Bunga Qisyal wanita cantik, diusianya yang masih muda 22 tahun sudah menjadi CEO ternama di perusahaan papanya.
Mencintai teman kecilnya yang bernama Jasson Anggara Utama, keduanya begitu dekat. Suatu hari, keluarga Jasson mengalami kebangkrutan.
Bunga ingin menolongnya dengan catatan Jasson harus menikah dengannya. Tentu saja pria itu menolak dan marah besar namun keluarga Jasson memaksanya hingga membuat Jasson tidak memiliki pilihan.
Kejadian itu membuat Jasson membenci Bunga, karena Jasson sudah memiliki kekasih hati pilihannya dan berencana akan menikah.
Jasson menganggap jika Bunga adalah wanita egois yang hanya bisa mengandalkan kekuasaannya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Rasa sayangnya kepada Bunga sebagai teman berubah menjadi sebuah kebencian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Aku, Jasson! Bab 16
Setelah ibu dan sahabatnya pergi, Bunga mengajak Ade untuk mengobrol di luar rumah.
"Kau sengaja melakukan itu kepadaku?"
Bunga tidak mengerti maksud dari kekasih suaminya itu "Apa maksudmu?"
"Enggak usah pura-pura enggak tahu! Kau sengaja kan? Mengundang mama dan juga sahabatmu untuk mengasingkan aku? Kau sangat licik, Bunga!"
Bunga terdiam, menghela nafas dengan kasar. Bagaimana bisa ia sengaja, jika dirinya sendiri tidak tahu kedatangan mamanya.
"Aku enggak paham sama ucapan kamu, udah ya aku malas berdebat!"
Bunga pergi meninggalkan Ade seorang diri, terlihat kegelisahan Ade dirumah.
****
Di kantor Jasson memikirkan keberadaan ibu mertuanya, jika terus begini. Maka keburukannya akan terbongkar didepan ibu mertuanya.
Jasson belum siap, apalagi menghadapi kemarahan dari ibu mertuanya. Jasson dan keluarganya dibantu oleh Bunga dan mamanya, jika mama mertuanya mengetahui kelakuan buruk Jasson kepada Bunga. Maka ia yakin jika ia dan keluarganya akan menghadapi masalah yang besar.
Dirinya dilema, jika saja keluarganya tidak mengalami kebangkrutan maka ia tidak harus bergantung kepada keluarga Bunga.
Jasson mengacak rambutnya yang tidak gatal, kepalanya terasa sangat pusing. Makin hari, untuk berpisah dengan Bunga dan menikah dengan Ade sangat sulit.
******
Di rumah, Salvira dan Bunga memutuskan untuk membuat kue. Ara juga membantu mereka, Bunga dan ibunya sudah meminta Ara untuk dikamar istirahat saja namun Ara menolak.
Ia mengatakan jika dirinya bosan jika berada didalam kamar, ketiganya pun membuat kue. Sedangkan Ade, ia tidur di kamarnya. Salvira sudah melihat sikap wanita itu, bagaimana seorang tamu bersikap seperti ratu? Sungguh tidak tahu diri!
Salvira belum mengetahui jika kamar anaknya di pakai oleh wanita itu. Salvira bermaksud untuk memberikan kejutan kepada anaknya, ia pun mengatakan kepada Bunga jika dirinya ingin istirahat di kamar.
Bunga tidak ada kecurigaan sedikit pun kepada mamanya.
"Iya mi, mami istirahat aja. Biar Bunga yang mengerjakan ini, lagipula sudah ada Ara yang membantu."
Salvira menaiki anak tangga satu persatu, ia pun masuk kedalam kamar utama, kamar yang biasa di tempati oleh anaknya.
Betapa terkejutnya ia saat melihat Ade yang berbaring nyenyak di kasur itu. Salvira pun berteriak
"Hei, sedang apa kamu di kamar anakku?" Salvira merasa geram, ia pun memanggil anaknya. Keributan terjadi, membuat Bunga kaget.
Ia meminta tolong kepada Ara untuk melihat kue yang di dalam oven.
Bunga berlari menuju atas, sesampai dikamar yang sekarang di ambil oleh Ade. Bunga terdiam, begitu juga dengan Ade..
"Bunga, mengapa dia menempati kamar kamu? Ini rumah kamu dan ini kamar utama, kenapa tamu yang menempati kamar ini?" Salvira terlihat sangat murka, kecurigaannya semakin menguat.
Bunga menenangkan mamanya "Mama tenang dulu! Jangan marah-marah begini dong ma. Bunga lupa memberitahu, tadi tiba-tiba saja Ade mengidam ingin tidur disini. Jadi Bunga katakan kepadanya, tidur siang saja di sini. Awalnya Ade juga menolak, namun Bunga yang memaksa. Ma dia itu hamil, dan bukan kemauannya tapi anak yang ada diperutnya. Apa salahnya jika tidur sebentar? Lagipula hanya sebentar ma! Selama ini Ade juga tidur di kamar tamu."
Walau Ade selalu menyakiti hati Bunga, namun Bunga masih melindunginya. Amarah Salvira mereda, ia pun mempercayai ucapan anaknya.
"Oh begitu, maafin Tante kalau tidur kamu enggak nyenyak. Kamu bisa tidur lagi!"
