21+++++ tolong bijak, kalau tak suka bisa di lewati.
cinta adalah anugrah dari Tuhan, dengan siapa kita mencintai itu juga sudah di jodohkan oleh takdir.
Tapi bagi seorang pria seperti Aris, cinta adalah sebuah kesengsaraan dan luka, tapi dia baru menyadari apa itu cinta saat bertemu dengan gadis yang bisa mencuri hatinya di pandangan pertama.
Ayu seorang gadis sederhana yang mampu menggoyahkan hati juragan kasar itu, tapi sebuah kenyataan melukai cinta mereka.
Apa mereka akan bahagia, atau malah akan Sengsara?
Apa cinta Aris tulus atau itu hanya cinta sementara yang membutuhkan kehangatan saja?
Dukung terus yuk karya otor yang satu ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
salah sasaran
Aris sampai di rumah dan langsung meminta bantuan Ambi untuk mencarikan dekorasi dan persewaan peralatan pesta.
bukan dia tak ingin mencari sendiri, tapi dia hanya lebih cepat, dan Eko juga di buat kesulitan karena dia harus membantu menyiapkan pesta untuk bosnya itu.
tapi Eko di minta untuk mengunakan jasa EO, sedang di rumah, Ayu masih belum percaya jika dia akan menikah dengan Aris.
"sedang melamunkan apa nduk?" tanya pak Mun.
"tidak ada Mbah, Ayu hanya tak percaya dengan apa yang akan terjadi, akan menikah dengan pria yang jadi idaman semua gadis di desa ini," jawab Ayu.
"kenapa tak percaya, sebagai kakek Mbah setuju saja, tapi kamu harus ingat ayu, jika kamu harus selalu mendukung suamimu nantinya," pesan pak Mun.
"iya Mbah, ya sudah Ayu tadi mau ke warung untuk beli sesuatu, ayu keluar sebentar dulu ya Mbah," pamit Ayu.
pak Mun mengizinkan cucunya itu, Ayu menuju ke sebuah toko kelontong di sekitar rumahnya untuk membeli sesuatu.
"wah... Ayu selamat ya, sekarang naik tingkat dari pembantu juragan Aris akan jadi istrinya, wah hebat ya kamu," kata seorang ibu.
Ayu hanya tersenyum saja, sudah ucapan yang entah kesekian kali dia dengar, apa dia seburuk itu hingga semua orang tak bisa menerima jika Aris akan menikahinya.
sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan toko kelontong itu, seorang pria berpakaian hitam turun dari mobil untuk bertanya.
"maaf permisi ibu-ibu, apa ada yang tau rumah tuan Aris Munandar Ibrahim?" tanya pria itu
"bapak kurus saja, nanti rumah tingkat dua paling bagus, lah ..itu rumah juragan Aris," jawab ibu Yayuk.
"terima kasih ya Bu, kalau begitu permisi," pamit pria itu.
"pak kalau boleh tau, memang bapak mau bertemu Juragan Aris, ada masalah apa ini?" tanya Bu Atik kepo.
"saya pengawal nona Vania, istri dari tuan Aris," jawab pria itu.
semua ibu terbengong, bahkan tanpa sadar air mata Ayu menetes jatuh, Aris pernah menikah dan dia tak tau apapun.
dan pria itu mau menjadikan dia simpanan, atau istri kedua tanpa sepengetahuannya.
"ayu ini kembaliannya," kata ibu pemilik warung yang merasa kasihan dengan ayu.
"iya Bu, terima kasih..." kata ayu yang buru-buru pergi.
dia harus bertanya pada sang kakek tentang wanita bernama Vania, wanita yang mengaku istri dari Aris.
"Mbah... anda dimana?" panggil Ayu dengan cukup keras.
tapi dia tak menemukan sang kakek di mana pun, tapi kemudian Ayu mendapati sebuah pesan yang di tempelkan dengan magnet di pintu kulkas.
'aku pergi ke rumah juragan Aris sebentar nduk, tidak perlu khawatir' isi pesan itu.
ayu pun tak bisa tenang, dia butuh kejelasan sebelum benar-benar menjadi duri dalam pernikahan orang lain.
Ayu begitu panik hingga tak bisa berpikiran jernih sedikitpun, dia langsung menuju ke rumah Aris.
saat sampai, Ayu lewat pintu belakang dan diam-diam menguping semuanya.
