NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lautan dan Harga Sebuah Harga Diri

Sinar matahari pagi merambat pelan melalui celah jendela, membangunkan Devi dan Dewi yang masih terlelap. Setelah ketakutan yang dirasakan Rohita semalam, suasana pagi ini terasa jauh lebih tenang. , Rohita bangun lebih awal untuk memastikan gerbangnya aman, sementara Devi dan Dewi bergegas menuju kebun kecil di samping bangunan. Mereka memiliki rutinitas yang kini menjadi kegemaran baru: memanen sayuran yang mereka tanam sendiri.

"Lihat ini, Wi! Sawi-sawinya sudah gemuk sekali," seru Devi . Ia mencabut sebatang sawi dengan semangat, sementara Dewi hanya tersenyum kecil sambil memetik tomat yang mulai memerah. Dewi bekerja dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti tanaman tersebut. Setelah keranjang penuh , mereka memutuskan untuk mencari suasana baru. Devi mengusulkan untuk pergi ke pantai yang terletak tak jauh dari kostnya ini

Sesampainya di tepi pantai, semilir angin laut menyambut mereka. Pasir putih yang lembut terasa hangat di bawah kaki. Devi, berlari kecil menuju tepian air, sementara Dewi berjalan perlahan di belakangnya sembari memegangi topi lebarnya. Saat mereka sedang asyik menikmati deburan ombak, seorang pria asing dengan penampilan perlente mendekat. Pria itu terus menatap Devi

"Hai, manis. Sendirian saja?" goda pria itu dengan senyum yang dipaksakan . Ia mulai melontarkan kata-kata manis yang terdengar klise di telinga Devi. Dewi yang merasa tidak nyaman langsung bersembunyi di balik punggung Devi, wajahnya menunduk dalam karena sifat pemalunya yang kambuh seketika saat berhadapan dengan orang asing.

Namun, Devi bukanlah gadis yang mudah terpesona. Ia menatap pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Kamu ingin mengajakku jalan? Baiklah, tapi aku punya standar," ucap Devi sambil berkacak pinggang. Pria itu tampak percaya diri dan bertanya berapa harga yang harus ia bayar untuk waktu Devi. Dengan nada bicara yang tenang namun tajam, Devi menjawab, "Kontrak dua puluh juta sebulan. Itu hanya untuk menemaniku mengobrol. Bagaimana?"

Mendengar angka yang fantastis itu, wajah pria tersebut langsung berubah pucat. Keberaniannya luntur seketika. Ia menggerutu pelan, menganggap Devi gila, lalu berbalik pergi . Devi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi pria itu, sementara Dewi menghela napas lega. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang , membawa cerita konyol tersebut sebagai bahan obrolan di meja makan nanti.

Suasana di dalam kost terasa sangat hangat sore itu. Rohita sedang sibuk di dapur, suara denting wajan dan aroma tumisan bawang memenuhi ruangan. Di ruang tengah, Devi dan Dewi duduk bersisian. Memanfaatkan momen ketika Rohita sedang membelakangi mereka dan fokus pada kompor, Devi tiba-tiba mendekatkan wajahnya.

Cup. Sebuah kecupan mendarat di pipi Dewi. Dewi tersentak, wajahnya seketika berubah merah padam . Ia menoleh ke arah dapur dengan panik, takut Rohita melihat tindakan spontan Devi. Devi hanya terkikik geli, merasa puas telah menggoda sahabatnya yang pendiam itu. Tak lama kemudian, Rohita datang membawa nampan besar berisi makanan. "Ayo makan! Jangan cuma bengong," gertak Rohita , membuat Dewi hampir melompat dari duduknya. Mereka makan bersama dalam keheningan yang nyaman, meskipun Dewi masih merasa canggung akibat ulah Devi tadi.

Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama. Saat malam semakin larut dan mereka mulai bersiap untuk tidur, suara mencurigakan kembali terdengar dari arah luar. Kali ini bukan sekadar gesekan, melainkan suara paksa yang mencoba membongkar jendela. Ketiganya langsung terjaga. Rohita, , segera menelepon layanan darurat. Entah karena panik atau bingung, ia justru menghubungi petugas pemadam kebakaran (Damkar).

"Cepat ke sini! Ada penyusup!" seru Rohita di telepon. Dewi sudah meringkuk di sudut kasur sambil menutup telinganya, sementara Devi memegang lengan Rohita dengan erat. Ketegangan memuncak hingga akhirnya suara sirine yang meraung-raung terdengar mendekati lokasi kost. Cahaya lampu dari mobil petugas menyinari halaman depan. Pencuri yang kaget mendengar suara bising tersebut langsung tunggang langgang melompati pagar dan menghilang di kegelapan malam.