Salvira mengajak anaknya untuk pergi dari kamar itu, di dalam kamar. Ade merasa tidak tahan lagi! Ketenangan dan kenyamanannya semakin hari semakin terganggu.
Ade menghubungi Jasson, namun Jasson yang rapat tidak mengangkat panggilannya.
Ade semakin marah, ia pun membanting barang-barang yang ada di dalam kamar.
Salvira mengatakan kepada anaknya untuk tidak terlalu memanjakan tamu seperti itu.
"Sayang, mami tahu kalau kamu itu wanita baik. Namun kamu jangan seperti itu juga! Sekarang kamu kasih kamar mu, kalau suatu saat dia meminta suamimu bagaimana? Kamu kasih juga?"
Bunga terdiam, memang saat ini yang Ade inginkan itu suaminya. Bukan apapun lagi, Salvira memanggil anaknya berulang kali
"Mami tanya, kenapa!" Bunga kaget mendengar sentakan dari maminya.
"Heeem, enggak apa-apa kok. Mi! Sudah lah mi! Jangan membuat pikiran yang sebenarnya itu tidak ada. Mami nanti bisa pusing sendiri, Bunga enggak mau mami sakit!" Bunga memeluk ibunya dengan manja, Salvira pun luluh dan melupakan semuanya.
Namun ia harus tetap berjaga-jaga jika suatu saat nanti, kebahagiaan anaknya terancam.
*****
Malam tiba, Jasson pun kembali kerumah. Bunga sudah menyiapkan makan malam untuk semua, seperti biasa. Bunga dan Jasson duduk bersampingan, sangat dekat. Sedangkan Ade, duduk disebelah Salvira.
Ia merasa risih, namun mau bagaimana lagi? Ade hanya bisa menahan kemarahannya, Jasson bahkan tidak berani melirik Ade Karena kehadiran ibu mertuanya.
"Sayang, mami sudah mengirimkan surat gugatan kepada suami kamu, Ara jangan khawatir lagi. Dan kamu tahu? Akibat perbuatannya, bisnisnya hancur media juga sudah mengetahui kelakuannya."
Ara menangis, ia terharu. Karena walau sudah tidak memiliki kedua orang tua, Ara merasa di lindungi oleh Bunga dan juga mamanya.
"Terimakasih banyak mami, Ara beruntung memiliki kalian,"
Salvira tersenyum, melanjutkan makannya. Jasson pun menyuapi Bunga makan dengan romantis, Salvira memandangi anak dan menantunya yang begitu mesra.
"Jika mami suatu saat tiada, mami akan tenang meninggalkan mu bersama suamimu!" Salvira membatin di dalam hatinya, ia tidak perlu merasa khawatir lagi.
Ade yang semakin kesal pun memanggil Jasson
"Jasson, aku ingin berbicara sebentar!" Ade langsung pergi meninggalkan ruang makan, Jasson tidak berani bergeming.
"Mengapa dia ingin berbicara kepadamu, Jasson?" Salvira bertanya dengan penuh sidik, Jasson pun tidak tahu harus mengatakan apa "Sudah lah, Mi! Mungkin Ade ingin mengatakan atau menyampaikan sesuatu dari suaminya."
Bunga meminta Jasson untuk segera menemui Ade, terlihat dari wajah Ade yang begitu kesal.
"Baik lah!" Jasson bangkit, ia pun meninggalkan ruang makan "Kalau hanya menyampaikan pesan dari suaminya, dia bisa mengatakan itu didepan kita."
"Sudah lah mi! Mungkin Ade merasa tidak enak karena ada mami dan juga Ara. Biarkan saja!"
"Kamu ini, terlalu membebaskan wanita itu. Kamu ini istrinya Jasson, apapun yang mereka katakan kamu berhak tahu, Bunga!"
Salvira yang kesal ingin menghampiri menantunya, namun Bunga mencegah agar Salvira tetap makan bersama mereka.
"Mami, bagaimana pun Ade itu tamu. Mami selalu mengajari Bunga untuk tetap ramah dan baik kepada tamu."
Salvira bungkam, apa yang dikatakan anaknya itu benar.
*****
"Sudah cukup semua ini Jasson! Aku sangat muak!"
Wajah wanita itu memerah, terlihat dirinya sangat emosi. Jasson menenangkan kekasihnya "Sayang, tenangkan dirimu!"
"Tenang bagaimana lagi? Setiap saat aku melihatmu bermesraan dengannya! Kau tidak memikirkan aku? Dan jangan lupa Jasson! Aku sedang mengandung anakmu! Aku bukan budak **** mu!"
Ade menatap Jasson dengan tatapan menakutkan, Jasson yang mendengar ucapan Ade pun ikut kesal "Apa kau mengira aku hanya menjadikan mu budak ****? Aku mencintai mu, Ade!"
"Kau berbohong, Jasson! Aku membencimu! Jika kau mencintaiku maka kau berani menentang mereka! Bahkan kau tidak menganggap aku ada, aku bagai orang asing untukmu!"
Keduanya pun terjadi pedang hebat, dan terbawa oleh emosi masing-masing. Jasson yang sudah terlanjur kesal meninggalkan Ade seorang diri.