Ayu bisa melihat kakeknya berdiri di belakang arus yang nampak angkuh duduk menatap wanita yang datang itu.
ayu bisa melihat bagaimana wanita itu tersenyum kearah Aris dengan sangat menggoda.
"bagaimana sayang, mau kamu memikirkannya lagi?" tanya Vania sambil tersenyum.
"kamu gila, aku sudah tak tertarik dengan mu, kamu itu hanya masa lalu ku, dan aku akan segera menikah dan kamu tak usah mengaku yang tidak-tidak, dan apa urusannya kamu berani datang kemari," kata Aris dingin.
"aku hanya ingin mengajak mu bersama dan menikah dengan ku, aku dulu masih muda hingga mudah tergiur oleh pria yang bisa memberikan cinta, sedang kamu yang selalu dingin dan sibuk itu menyebalkan, terlebih kamu juga belum menikah sampai usia ini bukan, jadi kamu belum bisa move on dariku," kata Vania sombong.
"kata siapa, kamu jangan terlalu percaya diri, aku sudah bilang akan segera menikah, aku memang memilih pasangan yang cocok dahulu, terlebih aku tak ingin gagal lagi, dan kita juga belum pernah menikah, jadi gak usah mengada-ada, kamu itu wanita tak tau malu ternyata," kata Aris mengejeknya.
"memang kenapa, kita juga sering melakukannya bukan, kamu bahkan seperti Monster, apa kamu lupa," kata Vania makin menjadi.
"sudah tutup mulut busuk mu itu, aku tak ingin dengar lagu, sekarang silahkan pergi dari sini, pergi!!" usir Aris.
"hei gadis manis, kamu lihat bagaimana calon suamimu ini, asal kamu tau dia dulu sangat suka berhubungan intim dengan ku, ah... dia bisa melakukannya berkali-kali, tapi sayang pria hebat ini lebih sibuk dengan pekerjaannya di banding aku," kata Vania tersenyum menyeringai.
Aris menoleh dan kaget melihat Ayu yang berdiri di sana, Aris langsung berlari menghampiri ayu yang nampak masih kaget.
"dia mengaku istrimu mas, aku ingin bertanya apa benar, aku tak mau jadi yang kedua di pernikahan siapapun?" lirih ayu.
"tidak akan pernah, aku belum pernah menikah Ayu, tanya kakek mu karena beliau ikut keluarga ku dari dulu, dia hanya wanita gila yang hanya mengaku-ngaku saja, dia yang tergila-gila padaku," kata Aris dengan sangat lembut.
"ingat Aris, aku bisa membuat perusahaan mu bangkrut, jadi jangan bertingkah," marah Vania yang tak terima karena Aris sudah memilih gadis kampung seperti Ayu.
"terserah pada mu, aku tak peduli, karena aku tak ingin kembali ke kota lagi, jadi jangan mencariku!" bentak Aris dengan keras.
tak terduga pengawal pribadi dari Vania menyerang kearah pak Mun, tapi mereka tak tau jika pria tua itu juga bekas jawara.
pak Mun memukul mundur kedua pengawal itu, Aris langsung menghampiri kedua pengawal itu dan langsung membuat keduanya terluka parah.
Vania tak mengira jika Aris sekarang lebih kejam lagi, "pergi atau aku patahkan semua leher kalian, termasuk kamu Vania," marah Aris.
pria itu benar-benar tak bisa di remehkan lagi, "sialan, awas kamu Aris, aku akan membuat mu menyesal," kata Vania mengancam.
"aku tunggu, tapi sekali kamu berani menyentuh wanita ku dan orang kepercayaan ku, ku pastikan aku akan membunuh mu," kata Aris.
Vania pun pergi dengan marah, dia tak mengira jika Aris benar-benar bisa sekejam ini padanya.
Vania dan pengawalnya meninggalkan desa terpencil itu, sedang Aris membuat logan membereskan Vania.
Ayu masih nampak kaget, terlebih dia sudah mendapatkan pandangan buruk dari semua orang, ini di tambah lagi ada yang mengaku sebagai istri Aris juga.