Setelah petugas memastikan keadaan aman dan pergi, Rohita mengunci semua pintu dengan ganda. Mereka bertiga akhirnya naik ke atas satu kasur yang sama. Rohita berada di tengah, membiarkan Devi dan Dewi memeluknya dari kedua sisi. Rasa takut yang hebat membuat mereka tidak ingin terpisah barang sejengkel pun. Di bawah selimut yang sama, mereka akhirnya tertidur karena kelelahan

Keesokan harinya, Dewi yang biasanya jarang meminta sesuatu, tiba-tiba mengajak Rohita dan Devi untuk mengunjungi sebuah tempat. Ia ingin kembali ke lokasi di mana pertama kali Rohita menemukannya dahulu. Dengan sedikit ragu namun penuh rasa setuju, Rohita dan Devi mengikuti kemauan Dewi. Mereka berjalan menuju sebuah area yang cukup sepi, sebuah jalanan panjang yang hanya dihiasi oleh tiang lampu sorot yang berdiri tegak sendirian di pinggir jalan.

Di sana, terdapat sebuah meja kayu tua di samping tiang tersebut. Dewi berdiri diam menatap meja itu. Ingatannya kembali ke masa lalu; masa di mana ia duduk di sana dengan air mata yang mengalir deras, merasa terbuang dan sendirian sebelum Rohita datang dan membawanya pulang. Devi yang menyadari perubahan suasana hati Dewi langsung merangkul pundaknya. "Jangan menangis lagi, Wi. Sekarang kamu punya kami," bisik Devi lembut,

Mereka duduk mengelilingi meja tua itu. Rohita menyiapkan bungkusan berisi aneka gorengan yang masih hangat. Di bawah cahaya lampu sorot yang mulai menyala , mereka mengobrol banyak hal. Rohita bercerita tentang betapa kesalnya ia saat pertama kali melihat Dewi yang tampak sangat rapuh, namun ia tahu ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Dewi mendengarkan dengan mata berkaca-kaca, sesekali menyeka air matanya yang jatuh karena rasa syukur.

Percakapan mengalir dari hati ke hati hingga malam semakin pekat. Suasana jalanan yang sepi tidak lagi terasa menakutkan bagi mereka, Gorengan di dalam kantong plastik sudah habis, menyisakan remah-remah yang berceceran di atas meja. Setelah merasa cukup mengenang masa lalu, mereka bangkit dan berjalan pulang bersama. Sesampainya di kost, mereka langsung merebahkan diri di atas kasur.

Malam telah mencapai puncaknya, namun Devi tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus melayang ke berbagai kejadian yang mereka alami belakangan ini. Perutnya tiba-tiba merasa tidak nyaman, memaksanya untuk pergi ke kamar mandi. Ia melirik Rohita dan Dewi yang sudah tidur pulas. Dengan langkah berjinjit , Devi keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya di bagian belakang kost.

Saat ia sedang berada di dalam kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara cetek yang keras, dan seketika itu juga seluruh ruangan menjadi gelap gulita. Devi membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang. Ia selalu takut pada kegelapan total, apalagi di dalam kost yang luas ini. Dengan tangan yang gemetar, ia mencoba membuka pintu kamar mandi dan meraba-raba tembok. "Rohita... Dewi..." panggilnya dengan suara gemetar

Jari-jarinya menyentuh permukaan tembok yang dingin dan lembap. Ia berjalan perlahan, mencoba mengingat tata letak ruangan. Setiap bayangan benda yang terkena sedikit cahaya bulan dari ventilasi tampak seperti sosok yang mengancam baginya. Devi terus meraba, kakinya sesekali menabrak kaki kursi hingga ia meringis kesakitan. Perasaan takut akan kegelapan membuatnya mulai terisak pelan. Setelah perjuangan yang terasa sangat lama, tangannya akhirnya menyentuh bingkai pintu kamar.

Dengan sisa tenaga dan keberaniannya, ia merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia tidak peduli siapa yang ia pegang, yang ia inginkan hanyalah rasa aman. Devi segera memeluk tubuh Dewi yang berada di dekatnya dengan sangat erat. Tangisnya pecah saat kepalanya bersandar di bahu sahabatnya itu. Dewi yang terbangun karena dekapan erat dan suara tangisan tersebut hanya bisa mengusap punggung Devi dengan lembut, mencoba menenangkannya tanpa kata-kata. Dalam kegelapan malam yang pekat dan tanpa cahaya sedikit pun, Devi akhirnya tertidur sambil sesenggukan, masih dalam posisi memeluk erat Dewi sebagai pelindungnya dari rasa takut.

1
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!