Bukankah setiap makhluk hidup yang bernama anak kecil itu selalu lucu dan menggemaskan? Sikapnya, cara bicaranya, tubuh mungilnya, semua nya menggemaskan.
Tapi bagaimana jika anak kecil itu adalah putra seorang Bos Mafia yang paling di takuti dunia? Beranikah kau menyentuhnya?
Hera, gadis manis yang terpaksa menjadi ibu sambungnya. Harus mengurus segala hal yang berhubungan dengan anak kecil tersebut.
Bisakah Hera bertahan menjadi ibu sambung dan hidup di tengah dunia mafia? Bagaimana dia menjalani hidupnya bersama anak sambung dan suami mafia nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kemilau Senj@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. KEMARAHAN SEORANG AYAH
Hera merasa tidak enak hati. Dia berpikir bahwa Tuan Tama pergi karena tidak nyaman dengan keberadaan nya di sana. Mungkin Tuan Tama jijik makan satu meja dengan pelayan seperti nya. Begitulah anggapannya.
Hera langsung mengantarkan Deon ke kamarnya begitu bocah tampan itu selesai dengan makan malam nya. Dia sendiri tak berselera untuk makan. Sesampainya di kamar Deon, Hera melakukan tugasnya seperti biasa. Menemani Deon membaca sebelum anak kecil itu tidur.
Jika bacaan anak-anak pada umumnya adalah buku cerita bergambar, maka lain halnya dengan Deon. Buku bacaan Deon adalah buku-buku yang berkaitan dengan dunia bisnis. Deon juga belajar beberapa bahasa asing. Setidaknya sekarang dia sudah menguasai lima bahasa asing selain bahasa Inggris. Menakjubkan.
"Hera, aku ingin minum susu."
"Baik, saya ambilkan sebentar."
Hera kembali turun ke lantai satu untuk membuatkan susu. Saat sedang membuat susu, tiba-tiba Dela datang menghampiri nya. Dela adalah salah seorang pelayan di mansion yang sudah lebih dulu bekerja daripada Hera.
"Hera, kau sedang apa?"
"Aku sedang membuatkan susu untuk Tuan muda kak. Kakak butuh sesuatu?" Tanya Hera ramah.
"Ah tidak, aku hanya kebetulan lewat dan melihat mu saja."
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kamar Tuan muda dulu kak."
"Silahkan."
Hera kembali ke kamar Deon dengan membawa susu pesanan Tuan muda nya itu.
"Ini susu nya Tuan muda." Ucap Hera.
"Terima kasih, kau memang calon istri yang baik." Puji Deon sambil membelai rambut Hera.
Dia bertingkah seperti seorang suami saja. Anak kecil ini, benar-benar membuat Hera selalu bahagia dengan tingkah lucunya.
Deon kembali melanjutkan pelajaran nya, setelah menghabiskan segelas susu buatan Hera. Tapi tak lama kemudian Deon merasa perutnya sangat tidak nyaman, bahkan kini tubuhnya berkeringat. Padahal suhu di kamarnya cukup dingin.
"Tuan muda, Anda baik-baik saja? Kenapa Anda berkeringat? Apa AC nya tidak terasa?" Tanya Hera beruntun. Dia merasa khawatir melihat kondisi Deon yang tiba-tiba seperti sedang kesakitan.
Namun Deon tak menjawab, dia langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perut nya. Tentu saja Hera merasa panik. Dia tidak tau kenapa Tuan mudanya bisa tiba-tiba seperti ini.
" Ya Tuhan, Tuan muda. Anda kenapa? Kenapa bisa begini?" Tanya Hera. Sambil berurai air mata dia membantu menggosok bagian leher belakang Deon. Berharap rasa mual nya bisa berkurang.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Deon mencoba menghibur Hera. Meski saat ini tubuhnya terasa sangat lemas. Hera langsung menggendong Deon begitu muntah nya sudah berhenti.
"Apa Anda tidak apa-apa jika saya tinggal sebentar? Saya akan minta Bu Laksmi untuk menghubungi dokter." Ujar Hera setelah dia menidurkan Deon di atas tempat tidurnya.
"Pergilah."
Hera bergegas turun untuk menemui Bu Laksmi, dan memintanya segera menghubungi dokter. Kemudian dia kembali ke kamar Deon lagi untuk menemani Tuan kecilnya yang tengah tak berdaya.
Namun belum sempat dia meraih gagang pintu kamar Deon, Tuan Tama datang dan menarik tangannya.
"Apa yang kau lakukan pada putra ku?" Sangat jelas sorot kebencian terpancar di mata Tuan Tama saat ini. Tentu saja dia marah. Selama ini dia telah bersusah payah menjauhkan Deon dari marabahaya. Tapi sekarang putranya sekarat di tangan pengasuh yang sangat di sayangi putranya sendiri.