"pak sepertinya kita harus mencari tempat tinggal baru karena aku tak ingin Ayu terus di hina di sini, terlebih semua orang terlalu berlebihan," kata Aris pada pak Mun.
"tidak perlu tuan, di desa manapun sama saja, masih banyak orang yang sirik dengan kebahagiaan dari orang lain," kata pak Mun.
"kalau begitu tolong bantu aku membujuk cucu mu ini yang masih tak percaya dengan ku," kata Aris dengan sedih.
pak Kun mendekat kearah cucunya itu, "aku pamit dulu, permisi ..." kata Ayu yang pergi begitu saja.
pak Mun juga tak mengira jika Ayu bisa semarah ini, "tuan tenang saja, biar saya yang akan membujuknya, oh iya tuan tadi mas Ambi menelpon sepertinya ada urusan penting," kata pak Mun sebelum pulang.
pria sepuh itu pamit pulang, sedang Aris langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ambi.
"halo bos, aku sudah dapat beberapa tempat yang menyewakan peralatan pesta, sekarang giliran anda yang memilih," kata Ambi.
"baiklah, dan sepertinya aku berubah pikiran, sekarang cari pasangan yang ingin menikah tapi tak punya biaya, kita buat nikahan masal bersamaan dengan pernikahan ku nanti, apa kamu bisa mengaturnya?" tanya Aris yang merubah rencana awalnya.
"baiklah bis, nanti aku akan mencari beberapa rekan untuk membantu, dan mencari pasangan yang ingin menikah," jawab Ambi.
"baiklah, oh jangan lupa bilang jika yang ikut nikah massal nantinya akan dapat uang saku, peralatan dapur dan beberapa hadiah lain," kata Aris.
"siap bos," jawab Ambi.
dia pun langsung mengontak pak RT, pak RW dan juga bapak kepala dusun untuk membantunya.
mereka pun membantu dengan senang hati, pasalnya ini hal baik, dan mengurangi perzinahan antar pasangan muda.
Aris besok pagi akan mengambil uang cukup banyak dari bank, untuk hadiah pasangan pengantin.
Ayu sedang duduk memikirkan semuanya, kejadian hari ini sangat membingungkan.
dia tak mengira jika kondisi bisa sekacau ini, tapi dia tak tau jika Aris memiliki mantan kekasih yang begitu cantik.
"ayu masih marah?" tanya pak Mun duduk di sebelahnya.
"aku tak mengerti Mbah, kenapa mas Aris memilihku, padahal ada wanita secantik tadi di sekelilingnya, sedang aku hanya apa," kata ayu sedih.
"ayu tak percaya diri, padahal Mbah sudah tau dari tuan Aris kecil, memang mereka pernah saling mencintai dulu, tapi penghinaan dan penghianatan yang di lakukan oleh Vania, sangat menghancurkan tuan Aris, jadi dia tak percaya dengan cinta, hingga dia memohon pada Mbah untuk mengizinkan dia menikahi mu," terang pak Mun.
"tapi kenapa ayu Mbah, padahal ayu cuma gadis biasa," tanya Ayu.
"kamu percaya jika cinta bisa muncul dari perut ke hati, awalnya tuan Aris menyukai masakan mu, dan saat tau dirimu, dan sering menghabiskan waktu bersama cukup lama, akhirnya dia sadar jika sudah jatuh cinta padamu, cinta karena terbiasa bersama," kata pak Mun mengusap jilbab cucunya.
"iya Mbah," jawab Ayu yang sedikit mulai tenang
Aris menelpon calon istrinya itu, "angkat ya nduk, jangan seperti ini tak baik, lebih baik bicarakan dengan baik ya," kata pak Mun.
ayu pun mengangguk dan segera mengangkat telpon dari pria yang dia cintai itu.
"iya mas," kata Ayu melihat layar ponselnya.
"jangan marah lagi ya dek, mas minta maaf... besok ikut mas belanja untuk hadiah yuk, sekalian kita habiskan waktu berdua yuk," ajak Aris.
"baiklah, tapi kapan mas akan masuk islam?" tanya Ayu yang tak ingin menikah dengan pria yang berbeda agama.
"loh aku belum kasih tau ya, aku susah mualaf dari beberapa Minggu yang lalu, itulah kenapa aku mantap mempersunting mu," kata Aris mengatakan dengan senyum yang merekah.