Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 16
Setelah menata hati, aku lalu membawa langkah kaki keluar. Semua orang sedang berbicara di ruang tamu dan di ruang keluarga. Mereka berbicara santai sambil menyantap makanan yang telah dipesan dari restoran ternama tempat keluarga ku berlangganan. Mereka mengobrol dengan suasana yang jauh lebih ringan daripada di dalam aula yang suram dan membuat tertekan.
Aku tidak berani duduk di antara mereka, takutnya merusak suasana nyaman. Aku memilih tempat yang tidak terlalu mencolok di ruang keluarga, hatiku sangat tegang karena sedari tadi aku mencoba berbaur di antara mereka tapi beberapa orang mengabaikan keberadaan ku. Tersenyum tipis, aku mengambil segelas air putih dan menyesapnya. Kepalaku tertunduk menyembunyikan kepahitan di wajahku saat mendengar mereka sedang membicarakan Almira dan bagaimana pengobatannya.
Namun ada yang aneh. Kenapa aku merasa bila ada seseorang yang sedang menatapku?
Siapa yang menatapku?
Dirundung penasaran, tanpa ragu aku mengangkat kepalaku untuk mencari siapa orang yang telah menatapku selama ini.
Deg
Jantungku berdetak sangat cepat ketika mataku bertemu langsung dengan tatapan Deon. Di sana, di antara para tetua kedua keluarga Deon diam-diam menatapku dengan tatapan yang tidak berani aku artikan. Malu, aku langsung menundukkan kepalaku tidak berani menatapnya lebih lama lagi.
Aku menyentuh pipiku yang terasa panas dan mendinginkannya dengan telapak tanganku. Tanpa melihatnya di cermin pun aku tahu bila wajahku saat ini sangat merah. Ini sangat memalukan, jantungku langsung berdebar kencang hanya karena ditatap.
"Aku sangat haus." Kataku sambil menyesap air gelas di tanganku.
Aku ingin menghilangkan malu dengan bersikap biasa di depan Deon. Maka dengan segenap keberanian aku kembali mengangkat kepalaku untuk membalas tatapan Deon.
Kecewa.
Deon kini tidak lagi menatap ke arahku seperti beberapa saat yang lalu. Dia sekarang sedang berbicara dengan Mamaku. Berbanding terbalik dengan ekspresi wajah sebelumnya, kali ini Deon terlihat agak lembut ketika mengobrol dengan Mama. Dia mendengarkan dengan serius apa yang Mama katakan tanpa menyela sedikitpun.
"Non Rain, Nyonya Mei bilang kita harus segera menyiapkan makanan untuk makan malam." Bi Imah tiba-tiba berbisik di sampingku.
"Ah?" Aku jelas tidak mengerti apa yang Bi Imah katakan.
Seakan mengerti kebingungan ku, Bi Imah berkata lagi,"Untuk menyambut besan, Nyonya Mei meminta non Rain ikut masak di dapur." Katanya menjelaskan.
"Ayo, Bi." Ajak ku agak bersemangat seraya mengikuti langkah Bi Imah ke dalam dapur.
"Non, tolong potong-potong daging ayam ini seperti ukuran biasanya." Suara Bi Imah menarik ku dari lamunan.
"Apa aku harus... memakai pisau?" Tanyaku ragu di depan Bi Imah.
Bi Imah dan yang lainnya kompak menatapku dengan ekspresi menghina. Aku tidak mau berburuk sangka tapi apa yang mereka semua pikirkan sudah tergambar jelas di dalam sorot mata mereka.
"Non Rain ingin menggunakan sendok makan atau sendok masak untuk memotong daging ayam?" Bi Dian bertanya kepadaku.
Ah, apakah benar-benar bisa?
"Apa sendok makan bisa memotong daging?" Tanyaku tidak yakin.
Sontak saja mereka semua segera menutup mulut untuk menahan tawa. Dari reaksi ini aku langsung tahu bahwa Bi Dian sedang mengerjai ku.
"Non Rain harus menggunakan pisau untuk memotongnya." Kata Bi Imah sambil memberikan ku pisau dapur.
Aku tidak segera mengambil pisau dapur itu. Kedua mataku menatap pisau dapur ditangan Bi Imah dengan tatapan menilai.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️