"Saya tidak melakukan apapun Tuan." Jawab Hera takut sambil menahan rasa sakit pada tangannya. Tuan Tama mencengkram tangannya dengan sangat kuat. Hera merasa tulang tangannya patah saking kuatnya cengkraman Tuan Tama pada tangannya.Beruntung dokter Jeremy segera datang.
"Kurung dia di kamarnya!" Perintah Tuan Tama pada Defan yang masih setia menemani Tuan nya hingga malam begini.
Defan segera menyeret Hera dari sana. Dia terpaksa bertindak kasar karena Hera yang terus meronta ingin menemui Deon. Sesampainya dikamar Hera, Defan langsung mendorong wanita cantik itu masuk, dan menguncinya dari luar. Kemudian dia kembali untuk menemui Tuan Tama.
"Bisa beritahu uncle apa saja yang kau makan hari ini?" Tanya dokter Jeremy pada Deon.
"Aku makan seperti biasa." Jawab Deon lemah.
"Apa ini bekas gelas susu mu?" Tanya dokter Jeremy begitu melihat gelas yang sudah kosong itu masih tergeletak di atas meja samping tempat tidur Deon.
"Hm.
Dokter Jeremy meraih gelas tersebut dan mencium aroma dari gelas susu tersebut. Dia merasa ada aroma lain selain aroma susu di sana. Tapi dia juga tidak tau pasti aroma apa itu. Jeremy meminta izin untuk mengecek cairan dalam gelas yang masih tersisa beberapa tetes tersebut.
Setelah mendapat izin, dokter Jeremy membawa gelas bekas susu Deon ke laboratorium untuk di uji. Sedangkan Deon tengah tertidur lemas tak berdaya. Tapi dokter Jeremy sudah memberinya beberapa obat sebelum meninggalkan kediaman Tuan Tama.
Tuan Tama tetap berada di kamar Deon. Dia tidak akan membiarkan Hera untuk datang menemui putranya. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Deon, Tuan Tama tidak akan berpikir dua kali untuk meghabisi nyawa Hera.
Beberapa jam telah berlalu, Tuan Tama tetap setia menemani putranya. Meskipun selama ini hubungan mereka tidaklah baik. Tapi Tuan Tama sangat menyayangi putra nya. Dia terus menatap wajah mungil putranya yang kini terbaring tak berdaya. Ada rasa penyesalan di hatinya karena mempertemukan putranya dengan Hera, gadis yang telah menyakiti buah hatinya.
"Tuan, ada telpon dari dokter Jeremy." Ujar Defan sambil menyerahkan telpon seluler milik Tuan Tama.
"Bagaimana?"
Entah apa yang di sampaikan dokter Jeremy pada Tuan Tama. Apapun itu, pasti itu bukan hal baik. Rahang Tuan Tama mengetat, tangannya terkepal kuat, seperti nya kemarahan benar-benar telah menguasai nya.
"Seret wanita kurang ajar itu ke gudang belakang sekarang juga!" Perintah Tuan Tama marah.
"Baik Tuan." Apapun yang diperintahkan tuannya, Defan hanya harus menjalankan nya saja.
Hera tersentak kaget ketika Defan datang dan langsung menyeretnya pergi. Bukan untuk menemui Deon, melainkan ke tempat lain yang entah dimana. Sampai di tempat tujuan, Defan langsung mengikat tubuh Hera pada sebuah kursi kayu di sana. Mulutnya juga di tutup agar tidak berteriak.
Tak berselang lama, Tuan Tama pun datang. Sangat terlihat jelas kemarahan dan kebencian di sorot matanya.
"Apa yang kau lakukan pada putra ku?"
Hera menggeleng, dia tak bisa menjawab karena mulutnya tertutup. Defan bergerak cepat membuka penutup mulut Hera, agar tuannya bisa mendengar langsung jawaban Hera.
"Ampun Tuan. Tapi saya sungguh tidak melakukan apapun."
Plakkk.... Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di wajah mulus Hera. Bibir nya bahkan sampai pecah dan berdarah.
"Kau masih mau mengelak?"
" Sungguh Tuan. Saya hanya membuatkan susu untuk Tuan muda seperti biasa."
Plakkk... Plakkk... plakkk...
Lagi dan lagi. Entah berapa tamparan yang sudah di terima nya. Penglihatan nya mulai buram. Rasanya benar-benar sakit. Hera berharap dewa kematian segera datang menjemputnya. Sungguh dia sudah tidak sanggup lagi.
"Gantung dia!"
rasain gk dpt Nasi Goreng
Nasgor Hera is the best