
Klik.
Juwita tersenyum penuh kemenangan besar, karena tetap mendapatkan prioritas utama dari anaknya. Apapun yang dia minta, Kenzie selalu memberinya.
Juwita tidak menyingung tentang Berliana di telepon, padahal Berliana merupakan istri dari Kenzie. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri dengan perhatian yang lebih besar dari anaknya.
***
Siangnya, Juwita dan Alice sedang duduk di ruang keluarga, sambil menonton acara TV favorit mereka.
"Kamu tahu, Alice, aku merasa sedih dengan sikap Berliana akhir-akhir ini. Dia terlalu manja dan mencari perhatian Kenzie." Juwita mengeluhkan sikap Berliana yang katanya berubah.
"Benarkah? Aku justru merasa bahwa Berliana terlalu acuh dan tidak memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar pada mas Kenzie."
Juwita mengerutkan keningnya mendengar perkataan Alice. "Iya, itu benar. Tapi, menurutku, Berliana terlalu manja. Dia selalu ingin Kenzie memberikan perhatian yang lebih padanya daripada padaku."
"Iya, Tante. Aku merasa cemburu karena Berliana bisa mendapatkan perhatian yang lebih dari mas Kenzie." Alice ikut memanasi.
"Ah, tidak ada yang bisa menandingi cinta seorang ibu pada anaknya. Kenzie harusnya memperhatikan Tante lebih daripada Berliana yang hanya mencari perhatian." Sudut bibir Juwita naik karena kesal.
"Tante rasa Kenzie kurang adil dalam memberikan perhatian. Tante merasa dia telah melupakan keberadaan Tante," imbuh Juwita dengan nada sedih.
Alice segera memeluk Juwita, memberikan dukungan dan perhatian. "Tenang, Tante. Ada Alice yang akan selalu bersama dengan Tante."
Juwita tersenyum senang, kemudian balas memeluk Alice. "Terima kasih, sayang. Kamu bisa ngertiin Tante yang merasa kesepian ini."
Alice hanya diam dan membiarkan Juwita berbicara sendiri. Dia merasa senang karena Juwita mempercayai dirinya.
Beberapa waktu kemudian, Berliana keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu untuk mengerjakan pekerjaan dapur bersama dengan ART yang bertugas.
Juwita langsung menatap Berliana dengan tatapan sinis dan mengeluarkan sindiran.
"Hai, sayang, kamu terlihat sangat cantik hari ini. Tapi, sayangnya kalungmu yang biasanya menghiasi lehermu tidak terlihat hari ini. Apakah kamu sudah kehilangan kalungmu yang cantik itu?" Entah apa maksud dari perkataan Juwita.
Berliana langsung merasa tidak nyaman dan terkejut dengan ucapan Juwita. Dia tahu bahwa dia mengenakan kalung yang dibelikan Kenzie saat mereka berdua jalan-jalan ke Mall waktu itu.
Saat Berliana kembali dari jalan-jalan dengan Kenzie ke Mall, suasana di rumah memang masih tampak tidak nyaman. Berliana tetap menjadi sasaran sindiran-sindiran yang diberikan Juwita, dan dia hanya bisa diam mendengarkan saja.
Setiap kali Berliana mencoba berbicara dengan Kenzie, Juwita selalu ada di antara mereka untuk menggagalkannya. Berliana merasa terjebak dalam situasi yang sulit karena tidak dapat berbicara dengan suaminya sendiri tanpa ada yang mengawasi.
***
Sore ini, Kenzie pulang dan bersiap-siap untuk berangkat bersama dengan Berliana ke pondok pesantren. Tapi Juwita tidak mau tahu, dan membuat alasan bahwa dia sedang sakit kepala dan badannya terasa nyeri.
"Apa tidak sebaiknya besok-besok saja, emhhh... Mama sedang sakit begini kalian tega mau pergi?"
Berliana menunduk sambil memainkan jemari tangannya sendiri. Dia tidak bisa memutuskan, karena ada Kenzie yang lebih berhak untuk membuat keputusan dalam keadaan seperti ini.
"Berliana, perginya bisa di tunda, kan?" tanya Juwita, menekan Berliana agar meminta pada Kenzie untuk membatalkan rencana mereka.
"Mas," panggil Berliana pelan.
Kenzie menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya berkata, "sebaiknya kita tunda dulu. Kamu tidak apa-apa, kan Liana?" tanya Kenzie pada Berliana.
Berliana tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut. Dia merasa dihargai oleh suaminya, karena bertanya padanya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan.
kuta senasib berlian
by your side..
by your side, hadir
yuk saling dukung, By Your Side
Yuk saling dukung, *By Side You
salam dari kekasihku menantuku